
16 April 2023
Tubuh Aihara seketika membeku, sorotnya tak lepas dari kalender di depannya. Itu adalah tanggal lahir Roki, tepat beberapa jam lagi dari sekarang.
Tak bisa, Aihara tak bisa lagi meyakinkan dirinya bahwa dirinya sudah merelakan Roki. Sebab kini penyesalan itu kembali mengepungnya, membuat ia tersiksa dengan sesak di dada. Seketika ia menangis pelan, mencoba menarik nafas dengan benar namun gagal.
Cepat-cepat Aihara meraih ponselnya lantas ia menelpon nomor yang sudah tidak memiliki pemilik, namun ia tetap gigih untuk tetap menelponnya.
Ini adalah tradisinya, mengucapkan selamat ulang tahun tepat pukul 00.01, Aihara tak pernah melupakan itu dan ia tak akan meninggalkan tradisi itu. Bukan tidak mau, ia hanya tidak bisa.
"Roki!!"
"....."
"Angkat telponku! Kumohon-"
"Halo?"
Hening sesaat. Aihara kembali memeriksa nomor yang ia sedang ia panggil, itu benar nomor Roki. Pukul dibalik dadanya kian menyentak hebat, membuatnya seakan memiliki harapan meski di hati kecilnya ia terus mengatakan tak mungkin.
"Ro-Roki?!!"
__ADS_1
"Oh, My love itu kau, Aihara? Tentu saja Roki tidak ada. Ini aku, Karoi."
Memang, Aihara sudah benar-benar gila dengan mengharapkan kehadiran Roki yang secara tiba-tiba seperti di kebanyakan novel yang ia baca. Hingga ia lupa, ia hidup di dunia yang nyata.
Aihara menyembunyikan isakannya yang tetap terdengar remang-remang oleh Karoi, "Ah Karoi, Aku.. Aku hanya ingin mengatakan Happy birthday, bisakah kau berpura-pura menjadi Roki hari ini?" Aihara menutup mulutnya, mencoba meredamkan tangisnya dan bersiap dengan penolakan Karoi.
"Astaga Aihara, kupikir kau sudah merelakannya. Tapi baiklah, dan tolong berhenti menangis, Roki benci melihatmu menangis."
Luapan bahagia itu mulai melera tangisnya, Aihara kian tersenyum, "Terimakasih, Roki. Ah, Apa aku orang pertama yang memberimu ucapan selamat?"
"Kau selalu menjadi yang pertama."
Karoi benar-benar mendalami perannya, ia benar-benar persis seperti Roki. Meski dengan suara perempuan.
"Hm, Aku akan bersiap-siap. Sekarang aku ingin kau tidur, bisakah? Tidur dengan nyenyak."
"Tentu saja! Baiklah, terimakasih. Hm, Karoi."
Aihara memandang ponselnya yang sudah mati, perlahan menarik senyum iba ke layar ponsel yang menampilkan wajahnya. Mungkin karena belum lama waktunya untuk menghampus memori tentang Roki, satu bulan itu masih terbilang cepat. Jadi, biarlah waktu yang menghapus ingatannya. Dan selama itu, ia tidak akan menyia-nyiakan Akihiko. Sungguh.
"Hanya saat ini, Akihiko. Aku ingin menjadikan ini terakhir kalinya aku merayakan ulang tahun Roki. Jadi, tunggu sebentar ya? Aku akan segera berpaling darinya."
__ADS_1
Aihara bangkit, menaruh ponselnya di atas nakas sebelum ia membawa tubuhnya untuk beristirahat di kasurnya yang empuk. Dan tak lama rasa kantuk itu menyerangnya lebih cepat, mungkin itu efek dari ia yang menangis tadi. Namun ia bersyukur, hatinya kini sudah membaik, kekhawatiran sudah berakhir dan ia sudah bersiap untuk menuju mimpi.
"Aihara."
Langkah kakinya terhenti, kemudian gadis itu membalikkan badannya. Lantas tersenyum setelah melihat sosok yang sedari tadi ia cari.
"Kau di sini?" Ucap Aihara sembari melangkah menuju pria itu.
"Tetaplah disana." Perkataan itu secara otomatis menghentikan langkah Aihara membuat gadis itu kebingungan, "Tujuanmu, bukan aku lagi. Kembalilah, seseorang sedang menunggumu di tempat lain." Pria itu tersenyum manis sekali. Namun itu membuat raut Aihara murung.
"Aku tidak mau, kenapa kau tidak mau aku melangkah menuju dirimu?" Tanya Aihara tergesa.
"Karena kau harus bahagia." Lagi, pria itu tersenyum.
"Aku bahagia bersamamu!!"
"Tapi aku sudah tidak lagi bersamamu, jadi berbahagialah dengan orang itu. Aku tidak pernah membencimu, jadi jangan pernah merasa menyesal ya?"
Air mata Aihara kembali berlinang lantas ia segera berlari menuju sosok pria yang ia yakini sebagai Roki, bayangan pria itu perlahan menghilang ketika Aihara hampir berhasil memeluknya. Hingga akhirnya hanya udara kosong yang memenuhi dekapannya.
"ROKI!!!"
__ADS_1
"Tenanglah, aku akan membuatmu bahagia." Seseorang memeluk tubuhnya dari belakang, dan segala sesak di dadanya kian hilang. Seperti sihir.. Siapa? Siapa kau?
Akihiko?