
Angkot sudah datang, dan berhenti tepat di depan Quinsa. “Joko, terimakasih ya, sudah membantu aku hari ini!” Ucap Quinsa sebelum naik ke angkot.
“Hehehe..santai aja! Kan kita sahabat.” Joko tersipu malu. Quinsa kemudian naik angkot dan duduk lalu melambaikan tangan pada Joko.
“Hati-hati ya! Jangan kemalaman pulangnya!” teriak Joko sembari membalas lambaian tangan Quinsa.
“Iya...!” Jawab Quinsa tersenyum sembari mengeluarkan kepalanya dari jendela angkot.
Angkot pun mulai melangkah menjauh dan tak nampak lagi di pandangan Joko. Sambil menarik gerobaknya, Joko berbalik pulang.
Sampailah Quinsa di depan gapura perumahan elit di tengah kota. Quinsa masuk dan berjalan tanpa tahu harus berbelok kemana. “Pak, permisi, numpang tanya, Blok Tripel A No 71 sebelah mana ya , Pak?” Tanya Quinsa pada tukang Ojek yang mangkal di pos ronda.
“Walah Neng...Masih jauh banget! Mending naik ojek Abang aja Neng, nanti pasti cepet sampe!” Tawar tukang Ojek.
“Mmm...!” Quinsa garuk-garuk kepala, dia menghitung uangnya sepertinya tidak akan cukup untuk bayar Ojek. “Hehehe..jalan kaki aja deh Pak, uangnya kurang! Maafin ya Pak.” Jawab Quinsa tersenyum ramah.
“Yaaah..cantik-cantik Kèré !” Ucap Tukang Ojek sinis, kecewa karena ditolak Quinsa.
Quinsa langsung pergi meninggalkan pos ronda dan melanjutkan perjalanannya.
Untung saja sore ini, anginnya sejuk, tidak panas sama sekali. Hal yang paling terasa berbeda dengan lingkungan di mana Quinsa tinggal adalah, udara di sini sama sekali tidak berbau sampah.
Sepanjang jalan, yang Quinsa lihat hanyalah rumah besar bagaikan istana. Mata Quinsa sampai tak berkedip, mulut nya terbuka lebar berdiam memandangi rumah yang sangat indah.
“Ya ampun...ini rumah kok bisa gede banget ya? Isinya apa aja?” Bisik Quinsa takjub. “Ini mah buat banget buat orang sekampung Kulon!” Ucap Quinsa.
__ADS_1
Tiba-tiba... “Tett...tett...!” bunyi klakson mobil. “Hey..siapa kamu? Ngapain diri di tengah jalan! Minggir! Ayo cepat minggir!” teriak Supir mobil.
Quinsa kaget, lalu melangkah mundur.
Setelah di amati, ada nomor yang tertera di gerbang besar rumah ini.
“71...Eh ini kan Nomor rumah Arjuna!” Ucap Quinsa baru sadar.
Pak supir keluar dari mobil, lalu membukakan pintu belakang. Keluarlah seorang gadis manis yang cacat. Pak supir segera membantu menaik kan nya ke kursi roda.
“Permisi..!” Quinsa memberanikan diri mendekat.
“Iya..ada apa?” Tanya gadis manis berkursi roda itu.
Gadis itu memandang Quinsa dari bawah sampai ke atas. “Kamu siapa?” Tanya nya.
“Oh..perkenalkan namaku Quinsa, saya teman sekelasnya Arjuna! Hehehe!” Jawab Quinsa sambil mengulurkan tangan memperkenalkan diri.
“Aku Kinara, adik kembarannya Arjuna!” Jawab Kiara tak mau menjabat tangan Quinsa.
“Pak, panggilkan Kak Juna!” Ucap Kinara segera berlalu mengabaikan Quinsa.
Quinsa terdiam sambil melihat tangannya, dia pikir tangannya mungkin kotor, sehingga Kinara tidak mau menyentuh tangannya.
Arjuna segera berlari keluar menyambut Quinsa dengan sangat ramah. “Hai...akhirnya kamu sampai juga, nyasar nggak? Gampang kan alamat rumahnya!” Ucap Arjuna tersenyum.
__ADS_1
“Hehehe...iya gampang, rumah kamu yang paling besar! pastinya gampang nemuin nya!” Ledek Quinsa. “Ah..bisa aja kamu, ayo masuk!” Jawab Arjuna.
“Aku tidak tahu kalau kamu punya adik, kembar lagi!” Ucap Quinsa. Namun Arjuna terdiam tak menjawab. “kita langsung ke studio aja ya, mari!” Kata Arjuna. Quinsa pun tak mau mengungkit lagi soal adiknya, Kinara.
“WAaaaw.. luas banget studio nya, Jun! Aku bisa leluasa bernyanyi sambil menari kalau kaya gini!” Ucap Quinsa senang.
Arjuna memandangi wajah Quinsa, yang terlihat bahagia, sambil berputar-putar di dalam studio nya.
“Oh iya, kamu mau minum apa? Biar aku ambilkan?” Tanya Arjuna. “Mmm..aku pingin yang seger-seger, tapi apa yaaa?” Quinsa berpikir.
“Hahaha...minum aja pake mikir dulu! Ya udah, aku ambilkan juice jeruk aja ya!” Ucap Arjuna. “Eh iya deh! Itu juga enak, terimakasih ya, Jun!” Jawab Quinsa.
Pintu studio di biarkan terbuka, nampaknya Kinara memperhatikan Kakaknya yang sangat akrab dengan temannya itu. Kinara mencoba mengintip dari balik pintu, dia mendengar suara Quinsa yang sedang bersenandung di dalam sambil menari -nari.
Kinara terlihat iri, dan merasa kesal sendiri. Lalu Kinara membanting pintu studio, sampai tertutup. Quinsa yang berada di dalam sampai kaget, karena mendengar suara pintu di tutup terlalu keras.
“Siapa itu!” Ucap Quinsa segera mendekat dan membuka pintu, memeriksa. “Hmmm ..aneh! Nggak ada orang, terus, siapa yang membanting pintu ini?” Pikir Quinsa heran.
Arjuna ternyata melihat kalau adiknya lah, yang menutup pintu dengan keras. Kemudian Arjuna meletakkan dua gelas berisi juice jeruk di atas meja.
“Apa yang kamu lakukan! Jangan pernah dekat dan ganggu temanku!” Ancam Arjuna pada adiknya. Kinara menatap sedih ke arah Kakak nya yang tiba-tiba masuk ke kamarnya lalu mengancamnya.
“Ada apa denganmu Kak? aku ini adik mu, kenapa kamu bersikap sangat dingin padaku! Kenapa?” Tanya Kinara sambil menangis.
Arjuna mengabaikan tangisan adiknya, lalu keluar kamar begitu saja. Arjuna kembali tersenyum sambil membawa dua gelas juice jeruk pada Quinsa.
__ADS_1