Rache Waffe

Rache Waffe
07. Tawanan Perang


__ADS_3

Di salah satu kastil yang ditinggalkan, areal istana kekaisaran.


Seorang wanita diseret dengan sebuah rantai yang mengikat kedua tangannya. Wanita itu memiliki wajah cantik dengan rambut merah menyala, dan manik mata sebiru lautan. Dia menelisik ke kanan dan ke kiri, ke seluruh bangunan yang ia lewati. Para prajurit itu tak punya belas kasihan, dia dengan cepat menyeret wanita itu.


Mereka memasuki ke dalaman bangunan, sebuah ruangan muncul. Itu adalah ruangan besar yang terlihat usang dan kumuh, mungkin karna sudah lama tidak ada yang memakai dan membersihkan ruangan itu. Wanita itu kemudian di dorong masuk, dan Seorang prajurit wanita membantu membuka borgol di tangannya.


“ Mulai sekarang kau akan tinggal di sini. Akan ada orang yang memberimu makan, dan jangan sekali-kali mencoba untuk kabur.” Peringat prajurit laki-laki yang berdiri di ambang pintu.


Wanita itu tak membalas sepatah katapun. Tatapannya kosong seolah-olah dia tidak memiliki arti bagaimana dia harus hidup. Dia menatap ke arah jendela. Bias cahaya di sore hari memasuki ruangan yang mulai gelap. Derit pintu yang tertutup menjadi suara terakhir di ruangan besar, wanita itu menatap pada pintu yang perlahan menutup.


Dia menghela nafas lelah, meratapi nasibnya yang saat ini menjadi tawanan Perang. Dia mnarik rambutnya yang berwarna merah, dan berteriak. Perlahan aura biru seperti air memancar dari tempatnya duduk. Seperti seseorang yang mulai berada di tahap antara kegilaan dan kewarasan, wanita berambut merah itu mengalami hal yang sama.


Perlahan dia menenangkan dirinya dan menatap ke arah bawah, air mulai mengalir dari dirinya dan dia mencoba untuk tenang agar air tersebut tidak lagi mengalir. Karakteristik biru dari tingkatan miliknya mulai terdistorsi oleh mentalnya.


“ Kekaisaran, aku pasti akan membalasnya. Aku tidak akan pernah melupakan apa yang kalian lakukan pada ayah ku.” Teriaknya dalam bahasa Retam.


Dia perlahan mulai tenang dan melepaskan aliran air dari jendela yang terbuka. Perlahan, air mengalir dari ketinggian jendela yang membuatnya terlihat seperti air terjun. Saat itu, tanpa gadis merah itu sadari, seorang pria dengan rambut hitam dan manik mata semerah darah menatap aliran air yang mengalir dari jendela. Pria itu tersenyum dan memandang gadis berambut merah dengan manik mata biru sedalam lautan.


“ menarik.”


***


Kembali kepada regu Edwin Brecht, Tyron, Hutson, dan Rache. Di salah satu pulau kecil yang terlihat terdistorsi oleh benua kematian.


Aku menatap ke arah tanah yang saat ini menjadi tempatku berdiri. Itu adalah tanah berpasir kelabu dan tanah yang memiliki aura kematian yang sangat kuat. Sisi kiri tanah berwarna kelabu, adalah tanah yang sudah terdistorsi oleh tingkatan yang berada di Tanah kematian. Ada perasaan gelap dan mencekam, yang membawa rasa takut dan didominasi oleh keberadaan yang tidak diketahui.


Itu bahkan membuat tubuhku bergetar dan karakteristik di dalam tubuhku meronta-ronta ingin di bebaskan. Itu seperti perasaan aku akan kehilangan kendali tapi aku masih sadar.


Berbeda dengan ku, Edwin terlihat tenang dan tidak berekspresi apapun. Meski aku, Hutson dan Tyron mengalami rasa takut yang mendalam, tetapi Edwin tidak. Dia bahkan yang pertama kali mencari tempat aman agar kami bisa beristirahat. Yang jauh dari jangkauan monster dari lautan maupun dari kedalaman hutan.

__ADS_1


“ Ini tempat yang aman. Setidaknya untuk satu malam. Kita akan saling bergantian untuk menjaga tempat ini. Untuk jam pertama adalah Rache dan Hutson, kalian bisa pergi tidur selama enam jam sebelum menggantikan aku dan Tyron.”


Aku mengangguk pada instruksi Edwin, di atas pasir tidak ada apapun, dan kami hanya bisa menyandarkan tubuh kami di atas tanah. Sementara Edwin dan Tyron tetap terjaga di depan api unggun, aku dan Hutson pergi tidur. Sebenarnya itu adalah tempat yang sangat tidak nyaman, tetapi aku masih bisa tidur jadi itu akan baik-baik saja. Aku perlahan melirik Hutson dari sisi wajahku dan melihat Tyron memberikan mantelnya pada Hutson, meletakkan itu tepat diatas tubuh Hutson. Sial, itu benar-benar sangat bromance. Ah, aku hampir lupa. Tyron dan Hutson memainkan permainan kakak dan adik.


