
"Dari mana saja kamu?" Terdengar suara bariton tersebut kepada seorang gadis yang baru saja melewati pintu masuk. Gadis tersebut hanya melirik sekilas kemudian berjalan kembali tanpa peduli dengan pria paruh baya yang baru saja melontarkan pertanyaannya dengan nada marah. Gadis tersebut sudah sangat muak dengan tingkah pria yang sering dipanggil ayah itu.
"Tidak punya sopan santun, kamu!" Pria tersebut bertambah berang melihat sang anak tidak memedulikannya.
Gadis tersebut masih terus berjalan menaiki tangga melewati sang ayah yang duduk di sofa ruang tamu. Seorang wanita datang dari arah dapur membawa secangkir kopi kemudian meletakkannya di depan sang suami. Setelahnya, sambil memijit pundak sang suami beliau berkata, "Sudahlah, jangan diambil pusing anak itu. Kamu, kan tahu jika dia sangat mirip dengan istri pertamamu yang tidak berkelas itu."
"Ya, kau benar. Entah kesialan dari mana aku memiliki anak anak seperti itu. Tidak Radya, tidak Raditya. Semuanya sama saja produk gagal. Tidak ada yang berguna. Sama seperti Rania istri pertamaku. Beruntung aku masih memiliki anak darimu yang tidak pernah mengecewakan."
"Hm. Tentu saja." Jawab sang istri sambil menyeringai bangga. Namun sorot matanya tidak dapat menipu. Sorot mata itu penuh dengan ambisi.
Gadis itu, Radya masih dapat mendengar percakapan dua orang paruh baya itu. Meski terdengar agak samar namun Radya masih dapat mencerna ucapannya. Hal itu membuat tangan Radya mengepal erat. Menyembunyikan emosi yang dikhawatirkan dapat keluar di saat yang kurang tepat.
__ADS_1
Setelah mengunci pintu kamar, Radya kemudian bersandar pada daun pintu dan memerosotkan tubuhnya kebawah. Setelah itu, menelungkupkan kepalanya diatas lutut. Samar-samar suara tangis gadis itu terdengar begitu lirih.
Gadis itu meski diluar tampak keras dan tidak peduli namun didalamnya begitu lembut dan perasa. Tidak banyak yang mengetahuinya. Hanya orang-orang yang dianggap dekat yang mengetahuinya.
Gadis itu anak kedua dari mendiang istri pertama ayahnya. Meski berstatus sebagai istri pertama, pada kenyataannya sang ayah tidak pernah mencintai ibunya. Pernikahan mereka hanya didasarkan pada perjodohan saja. Keluarga ayahnya memiliki hutang budi terhadap keluarga ibunya.
Keluarga ibunya bukan berasal dari keluarga terpandang. Namun kesuksesan keluarga ayahnya berasal dari bantuan keluarga ibunya. Karena dulunya, ketika ibunya masih kecil keluarganya menjadi tuan tanah di desanya. Namun karena penyakit ibunya, perlahan tanah milik keluarga habis terjual.
Perjodohan ini tidak pernah diterima oleh ayahnya. Namun atas paksaan dari keluarga serta ancaman dicoretnya sang ayah dari ahli waris terpaksa sang ayah menerimanya.
Kelahiran sang anak tidak juga membuat sang ayah mencintai ibunya. Terlebih lagi ketika Radya dan Raditya berumur enam tahun, Raditya mengalami kebutaan akibat kecelakaan yang juga menewaskan sang ibunda.
__ADS_1
Beberapa saat setelah kematian sang ibunda, ayahnya membawa seorang wanita beserta anaknya yang masih berumur tiga tahun ke rumah. Ayahnya mengaku bahwa wanita tersebut merupakan istri keduanya yang telah ia nikahi sejak lama. Wanita itulah sosok yang digilai oleh ayahnya. Yang menyebabkan sang ayah tidak pernah peduli terhadap ibunya.
Kegilaan ayahnya tidak sampai disana. Saat Radya dan Raditya berumur lima belas tahun, sang ayah membawa kakaknya, Raditya ke sebuah panti asuhan karena dianggap aib akibat kondisi matanya yang buta. Kejadian ini terjadi karena hasutan dari istri keduanya yang menginginkan agar anak dari istri pertama suaminya tersingkir dari keluarga agar tidak menjadi ahli waris. Tinggal menunggu waktu untuk Radya juga akan mengalami hal yang sama.
Sayangnya, hingga saat ini gadis tersebut berusia dua puluh tahun tepat lima tahun gadis tersebut masih juga belum mengetahui di mana panti asuhan tempat kakaknya berada. Meski begitu masih ada harapan besar dalam diri gadis tersebut untuk menemukan belahan jiwanya. Karena beberapa orang menganggap bahwa saudara kembar terkadang memiliki jiwa yang sama.
Setelah merasa cukup mengeluarkan air matanya, Radya berjalan menuju kamar mandi. Melakukan ritual yang sering dilakukannya sebelum tidur. Gosok Gigi dan cuci muka.
Radya ini meski terlahir cantik namun tidak pernah melakukan perawatan kulit seperti halnya wanita pada umumnya. Ia tidak pernah ingin untuk memperlihatkan kecantikannya. Maka dari itu matanya dihiasi dengan kacamata berbingkai yang cukup tebal. Tampak serupa dengan kacamata minus. Sayangnya, mata Radya berada dalam kondisi yang sangat sehat.
Setelah membaringkan tubuhnya sejenak, netra gadis tersebut masih belum bisa tertutup. Ia belum merasa mengantuk. Pandangannya mengarah pada langit-langit kamarnya namun pikirannya melayang entah kemana. Karena pandangan gadis tersebut bermakna kosong.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian akhirnya tanpa disadari kelopak mata gadis tersebut perlahan tertutup. Ritme napasnya pun perlahan mulai teratur. Pertanda jika gadis tersebut telah menjemput mimpinya.
BERSAMBUNG...