
Jam pasir sudah menunjukkan seperempat, waktu terus berjalan dan gadis itu tetap tak bisa tidur. Dia menatap ke arah langit yang terlihat berawan tanpa bintang maupun bulan di atasnya. Benar-benar suram.
Dia sedikit menguap, kepalanya sakit karna tidak bisa memejamkan mata, dan dia memilih untuk melihat sekeliling dan berjaga-jaga kalau saja sesuatu terjadi. Saat ini, dia masih berada di tingkatan V dan Tyron berhasil naik di tingkat VI. Itu adalah kemajuan yang bagus. Setidaknya, mereka bisa naik lagi hingga berada di tingkatan warna ke IV atau ke III. Maka, itu lebih dari cukup hanya untuk bertahan di benua kematian ini.
Tyron masih tertidur, dan dia tidak punya pilihan lain selain menatap api unggun di depannya. Rache kembali memikirkan hal-hal yang berada di dalam novel. Seperti bagaimana Pertemuan antara putra mahkota dan Edwin Brecht di benua kematian ini? Kejadian ini terjadi setelah benua kematian perlahan kembali seperti sedia kala. Dimana tempat ini belum tercemar, dan dengan serakahnya, Putra mahkota ingin merebut benua ini dan menjadikannya bagian dari kekaisaran. Mungkin ini pengembangan plot, karna pada saat itu dengan kekuatannya, Helena juga ikut membantu.
Karna event dalam bab ini, banyak yang menyukai adegan antara putra mahkota dan Helena dan mendukung pasangan ini hingga memimpin kekaisaran. Meski dalam cerita, hubungan mereka terlihat seperti benci dan cinta.
Tapi, tunggu dulu. Ada lubang plot yang cukup menganga lebar di dalam chapter ini. Seperti setelah itu bagaimana dan kenapa setelah kematian Raja para monster, Monarch Sverre segera menduduki tempat ini dan membuatnya mengalami kerusakan lebih parah. Meskipun putra mahkota sudah mengalahkan raja para monster, dan finalnya berada di sini! Tetapi banyak sekali adegan yang hilang, seolah-olah itu dipaksa untuk berakhir seperti ini.
Pada saat itu, Rache merasakan area telapak tangannya, yang menempel pada rerumputan kering di tanah terasa lengket. Cairan seperti lem cair dengan aroma amis bagai darah terasa jelas di kulit dan penciumannya. Lalu, Rache mengangkat telapak tangannya yang terasa perih dan melihat cairan berwarna merah gelap, mirip seperti darah tetapi cukup lengket menutupi telapak tangannya.
Dia kemudian hendak membangunkan Tyron, dan saat ia menoleh ke samping, ia melihat tangan tangan tanpa tubuh yang berjalan merayap di atas tanah yang terlapisi cairan lengket. Tangan-tangan itu bergerak lincah dan terlihat kuku tajam mereka mengais tanah dengan cepat. Beberapa dari tangan itu membawa tali rotan, pisau belati, bahkan sampai pisau daging dan jumlahnya sangat banyak.
Tak sampai di situ, Rache dikejutkan dengan kepala manusia yang menggelinding tanpa tubuh dengan lidah yang memanjang. Itu terus menggelinding mengeluarkan cairan lengket berwarna merah tua yang terlihat menjijikkan. Rache kemudian melempar batu pada Tyron, berharap pemuda beruang itu terbangun.
Dan benar saja, Tyron terbangun. Dia memandang Rache dengan tatapan tak bisa dijelaskan sebelum melihat ke arah Rache menunjuk. Dia terkejut dan segera bangkit berdiri, memasang posisi siaga dan mengaktifkan aura miliknya, memanggil perisai. Rache juga melakukan hal yang sama, dia mengeluarkan aura dominasi dan itu sedikit berhasil membuat tangan-tangan itu bergetar kencang. Meskipun tak menghentikan langkah mereka, tetap saja itu sedikit memperlambat.
