
Sebuah akhir memunculkan awalan baru. Ya, pemikiran seperti itu, sudah sangat lama tertancap di kepala Rache. Saat dia masih menjadi seorang agen rahasia di abad ke 20, atasannya selalu berkata, ' selama ini bukan akhir dunia, maka setiap akhir adalah perjalanan awal yang baru.’ Begitulah katanya.
Malam itu, setelah kami menyaksikan pemandangan desa pemburu dihancurkan, Edwin yang sudah tidak bisa menahan rasa sakit dan perasaan menggeliat dari dalam hatinya yang terbakar, mengangkat pedang. Dia segera membasmi para Goblin dengan tingkatan XX dan beberapa zombie yang muncul karna kondisi tertentu. Tyron tidak hanya berdiam diri. Setelah dia menyerahkan Hutson kepada Rache, dia segera menarik kapak besi miliknya dan memenggal kepala pada goblin. Tak berapa lama, para monster itu selesai dibunuh.
Tempat ini masihlah kobaran api. Dan tidak ada satupun dari kami yang memiliki Domain karakter biru. Yang bisa kami lakukan adalah mengumpulkan para mayat dan membuat makam di belakang desa, di dekat perbatasan hutan berduri. Meski ini tidak terlalu layak, tetapi itu cukup untuk sebuah penghormatan terakhir.
Setelah pemakaman dan penghormatan selesai, kami berjalan meninggalkan desa dan terus menuju ke arah selatan. Melewati wilayah Marquis Hedervary dan melihat sebuah pembatas dinding. Batasan antara Kekaisaran dan laut kelabu. Sebuah perairan yang memisahkan antara kekaisaran dan benua yang layak huni, dengan benua kematian.
Dalam cerita aslinya, benua kematian adalah benua yang sangat subur. Namun beberapa ratus tahun yang lalu, benua tersebut mengalami kerusakan yang ditinggalkan oleh salah seorang pria yang merupakan pemburu di lautan kelabu. Dia adalah pemburu monster laut, anak buah Demon King terkenal yang menyebabkan kekacauan dengan menghubungkan dunia nyata dan dunia iblis.
Setelah gerbang dunia terbuka, Dungeon mulai muncul di seluruh penjuru benua ini. Dalam waktu satu bulan, ras manusia mulai tergantikan oleh para monster. Tidak ada lagi manusia yang bisa hidup di tempat ini, bahkan udaranya tidak bisa dihirup sama sekali. Setiap detik, setiap menit, tidak ada tempat yang aman di benua kematian.
Tanah yang dulu di juluki sebagai tanah harapan, berubah menjadi kematian. Bagi siapapun yang menginjakkan kaki di tempat itu, mungkin hanya dalam waktu lima menit, dia sudah akan mati. Terkontaminasi oleh aura para monster yang bercampur membentuk racun di udara, yang tidak bisa ditawar oleh tubuh manusia biasa. Tanahnya yang hitam dan retak, dengan aroma busuk menyengat, menambah kesan suram dan berapa matinya tempat itu.
Ini hanyalah bagian dari deskripsi novel yang ku ketahui. Bagian dimana Edwin Brecht mengalami flashback tentang kehidupannya dan bagaimana dia bisa memimpin tanah kematian. Dalam novel, digatakan Edwin begitu jelek dengan banyak luka dan jejak-jejak kerusakan di wajahnya seperti retak dan lubang. Itu deskripsi saat dia sudah menjadi raja dari benua kematian, tapi aku beruntung! Aku beruntung bisa melihat wajahnya yang sangat cantik sekarang.
Di depan kami, hamparan perairan berwarna abu-abu menentang luas. Sejauh mata memandang, hanya air dan air. Di tanah yang menjorok ke dalam laut, tidak ada kehidupan lainnya. Tidak ada bangunan maupun kapal di tempat ini. Benar-benar sepi.
Aku menatap ke belakang, sebuah dinding kokoh terbentang luas membatasi wilayah barat kekaisaran, wilayah Marquis Hedervary yang berbatasan dengan Laut Kelabu dan Benua Kematian. Dinding itu mulai kusam seiring berjalannya waktu, dan beberapa temboknya memiliki batu Dungeon dari berbagai domain. Sebagai perlindungan Barrier apabila terjadi serangan monster yang datang dari laut kelabu.
“ Kita akan memulai perjalanan kita ke benua kematian. Aku ingatkan dan tekankan sekali lagi, itu dipenuhi dengan bahaya dan kerusakan. Tujuan ku ke tempat ini hanya untuk penaikan tingkatan batu Dungeon domain kuning. “ ucapnya lagi. Dia menatap ke arahku, Hutson, dan Tyron kemudian memandang kosong ke depan.
“ Tidak ada yang menerima kita di wilayah kekaisaran. Begitupun juga, di benua ini.” Dia menghela nafas berat dan tersenyum sedih.
Kami tak mengucapkan sepatah kata pun. Meski begitu, masing-masing dari kami memahami itu. Tyron pertama kali berjalan dan menepuk pundak Edwin, merangkulnya dan tersenyum.
