
"Mungkin maaf bisa menghapus dosa, namun luka di hati belum tentu bisa hilang."
.
"Apa yang kau lakukan?"
Matsuo membawa Hanna ke halaman belakang rumah Kekai. Hari sudah mulai gelap, dan Aihara masih belum sadarkan diri. Dia masih terlelap di atas ranjang dengan Seta yang menjaganya.
Hanya Matsuo satu satunya yang mengetahui perasaan Hanna untuk Akihiko. Ia tahu bahwa Hanna tidak menyukai Aihara semenjak ia mengatakan bahwa Aihara ialah kekasih Akihiko. Tapi jika berakhir dengan mencelakakan Aihara seperti ini, Matsuo juga akan merasa kesal pada Hanna.
"Apa yang aku lakukan?" Bukannya menjawab, Hanna justru membalikan pertanyaan Matsuo.
"Aku tahu kau pelakunya." Matsuo berucap tenang sembari terus menatap langit gelap di atasnya.
Terkekeh pelan, "Kejahatan apa yang telah ku lakukan?" Masih bermain main, tak ingin mengaku.
"Bukankah berlebihan melakukan semua itu hanya karena cemburu?"
Hanna memalingkan wajahnya ke samping, merasa kesal dengan semua orang yang membela Aihara. Bahkan pria yang mencintainya itu tengah mengintimidasinya seperti ini. "Apa aku salah? Semua yang kulakukan atas dasar cemburu, apa aku salah?"
"Tentu saja, dasar bodoh!" Matsuo menyentak Hanna tajam. Padahal Matsuo sempat berharap bahwa Hanna bukanlah pelakunya. Tapi sekarang setelah ia mengetahui kebenarannya, kenapa ia masih tak mampu untuk membenci gadis di sampingnya itu?
"Jadi sekarang kau membenciku? Kau bahkan tidak tahu siapa Aihara yang kalian bela itu!" Semua orang menyukai Aihara, bahkan sahabatnya dan orang yang ia cintai pun menyukai gadis itu. Apa yang akan terjadi jika mereka mengetahui bahwa Aihara ialah seorang pembunuh? Mungkinkan semuanya akan kembali seperti semula? Tak ada Aihara, hanya ada dirinya dan Akihiko?
"Aku tidak butuh untuk tahu siapa Aihara sebenarnya, entah itu masa lalunya yang kelam atau hal lainnya. Bagiku merasakan perasaan nyaman ketika berada di sampingnya, itu sudah lebih dari cukup." Matsuo memandang Hanna remeh, sedang gadis itu menatapnya tak percaya.
"Oh, jadi sekarang kau lebih menyukainya? Kenapa tidak sekalian saja kau rebut Aihara dari pelukan Kio!"
"Maaf saja, cara seperti itu hanya dilakukan oleh orang orang pengecut."
Hanna terbelalak mendengar ucapan Matsuo, pria itu sudah membangkitkan tubuhnya dan berdiri tepat di depannya.
"Apa kau sedang mengejekku?"
"Aku hanya berusaha untuk menyadarkanmu, karena apa yang kau lakukan selama ini hanya sia sia. Kio memiliki kekasih untuk pertama kalinya, dan kau bahkan tahu wataknya Seperi apa. Dia tidak akan pernah melepaskan sesuatu yang telah menjadi miliknya." Matsuo membalikan tubuhnya hendak meninggalkan Hanna, "Sekarang temui Semua orang di dalam kemudian akuilah semua perbuatanmu." Setelah itu ia benar benar pergi meninggalkan Hanna yang telah menitikkan setetes air mata.
Cinta dalam diam memang tidak menguntungkan. Bertahun tahun bertahan dengan perasan sepihak, berharap Akihiko bisa menyadarinya dan kemudian membalas perasannya. Namun kenyataan pahit justru didapatinya. Gadis yang bahkan baru untuk Akihiko bisa dengan begitu cepat membuatnya tertarik. Apa yang dimiliki Aihara yang tidak ia miliki?
Bahkan Matsuo, seorang pria yang Hanna tahu hatinya untuk siapa itu justru ikut tertarik pada Aihara. Setelah kehilangan Akihiko, ia juga akan kehilangan Matsuo setelah ini?
Hanya kesalahan kecil, dan berakhir dengan meninggalkan efek sebesar ini? Jika saja Hanna mengaku, mungkin Akihiko akan mulai membencinya setelah ini, dan Matsuo mungkin akan berhenti mengejarnya.
Ck, kenapa rasa cemburu itu benar benar mengerikan?!
****
"Apa kau yakin tidak ada Alkohol yang kau masukan kedalam jus?"
"Ck, yang benar saja! Aku tidak menyediakan jus di pesta kali ini, kau bahkan tahu jus itu dibuat secara mendadak oleh pelayan di rumahku." Jelas Kekai menanggapi Akihiko yang kini terlihat seperti seseorang yang tengah frustasi.
