
Di pelajaran keempat, Aihara kembali membolos. Setelah menyelesaikan acara makan siangnya bersama Hanna, ia memutuskan untuk menjenguk Akihiko di UKS dengan beberapa roti dan susu di kantong kresek yang ia bawa.
Percakapannya dengan Hanna terputus dengan ia yang memutuskan untuk pergi dari kafetaria. Jika ia tetap disana, Hanna akan terus merongrong traumanya untuk muncul kepermukaan. Sedangkan selama ini, Aihara telah berusaha keras untuk bisa menerima dan melupakan kenyataan yang ada.
Kenyataan, dimana kekasihnya, Roki, mengakhiri nyawanya. Kenyataan, dimana Aihara benar-benar menjadi seorang gadis yang obsesi dan begitu bergantung pada mantan kekasihnya itu. Segalanya, Aihara berjuang hingga saat ini untuk menerima itu dan mencoba memulai semuanya dengan Akihiko. Kekasihnya saat ini.
Ceklek.
Aihara memutar knop pintu UKS dan segera melenggang kedalam ruangan itu. Bisa ia lihat, Akihiko yang tengah memejamkan matanya dengan damai.
"Apa kau tidak tidur semalaman?" Monolognya, ia mengusap pipi Akihiko pelan. Ia terpaku pada lingkaran hitam yang membingkai sisipan mata Akihiko. Sepertinya ia benar-benar melewatkan jam istirahatnya semalaman.
"Aku hanya tidak akan membiarkan Akihiko bernasib sama seperti mendiang kekasihmu. Jadi, menjauhlah darinya."
"Kau tahu? Aku tidak akan pernah meninggalkan apa yang sudah kuanggap sebagai rumahku." Jemarinya kembali menari-nari di pucuk rambut Akihiko, gadis itu membenahi rambut kekasihnya dengan telaten. "Meski suatu saat nanti kau akan mengetahuinya. Aku tidak akan membiarkanmu pergi, karena aku tak ingin kehilangan lagi."
Akihiko tetap tenang dalam tidurnya. Sedangkan Aihara telah menitikkan air mata. Ternyata usahanya gagal untuk tetap terlihat kuat. Nyatanya, ia masih begitu lemah seperti sebelumnnya.
"...."
"Akihiko-kun, percayalah padaku. Karena aku sedang berusaha untuk mencintaimu dengan sungguh-sungguh."
Jemari Akihiko, ia genggam erat. Keheningan UKS kian pecah dengan tangisannya yang pilu, Aihara mengeluarkan segala pesakitannya. Segala hal yang ia coba untuk sembunyikan, namun gagal.
Dan mungkin Aihara tidak tahu, Akihiko terbangun karena perkataan terakhir Aihara. Pria itu mendengar dengan jelas apa yang gadis itu lontarkan, dan disudut hatinya ia tengah merasa gelisah. Entah ia harus bahagia atau terluka ketika mengetahui bahwa sampai saat ini Aihara masih berusaha dan belum benar-benar mencintainya.
......****......
"Hanna, apa kau berulah lagi?"
Hanna yang baru saja keluar dari toilet wanita itu sedikit terperanjat akan kehadiran Matsuo yang secara tiba-tiba.
"Apa maksudmu?"
Satu senyuman sinis menghiasi wajah Matsuo, "Jangan pura-pura. Aku melihat Aihara menangis hari ini."
Mendengarkan itu sontak saja Hanna tertawa miris, lantas menatap Matsuo tepat di matanya. Mencoba menemukai sorot terpana seperti dulu, namun kini yang ia dapati justru sorot yang di penuhi akan kebencian.
Dan saat itu juga, Hanna kehilangan kepercayaan dirinya.
"Astaga, sepenting itu dia untukmu? Bahkan sampai kau repot-repot menuduhku seperti ini. Meski mungkin dia menangis hanya karena Akihiko sakit hari ini." Ucapnya santai namun sarkas.
Matsuo tetap di berdiri dengan kedua lengannya yang dimasukkan ke saku celananya. Balas menatap tajam seorang gadis yang tingginya hanya sebahunya saja.
__ADS_1
"Jika saja sedari dulu aku tahu kau seperti ini. Mungkin aku tidak perlu repot-repot jatuh hati padamu, karena kau orang yang tidak bisa menghargai orang lain."
Setelah mengatakan itu, ia memutar tubuhnya untuk kemudian pergi dari sana. Namun ucapan Hanna menghentikan langkahnya.
"Kenapa tidak kau pacari saja Aihara! Agar aku bisa bersama dengan Kio!"
