
Dilan berusaha mencari tahu di mana tempat tinggal Quinsa. “Kenal yang namanya Quinsa nggak?” Tanya Dilan pada temannya Bima.
“Quinsa penerima beasiswa itu, mmm...aku Cuma dengar dari gosip sih, katanya dia tinggal di TPA Kulon yang terkenal berbau busuk itu!” Jawab Bima.
Dilan terkejut mendengar jawaban Bima.
Quinsa berjalan menuju kelasnya, dari ujung sana terlihat Dilan sedang melangkah.
“Hai....Dilan!” Panggil Quinsa dengan riang. Dilan terdiam terpaku, di benak nya muncul kata-kata Bima barusan. “Tinggal di TPA Kulon yang terkenal bau busuk.” Pikir Dilan.
Dengan berat hati, Dilan mengabaikan panggilan Quinsa, lalu berpura-pura berbelok arah.
“Eh..kenapa dengan Dilan, kok kaya menghindari aku!” Pikir Quinsa.
“Woyyy..bengong aja!” Ucap Arjuna mengagetkan Quinsa. “Juna ..iih..bikin kaget aja!” Kata Quinsa sembari menyematkan rambutnya yang keriting panjang.
“Kalau di lihat-lihat rambutmu sama ya dengan ku, sama-sama keriting, hehehe..!” Arjuna menyentuh rambut Quinsa.
“Apa jangan-jangan kita saudaraan Quin!” Ucap Arjuna lalu tertawa.
“Ya ampun jangan ngaco deh! Saudara dari mana lagi, huuuuu..!” Jawab Quinsa mengusap-usap rambut Arjuna sampai berantakan.
“Rambutku dah keren-keren juga!” Ucap Arjuna sembari membenahi lagi rambutnya.
Diana dan Salsa menatap sinis pada Quinsa yang bercanda dengan Arjuna.
“Aku heran, emang Juna nggak nyium bau busuk apa, deket-deket sama Quinsa!” Ucap Diana iri. Salsa menyahut, “Cinta telah menutup hidung Arjuna rapat-rapat !”
__ADS_1
“Bego lo! Juna nggak boleh jatuh cinta sama gembel itu!” Diana marah mendengar ocehan Salsa, sembari memukul kepala Salsa.
“Aduh! Sorry Diana..sorry! Keceplosan!”
Arjuna tersenyum lalu mendekati meja tempat duduk Quinsa. “Nanti pulang sekolah, kita latihan di rumahku lagi yuuk!” Ucap Arjuna.
“Mmmm...kalau aku ajak Dilan boleh nggak? Soalnya kemarin dia juga ngajakin latihan bareng di studio band nya!” Jawab Quinsa.
Arjuna nampak kesal, “Ya udah, ajak aja!” Dengan wajah cemberut, Arjuna rela menyediakan tempat untuk mereka latihan, “ini semua demi Quinsa” Pikir Arjuna.
Dilan duduk di kantin bersama kawan-kawannya. Tak lama Quinsa muncul bersama Arjuna.
“Eh..itu Dilan! Sebentar ya Juna, aku tanyain dia, jadi nggak latihan nya, oke!” Ucap Quinsa segera menghampiri Dilan.
Sebagian teman-teman Dilan menyingkir ketika Quinsa mendekati tempat duduk mereka.
Mereka pergi sembari menutup hidung mereka.
“Dilan...gimana, jadi nggak kita latihannya?” Quinsa dengan percaya diri menegur Dilan sembari menepuk bahunya.
Dilan kaget sekaligus malu, karena setiap mata melihat ke arahnya.
Dilan berpikir, orang orang pasti merendahkannya karena berkawan dengan Quinsa.
“Mmm..maaf Quin, sepertinya aku nggak bisa!” Jawab Dilan sembari menepis tangan Quinsa yang melekat di bahunya.
Quinsa tak mengerti, mengapa sikap Dilan berubah padanya.
__ADS_1
Arjuna memperhatikan dari kejauhan. “Ada apa dengan Dilan, mengapa tatapannya seperti itu?” Arjuna melihat Orang-orang yang menatap aneh ke Dilan dan Quinsa, nampak jelas Dilan terlihat malu berdekatan dengan Quinsa.
Arjuna langsung berasumsi, “Apa Dilan sudah tahu siapa Quinsa sebenarnya? Apa dia malu!” Bisik Arjuna.
Quinsa nampak sedih dengan perubahan Dilan. “Kan kamu sendiri yang mengajak ku latihan kemarin, Dilan! Tapi kenapa kamu bersikap dingin seperti ini, apa aku berbuat salah padamu Dilan?” Tanya Quinsa memelas.
Dilan terdiam tak tahu harus menjawab apa, sedangkan orang-orang di kantin semakin banyak yang membicarakan dirinya.
“Apa kamu sakit?” Tangan Quinsa menyentuh kening Dilan.
“Apa yang kamu lakukan!” Dilan tersentak lalu berdiri mencengkram tangan Quinsa.
“Aawww..!” Jerit Quinsa kesakitan.
Dilan nampak marah, keningnya di sentuh oleh Quinsa.
Arjuna segera mendekati Quinsa. “Lepaskan tangannya!”
Arjuna menatap mata Dilan, sembari memegang tangan Dilan yang terlalu keras mencengkram tangan Quinsa.
Dilan akhirnya melepaskan tangan Quinsa.
“Kamu nggak apa-apa Quin?” Tanya Arjuna khawatir. Quinsa terlihat sangat sedih dan merasa malu. Sambil menangis Quinsa pergi dari kantin.
Melihat Quinsa menangis Dilan baru sadar bahwa sikapnya terlalu berlebihan pada Quinsa.
“Ada apa dengan lo sih, bisa nggak, jangan kasar begitu sama Quinsa!” Ucap Arjuna marah pada Dilan sembari mendorong pundak kiri Dilan keras.
__ADS_1
Dilan tertunduk malu, “Maafkan aku!” Ucap nya.
Arjuna lalu berbalik dan mengejar Quinsa.