
Arjuna memandangi Quinsa, yang sedang berlatih bernyanyi sambil menari di depan cermin besar, di dalam studio nya.
“WOOOOoooow....!” Quinsa selesai menyanyi. “Bagaimana pendapat mu, Jun?” Tanya Quinsa duduk lalu meminum juice jeruk nya. Arjuna tersenyum, “Bagus! Cuma kalau saja ada musiknya pasti akan lebih bagus lagi!” Jawab Arjuna.
Quinsa lalu berpikir, dia teringat pada seseorang yang pernah dia lihat di ruang seni. “Kamu tahu nggak? Sekolah kita kan punya grup band loh! Tapi aku nggak begitu mengenal mereka.” Ungkap Quinsa.
“Iya, betul! Aku baru ingat grup band yang beranggotakan tiga orang kan? Aku pernah lihat mereka yang sedang berlatih di ruang seni. “Aku juga! Aku sempat mengintip, karena waktu itu aku ada di dalam ruang seni lagi latihan nyanyi, Eh nggak tahunya ada mereka yang mau latihan juga!” Jelas Quinsa.
“Bagaimana kalau besok, kita ajak mereka latihan bareng sama kamu?” Ucap Arjuna. “Tapi, apa mereka mau latihan sama aku?” Quinsa merasa kurang percaya diri.
“Dih! Ngapain kamu jadi rendah diri gini sih! Hey..calon super star, nggak boleh rendah diri! Kamu harus tampil percaya diri, bahu harus tegap! Nah...Seperti ini!” Ucap Arjuna sembari memegang kedua bahu Quinsa.
Quinsa tersenyum dan rasa percaya dirinya langsunh kembali. “Oke! Besok aku akan coba berkenalan sama mereka, lalu aku ajak mereka latihan bareng!” Jawab Quinsa dengan semangat.
Mereka tertawa bersama, “Hahaha..!”
Kinara mendengar suara tawa mereka dari dalam kamarnya, sambil menangis tanpa bersuara.
__ADS_1
Kinara memiliki penyakit bawaan sejak lahir, dan itu baru terlihat setelah beberapa jam bayi Kinara di nyatakan sehat oleh Dokter Anak.
Paru-parunya sejak bayi sulit untuk mengembang. Butuh alat bantu pernafasan dan bantuan obat-obatan untuk menopang hidupnya selama 4 tahun. Kini pernafasannya berangsur membaik.
Berbeda dengan Arjuna yang lahir lebih dahulu beberapa detik dari Kinara. Arjuna lahir dalam keadaan sehat. Bayi Arjuna keesokan harinya, sudah boleh di bawa pulang, berbeda dengan bayi Kinara, yang masih berada dalam inkubator.
Beberapa bulan yang lalu Dokter memutuskan untuk mengoperasi tulang punggung Kinara, dengan menambahkan besi penyangga, agar Kinara bisa kuat berjalan.
Tulang punggung Kinara menalami pengeroposan, akibat efek negatif Obat-obatan yang terlalu lama di konsumsi. Namun operasi itu tidak berjalan lancar, Kinara mengalami pendarahan.
“Bapak, Ibu, salah satu dari kalian harus siap mendonorkan darah untuk Kinara!” Ucap Suster.
Sangat di sayangkan, ternyata Papanya Kinara tidak bisa menjadi pendonor, karena kondisi badannya sedang lemah, karena lelah setelah beberapa hari bekerja di luar kota. Akhirnya mereka meminta Arjuna untuk ikut mendonorkan darahnya, sebab darah Mama tak sama dengan golongan darah Kinara.
Sekali lagi mereka kecewa. Suster menyatakan tak ada kecocokan antara golongan darah Arjuna dengan Kinara.
“Loh masa sih Sus! Suster pasti salah deh, kan nggak mungkin darah mereka beda, Arjuna ini kakak kembarnya Kinara, mereka lahir cuma beda beberapa detik aja Sus!” Jelas Mama Kinara.
__ADS_1
“Tenang Mah, begini Suster, coba suster cek lagi ya, dengan teliti, mungkin ada kesalahan.” Ucap Papanya Kinara. Arjuna hari itu hanya diam tak mengerti apa-apa.
Suster lalu membawa kasus langkanya donor darah Kinara, pada Dokter yang sedang mengoperasi Kinara saat itu. Syukurlah masalah donor darah terselesaikan, karena pihak rumah sakit mendapatkan beberapa kantung darah, yang baru datang dari Bank Darah.
Kisah bedanya golongan darah Arjuna dan Kinara berbuntut panjang. Dokter menyelidiki lebih jauh, mengapa anak terlahir kembar bisa berbeda golongan darahnya.
Agar tidak terjadi kesalah pahaman antara dua belas pihak. Maka pihak rumah sakit harus menjelaskan duduk perkara yang sebenar nya.
Kinara masih berbaring di ranjang rumah sakit tak sadarkan diri. Arjuna duduk di sampingnya menemani adiknya itu. “Sebentar lagi kamu akan sembuh De' !” Ucap Arjuna senang, berpikir Kinara setelah operasi bisa langsung berjalan.
“Itu tidak mungkin!” Teriak Mamanya Arjuna. “Dokter, itu tidak mungkin Dokter! Kinara itu anak kami!” Ucap Papanya Arjuna.
Arjuna kaget, mendengar teriakan Mamanya. Arjuna berjalan lalu mendengarkan percakapan Papa, Mamanya dengan Dokter yang mengoperasi Kinara, dari balik pintu.
“Maafkan saya, tapi ini lah kenyataannya, jadi penyebab mengapa darah Arjuna tidak cocok dengan Kinara, karena mereka bukan sedarah, ini hasil lab nya, Bapak , Ibu bisa melihat langsung, ini surat hasil tes DNA Arjuna dan ini surat hasil tes DNA Kinara.” Jawab Dokter sambil menyerahkan surat itu.
Begitu terkejutnya mereka, setelah melihat dua hasil tes DNA anak mereka. Arjuna 99,9% cocok, Sedangkan Kinara....”Oh Tidak...ini tidak mungkin! Lalu di mana anak ku yang asli Papa!” teriak Mama Arjuna histeris lalu pingsan.
__ADS_1
Itulah sebabnya, mengapa Arjuna bersikap dingin pada Kinara sampai sekarang. Meski Mama, Papanya tetap sayang pada Kinara, tapi Arjuna tidak bisa berpura-pura akrab dengan adik palsunya itu.