
Quinsa tersadar bahwa dirinya ternyata terpana dengan alunan musik yang Dilan mainkan.
Perlahan Quinsa mundur dari barisan terdepan. Quinsa berbalik badan lalu keluar dari ruang seni. Arjuna memperhatikan tingkah Quinsa sejak tadi.
Dilan mencari sosok gadis yang dia sukai, “Kemana dia pergi? Tadi ada di sini?”
Wajah Quinsa memerah, “Iiii.... kenapa aku jadi berdebar begini, padahal kan dia cuma cowok sombong, yang aku kenal di perpus kemarin!” Ucap Quinsa berdiri di luar tertunduk sambil mengelus dadanya sendiri.
Tiba-tiba Arjuna datang, menyentuh bahu Quinsa. “Hey.. sedang apa di sini sendirian?” Tanya Arjuna yang mengikuti Quinsa sejak tadi.
Quinsa terkejut, “Eh kamu! Nggak kok, aku cuma teringat kalau kita ada ulangan bahasa inggris hari ini, ayo cepat kita kembali ke kelas!” Jawab Quinsa, tidak ingin Arjuna tahu apa yang Quinsa pikirkan barusan.
Arjuna mengikuti Quinsa dari belakang, sedangkan Dilan mencari Quinsa sampai keluar dari ruang seni. Sayang sekali Dilan tak lagi melihat Quinsa di sana.
Quinsa begitu serius membaca buku Matpel Bahasa Inggrisnya, walaupun sebenarnya di dalam hati Quinsa masih penasaran dengan perfome Band sekolah di ruang seni itu.
“Quin..! Quinsa..!” Panggil Arjuna.
Diana menatap cemburu, melihat keakraban mereka. “Na..! si Juna, makin hari makin akrab aja sama cewek gembel itu!” Ucap Salsa berbisik pada Diana.
“Arjuna tuh orangnya terlalu baik, dermawan suka menolong orang miskin, orang miskin nya aja yang nggak tahu diri!” Jawab Diana sengaja mengeraskan suaranya, menyindir Quinsa.
Dengan menarik nafas panjang, Quinsa berusaha sabar mendengar ocehan Diana dan Salsa.
Arjuna yang sedari tadi memanggil nama Quinsa, tak juga di balas oleh Quinsa. Akhirnya Arjuna berdiri dan menghampiri tempat duduk Quinsa.
“Quin..dari tadi dipanggilin nggak nengok-nengok sih! Ada apa, kamu marah sama aku ya?” Kata Arjuna bertanya setelah melihat raut wajah Quinsa yang cemberut saja sejak tadi.
Quinsa malas menjawab Arjuna, karena Diana dan Salsa terus saja mengawasi dan membicarakannya.
“Nggak..aku nggak marah sama kamu, aku cuma lagi males ngobrol aja, dah ya..aku mau belajar, sebentar lagi kan ulangan Bahasa Inggris!” Jawab Quinsa.
Arjuna mencoba memahami sikap dingin Quinsa padanya. “Oke, maafin aku ya..aku cuma mau kasih kamu ini!” Arjuna meniggalkan buku catatan Quinsa di mejanya, buku yang terjatuh dan tertinggal di ruang seni tadi. Arjuna lalu berbalik pergi dengan raut wajah sedih.
Quinsa merasa tidak enak, mengapa dia bersikap dingin pada Arjuna, padahal sikap usil serta ejekan Diana dan Salsa itu bukan kesalahan Arjuna.
“Kenapa aku jadi kesal sama Arjuna tadi!” Ucap Quinsa menyesal. “Aku harus minta maaf padanya nanti!” Bisik Quinsa dalam hati.
__ADS_1
Kemudian Guru Bahasa Inggris, masuk ke dalam kelas, mereka pun memulai ulangan.
Sepulang sekolah, Quinsa melihat Arjuna sedang berjalan. Quinsa merangkul pundak Arjuna dari belakang.
“Hai kawan..! Hehehe..kita mampir ke ruang seni yuuk! Temenin aku latihan, mau nggak?” Ajak Quinsa berusaha bersikap baik pada Arjuna. Perlahan Arjuna menghentikan langkahnya.
“Siapa kamu? Emang aku kawanmu!” Jawab Arjuna sinis lalu menurunkan tangan Quinsa yang merangkul pundaknya.
Quinsa sedih mendengar ucapan Arjuna. “Kamu marah sama aku yaaa..?” Tanya Quinsa manja. Arjuna diam, sebenarnya dia hanya ingin mengerjai Quinsa saja.
“Juna..Arjuna..! Iiiihh..gitu aja marah, Maafin aku deh..emang tadi aku keterlaluan, abisnya aku kesel sama ejekan Diana dan Salsa tadi di kelas!” Jelas Quinsa sembari memohon menarik_narik baju Arjuna.
Disaat Arjuna ingin menjawab Quinsa dan ingin menjelaskan kalau dia hanya pura-pura marah sama Quinsa, Dilan datang memanggil Quinsa.
