Putri Kekaisaran Nusantara

Putri Kekaisaran Nusantara
Episode 6 Mengejutkan Orang


__ADS_3

shuuu shuuu


Panahku menembak 3 burung merpati yang terbang ke angkasa. Tiba-tiba semuanya terdiam dan terpaku. Bahkan Kak Chandra dan Kak Mahesa tak terkecuali.


Beberapa kali ku lihat kak Mahesa Mengucek matanya untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi, begitu juga para Ksatria Elitte. Mereka menganga tak percaya. mustahil untuk anak usia 7 tahun apalagi perempuan, untuk mampu menembakkan anak panah pada 3 burung yang terbang bebas.


beberapa saat sebelumnya.......


Dayang janitra, dayang mina, dan dayang mitra duduk di lantai untuk mendengarkan puisi dari Chandini.


"Putri, kami tidak sabar untuk mendengar puisi ciptaan putri". "Iya ciptaan putri kami pasti bagus" Kata Mina dengan penuh semangat.


Baiklah karena kalian telah mendandaniku dengan cantik maka aku akan mendengarkan beberapa puisi yang aku ciptakan. Dengarkanlah....


Bunga & Kumbang


Pagi hari ini


Bunga kembang mekar berseri


Disapa lembut cahaya mentari


Hingga tumbuh bersemi kembali

__ADS_1


Kelopak lama berguguran jatuh


Diterpa angin dengan teduh


Yang mekar tak kenal lusuh


Sejak kembang di waktu subuh.


Kumbang pun singgah karena tergoda


Sambilkan menghisap sari bunga


Menyerbuk nektar memupuk asa


Bagaimana tidak kumbang tertarik


Meski mentari sepanas terik


Harummu amat nikmat memekik


Hingga singgah hinggap memetik"


"Waaaaaaaaaah". Mereka berteriak dan membuat sedikit telingaku sakit. "Wah tuan putri, hamba belum pernah mendengar puisi yang indah seperti itu sebelumnya, apakah tuan putri membuatnya sendiri?" Tanya dayang Mina dengan penuh keraguan. "Jangan sembarangan bicara, Tuan Putri bilang dia yang membuatnya sendiri. Kenapa kamu berkata hal yang merendahkan Tuan Putri". Dayang Janitra emosi setelah dayang Mina mempertanyakan tentang puisiku. Dayang Mitra pun sependapat dengan dayang Janitra. Akhirnya dayang Mina mengaku salah dan meminta maaf. " Sudahlah, tidak apa" Dayang Mina menangis tak karuan karena kesalahan yang di buatnya.

__ADS_1


"Tapi, jika kalian bertiga kesini, siapa yang akan menjaga pintu di depan kamarku?". "Ahh Kami melalaikan tugas kami lagi, maafkan kami tuan putri" Mina merengek lagi. Ahh aku sangat pusing jika mereka seperti ini. Benar-benar orang kuno. "hamba yang akan berjaga di pintu depan" Kata dayang Mitra dengan sigap.


"Tidak perlu". Aku menoleh dan mendengar itu adalah suara Kak Mahesa. "Kak Mahesa" Aku akan menghampirinya tapi dia malah mendekat dan berteriak "BERLUTUT SEMUA DAYANG". Dayang-dayangku sangat ketakutan dan berlutut bahkan setengah bersujud. Aku sangat kaget dengan Perubahan Mahesa. Dia adalah orang yang riang, tapi bisa berubah kejam. aku yang sebenarnya lebih tua pun merasakan getir di hatiku.


"Ahh, adikku maafkan kakak karena mengeluarkan sedikit sihir dalam ucapan kakak, kamu tidak apa-apa kan?". Mahesa begitu khawatir. Dia mulai memeriksa wajahku. "Benar-benar aneh, biasanya jika sihirku mengenai orang yang tidak memiliki sihir dia akan berlutut dan berkeringat dingin, apalagi dengan kondisi adikku yang lemah, tapi dia tidak pingsan. luar biasa"