Aku kemudian memejamkan mataku erat. Tetapi bukannya tertidur, aku malah memikirkan berada dibab mana sekarang? Seharusnya, saat pria perak itu memusnahkan kampung pemburu, dia pasti sudah mengalahkan kerajaan Retam dan membawa putri ketiga dari selir kelima raja Retam, sebagai tawanan Perang. Dan mungkin, adegan pertemuan antara putra mahkota dan Lady Red sudah terjadi atau mungkin akan terjadi. Dalam novel original, mereka bertemu saat tak sengaja Lady Red mengeluarkan karakteristik dari domain biru dan pemandangan air terjun yang mengalir dari istana tua, tertimpa oleh cahaya senja yang memantulkan warna oranye.


Itu adalah adegan dari novel Original sebelum jiwa gadis sekolah menengah atas yang memasuki raga Helena Hedervary, anak kesayangan dari Marquis Hedervary. Lalu, ada adegan kedua dimana Siswi SMA itu sudah memasuki tubuh Helena Hedervary dan kebetulan mengetahui adegan ini. Dia kemudian membuat sebuah kebetulan yang menghadirkan sosoknya di istana kekaisaran, tepatnya di taman kastil tua milik selir. Yah, itu cukup menarik perhatian putra mahkota dari Lady Red dan memiliki sebuah hubungan rahasia dengan Helena.


Yah, dalam novel kedua, Helena dijabarkan sebagai sosok villain yang begitu tegas dan licik. Dia memiliki banyak cara untuk mengalahkan Lady Red dan sihir hitam yang tertanam di tubuh Lady Red, sebuah bom waktu yang bisa saja menghancurkan kekaisaran. Yah, itu adalah salah satu kesukaan para pembaca saat menemukan female lead yang mandiri, cerdas, Badas, dan tegas. Tapi toh, dia baik di novel pertama dan kedua, tetap merebut apa yang menjadi milik Rache Hedervary.


Memikirkannya lagi membuatku sangat marah. Entah mengapa, aku begitu sangat marah saat melihat kenangan Rache Hedervary dan bagaimana keluarga itu memperlakukannya, bagaimana Helena menjadikannya alat untuk tetap bertahan hidup, bagaimana suara halusnya yang menjijikkan mengatakan kepada Marquis dan Marchioness untuk mengorbankan Rache sebagai tunangan Monarch dari hutan berduri. Itu benar-benar memuakkan!


Aku berusaha mengontrol emosi ku dan kemudian menatap ke arah Hutson yang sudah tertidur lelap. Akhirnya, aku memutuskan untuk pergi ke alam mimpi. Aku akan bergantian dengan Tyron dan Edwin.


***


Malam semakin larut, dan sepertinya sudah hampir enam jam saat Edwin melirik arloji tua, berbentuk bulat kecil dan memiliki banyak karat. Dia kemudian menatap ke arah Rache yang memiliki mantel yang ia buat dari buku monster, di tubuhnya. Gadis itu terlihat nyenyak dan nyaman saat dia tertidur di tanah berpasir.


“ Oh, sudah saatnya berganti?” tanyanya. Dia menatap ke arah Edwin dan pria itu mengangguk.


Rache menoleh ke bawah saat merasakan benda halus nan lembut di tubuhnya, itu adalah jaket bulu Edwin. Dia kemudian menatap ke arah Edwin heran dan menyerahkan jaket itu.


“ Terima kasih dan maaf. Kau harusnya menggunakannya karna itu dingin.” Kata Rache sembari menyerahkan jaket berbulu tersebut.


“ Tidak, aku mungkin sedikit hangat dengan cahaya di sisiku. Bawa saja itu untuk berjaga-jaga kalau kau kedinginan. Bagian dari bulu di mantel itu benar-benar hangat.” Kata Edwin lagi. Dia kemudian berdiri dari posisi duduknya dan berbaring di tempat dimana Rache berada. Begitu pula dengan Tyron.


“ Tolong jaga Hutson Rache. Kita akan butuh Healer bagaimanapun saat kita berpergian ke tempat itu.” Pesan Tyron sembari menguap lebar. Menata tempat tidur dari pasir dan dengan karakteristik nya, dia membuat baja sebagai bantal.


Rache mengangguk dan tersenyum, “ Tentu saja!” Dia kemudian berjalan dan duduk di samping Hutson. Sembari memperhatikan bagaimana pria ini bisa sampai menjadi Healer dan ikut dalam perburuan. Padahal dia sama sekali tidak terlihat seperti orang yang benar-benar akan mengambil profesi sebagai pemburu dalam keadaan seperti apapun itu. Dia terlihat sangat lembut dan baik hati.

