Rache Waffe

Rache Waffe
09. Death Lake


__ADS_3

Jamuan besar kekaisaran, yang dilakukan oleh Putri Ella mengharuskan Dylan untuk menghadiri acara tersebut. Di atas singgasana, terlihat seorang wanita dengan tampilan yang cukup megah dan mencolok, dia adalah permaisuri kaisar yang selanjutnya. Putri dari Duke Beilschmidt. Faksi kuat yang mendukung putri kedua sebagai pemimpin kekaisaran selanjutnya, dan orang yang mendukung permaisuri sekarang lebih dari apapun.


Bahkan, kaisar sendiri memberi keistimewaan pada istrinya yang satu ini, dengan wilayah di ujung barat Kekaisaran yang sekarang menjadi milik keluarga Beilschmidt. Seharusnya, itu milik Duke Windstorm dulunya, tetapi telah diambil kembali oleh kekaisaran dan diberikan kepada permaisuri nya.


Dylan sebenarnya sama sekali tidak ingin menghadiri acara ini, tetapi kaisar tua itu memaksanya dengan beberapa kata, seperti dia adalah orang muda yang membutuhkan istri dan anak, jadi dia harus mencari gadis-gadis bangsawan dari keluarga baik-baik di jamuan ini. Seharusnya, masalah pernikahan ini adalah hal yang harusnya ia miliki sendiri sebagai rahasia kamarnya.


Kemudian, Dylan menatap ke arah tempat lainnya dan melihat beberapa gadis yang tertangkap basah sedang melihatnya. Mereka adalah putri-putri bangsawan yang pernah dikenalkan oleh Kaisar kepadanya, dan mereka juga cukup cantik dan baik hati. Tapi, Dylan sendiri bukan orang seperti itu. Dia tidak sebaik mereka, dan dia sangat kasar dan dingin. Dia tidak mungkin bisa menjadi suami bagi para gadis-gadis baik disana.


Lalu, Dylan mengedarkan pandangannya ke sudut lain. Itu adalah ruangan tengah dimana terlihat sekumpulan gadis sedang menatap gadis yang lainnya, yang berdiri di tengah dengan gaun berwarna gelap seperti acara kedukaan. Gadis itu sangat berbeda dari seluruh gadis yang berada di ruangan ini, dari mulai gaunnya, bagaimana caranya berpakaian, dan auranya yang menenangkan.


‘ini....’


Sedikitnya, Dylan bisa menebak dan mengetahuinya. Dia memiliki aura dari domain biru, dan merupakan seorang pengendali air dalam tingkat batu Dungeon Saphire. Berbeda dengan Lady Red yang berada di tingkat Aquamarine, ini jauh lebih tinggi dua tingkat.


Gadis itu memiliki rambut sewarna sinar matahari, pirang dan begitu berkilauan dibawah lampu-lampu kristal. Sangat kontras dengan gaun hitam yang bermotifkan mawar. Dia memiliki tatapan yang tenang, dan senyuman manis terpatri di bibirnya yang indah. Sejujurnya dia sangat cantik, tetapi entah mengapa, dia tidak menyukainya saat pertama kali melihatnya. Aromanya dari auranya begitu busuk! Dan mata biru yang indah itu, menyimpan banyak sekali pikiran-pikiran untuk melakukan sesuatu.


Dylan terkadang heran dengan intuisinya, itu bahkan selalu membenci dan waspada kepada gadis-gadis cantik dengan aura menenangkan. Pertama, adalah Lady Red, dan kedua adalah gadis muda ini. Ah, dia baru mengingatnya. Putri terakhir Marquis Hedervary, Helena Hedervary. Salah satu kecantikan kekaisaran dan putri nomor satu yang banyak diincar.


Tetapi, mengapa dia mengenakan pakaian gelap seperti itu? Apakah dia sangat senang mencari perhatian? Batin Dylan. Dia kemudian memilih untuk pergi ke salah satu balkon dan meninggalkan tempat yang menurutnya aneh.


Saat itu, entah suatu kesialan atau apa, dia bertemu dengan Pangeran ketiga. Tetapi seolah-olah dia adalah angin, pangeran ketiga sama sekali tidak melihatnya. Dan melewatinya begitu saja dengan wajah yang cukup memuakkan. Senyum maniak itu, dan tatapan matanya yang seolah-olah ingin menelanjangi seseorang, ya dia cukup membencinya.


Mata merah Dylan kemudian menyapu pada jendela. Cahaya bulan memasuki ruangan dan kemudian, ia sedikit tersenyum.


Malam itu, bulannya juga seterang ini.


***


Di lain tempat, seorang gadis dengan rambut sehitam langit malam, dan mata ungu yang begitu tajam, terlihat menatap ke arah bulan. Bulan yang cukup bersinar terang dan memantulkan dirinya pada permukaan air.