“ Apa yang terjadi?” Tanya Tyron sedikit berteriak. Dia menatap Rache dengan linglung dan cemas.
“ Aku juga tidak tahu, tiba-tiba saja sudah seperti ini.” Jawab Rache seadanya.
Punggung mereka saling bertemu, dan Rache dengan kuat melemparkan tombak berwarna violet dengan penuh aura penekanan ke depan. Matanya yang berwarna ungu menyala dengan aura dan pola sihir aneh di sekelilingnya. Yang menurut Rache, itu lebih seperti pola kode pemrograman yang tidak bisa dipecahkan.
Dia melihat Tyron dan perisai tembaga yang memancarkan cahaya. Membuat beberapa tangan dan kepala terbakar hangus karna cahaya. Mereka terus mengulangi hal-hal yang sama hingga suara tawa menggelegar dari seorang laki-laki terdengar.
Itu bukan suara Edwin maupun Hutson. Tidak pula suara dari Rache ataupun Tyron. Dan suara itu menggema, seolah-olah dia berada di dekat kolam kematian itu. Semakin mereka mundur, semakin suara itu mendekat. Lalu, terlihat sosok lelaki tampan dengan wajah lembut dan ramah. Dia memiliki mata merah dan surai gelap dengan tanduk domba di kepalanya.
Dia memakai jubah hitam dengan topi kerucut bak penyihir. Membawa sebuah tongkat yang diatasnya bertahtakan permata Ruby dan tersenyum manis ke arah kedua orang itu. Rache sedikit mengernyit dan mencoba mengingat-ingat siapa kiranya orang ini dari novel. Dan dia tidak menemukan sama sekali meskipun dia terus mengingat-ingat tentang deskripsi pria ini. Itu sia-sia dan sekarang mereka terjebak dengan situasi di luar rencana.
Pria itu tersenyum sembari membawa tengkorak kepala manusia dan mendekat ke arah Tyron dan Rache. Dia berkata dalam bahasa asli para monster yang entah mengapa, dapat dipahami oleh Rache tetapi tidak dengan Tyron.
__ADS_1
“ Apa yang dilakukan Tuan dan Nyonya tengah malam begini mengusik rumahku?” tanya pria itu yang masih menggunakan nada ramah.
Rache mengernyit heran saat melihat ekspresi Tyron yang seolah-olah kebingungan. Dia juga sama sekali tak mengenal pria ini dan bahasa yang ia ucapkan, tetapi entah mengapa dia mengetahui arti dari kata per kata yang diucapkan, seolah-olah itu sangat akrab dalam telinganya.
“ Maaf, mungkin kalian tidak paham. Ah, ya sudah lama sekali semenjak orang-orang berkunjung ke rumahku.” Jawab Pria itu dan mengeluarkan sesuatu dari balik lengan jubahnya. Itu mirip seperti bibir seseorang yang dipotong rapi dan dia menelannya.
Pria itu kemudian menghentakkan tongkatnya ke tanah, dan dalam sekejap ribuan tulang belulang yang saling terkait satu sama lain membentuk rantai berusaha menggapai ke arah Tyron dan Rache. Rantai tulang ini begitu tajam seperti pedang dan perisai Tyron, bahkan tak mampu menghadapi puluhan rantai tajam ini. Sementara Rache tetap memfokuskan dominasi auranya pada tangan-tangan dan kepala tanpa badan yang terus berusaha meloloskan diri.
Pria itu tertawa, tawanya menggelegar.
“ Yah, kau orang pertama yang memiliki aura si ungu busuk itu. Aku belum pernah melihatmu. Sepertinya kau bukan dari ras elf, bukan juga Dwarf. Tunggu, apa kau manusia? Hunter?” Gumamnya sendiri sembari menunjuk Rache.
“ Ini menarik! Haha, aku sudah lama tidak menerima tamu semenarik ini! Kalian bisa bersenang-senang bersama ku!”
