Rache Waffe

Rache Waffe
08. Sebuah Mimpi


__ADS_3

Wilayah barat Duke Windstorm, kastil lama milik Duchess terdahulu, Anna Windstorm.


Dylan menyusuri setiap langkahnya dan mendapati beberapa hal yang perlu dia perhatikan. Seperti bagaimana kastil tua ini sudah mulai lapuk dan memiliki kerusakan di sana-sini. Dia menghela nafas lelah dan melihat ke arah Barley, kepala prajurit dari prajurit elit milik Duke Windstorm.


“ Tidak biasanya anda pergi ke tempat ini tuan.” Itu adalah sebuah pertanyaan yang selalu Dylan dengar. Tapi, dia tidak menyangka itu keluar dari mulut orang terpercaya miliknya.


“ Bukankah tidak apa-apa, seorang kepala wilayah, meninjau salah satu bangunan penting di wilayahnya? Lagipula, kastil ini akan roboh dalam beberapa bulan kalau tidak segera diperbaiki.” Balasnya pelan.


Barley tidak bisa menjawab dan tetap diam. Dia sedikit bergumam dalam hati, mungkin saja pria ini memiliki masalah pada otaknya hari ini. Setelah dia meracau tak jelas tentang sosok gadis yang mirip dengan naga dominasi, dia mulai melakukan hal aneh dengan mengunjungi kastil tua milik Anna Windstorm.


Padahal, dia pernah berkata dulu. Bahkan ketika sesuatu, hal penting terjadi di kastil ini, dia akan membiarkannya dan tak akan pernah turun tangan langsung. Dan sepertinya, dia sedikit mengingkari itu. Menyusuri bagian dalam kastil hingga mereka sampai pada pintu rahasia yang tertutup oleh lemari. Pintu menuju ruangan bawah tanah yang tersembunyi.


Dylan sedikit mendorong pintu tersebut menjauh hingga menghasilkan celah yang dapat mereka masuki. Kunci perlahan diputar dan pintu rahasia terbuka, sebuah tangga berbentuk spiral menuju kegelapan yang dalam muncul. Itu benar-benar menakutkan dan seolah-olah akan menelanmu hingga habis tak bersisa. Apabila kau mencoba masuk ke dalamnya, sudah pasti kau tak akan bisa keluar lagi.


“ Kau benar-benar akan memasukinya?” Tanya Barley sekali lagi.


Dylan hanya mengangguk dan membawa tangkai dengan tiga lilin menyala di atasnya. Dia kemudian berjalan menuruni tangga ke bawah. Saat dia sudah mencapai empat atau lima langkah, dia melihat ke atas. Mata merahnya menatap Barley dengan kepercayaan saat dia mengangguk.


Tanpa perlu dijelaskan, Barley sangat tahu itu. Bukan hal mudah untuk kembali memasuki kastil Anna ini. Apalagi mengingat trauma masa kecil Dylan dan pemilik dari kastil ini. Wanita tua itu terlalu memaksakan segalanya, bahkan memberikan batu Dungeon ke dalam tubuh bocah berusia 7 tahun. Tentu saja, hampir tiga tahun lamanya Dylan mengalami efek samping dengan menjadi gila dan kacau, hingga ia dikucilkan di kastil ini. Tetapi, itu adalah kesempatan Anna Windstorm untuk melatih Dylan menjadi pedang perak kuat seperti para Windstorm.


Meskipun Dylan memiliki darah Kekaisaran yang mengalir di tubuhnya, hal itu tidak membuat Anna Windstorm menghentikan semuanya. Dia bahkan lebih keras dan keras mendidik Dylan agar tidak menjadi anjing kekaisaran seperti putranya, Ayah Dylan.


Itu adalah kenangan masa lalu yang tidak mungkin Dylan lupakan. Dan, sebuah cerita tambahan yang tidak di ceritakan di novel aslinya. Tentang kastil tua tersembunyi ini dan segala isinya. Tentang masa kecil Dylan dan rahasia dari buku perjalanan keluarga Windstorm, yang menyimpan pedoman dan ramuan untuk karakteristik warna batu Dungeon.


Saat itu, cahaya lilin yang dibawa oleh Dylan semakin menghilang, memasuki kedalaman ruangan dan ditelan oleh kegelapan. Suara langkah kakinya tak lagi terdengar dari luar pintu masuk, dan Dylan sudah semakin dalam memasuki lorong bawah tanah.


Dylan menatap pada struktur ruangan yang tidak pernah berubah ini. Ada beberapa buku tua dengan sampul dari kayu serbuk bunga, beberapa kertas yang dijilid dengan benang rajut, dan beberapa kertas yang hanya ditumpuk dengan batu bata. Pena bulu usang yang terlihat kotor, dan botol tinta yang terbuat dari tembaga, mulai berubah warna.