__ADS_1


Saat ini, dan bersama dengan Tyron memulai ekspedisi. Mereka berpamitan pada penduduk desa Elf yang terdistorsi kemarin. Dan siangnya, mereka melanjutkan perjalanan jauh menuju pusat benua kematian. Di tengah perjalanan, mereka berpisah. Edwin membawa Hutson dan Tyron bersama dengan Rache. Edwin pergi ke arah barat dan Rache pergi ke arah timur.


Dan saat ini, disinilah mereka. Di sebuah kubangan besar yang sangat mirip dengan danau, tetapi berwarna hitam. Aura kematian terpancar dari dalam danau hitam dengan air yang menggelegak seperti dididihkan. Asap terpancar dari dalam danau dan tidak ada satupun rumput hitam maupun ranting berduri yang tumbuh di dekatnya. Bahkan, tanaman asli benua kematian setelah terdistorsi tidak berani tumbuh di dekat danau itu.


Tyron tidak gegabah. Dia kemudian menatap ke arah batas dimana rumput hitam tumbuh dan menancapkan ranting kering diatasnya. Sebagai pembatas agar mereka berdua tidak melewatinya.


“ Aku harap kita bisa segera maju dan bertemu kembali dengan Hutson dan Edwin.” Gumam Tyron. Dia merebahkan tubuhnya di tanah dan sedikit mengusap area wajahnya yang dipenuhi serbuk sari bunga lingkar hitam. Salah satu spesies tumbuhan yang akarnya bisa dimakan oleh manusia, para Elf di pinggir benua kematian yang mengajarkannya. Dan kebetulan, mereka menemukan itu begitu banyak di perjalanan dan mengambilnya.


Rache mengingat salah satu perkataan dari tetua elf itu, dia mengatakan bahwa semakin jauh memasuki pusat benua, maka tidak ada makanan lagi yang ditemukan disana. Pusat benua benar-benar tempat yang luas dengan gunung-gunung curam dan aroma busuk seperti bangkai. Tanahnya kering dan tandus serta sangat panas. Pasirnya yang berwarna hitam bisa meluluhkan kulit. Maka dari itu, sebelum pergi lebih jauh ke dalam, mereka terlebih dahulu mengisi bahan baku seperti akar bunga lingkar hitam dan kantong dari tumbuhan bermata merah. Kantong tersebut lah satu-satunya sumber air bersih yang dapat diminum.


“ Kau benar. Ini aku sudah membersihkannya. Apakah Edwin dan Hutson baik-baik saja sekarang...” gumam gadis itu pelan.


Dia mulai mengupas kulit luar akar bunga lingkar hitam yang terlihat seperti kentang dengan kulit berduri. Saat umbi tersebut dikupas, aroma manis seperti apel dan madu menguar keluar. Airnya berwarna merah gelap dan mengandung aroma manis yang tak bisa dijelaskan. Mereka pernah memakan ini sebelumnya di desa Elf. Rache membelah umbi tersebut menjadi dua dan menyerahkan separuhnya pada Tyron.


“ Aku yakin mereka pasti akan baik-baik saja. Edwin memiliki karakteristik asli dari benua ini, jadi alam di tempat ini pasti mengenalinya. Hanya dia satu-satunya orang yang bertahan di domain kuning asli karna puncak tingkatannya, Tingkatan I berada pada warna Gold dan kabarnya, batu itu terkubur jauh di pusat benua kematian. Pria tua itu yang mengatakannya.”


Tyron menyeka bibirnya setelah dia menghabiskan setengah buah itu, dan mengambil kantung transparan seukuran telapak tangan anak bayi dan mulai menggigit tepiannya. Aliran air seperti air sungai yang segar memancar di tenggorokannya.


“ Kita akan melanjutkan perjalanan setelah satu jam. Aku membawa jam pasir kecil dan itu cukup untuk kita beristirahat sampai pasir-pasir ini habis.” Ujar Tyron.


Rache hanya mengangguk. Dia tidak memikirkan apapun lagi dan mulai merebahkan dirinya di rerumputan hitam. Tatapannya tertuju pada langit mendung di atas. Pikirannya jauh menerawang pada apa yang akan terjadi ke depannya. Seperti pertemuan mereka dengan kaum beast kedepan. Ini adalah salah satu dari kilas balik ingatan Edwin saat di volume ketiga. Dan juga, salah satu part terfavorit untuknya. Meskipun sebagian orang mengatakan itu lebih cocok menjadi genre fantasy action dan bukan Fantasy Romance, tapi dia tetap menyukai volume ketiga lebih dari apapun.


Pada saat itulah, suara Tyron memecah keheningan diantara mereka.