Kali ini, suara itu bisa dipahami oleh Tyron dan Rache. Tyron menggertakan gigi gerahamnya, rantai tulang itu terus bertambah dan vitalitas tubuhnya semakin berkurang. Dan juga, perisainya semakin menipis. Dia melihat ke arah perempuan itu. Dia juga sudah berada di ambang batas.
“ Sialan, kita tidak punya pilihan lain selain melarikan diri. Tetapi itu juga bisa menjadi pisau bermata dua bagi kita. Kita tidak tahu bahaya apa yang akan terjadi saat kita melewati tempat ini tanpa persiapan!” Ujar Rache.
“ Tapi itu satu-satunya cara. Mungkin, salah satu dari kitalah yang bisa bertemu dengan Edwin dan Hutson.” Jelas Tyron.
Pria itu tak berbicara lagi. Dari balik tudungnya, dia tersenyum dan semakin melemparkan banyak rantai tulang. Pada saat itulah, otak Rache memikirkan satu hal nekat. Bagaimana kalau dia yang tetap berada disini dan membiarkan Tyron untuk kabur? Setidaknya, Tyron tidak boleh mati sampai di perjalanan akhir, tengah-tengah benua dimana Edwin menggali batu Dungeon Gold. Karakternya sangat penting disitu untuk membantu perkembangan karakter penjahat.
Jadi, tanpa membicarakan lagi, dia menoleh ke belakang dan melihat celah, sedikit celah melarikan diri. Jadi dengan cepat dia mendorong Tyron dan perisainya dengan aura dominasi. Dia melakukan itu bukan tanpa pemikiran satupun. Dia sudah memikirkan kemungkinan yang akan terjadi apabila ia ditangkap. Tetapi karna dia sedikit memahami bahasa asing yang cukup aneh yang diucapkan pria ini, ia berharap ia bisa menipu lebih jauh.
Lagipula, Tyron memiliki andil yang penting dalam perjalanan Eric, karna dia yang terakhir bertahan. Sementara aku, hanya karakter sampingan yang bahkan seharusnya sudah mati. Tetapi aku melakukannya, membelokkan jalan ceritaku sendiri dan tetap hidup hingga saat ini. Aku hanya harus mencari sedikit akal dan bersabar, maka aku bisa kembali ke desa Elf sampai Edwin mendapatkan batu Gold.
Tapi, sekarang mari kita pikirkan bagaimana cara berurusan dengan pria aneh ini. Dia menatap ke arah pria itu dengan seringai di bibir dan mengeluarkan senjata terakhirnya. Batu berwarna violet memancar dengan kuat dari genggaman tangannya dan membuat tangan-tangan dan kepala yang berjalan di atas tanah, kembali ke dalam tanah. Rantai tulang bergetar dan hancur berkeping-keping menjadi serpihan tulang putih.
Ini adalah dominasi aura terakhir yang dimilikinya dalam serpihan batu Dungeon kecil. Dia kemudian menggunakan kesempatan ini untuk membuat kabut tebal dengan bola abu, salah satu senjata yang dibuat oleh para penduduk desa Elf. Meski dia tahu bahwa kemungkinan dia bisa lolos dari mata pria aneh itu hanya 5%, dia tetap melakukannya. 10 detik, tidak lebih dari itu untuk mengaktifkan lagi aura dominasi dan berlari menjauh dari tempat ini kembali ke titik awal. Katakanlah dia pengecut, tapi itu lebih baik daripada mati sia-sia.
Pria itu, tetap berdiri di tempatnya. Awalnya dia terkejut dengan perkembangan situasi dan kemudian menyeringai senang. Sudah lama semenjak ia kedatangan tamu-tamu berharga ini dan mereka benar-benar menarik! Jadi, dia mengirimkan salah satu roh, prajurit roh miliknya untuk mengejar gadis itu dan menjatuhkannya ke dalam lubang penderitaan. Salah satu jalan menuju kolam hitam di sana.