Dia kemudian berjalan semakin jauh hingga dia berada pada rak di ujung ruangan. Ada empat atau lima buku dengan sampul kayu kasar. Cat biru tua di atasnya mulai mengelupas dan aroma busuk dari kertas yang mulai menghitam memenuhi Indra penciumannya. Dylan segera mengambil kelima buku itu dan membawanya ke atas. Itu adalah buku karakteristik batu Dungeon dari domain biru, merah, abu-abu, hijau, dan ungu.

__ADS_1


Saat dia sampai di pintu keluar, terlihat Barley berdiri dengan cemas dan melihat ke arah beberapa buku tua yang berada di dekapan sang Duke muda. Dia mengernyit pada huruf aneh yang berada di ukiran sampul, bahasa Retam?


“ Anna pernah memberikan lima buku ini kepada ku. Dia bilang ini akan menjadi kartu truf, keberuntungan, atau semacamnya. Yah, pokoknya aku akan membawanya.” Ujar Dylan dan menyerahkan lampu lilin yang mulai mencari ke arah Barley.


“ Kau bisa membersihkan ini kan? Aku akan pergi ke ruanganku, aku harap tidak ada yang menggangu waktuku.” Katanya lagi.


Dia kemudian meninggalkan Barley yang menatapnya heran dan berjalan menjauh. Dia tahu bahwa Barley mungkin memikirkan ada yang salah dengan dirinya, tetapi dia tidak bisa mengatakan alasannya. Tidak, sebelum dia bisa menemukan gadis itu. Yang memiliki karakteristik dari domain Ungu.


***


Tanah Kematian, Desa pinggiran Has.


Tidak ada yang terjadi tadi malam. Mungkin hanya beberapa monster serigala kecil yang dihabisi oleh Rache saat gilirannya. Dan paginya, Tyron segera bergegas untuk membawa kami ke salah satu tempat terdekat di tanah kematian. Itu adalah sebuah tempat di pesisir dengan pemandangan hitam di sekelilingnya. Dimulai dari tanah, pepohonan, bahkan rumah, semuanya berwarna hitam.


Rache menyaksikan pemandangan yang cukup berbeda dari apa yang dia yakini selama ini. Jadi dia hanya menatap bocah dengan fitur wajah bawah yang mengecil, dan bagian tempurung kepala atas yang membesar. Itu memberinya kesan tentang gambaran alien di dunianya.


Seorang wanita dengan rambut coklat begie, fitur wajah halus dan lembut, serta gaun hitam di tubuhnya perlahan berjalan ke arah mereka. Dia membawa tongkat biru tua dan kemudian, secara tiba-tiba bersujud dibawah kaki Edwin, mengehentikan perdebatan pemuda itu dengan pria tampan yang mungkin kepala desa di pemukiman ini.


“ Maafkan saya, yang mulia. Saya sama sekali tidak menduga bahwa anda benar-benar datang!” Wanita itu bersujud.


Edwin cukup bingung, jadi ia membawa wanita ini untuk berdiri dan menjelaskan dengan pelan dan baik. Wanita itu kemudian bergetar dan memperingatkan orang-orang untuk tetap di tempat sementara ia berbicara dengan Edwin.


“ Saya adalah seseorang yang sedang mencari karakteristik domain Kuning pada tanah kematian. Saya bukanlah raja atau apapun itu untuk tanah kematian.” Kata Edwin dengan lembut.


Orang-orang yang memiliki karakteristik seperti klan elf, memiliki telinga yang panjang dan kepekaan atas mana dan karakteristik dari domain kuning. Domain asli tanah kematian sebelum dikuasai oleh kegelapan. Edwin menatap mereka satu persatu dan mulai mengakrabkan dirinya sendiri dengan wanita yang mungkin terua dari desa ini.


“ Tuan ku, anda bisa mengatakan apapun kepada kami. Kami akan sebisa mungkin untuk menuruti kemauan tuan cahaya.” Kata wanita itu lagi, masih tetap pada pendiriannya.


Edwin sudah menduga ini, dengan obrolannya bersama pak tua pemilik toko batu Dungeon. Pak tua itu, aslinya berasal dari benua kematian. Dia adalah orang yang selamat dari kematian besar dan wabah dari aura pada domain hitam. Dia pergi melewati selat yang berna laut kelabu, yang memisahkan benua kematian dengan tanah harapan ini. Saat itu, benua itu adalah tempat dimana cahaya terang bisa dinikmati sepanjang waktu, tanpa ada malam. Batu dongain dari domain kuning juga berasal dari tanah itu.