Matsuo kembali membalik tubuhnya sebentar dengan senyuman kecil menggantung di rautnya yang tampan, "Karena aku tidak sepertimu yang mencari kebahagiaan dengan merusak kebahagiaan orang lain."
Lantas Matsuo benar-benar meninggalkan Hanna yang kini terpuruk atas ucapannya.
"Mereka telah tertipu dengan kepolosan Aihara." Bisiknya pelan, entah pada siapa.
......****......
..."Jadi ayo makan sesuap lagi!!"...
"Tidak mau!"
Akihiko terus menghindar dari kejaran potongan roti diantara jemari lentik Aihara, terus menggoda gadis itu hingga ia kesal. Sedangkan dirinya puas tertawa melihat Aihara yang kelabakan menghadapi dirinya.
"Astaga, kau harus makan banyak!"
Hap!
Tingkahnya itu sukses membuat kedua pipi Aihara memerah sempurna. Gadis itu masih terdiam dan segera disadarkan oleh tawa Akihiko yang menggema.
"Ahaha, Apa yang kau pikirkan? Aku sudah menjadi anak baik yang sudah menyelesaikan satu potongan roti terakhirku."
"Aish! Kau menyebalkan!"
Gadis itu hendak beranjak keluar UKS, namun Akihiko segera menahan lengannya.
"Mau kemana?"
"Ke kelas." Ucap Aihara sembari membelakangi Akihiko, jujur saja ia tengah malu karena kejadian barusan.
"Jangan kemana-mana. Hari ini bolos saja bersamaku, kau mau kan?"
Kali ini Aihara membalikan badannya, menatap Akihiko dengan penuh telisik. "Dan kau akan terus menjahiliku seperti tadi? oh, aku tidak mau."
mendengar itu sontak saja tawa Akihiko kembali ke permukaan, "Astaga, itu tidak akan terjadi lagi. Nanti, aku akan melakukannya dengan sungguh-sungguh."
Aihara membulatkan matanya tak percaya, "Kau!! Jangan macam-macam denganku!" Lantas tanpa pikir panjang, Aihara membuahi Akihiko dengan pukulan-pukulan ringan.
__ADS_1
"Ahaha hentikan!! Aku bercanda, sayang."
Sungguh, Aihara bersumpah bahwa hari ini Akihiko benar-benar menyebalkan!!
Aihara menghentikan aksinya, ia beralih mendudukan diri di samping Akihiko. Memandang Akihiko yang masih menatapnya terpana, membuat Aihara terpancing untuk ikut tersenyum.
"Nih, minum." Ia menyodorkan sekotak susu rasa coklat pada kekasihnya itu, dan kali ini Akihiko menjadi anak yang penurut.
"....."
"Panasmu sudah turun."
Seperti seorang anak kecil, Akihiko menganggukan kepalanya lucu. "Terimakasih sudah merawatku."
"Kau juga harus berterima kasih pada Kekai dan Matsuo."
Kedua pundak pria itu terangkat sekilas, "Aku sudah mengatakannya pada mereka." Akihiko melihat Aihara yang hanya mengangguk, ia kemudian bertanya, "Kenapa kau menangis tadi?"
"Eh?"
"Matamu saja masih terlihat sembab, apa sesuatu baru saja terjadi?"
Aihara terdiam sejenak. Ia lupa untuk membenahi kondisinya saat Akihiko membuka matanya, dan tentu saja ia lupa untuk membuat alasan yang masuk akal.
"Aku terlalu mengkhawatirkanmu. Itu terdengar menggelikan, bukan?" Alibinya.
Sekali lagi, tawa Akihiko hampir pecah namun ia menahannya. "Astaga, kekasihku ini menggemaskan sekali."
Akihiko membawa jemari besarnya untuk mengusak kepala Aihara gemas. Sementara gadis itu masih sibuk untuk menormalkan detak jantungnya.
"Karena itu, jangan sakit lagi! aku tahu, semalaman kau tidak tidur kan?"
"Hmm, Aku tidak bisa tidur. Jadi aku memilih untuk menulis lagu untuk album kita nanti."
Aihara mencubit lengan Akihiko pelan namun itu pasti menyakitkan, tidak percaya dengan kelakukan kekasihnya itu.
"Lain kali jangan melewatkan waktu istirahat mu."
"Oke! Aku tidak akan membuatmu khawatir seperti ini lagi."
Meski di sudut hatinya, Akihiko begitu senang dikhawatirkan sedalam ini oleh orang terkasihnya. Dan ia amat bersyukur memiliki Aihara saat ini. Ia janji, akan membuatnya lebih layak Dimata Aihara. Menjadikan dirinya pria yang lebih menarik dari mantan kekasihnya.
...****...
__ADS_1