Putri Kekaisaran Nusantara

Putri Kekaisaran Nusantara
Episode 3 Kasih sayang ibu


__ADS_3

"Putri Ramuan ini di minum


3x sehari selama 3 bulan. Ehm Dayang Janitra saya ingatkan kembali Putri tidak


boleh melewatkan waktu minum obatnya. Kau mengerti???".


 


 


"Baik tabib, saya pasti akan sangat


memperhatikan nya. Ini semua demi kesehatan Tuan putri" Dayang ku yang


bernama Janitra menerima Ramuan dan memberikannya kepadaku.


Aku minum perlahan dan menelan habis semuanya.


 


 


        "Kenapa ini pahit sekali ? hoek" Aku hampir


memuntahkan obat itu. "Jangan


muntahkan Tuan Putri, Dayang


Mitra cepat berikan air putih untuk Tuan puteri". Tabib ini sangat khawatir melihat aku yang


akan memuntahkan obat. Tapi setelah minum air putih yang di berikan Dayang


Mitra aku merasa lebih baik.


"Salam permaisuri, Semoga


keagungan anda menyertai kekaisaran Nusantara". Para dayang dan tabib


memberi salam kepada Ibunda. "Putriku lihatlah betapa


lemahnya dirimu". Seorang


wanita yang sangat Cantik berambut Emas dan berkulit putih bersih. Matanya yang


sendu tetap memancarkan cahaya keemasan. Langkahnya yang anggun. Dia sangat


cantik.


Di temani oleh beberapa dayang kasim dan


prajurit di belakangnya. Ibunda permaisuri seperti bidadari.


"Ibunda". Entah kenapa hatiku terasa


sakit. Aku kembali mengingat ketika orang tuaku di kehidupan sebelumnya


meregang nyawa di depan mataku. "Putriku ternyata sangat


lemah ya, minum obat saja dia hampir muntah".


Ibu menghampiriku yang sedang duduk di tempat


tidur. Dia memeluk ku sebentar kemudian mencium keningku dia mengusap rambutku


juga.


"Ibunda aku tidak lemah,


Aku kan sedang sakit, tapi beberapa hari ini aku tidak melihat ibunda, Ibunda


sedang apa dan dimana, apakah Ibunda begitu sibuk". "Wah Tuan putriku sekarang pandai bicara ya, hahh tentu saja ibunda

__ADS_1


sibuk mencari orang yang berusaha membunuhmu, jadi ceritanya .....". Ibunda pun menceritakan banyak kejadian yang terjadi saat Di


Aula kekaisaran. "Meskipun kamu masih belum mengerti apa yang ibunda


katakan, ibunda berharap kamu dapat belajar sedikit". Ibunda tersenyum


manis kepadaku. "Baik ibunda...". Akupun membalas senyumannya.


"Ibunda dimana kak Mahesa


dan Kak chandra?". "Candra dan Mahesa sedang melakukan kunjungan ke Kerajaan Nadiem mungkin 3 hari


perjalanan baru akan tiba di sini, hah kakak kakakmu sangat khawatir begitu mendengar


kabar tentang Putri. Jadi Tuan Putri harus cepat sembuh oke?


"Baik Ibunda" . Para dayang


mengambilkan cemilan untuk aku dan ibunda. Kami berbincang sebentar, tapi


Ibunda sangat sibuk dan harus segera pergi. " Maafkan Ibunda Putriku,


karena tidak bisa menemanimu lebih lama". "Apa yang ibunda bicarakan,


waktu Ibunda sangat berharga. Putri sangat berterimakasih Ibunda menyempatkan


waktu untuk menjengukku".


Ibunda permaisuri dengan mata


berkaca-kaca kembali memelukku dan melangkah pergi.


"Tabib Barata aku percayakan putriku


padamu. Ingat kau harus sembuhkan Tuan putri hingga benar benar sembuh". "Hamba mematuhi Permaisuri. Hamba juga sangat berusaha


untuk kesembuhan Tuan Putri" Tabib itu membungkuk. Dan Ibunda berjalan


"Dayang iswa Dayang wara kalian lihat putriku. Dia


sangat berubah. Lihat cara bicaranya, lihat pancaran matanya. Seolah dia


menjadi orang yang berbeda"."Benar


Yang Mulia, Biasanya putri menatap orang di sekitarnya dengan hati hati dan


sedikit takut". Dayang iswa


berbicara sembari memegang tangan Yang Mulia sembari menuju kembali ke Istana


Emerald. "Yang Mulia mungkinkah kejadian ini


seperti peribahasa Setelah gelap terbitlah terang?" Tanya Dayang wara.


 


 


Permaisuri sedikit tertawa "Mungkin


saja"


 


 


 


        Aku sedang bersandar di


tempat tidur. Tapi tiba tiba ada kehebohan di depan pintu kamarku. Aku tau ini

__ADS_1


pasti kedua kakak ku. "Dhini, dhini adikku yang


malang, kenapa kamu kelihatan pucat, badanmu semakin kurus, lihatlah pipimu


yang tirus ini"


Dia adalah pangeran yang


sangat heboh. Yah pangeran kelima yaitu Mahesa, meski begitu kakak ku yang satu


ini tetap saja tampan. Dia memiliki rambut keemasan dan kulit putih seperti


Ibunda, warna matanya pun sama seperti bunda . Meskipun baru berusia 12 th


Pangeran Mahesa cerdas, dan ahli pedang, jago memanah dan berkuda


"Kakak hentikan memegang


pipiku uhh sakit" Aku menepis tangan Kak mahesa dan beranjak ke pelukan


Kak Chandra "Kak Chandra pipiku sakit" Aku melihat kak chandra


menatapku tak percaya, terlihat binar binar kebahagiaan di matanya. "Adikku


istirahatlah. Bukankah kamu masih sakit" Kak chandra menggendongku dan


mendudukkanku di tempat tidur. "Wah adik ku yang menggemaskan ini banyak


berubah ya" Kak chandra tersenyum dan mengelus pipiku. Ahhh Tampan sekali


wajah kak Candra. Kulitnya halus Rambut dan Mata nya seperti Kaisar. Sama


persis.


 


 


        "Kakak aku bosan dan ingin


main keluar ayo kita jalan jalan, tabib bilang aku sudah sehat".


"Tapi.....". "hemm kakak tidak sayang aku lagi". Wajahku


cemberut dan menoleh kearah lain tanganku pun bersilang didada. "Baiklah


adikku yang manis,


sebelum pergi minta dayang untuk mengganti bajumu dulu ya" Kak candra


melihat baju tidur berwarna putih yang aku kenakan.


Aku merona. "Baiklah, sekarang kakak keluar


dulu biarkan aku berganti pakaian". Aku turun dari tempat tidur dan


menggandeng kedua kakak ku keluar kamar setelah itu kututup pintu dan meminta


para dayang untuk mengganti bajuku.


"Kak chandra, apa itu benar


benar adik kita?". Mahesa memegang dagunya sambil berfikir. "Aku juga


terkejut melihat perubahannya". Timpal chandra. " Tapi itu bagus kan


haahhahaha sekarang adik kita sangat ceria, tidak ketakutan lagi, tidak malu


malu lagi". Mahesa berkacak pinggang dan tertawa lebar. "Aku


harap begitu".

__ADS_1


__ADS_2