
"Putri Ramuan ini di minum
3x sehari selama 3 bulan. Ehm Dayang Janitra saya ingatkan kembali Putri tidak
boleh melewatkan waktu minum obatnya. Kau mengerti???".
"Baik tabib, saya pasti akan sangat
memperhatikan nya. Ini semua demi kesehatan Tuan putri" Dayang ku yang
bernama Janitra menerima Ramuan dan memberikannya kepadaku.
Aku minum perlahan dan menelan habis semuanya.
"Kenapa ini pahit sekali ? hoek" Aku hampir
memuntahkan obat itu. "Jangan
muntahkan Tuan Putri, Dayang
Mitra cepat berikan air putih untuk Tuan puteri". Tabib ini sangat khawatir melihat aku yang
akan memuntahkan obat. Tapi setelah minum air putih yang di berikan Dayang
Mitra aku merasa lebih baik.
"Salam permaisuri, Semoga
keagungan anda menyertai kekaisaran Nusantara". Para dayang dan tabib
memberi salam kepada Ibunda. "Putriku lihatlah betapa
lemahnya dirimu". Seorang
wanita yang sangat Cantik berambut Emas dan berkulit putih bersih. Matanya yang
sendu tetap memancarkan cahaya keemasan. Langkahnya yang anggun. Dia sangat
cantik.
Di temani oleh beberapa dayang kasim dan
prajurit di belakangnya. Ibunda permaisuri seperti bidadari.
"Ibunda". Entah kenapa hatiku terasa
sakit. Aku kembali mengingat ketika orang tuaku di kehidupan sebelumnya
meregang nyawa di depan mataku. "Putriku ternyata sangat
lemah ya, minum obat saja dia hampir muntah".
Ibu menghampiriku yang sedang duduk di tempat
tidur. Dia memeluk ku sebentar kemudian mencium keningku dia mengusap rambutku
juga.
"Ibunda aku tidak lemah,
Aku kan sedang sakit, tapi beberapa hari ini aku tidak melihat ibunda, Ibunda
sedang apa dan dimana, apakah Ibunda begitu sibuk". "Wah Tuan putriku sekarang pandai bicara ya, hahh tentu saja ibunda
__ADS_1
sibuk mencari orang yang berusaha membunuhmu, jadi ceritanya .....". Ibunda pun menceritakan banyak kejadian yang terjadi saat Di
Aula kekaisaran. "Meskipun kamu masih belum mengerti apa yang ibunda
katakan, ibunda berharap kamu dapat belajar sedikit". Ibunda tersenyum
manis kepadaku. "Baik ibunda...". Akupun membalas senyumannya.
"Ibunda dimana kak Mahesa
dan Kak chandra?". "Candra dan Mahesa sedang melakukan kunjungan ke Kerajaan Nadiem mungkin 3 hari
perjalanan baru akan tiba di sini, hah kakak kakakmu sangat khawatir begitu mendengar
kabar tentang Putri. Jadi Tuan Putri harus cepat sembuh oke?
"Baik Ibunda" . Para dayang
mengambilkan cemilan untuk aku dan ibunda. Kami berbincang sebentar, tapi
Ibunda sangat sibuk dan harus segera pergi. " Maafkan Ibunda Putriku,
karena tidak bisa menemanimu lebih lama". "Apa yang ibunda bicarakan,
waktu Ibunda sangat berharga. Putri sangat berterimakasih Ibunda menyempatkan
waktu untuk menjengukku".
Ibunda permaisuri dengan mata
berkaca-kaca kembali memelukku dan melangkah pergi.
"Tabib Barata aku percayakan putriku
padamu. Ingat kau harus sembuhkan Tuan putri hingga benar benar sembuh". "Hamba mematuhi Permaisuri. Hamba juga sangat berusaha
untuk kesembuhan Tuan Putri" Tabib itu membungkuk. Dan Ibunda berjalan
"Dayang iswa Dayang wara kalian lihat putriku. Dia
sangat berubah. Lihat cara bicaranya, lihat pancaran matanya. Seolah dia
menjadi orang yang berbeda"."Benar
Yang Mulia, Biasanya putri menatap orang di sekitarnya dengan hati hati dan
sedikit takut". Dayang iswa
berbicara sembari memegang tangan Yang Mulia sembari menuju kembali ke Istana
Emerald. "Yang Mulia mungkinkah kejadian ini
seperti peribahasa Setelah gelap terbitlah terang?" Tanya Dayang wara.
Permaisuri sedikit tertawa "Mungkin
saja"
Aku sedang bersandar di
tempat tidur. Tapi tiba tiba ada kehebohan di depan pintu kamarku. Aku tau ini
__ADS_1
pasti kedua kakak ku. "Dhini, dhini adikku yang
malang, kenapa kamu kelihatan pucat, badanmu semakin kurus, lihatlah pipimu
yang tirus ini"
Dia adalah pangeran yang
sangat heboh. Yah pangeran kelima yaitu Mahesa, meski begitu kakak ku yang satu
ini tetap saja tampan. Dia memiliki rambut keemasan dan kulit putih seperti
Ibunda, warna matanya pun sama seperti bunda . Meskipun baru berusia 12 th
Pangeran Mahesa cerdas, dan ahli pedang, jago memanah dan berkuda
"Kakak hentikan memegang
pipiku uhh sakit" Aku menepis tangan Kak mahesa dan beranjak ke pelukan
Kak Chandra "Kak Chandra pipiku sakit" Aku melihat kak chandra
menatapku tak percaya, terlihat binar binar kebahagiaan di matanya. "Adikku
istirahatlah. Bukankah kamu masih sakit" Kak chandra menggendongku dan
mendudukkanku di tempat tidur. "Wah adik ku yang menggemaskan ini banyak
berubah ya" Kak chandra tersenyum dan mengelus pipiku. Ahhh Tampan sekali
wajah kak Candra. Kulitnya halus Rambut dan Mata nya seperti Kaisar. Sama
persis.
"Kakak aku bosan dan ingin
main keluar ayo kita jalan jalan, tabib bilang aku sudah sehat".
"Tapi.....". "hemm kakak tidak sayang aku lagi". Wajahku
cemberut dan menoleh kearah lain tanganku pun bersilang didada. "Baiklah
adikku yang manis,
sebelum pergi minta dayang untuk mengganti bajumu dulu ya" Kak candra
melihat baju tidur berwarna putih yang aku kenakan.
Aku merona. "Baiklah, sekarang kakak keluar
dulu biarkan aku berganti pakaian". Aku turun dari tempat tidur dan
menggandeng kedua kakak ku keluar kamar setelah itu kututup pintu dan meminta
para dayang untuk mengganti bajuku.
"Kak chandra, apa itu benar
benar adik kita?". Mahesa memegang dagunya sambil berfikir. "Aku juga
terkejut melihat perubahannya". Timpal chandra. " Tapi itu bagus kan
haahhahaha sekarang adik kita sangat ceria, tidak ketakutan lagi, tidak malu
malu lagi". Mahesa berkacak pinggang dan tertawa lebar. "Aku
harap begitu".
__ADS_1