“Quinsa...Quinsa!” Teriak Dilan berlarian menghampiri Quinsa. “Quinsa..aku dengar kamu ikut lomba menyanyi ya? Boleh aku yang mengiringi musik mu nanti ketika lomba?” Dilan bertanya. Nafasnya sampai tersengal-sengal karena berlari.
Quinsa raut wajahnya berubah menjadi cerah. Arjuna pun mundur perlahan melihat Quinsa yang fokus menatap Dilan.
Perlahan Arjuna berbalik, berjalan sendirian meninggalkan Quinsa yang asyik mengobrol bersama Dilan.
Di dalam gubuk kecilnya, Quinsa kembali di hadapkan dengan kenyataan bahwa dirinya tak bisa berlatih bernyanyi di sini.
Suara Quinsa yang terlalu bagus, membuat rasa dengki Mbah Sinam tetangganya makin memuncak. “Wong edan! Teriak-teriak ndak karuan! Bikin pusing sirah ku wae!” Ucap Mbah Sinam.
Pak Reng menghela nafas, merasa sedih dengan tanggapan para tetangga yang tak suka mendengar Quinsa bernyanyi.
“Apa salah anak ku? Cuma nyanyi, itu pun suaranya nggak jelek!” Gerutu Pak Reng.
Quinsa tak perduli dengan omongan sinis para tetangganya, dan tetap berlatih bernyanyi meskipun hanya bermodal radio tape dan Mikecrofon kecil.
Di sore hari seperti biasa Quinsa mencari-cari sesuatu di tumpukan sampah, yang mungkin masih bisa di daur ulang, lalu di sulap olehnya, menjadi benda baru yang bisa menghasilkan uang.
Quinsa pulang membawa satu karung penuh dengan bungkus bekas, dari berbagai macam jenis makanan dan minuman. “Untuk apa semua bungkus bekas itu Nak?” Tanya Pak Reng.
Quinsa lalu mengeluarkan contoh benda cantik, yang berasal dari bungkus bekas kopi.
Pak Reng melihat tas cantik yang Quinsa tunjukan, “wah tas nya bagus sekali Nak!” Ucap Pak Reng menanggapi.
__ADS_1
“Apa ayah tahu dari apa bahan tas cantik ini di buat?” Quinsa meminta Pak Peng menebaknya.
“Hmmm..apa ya? Ayah nggak tahu Quin! Memangnya dari apa?” Pak Reng berbalik bertanya.
Quinsa tersenyum, lalu menunjukan semua bungkus bekas yang sudah dia kumpulkan dari tempat TPA Kulon. “Dari ini semua Ayah!” Ungkap Quinsa.
Pak Reng takjub tak menyangka, kalau bungkus bekas seperti ini, bisa menjadi barang bagus layak pakai.
“Bukan main! Bagaimana kamu Bisa punya ide seperti ini Quin?” Tanya Pak Reng penasaran.
“Dari sekolah Ayah! Di sekolah ku di ajarkan bagaimana cara mendaur ulang kembali sampah rumah tangga, menjadi barang yang bisa di pakai bahkan bernilai jual.” Jelas Quinsa pada Ayahnya.
Quinsa merasa yakin, kalau idenya ini akan mendatangkan uang, yang bisa membantunya untuk membeli semua kebutuhannya, untuk lomba nyanyi nanti.
Semalaman Quinsa membuat tas cantik dari bekas bungkus makanan ringan, selain tahan air, tas ini juga berwarna cerah dan banyak di cari para pelajar dan ibu rumah tangga.
Pak Reng memperhatikan dari balik tirai penutup kamar Quinsa. Dalam hati Pak Reng merasa bangga dengan putrinya, meski....
Pak Reng menundukkan kepala, dan tersadar kalau Quinsa bukanlah anaknya yang asli.
Teringat kembali kisahnya ketika nekad menukar putri kandungnya yang sakit dengan bayi sehat dan cantik anak orang kaya.
Dua belas tahun yang lalu, di rumah sakit besar, Pak Reng berencana menukarkan putrinya yang sakit parah, dengan bayi sehat yang baru saja masuk ke ruang bayi malam itu.
Pak Reng terpaksa melakukannya, karena tak punya biaya untuk pengobatan putrinya yang mengidap penyakit bawaan, penyakit langka yang membuat si bayi sulit bernafas.
Pak Reng berfikir, kalau putrinya akan selamat dan bisa hidup tanpa khawatirkan biaya pengobatan yang mahal, bila di rawat oleh orang tua kaya.
Dari luar ruang rawat inap kelas VVIP, Pak Reng memastikan, kalau dia tidak akan salah menukarkan putrinya.
Benar saja perkiraan Pak Reng, ternyata mereka berdua pasangan suami istri dari kalangan orang yang berkecukupan.
Pak Reng tak ragu lagi untuk melaksanakan rencananya malam itu juga.
Akhirnya putrinya berhasil ditukarkan dengan anak dari turunan konglomerat.
Pak Reng yang saat itu memakai mantel dan menutupi wajahnya dengan masker, menggendong bayi anak orang kaya yang kini dia besarkan, bernama Quinsa.
__ADS_1