“ Kita adalah saudara. Kau, aku, Hutson dan Jewelry. Lalu kita memiliki keluarga baru kita, Rache. Aku sudah bilang kepada mu, kita akan tetap mengikuti mu apapun yang terjadi.” Tyron kemudian menarik Hutson mendekat.
__ADS_1
Aku juga mengikuti mendekat di belakang mereka dan melihat pemandangan mereka bertiga dari belakang. Rasanya, aku seperti melihat kisah sang protagonis dalam novel fantasi action yang disukai banyak pria, termasuk sahabatku dulu. Edwin Brecht, dia lebih cocok menjadi seorang tokoh utama. Dengan kisah nya yang menarik dan penuh dengan segala petualangan baru. Aku rasa, dia butuh cerita sendiri untuk segala petualangannya di tempat ini.
Aku terkekeh, kemudian menghampiri mereka bertiga. Edwin menatapku dengan rumit dan dia kemudian bertanya, “ apakah tidak apa-apa? Kau mungkin baru memasuki Dungeon dan kami akan menuju ke benua kematian, itu jauh lebih berat daripada Dungeon di benua ini.”
Dia terlihat khawatir, begitu pula dengan Tyron dan Hutson. Apakah karna aku seorang wanita? Bukan, sepertinya karna aku masih seorang pemula dan tanah kematian dipenuhi dengan banyak hal-hal tak masuk akal, merusak, dan berbahaya.
“ Haha, tidak apa-apa. Aku sudah memilih untuk mengikuti kalian. Kalian adalah keluarga baruku sekarang. Tyron baru saja mengatakannya dan seharusnya aku sudah di terima.”
Aku membalasnya dengan sedikit tertawa.
Yah, itu lebih baik. Aku sama sekali tidak ingin menjadi santapan Orc gila yang baru kami kalahkan kemarin, dan aku juga tidak ingin terlibat dengan tokoh utama. Aku tidak ingin bersusah payah merubah alur dan bertahan hidup sembari memohon dan berlagak seperti gadis baik, mengemis perhatian kepada mereka. Sudah cukup! Lebih baik aku memilih jalan hidup ku sendiri. Toh, pada dasarnya Rache Hedervary sudah lama dibuang dan sekarang, akulah yang akan menggantikan raga ini. Dan hidup dengan cukup baik dan mengikuti kata hatiku.
“ Dimana tingkatan mu Rache? Aku yakin itu bukan di tingkat XX karna kau bisa mengalahkan Monarch Orc bersama dengan Edwin. Apakah kau meloncati tingkatan ramuan?” tanya Hutson penuh selidik.
“ Aku menebak, itu ada di tingka lima atau enam. Sedikit lebih tinggi dari Edwin mungkin, atau sama dengan Edwin?” Hutson memberi jawaban yang tampak abu-abu.
“ Mungkin di tingkat lima?” Jawabku dengan jujur.
“ Kau, di tingkat lima? Bagaimana mungkin, bahkan Edwin saja masih di tingkat Enam!” seru Tyron histeris.
“ Mungkin itu bakat. Tetapi, tidak ada batu Dungeon dengan karakter ungu karna itu sangat susah untuk dicari. Yah, itu cukup membuktikan betapa jeniusnya Rache.” Balas Edwin. Dia tersenyum dan seperti seorang ayah yang bangga atas pencapaian anaknya, dia mengusap kepala ku pelan.
“ Maaf saja, mungkin benar kata Edwin. Aku ini memang jenius.” Kataku dengan sedikit nada ejekan.
Tyron dan Hutson terlihat berjalan ke arahku. Dia melepaskan Edwin dan mulai merangkul diriku, menepuk pundak ku dan kami pun tertawa. Saat itu, aku mulai berpikir bagaimana caranya kami melewati laut kelabu yang begitu luas ini? Apalagi di sana ada banyak monster laut anak buah Raja iblis.
“ Tyron baru membangkitkan karakteristik nya yang menyangkut dengan domain abu-abu, angin. Itu cukup untuk Membawa kita berempat dengan beberapa pemberhentian di pulau abu. Itu cukup untuk perjalanan kita, kau tahu disana mungkin masih ada beberapa manusia yang hidup. Meski mengalami beberapa kerusakan akibat efek tinggal di tanah kematian.” Jelas Edwin.
__ADS_1
Lalu, aku mulai berkata tanpa berpikir, bertanya bagaimana dia mengetahuinya. Jujur, kilas balik Edwin tidak sedetail itu di dalam novel. Mereka hanya mengatakan kilas balik umum yang harus diketahui oleh seorang pembaca, karna pada dasarnya Edwin bukanlah Villain utama cerita.
“ Pertanyaan yang bagus! Rache, kau benar-benar pintar. Seseorang dalam mimpi ku saat aku mengalami peningkatan karakteristik di Dungeon. Dan saat itulah, aku benar-benar maju ke angka enam. Dia mengatakan asal dari karakteristik batu Dungeon milikku. Awalnya aku tidak menyangka, bagaimana cahaya dari domain kuning milikku, berasal dari tanah kematian yang berisi gelap dan gelap.”