__ADS_1
"Jadi siapa yang melakukan itu?"
"Salah satu teman kita tentunya." Sontak Akihiko dan Kekai memandang Matsuo yang baru saja memasuki ruang tengah.
"Ah sudah jelas!" Siapa lagi jika bukan Seta? Bukankah gadis itu temannya Aihara, sudah bisa dipastikan bahwa dia tahu jika Aihara tidak bisa meminum Alkohol. Tanpa pikir panjang Akihiko segera berdiri namun kembali di dudukan paksa oleh Kekai.
"Kau menduga kekasihku yang melakukannya?"
"Bukankah sudah jelas?" Akihiko dan Kekai saling menatap tajam, menghiraukan Matsuo yang memutar bola matanya malas.
"Dengar teman teman," Matsuo memilih mendudukan dirinya di salah satu sofa yang menghadap kedua temannya itu, "Mungkin kalian tidak akan menyangka ini. Tapi pelakunya bukan Seta, orang lain yang melakukannya. Jadi aku hanya ingin kalian mendengarkan pengakuannya dengan baik, setelah itu terserah kalian memberi tanggapan seperti apa."
Jarang sekali memang jika Matsuo berucap serius seperti ini, tapi inilah sisi Matsuo yang lain. Ucapan yang Matsuo lontarkan membuat Kekai dan Akihiko menyimpulkan satu orang yang sama di kepala mereka. Ketiganya terlarut dalam pikiran masing masing, hingga tiba saatnya seseorang yang semula berada di benak kini telah nampak wujudnya di depan mata.
"Eung, Teman teman.."
.
.
.
.
.
"Apa kau masih merasa pusing?" Tanya Seta cemas.
"Kenapa aku di sini bersamamu?" Seingat Aihara ia tengah duduk dan berbincang dengan Akihiko, lantas mengapa tiba tiba saja ia terbangun di atas ranjang?
"Tadi kau sempat hilang kendali dan berakhir tak sadarkan diri." Seta meneguk ludahnya paksa setelah di dapatinya tatapan Aihara mulai menajam, "Mungkin kau tidak sengaja meminum Wine atau minuman beralkohol lainnya."
Potongan ingatan yang tersisa melayang layang di benaknya, Aihara ingat. Seseorang membisikan sesuatu padanya dan Aihara juga ingat bahwa saat itu ia tengah di tuntun oleh Seta. Oh tidak, mungkinkah ia melakukan sesuatu yang memalukan? Atau bahkan sesuatu yang mengerikan?
"Aku tidak meminum apapun selain jus. Mungkinkah kau memasukan obat ke dalam jusku?"
Kedua mata Seta terbelalak sempurna, "Apa maksudmu?!" Seta menundukkan pandangannya dan mengepalkan tangannya erat, meredam amarahnya. Ia mengaku bahwa beberapa tahun ke belakang, ia amat sangat membenci Aihara yang sangat di cintai oleh Roki. Tapi ikatan persahabatan membuatnya bungkam, namun tetap saja meskipun ia tak memiliki ikatan itu, Seta tidak akan pernah melakukan sesuatu yang memalukan seperti menjebak Aihara. Meski ia seseorang yang hina, maka cukuplah ia yang nampak hina, orang lain tidak perlu di pandang sama.
"........."
Setitik air mata kembali mendobrak pelupuk mata Seta lantas meluncur indah menuruni kedua pipinya, "Aku sungguh menyesal atas perlakuan ku padamu beberapa waktu lalu. Tapi apakah salah jika sekarang aku benar benar ingin menjalin kembali pertemanan kita yang telah lama usang?
Sungguh, Aihara tak bisa lagi menutup mata untuk berpaling dari ketulusan Seta. Wanita itu sudah nampak berubah, Tak ada lagi sorot iri yang selalu Seta tujukan padanya. Bahkan Wanita itu telah meruntuhkan egonya dengan beberapa kali meminta maaf padanya. Huft, Aihara menurunkan tatapannya sembari mengangkat senyumannya. "Kurasa semuanya sudah berakhir. Tak ada alasan lagi untukku membencimu, Roki tidak akan menyukai itu."
Seta mengangkat tatapannya dan seketika ia ikut menarik sudut bibirnya ketika di dapatinya Aihara tersenyum manis ke arahnya. Segera saja ia hapus jejak air mata di kedua pipinya, kemudian dipeluknya Aihara dengan sangat erat. "Terimakasih."
"Aihara, apa sekarang kau sudah mulai menyukai musik? Kudengar Kau belajar bermain gitar pada Akihiko."
"Eung."
__ADS_1
"Syukurlah, kau tidak lagi membenci musik." Seta tersenyum hangat, masih tak percaya bahwa ia dan Aihara bisa kembali berbincang seperti ini.