__ADS_1


Rache menoleh ke belakang sekali lagi, hanya untuk melihat apakah Tyron dan Edwin sudah tertidur. Lalu, dia kemudian mendekat ke arah Hutson untuk mengatakan sesuatu.


“ Ah, mereka benar-benar tertidur dengan lelap. Perjalanan yang cukup melelahkan.” Gumam Rache. Memancing sebuah topik obrolan.


Hutson mengangguk, dia menanggapi. “ Perjalanan ini akan susah untuk kedepannya. Aku harap, kita masih bisa tertidur dengan lelap untuk selanjutnya.” Katanya dengan lembut.


Ah tidak. Pria ini entah bagaimana benar-benar sangat lembut! Aku kemudian bertanya tentang sesuatu kepada nya. Tentang bagaimana cara dia bisa berada di desa pemburu dan bagaimana dia memilih jalan ini.


“ Hah, itu benar-benar sesuatu yang tidak aku sangka sebelumnya. Aku hanya pindahan dari wilayah kumuh. Itu adalah Fillen Village, sebuah wilayah kumuh yang dipimpin oleh seorang Baron yang menjadi pengikut Marquis. Aku dan Ibu ku pergi dari wilayah itu karna sudah tidak sanggup lagi untuk tinggal di sana. Tempat yang memiliki segala macam kejahatan dan keburukan di dalamnya.” Jeda sejenak, Hutson terlihat memandang ke atas langit. Menatap bintang-bintang yang mulai tertutup oleh awan.


“ Pada akhirnya, aku bukan satu-satunya. Kebanyakan wilayah yang dipimpin oleh Marquis dan pengikutnya, serta wilayah-wilayah pinggiran selalu memiliki lebih banyak daerah kumuh dan tidak terurus. Di perjalanan, saat badai melanda, kami berteduh di sebuah tempat yang cukup ramai dengan orang-orang. Saat itu, tempat itu bukanlah desa pemburu seperti yang kita kenal, karna begitu banyak pelancong dan orang-orang yang datang dan pergi. Banyak orang, bukan hanya para pemburu seperti kami.”


“ Dan aku masihlah pria bodoh yang tidak tahu apa-apa. Bahkan saat serangan monster dari hutan berburu, aku hanyalah orang yang tahu cara bersembunyi dan melarikan diri. Menyaksikan tubuh ibuku sendiri hancur karna termakan api tanpa tahu harus bagaimana menyelamatkannya. Saat itu, aku bertemu dengan Tyron dan Edwin. Mereka kebetulan melarikan diri dari kejaran monster. Saat itu, kami bertiga tak punya pilihan lain selain mengonsumsi batu Dungeon yang kebetulan kami temukan.”


“ Itu adalah hijau, abu-abu, dan kuning keemasan. Itu adalah sebuah kebetulan, dimana begitu banyak batu-batu berkilauan dengan berbagai warna. Berbentuk seperti kristal yang berkilau tertimpa cahaya dari kobaran api. Aku hanya memilihnya secara acak mengikuti saran Edwin. Hanya itu satu-satunya cara agar kami bisa bertahan hidup. Kau tahu, aku benar-benar pengecut. Karna bagaimanapun juga, aku hanya ingin tetap hidup.”


Hutson mengakhiri kisahnya. Dia sedikit melirik Rache dari sudut pandangnya dan melihat bahwa gadis itu hanya diam. Menatap ke arah langit dan kemudian menghela nafas lelah.


“ Kau mungkin berpikir bahwa aku sama sekali tidak berguna dan hanya bersembunyi sampai seseorang datang membantu. Tapi itu memang kenyataannya.” Hutson mencoba membuat sedikit lelucon.


“ Tidak juga. Yah, kalau aku berada dalam posisi mu, aku yang tidak suka mati ini, aku pasti juga akan melakukan hal yang sama. Tanpa kekuatan yang mendukung, teman, bahkan bantuan. Pilihan apalagi yang dilakukan selain melarikan diri? Kau tahu, mungkin ini sedikit tidak masuk akal. Tetapi, daripada orang yang rela berkorban untuk nyawa orang lain, akan ada lebih banyak orang-orang yang melarikan diri demi nyawa kecilnya.”


Perkataan gadis itu benar. Orang-orang akan lebih mementingkan nyawa mereka masing-masing saat berada dalam bahaya. Hutson terkekeh dan kemudian berkata.


“ sepertinya, daripada seorang gadis bangsawan yang kabur, kau lebih terlihat seperti seseorang tanpa pegangan apapun. Yang mencari sebuah tempat untuk pulang. Kekeke, tidak apa-apa, kau bisa menganggap kamu rumah mu.”


Rache tidak membalas apapun dan kemudian tertawa. Dia sedikit mengecilkan volume suaranya agar tidak menggangu Tyron dan Edwin.


“ Yah, kau benar. “

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2