Oh, apakah mimpi saat peningkatan karakteristik tingkatan berpengaruh dengan asal usul tingkatan batu Dungeon tersebut? Lalu, apa arti pria dengan tanduk seperti iblis itu? Dan siapa pula pria berambut hijau dengan manik mata merah seperti keluarga kekaisaran? Lalu takhta, mahkota, dan pedang perak yang menjulang di ruangan itu?
Itu adalah mimpi pertama yang aku dapatkan saat aku meminum ramuan ini. Tetapi, saat peningkatan empat tingkat sekaligus, aku memiliki kilasan mimpi samar. Tentang takhta tanpa seseorang yang duduk diatasnya, dengan batu kristal berwarna violet, sebuah mahkota dari kristal berwarna Lilac, sebuah tongkat bertakhta kan Amethyst, dan naga hitam dengan manik mata violet yang tertidur di belakang Takhta. Aku terkejut saat naga itu membuka matanya dan mimpi ku berakhir.
Dari mimpi tersebut, aku bisa menyimpulkan sedikit tentang asal usul karakteristik domain ungu. Meskipun itu adalah analisa yang masih samar-samar, tetapi garis besarnya terlihat. Dominasi. Karakteristik nya berasal dari dominasi yang kuat, menundukkan lawan dengan aura dominasi yang kuat. Dia menyadari ini, dan kekuatan yang memiliki potensi untuk mempermudah nya dalam memanipulasi keadaan di kemudian harinya.
“ Kita akan berangkat sekarang. Aku harap kita bisa saling berpegangan satu sama lain agar tidak ada yang tertinggal.”
***
Duke Windstorm memasuki kastil miliknya, kastil lama keluarga Windstorm dan dia menatap ke arah pigura besar di dinding. Seorang pria dengan rambut perak dan manik mata sebiru laut dalam, serta wanita dengan rambut pirang kotor dan manik mata merah, milik Kekaisaran. Lukisan dari Duke dan Duchess Windstorm terdahulu.
Dia menatap pada sosok sang Duchess, kakak sedarah dari kaisar saat ini, dan memiliki kedudukan tinggi sebagai putri mahkota. Tetapi ia melepaskannya entah karna apa dan memilih menikah dengan Duke Windstorm dan menjadi seorang Duchess.
Kekaisaran....
Satu kata yang dapat membuat Dylan ingin memusnahkan apapun yang mengandung arti nama tersebut. Dia kembali teringat akan kejadian dimana Ibunya mati di tangan adiknya sendiri, kaisar saat ini di saat Dylan masihlah seorang remaja. Dia menyaksikan ibunya ditusuk dengan pedang sihir Kekaisaran tanpa bisa menolong maupun melakukan apapun. Dan dia menatap tubuh Ibunya yang terbujur kaku bersimbah darah di bagian dadanya.
Itu adalah kenangan menyakitkan saat dia masih tinggal di salah satu kastil istana. Saat itu, kematian dari Duchess dipalsukan oleh kaisar dengan mengkambing hitamkan kerajaan Retam dan memulai perang berdarah dengan Retam. Mereka memang memiliki perselisihan tetapi tidak sampai tahap dimana mereka saling mengangkat senjata. Di temukan ya mata-mata dari Retam, dan perselisihan antara Retam dan kekaisaran menyebabkan rumor yang dibuat oleh kaisar menyebar luas. Kebencian orang-orang diarahkan pada Retam yang mulai melakukan pemberontakan terhadap kekaisaran. Bahkan membunuh orang penting dari keluarga kekaisaran di kastil. Itu tidak bisa lagi ditolerir, mereka mulai mengarahkan permusuhan kepada Retam dan perang pun pecah dengan Duke Windstorm yang dikirimkan sebagai tameng pelindung kekaisaran.
Dylan yang masih kecil memiliki trauma akan kejadian itu, hingga sihirnya berfluktuasi dengan sihir yang dikeluarkan pedang sihir Kekaisaran. Menyebabkan ia tidak bisa lagi mengingat kejadian jelasnya sebelum dia bertemu dengan aura yang membatalkan semua itu. Aura milik bangsawan sejati, yang menekannya jauh ke dalam dan menekan mana serta kekuatan lain miliknya, menjadikan ia bagaikan pria kecil tanpa kekuatan atau apapun untuk mendukung dirinya sendiri.
Dan pada saat itu, pikirannya mulai mengingat kilas balik yang tak pernah ia kenal. Kontradiksi antara sihir dari pedang sihir Kekaisaran yang berfluktuasi dengan ingatannya mulai terangkat sedikit demi sedikit dan menampilkan kepingan puzzle yang sudah ia cari selama ini.
__ADS_1
Ya, dia harus menemukan gadis itu. Gadis dengan karakteristik batu ungu yang cukup langka.
Bersambung......