“ Rache, aku memiliki satu pertanyaan untukmu. Mungkin ini terdengar tidak sopan, tapi ini berguna untuk kemudian hari. Bagaimana kau bisa terdampar di pemukiman para pemburu, dan siapa kau? Mengapa Monarch Orc mengenalmu?” Tanya Tyron.


Rache menelan ludah kasar. Dia tidak tahu bagaimana harus menjawab ini atau tidak.


“ Abaikan. Aku hanya penasaran dengan dirimu. Kau satu-satunya wanita yang kutemui, yang rela melakukan pertarungan dan petualangan tanpa membebankan tim. Sejauh ini, bahkan Elry belum mencapai tahap itu.”

__ADS_1


Meskipun Tyron mengatakan untuk berhenti memikirkan itu, tetap saja. Rache merasa tak enak hati apabila tidak mengatakan yang sebenarnya pada Tyron. Jadi dia hanya menceritakan sebagian kecil dari dirinya. Dimulai dari dia seorang putri yang dilupakan oleh keluarga kandungnya.


“ Aku ditumbalkan sebagai pengantin, tidak maksudku, sebagai makanan Monarch Orc itu. Keluarga ku memiliki perjanjian dengan monster penguasa hutan berduri dan mereka mengirimkan sebagai salah satu santapan dari dua dekade terakhir.” Balas Rache santai.


Tyron sedikit terkejut dan dia langsung duduk. Dia melihat ekspresi campuran sedih dan tertawa di wajah Rache.


“ Itu adalah kenangan masa lampau. Mereka mungkin menyayangi saudara kembarku yang cukup cantik dengan rambut pirang seperti matahari, dan mata biru seperti air sungai Terryan. Dan mereka mengirimkan aku yang tidak pernah mereka anggap, dan selalu dikaitkan dengan kutukan karna warna rambut dan mata ku yang berbeda dengan kedua orang tua dan keluarga.”


Helaan napas berat terdengar. Rache kemudian tersenyum dan menoleh ke arah Tyron.


“ maaf, seharusnya aku tidak menceritakan itu terlalu jauh.” Bisiknya pelan.


Tyron, menatap gadis itu penuh simpati. Dia mungkin sangat lah muda dan lebih muda daripada Hutson. Dia memiliki pribadi yang berani dan pantang menyerah, gadis yang cukup tegar di usianya.


“ Aku selalu berharap, suatu hari mereka akan melihatku. Tapi toh, itu percuma. Daripada menunggu kematian ku, lebih baik aku melarikan diri dari kereta dan kebetulan aku menemukan desa itu. Yah, aku cukup beruntung bahwa aku bisa bertemu Edwin saat itu.”


Tyron tidak berkata apa-apa lagi. Tetapi, dia memiliki sebuah pemikiran saat melihat aura terpancar dari gadis ini saat mereka pertama kali bertemu.


“ Kau memiliki aura bangsawan di belakang punggungmu. Maaf, tapi bisakah aku tahu apakah kau benar-benar putri seorang bangsawan?” Tanyanya.


“ Ya. Keluarga Hedervary lebih tepatnya.” Ucap Gadis itu dan berhasil. Berhasil membuat rekan di sampingnya mematung.


“ Marquis Hedervary? Setahuku dia hanya memiliki satu putri yang diperkenalkan untuk umum. Dan putri bayangan yang penuh kutukan. Putri bayangan yang penuh kutukan, jadi apakah rumor itu adalah kau?!” Tanya Tyron sedikit antusias.


Senyum di bibir tipis wanita itu terbentuk. Dia kemudian tertawa terbahak-bahak dan mengangguk singkat. “ Bahkan pria tua sialan itu menyebarkan hal seperti itu!” Ucapnya dengan keras diselingi tawa yang menyayat hati.


Tyron masih tidak habis pikir. Jadi gadis ini bukan orang biasa? Sama seperti Edwin dan Jewelry, identitas anak ini tidak bisa diremehkan.


Saat itu, mereka tidak mengetahuinya. Sosok tampan dengan tanduk domba diatas kepalanya. Dengan pakaian dari kulit binatang dan mata hitam dengan pupil kemerahan yang menatap kedua orang itu, dari balik danau kematian. Sosok itu tersenyum dan tangan-tangan tanpa tubuh dengan darah hitam yang mengalir dari sela sela jari, merangkak keluar dari dalam rawa.

__ADS_1


Beberapa kepala tanpa tubuh terlihat menggelinding dari dalam danau hitam melaju cepat ke arah Tyron dan Rache. Sosok itu tersenyum dengan ekspresi bengkok saat melihat kedua orang itu menyadari kehadiran dari kepala tanpa badan dan lengan tanpa badan yang menggelinding dan berlari ke arah mereka. Membawa aura jahat dari domain kegelapan dan saat mereka akan melawan, mereka terlambat.


Bersambung.......


__ADS_2