__ADS_1
Dia tersenyum dan memutuskan untuk kembali ke kolam hitam disana dan menunggu gadis itu di rumahnya. Itu akan lebih menarik saat dia bisa menggali aura dari naga dominasi terakhir semenjak berpuluh-puluh tahun yang lalu.
***
Rasanya sangat asing. Ini bukan hutan berkabut yang terakhir kali aku lihat. Bukan pula tanah kering tempat kolam kematian. Dan juga, tempat ini memiliki interior ruangan unik yang mengingatkan ku pada bangunan di era revolusi industri. Hei, aku pernah melihat ini di kehidupan ku sebelumnya, tepatnya di salah satu kota di England.
Aku mulai mengedarkan pandanganku dan menebak-nebak dimana tempat ini. Apa mungkin aku mati dan bertransmigrasi kembali ke tempat lain? Tapi sepertinya itu tidak terdengar masuk akal. Rambutku masihlah hitam, luka goresan di tangan akibat pedang dan belati, juga masih sama. Tidak berbeda.
Tidak ada yang berubah dariku, dan ini masihlah tubuh Rache Hedervary yang sama. Artinya, aku berada di suatu tempat, yang mungkin tidak pernah diketahui oleh orang-orang di luar benua kematian. Tempat yang terlihat jauh lebih maju daripada benua tempat tinggal ku dulu. Melihat bagaimana interior ruangan ini yang hampir mirip dengan barang-barang dimasa revolusi industri. Dan lihat, bahkan ada lampu di dinding yang dinyalakan dengan sesuatu!
“ Oh, kau sudah bangun Nona?”
Aku menoleh saat mendengar suara yang ku kenal. Ini adalah suara pria dengan tanduk domba di kepalanya, orang yang menyenangkan dan Tyron dan mengaku sebagai tuan rumah dari daerah tempat kami beristirahat kemarin.
Aku menatap ke arah pria itu yang mengenakan kemeja putih, celana satin coklat muda, dan rambut hitamnya yang basah dan ikal. Dia tidak memiliki tanduk domba di kepalanya, membuatnya terlihat sangat ‘manusiawi’ untuk saat ini.
“ Nona malang yang suka berkorban. Ah, kau benar-benar baik hati untuk ukuran orang-orang dari jalur ungu. Naga itu pasti akan menangis di dalam neraka melihat keturunannya sangat lembut seperti ini.” Ucap pria itu seolah-olah dia benar-benar mengenalku dan keluarga ku.
Aku, tidak, ini dalam ingatan Rache asli. Dia mengetahui fakta bahwa dia sangat mirip dengan potret lukisan Marquess pertama Hedervary, Gilbert Hedervary yang memiliki mata unik berwarna Lilac. Ah benar, pria ini adalah entitas yang belum pernah dia temui. Tapi, mengingat bagaimana pria ini terlihat, apakah dia Monarch? Atau lebih buruknya, Raja iblis.
“ Yah, apapun itu kau terlihat lebih baik dari manusia yang menjual jiwanya kepada adik bodohku! Kau bisa memanggilku Steve Gerlach,” pria itu mengulurkan tangannya.
Rache mengernyit pada nama belakang Gerlach yang tampak familiar itu. Bukankah Villain utama memiliki nama belakang yang hampir sama dengan Steve?
“ Jadi, apa yang maksudmu membawaku ke tempat ini?” Tanyanya bingung.
Pria itu tidak menjawab dan hanya menunjuk ke arah jam dinding tua. Rache melihat sebuah bayangan yang hampir membuatnya mati di tempat karna terkejut.
“ K-kau!”
Steve mengangkat pundaknya dan menaikkan sebelah alisnya seolah berkata ‘apa?’ dan kemudian dia terkekeh.
__ADS_1
Ini akan menjadi lebih menarik.
Bersambung....