"Siapa tadi yang meragukan puisi buatan adikku"Kak mahesa bertanya dengan nada yang ganas."Hamba yang mulia".Dayang Mina menhawab dengan cepat. "Pergi ke departemen hukum, dan minta 20 cambukan karena telah meragukan Putri Chandini". Dayang Mina pun bersujud dan berterimakasih kepada pangeran karena telah meringankan hukumannya. "Dan kamu dayang mitra, jaga pintu depan kamar Tuan Putri 2 orang prajurit juga ada disitu". "Baik Pangeran". "Dayang Janitra ikut aku dan Tuan Putri Pergi". Mahesa pun menarik tanganku dan mengajakku pergi, di perjalanan aku bertanya kita akan kemana. "Kita akan melihat Kak Chandra berlatih dengan Ksatria ellite"." Wah, bagus sekali, aku ingin lihat, tapi kak dayang mina". Aku sedikit sedih karena Mahesa harus menghukumnya. "Bawahan harus selalu mendukung majikannya, walau majikannya jahat baik tapi tidak boleh meragukan tuan Putri, hukuman dari departemen hukum adalah 50 cambukan, tapi aku telah mengurangi hukumannya". Aku sedikit heran dan bertanya "Tapi bagaimana kakak bisa yakin kalau dia hanya menerima 20 cambukan"."Aku telah menghubungi bagian departemen hukum". "Tapi kak, bagaimana caranya?".


"Dengan sihir". "waaah sihir juga bisa di buat seperti itu?". Kak mahesa pun menjelaskan sedikit tentang sihir, karena ilmu sihir sangat luas, sulit untuk mendeskripsikan bagaimana kuatnya atau terampilnya seseorang tanpa melawanya dengan sihir juga.


Akhirnya kami tiba di tempat berlatih para Ksatria Ellite. Dan aku melihat para ksatria berkumpul melihat Kak Chandra dan Seorang Ksatria bertarung dengan pedang. "Namanya Attaya 19 tahun lebih tua dari kak Mahesa 4 tahun". jelas Mahesa. " Aku pun menilainya " Tapi dengan kemampuan kak Chandra itu sudah hampir mengimbangi Attaya, tapi lihatlah Kak Chandra kurang menguasai tempo membuat dia cepat kelelahan" Kak Mahesa melirikku dan sedikit heran "Adik benar".


Sring. Pedang jatuh. ya, itu adalah pedang Kak Chandra. Dia pun Kalah dari Attaya. Tapi tiba-tiba tatapannya melihat aku dan Kak Mahesa. Aku pun menghampirinya dan berpura-pura manja. " Kak Chandra hebat sekali, tidak kalah pada Attaya yang lebih tua dari kakak, kakak hanya terus berlatih, cukup setahun pun kakak bisa melampaui Attaya". " Wah, analisi yang hebat adikku". kak Chandra mengelus rambutku.


Tiba-tiba para Ksatria menghampiri kami. mereka yang tadinya terlihat serius menonton pertandingan, malah tersenyum manis padaku. kenapa semua orang disini tampan, bahkan kstarianya juga tampan.


"Wah tuan putri cantik sekali". "Wah tuan putri manis,imutnyaaa"." Wah tuan putri ayo kita main"."Tuan putri ayo kita main masak-masakan"."Tuan putri ayo kita main peran suami istri, rumah-rumahan?".


Aku pun menjawab dengan tegas "Aku enggak mau". Mereka pun sedih dan kecewa. Tapi aku ingin main satu. Wajah mereka pun gembira. "Aku ingin main busur dan panah". Wajah Ksatria semua berubah, apalagi setelah itu aku mengajukan perjanjian jika aku tidak bisa menembak 3 burung yang sedang terbang aku akan bermain bersama mereka. Jika aku menang Mereka akan bersumpah setia padaku.


Begitulah hasilnya aku pun menang. Wajah Ksatria Serius dan kelihatannya mereka berkompromi, kemudian saling mengangguk. "Kami bersumpah Akan selalu menjaga tuan putri, melindungi tuan putri, dan berpihak pada tuan putri apapun yang terjadi". Begitulah, sebagai balasannya aku pun bermain bersama mereka.


Mahesa dan Chandra berbicara berdua lebih serius, aku tau mereka mulai mencurigaiku. mungkin mereka pikir aku bukan Chandini yang Asli.

__ADS_1


Setelah puas bermain, kamipun akan kembali. Saat itu aku di apit oleh kedua Kakak ku dan di belakang ada Dayang Tina. Aku tau dia akan mengintrogasiku. Tapi tidak ku sangka Kak Mahesa mengacungkan Senjata di leherku. "Lihat dadanya". "Apaaaa??????". Aku sangat kaget saat Chandra melihat dada sebelah kananku.


__ADS_2