__ADS_1


Pak tua itu sedikit terkejut saat melihat Edwin yang memiliki karakteristik domain kuning asli dari benua kematian, sebuah domain yang sudah lama menghilang. Orang-orang biasanya menggunakan karakteristik domain kuning dari tanah harapan, dan tentu saja, fakta itu membuat pak tua terkejut.


Padahal, Edwin sendiri hanya memungut sembarang batu kristal berkilau dari tanah bersama dengan Tyron dan Hutson. Dan secara tidak sengaja, dia menjadi Hunter. Awalnya, pak tua itu sedikit merasakan aura keagungan dari dinasti kekaisaran saat melihat Edwin, mungkin orang-orang itu juga merasakan hal yang sama saat melihatnya.


Rache, menatap dari jauh dan bergumam pelan pada dirinya sendiri. Pantas saja, orang ini mendapatkan anak buah saat tiba di tanah kematian. Tentu saja dia mendapat orang-orang yang akan percaya kepadanya dan menjadikannya sebagai pengikut untuk menjelajahi dan menghancurkan inti gelap di pusat benua kecil ini.


Kemudian, beberapa orang mengajak mereka ke sebuah bangunan dari kayu, bergaya unik yang didirikan dengan kolong di bawahnya. Itu seperti rumah panggung dan terlihat tinggi. Ternyata, itu sengaja dibuat seperti itu. Pada malam malam di Minggu ke tiga dari kalender laut, pasang surut air dari laut kelabu yang membawa wabah dan kerusakan naik lebih tinggi daripada malam-malam biasanya.


Meskipun sedikit tidak nyaman dan cukup asing, Rache berusaha untuk tetap tenang dan membiasakan dirinya sendiri. Ia harus beradaptasi karna berikutnya, pasti akan lebih sulit dari ini. Ya, dia harus terbiasa. Dia menatap ke arah Tyron dan Edwin yang terlihat berbincang dengan kepala desa dan Hutson yang berdiri diam di belakang mereka berdua.


Ah, kalau diingat ingat lagi, orang-orang disini sangat mirip dengan legenda Elf yang diceritakan di media sosial, atau di novel novel yang ia baca. Hanya saja, para Elf dan Dark Elf bersatu di kawasan desa pinggiran ini dan bertahan hidup dari kerusakan.


Ini tidak pernah ada dalam cerita aslinya, yang hanya menitikberatkan kepada kehidupan protagonis pria dan wanita, serta tokoh antagonis yang tiba-tiba menjadi tokoh utama.


“ Satu lagi efek cerita yang tidak ku ketahui...”


***


“... karakteristik domain ungu, adalah penguasa. Bangsawan sejati yang diturunkan oleh naga dominasi, musuh dari karakteristik kuning, hijau, biru, dan abu-abu. Pemilik terakhirnya adalah Marquis pertama keluarga Hedervary, teman seperjuangan ku yang bertempur di Medan perang, saat inti gelap dari benua harapan merebak dan memusnahkan benua menjadi tempat yang mati. Gilbert Hedervary berhasil menyegel benua kami dengan kekuatan naga dominasi dan memberikan perlindungan dari efek yang menyebar dari inti gelap dan laut kelabu.”


Buku itu dibalik, Dylan membacanya dengan cermat dan dia membacanya dengan cukup cermat dan hati-hati untuk setiap kata.


“ Efek itu sudah semakin parah, tetapi Gilbert mengorbankan hidupnya demi benuanini. Tanah kelahirannya, dan tempat anak cucunya hidup! Pelindung itu akan bertahan selama tiga dekade, dan sampai itu selesai, maka efek itu akan menyebar. Itu akan memusnahkan benua ini dan meluas. Dunia akan dipenuhi aura kematian, dan tidak ada yang bisa memiliki karakteristik domain ungu selain keturunan Hedervary sendiri. Itu adalah sumpah yang dibuat sahabatku dan Naga dominasi. Dia adalah pahlawan, yang bahkan namanya tidak pernah diabadikan di tulisan manapun selain buku harian ku. Aku harap, ketika anak cucuku atau keturunan ku membacanya, aku harap kau bisa memberikan ini pada Gilbert Hedervary selanjutnya. Liontin yang aku simpan, permata ungu yang aku ukir, artefak keluarga Hedervary yang dipercayakan Gilbert kepadaku. Salam sayang, Duke Dean Windstorm.”


Kemudian, Gilbert membalik halaman buku bersampul tebal itu, di belakang ada lukisan yang dikonversi dengan sihir menjadi seukuran kertas. Itu adalah gambar seorang pria dengan surai hitam sedikit ikal, mata tajam dengan manik violet, dan senyum mengejek. Seolah-olah dia sedang memprovokasi seseorang.


Pada saat itu, Dylan berpikir. Sepertinya dia pernah melihat ini. Tapi dimana?


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2