"Hm, sebenarnya aku mencintai musik. Tapi karena dirimu, seketika aku jadi sangat membenci musik." Ucap Aihara sinis, sedikitnya itu membuat Seta tersinggung. "Ah, aku mau pulang sekarang."
"Eung, akan ku antar." Seta membantu Aihara untuk turun dari ranjangnya dan kembali menuntunnya menemui semua orang di ruang tengah.
Ada sensasi aneh yang terasa ketika Aihara dan Seta telah sampai di ruang tengah, raut semua orang nampak keras berbanding dengan Hanna yang menunduk dalam.
"Kekai, Aku akan mengantar Aihara pulang sekarang." Ucapan Seta mengundang banyak mata, terutama Akihiko.
"Aihara duduk sebentar di sini, ada seseorang yang ingin mengakui kesalahannya padamu." Matsuo menarik pelan lengan Aihara dan mendudukkannya di samping Akihiko, sedang pria itu segera mengelus sebelah pipi Aihara dengan lembut.
"Jadi apa alasanmu melakukan itu?" Tanya Kekai setelah Seta mendudukan diri di samping Hanna.
"Aku tidak tahu jika Aihara tidak bisa meminum Wine. Jadi tanpa sengaja aku memasukan cairan Wine yang telah di bekukan ke dalam jusnya. Sungguh aku tidak tahu!" Jelas Hanna bersungguh sungguh, ia mengabaikan sorot kecewa yang Matsuo berikan padanya.
Di sana Aihara termenung, ia berusaha keras Untuk mengingat bisikan seseorang ketika ia mabuk tadi. Ia amat begitu yakin bahwa mungkin Hanna dengan sengaja melakukan itu.
"Apa kau yakin dengan apa yang kau katakan itu?" Akihiko menangkap raut Hanna yang mulai panik, manik matanya bergulir bimbang.
"Aku," Hanna bangkit dari duduknya sembari terus menunduk, ia tidak memiliki kata kata yang cukup untuk menanggapi pertanyaan Akihiko. "Maaf Aihara, aku sungguh tidak tahu. Maaf sudah mengecewakan kalian semua dengan merusak pesta hari ini. Sudah ku putuskan, aku akan Hiatus untuk beberapa saat di Band kita. Sekali lagi maaf." Dengan menelan mentah mentah kekecewaan, Hanna pergi dari kediaman Kekai. Ia tidak menyangka jika Alasannya itu seakan tak berarti untuk Akihiko. Pria itu bahkan lebih mengkhawatirkan Aihara. Apa yang harus ia lakukan kedepannya?
"Jadi, Hanna.." Mungkin semua orang akan berpikir bahwa mungkin itu hanya ketidak sengajaan, namun Seta berpikir lain. Ia yakin bahwa Hanna mengetahui dengan baik bahwa Aihara tidak bisa meminum Alkohol, karena gadis itu sendiri yang beberapa kali bertanya padanya mengenai Aihara. Seta pikir Aihara dan Hanna adalah teman dekat, lalu kenapa berakhir seperti ini? Apa yang sebenarnya Hanna rencanakan?
"Sudahlah sayang, jangan di pikirkan. Aku akan mengantarmu pulang, Karena Aihara sudah berada di genggaman pengawalnya."
Siapa sangka jika ucapan Kekai bukan hanya membuat Seta bersemu, namun juga membuat seorang pria di sudut ruangan merasa muak. Ah kasihan sekali, Matsuo dan kesendiriannya.
"Apa kau sudah merasa lebih baik?" Tanya Akihiko lembut pada Aihara.
"Eung, Akihiko bisakah kau mengantarku pulang?"
"Apa yang kau katakan tentu saja kau akan pulang bersamaku." Akihiko bangkit dan merangkul Aihara sembari membawanya meninggalkan rumah Kekai.
"BENAR! PERGI SAJA KALIAN SEMUA! MEMANGNYA AKU SIAPA?! HANYA BUTIRAN DEBU! APA KALIAN DENGAR?!"
"Ck, Matsuo betapa menyedihkannya dirimu." Akihiko bergumam pelan ketika mendengar teriakan Matsuo dari dalam rumah Kekai, dan perkataannya itu mampu di dengar oleh Aihara hingga wanita itu terkekeh pelan.
"Bukankah ada yang lebih menyedihkan dari Matsuo?" Tanya Aihara bergurau.
Dan sayangnya seseorang di sampingnya menanggapinya dengan amat serius. Ya, Akihiko di tolak oleh cinta pertamanya. Lebih menyedihkan dari Matsuo bukan?
"Maka dari itu, cepat katakan bahwa kau menerimaku sebagai kekasihmu!"
"Eung, Aku menerima Akihiko sebagai kekasihku."
Tunggu, APA?!
#TBC#
__ADS_1