
Selamat Membaca...
"Gue tanya sekali lagi. Ini kenapa pagi-pagi sudah sangat berisik? Kalau kakak gue kebangun gara-gara kalian bagaimana?" Suasana tampak hening. Semua orang menjadi takut jika sewaktu-waktu Radya mengamuk karena kehilangan sang kakak lagi.
"Anu...R-Radya. Kakak Lo gak ada di kamarnya." Takut-takut Ezio mulai membuka suaranya. Menjelaskan kondisi saat ini.
"Oh, kakak gue ada di kamar gue. Kita tidur bareng semalam." Ucap Radya santai tanpa beban. Membuat semua orang melongo tidak percaya. Terutama Ezio. Ia tampak seperti orang yang benar-benar merasa tersakiti.
###
Sementara di tempat lain, tepatnya di mansion keluarga Albirru. Sebuah keluarga kecil sedang sarapan bersama.
"Papa. Dimana Kak Radya? Aku belum melihatnya sejak kemarin." Rania anak satu-satunya dari pasangan tersebut bertanya. Ia merasa heran dengan ketidakhadiran sang kakak. Meski Radya jarang menghabiskan waktu di rumah namun dalam sehari setidaknya Rania menjumpainya sekali dua kali.
"Papa sudah mengusirnya." Jawab sang ayah dengan cepat.
Rania mengerutkan keningnya. Untuk apa sang ayah mengusirnya? Pikir Rania. Seakan tahu dengan apa yang berada di pikiran putrinya Cindy selaku sang ibu menjawab, "Dia membuat aib keluarga. Dia hamil di luar nikah. Papa mu menemukan testpack-nya kemarin."
Deg!
Jantung Rania berdetak kencang. Keringat dingin mulai muncul menjalari tubuhnya mendengar penjelasan sang ibu.
"Beruntung Rania-ku tidak seperti ****** itu." Lanjut Cindy lagi. Sedangkan Sang ayah mengangguk setuju. Di matanya, Rania merupakan satu-satunya anak yang dapat membanggakan dirinya.
"Lalu, b-bagaimana keadaannya jika dia diusir dari rumah? Bukankah Kak Radya belum memiliki pekerjaan?"
"Biarkan saja dia menjadi gelandangan seperti kakaknya yang buta. Sudah menjadi beban, malah menambah aib keluarga saja" Sang ayah mulai berkomentar.
Sejujurnya, Rania merasa senang atas apa yang menimpa sang kakak, Radya. Hanya saja ia menjadi lebih gugup karena takut rahasianya terbongkar. Diam-diam dia mencengkeram perutnya di bawah meja.
###
__ADS_1
"Oh, kakak gue ada di kamar gue. Kita tidur bareng semalam." Ucap Radya santai tanpa beban. Membuat semua orang melongo tidak percaya. Terutama Ezio. Ia tampak seperti orang yang benar-benar merasa tersakiti.
"Lo kenapa kagak bilang Ra? Gue udah panas dingin ini." Ezio tampak tidak terima dengan pernyataan Radya yang terkesan santai. Karena sebelumnya Ezio sudah tidak dapat mengontrol rasa takutnya melihat tidak adanya Raditya di kamarnya.
"Ya Lo nggak tanya."
"Ya mana tahu gue kalau Lo ada di sini. Kemarin, kan Lo udah pulang bareng Shan." Ezio tampak semakin emosi.
"Oh, iya. Gue belum bilang, ya? Kalau gue semalam baru di usir dari rumah."
"Huh? Gimana gimana?" Ezio mengikuti Radya yang berjalan menuju ruang keluarga. Setelah mereka berdua duduk di sofa yang tersedia, mereka melanjutkan percakapan yang tertunda.
"Gue diusir gara-gara dituduh hamil." Jawab Radya cepat. Tanpa mau menjelaskan kronologisnya.
"Ha? Lo hamil!!!" Pekik Ezio. Buru-buru Radya memukul lengan atas Ezio sebagai peringatan agar tidak mengeluarkan suaranya terlalu keras.
"Jangan keras-keras. Ntar ketahuan kakak gue!"
Sambil menyandarkan punggungnya di sandaran sofa, Radya kembali melanjutkan ucapannya, "Lagian kalaupun gue hamil, kandidat terkuat dari pelaku yang udah ngehamilin gue ya kalau bukan Lo ya Shan. Soalnya kita bareng-bareng hampir setiap hari."
"Enak aja gue yang ngehamilin Lo. Gue tuh masih suci. Perjaka ting-ting." Ezio tidak terima jika dia yang dituduh menghamili Radya. Padahal, kan Radya termasuk dalam jajaran wanita cantik dengan kecerdasan intelektualnya yang mumpuni. Hal itu menjadi daya tariknya sendiri. Tapi kenapa Ezio tampak tidak terima?
"Heh! Emangnya gue mau Lo hamilin? Ngebayangin aja gue ilfil."Radya bergidik ngeri. Membayangkan jika ia dan Ezio melakukan hubungan tersebut.
"Oke, oke. Santai bos-ku. Jadi, gimana kronologi kejadiannya?"
"Sebenarnya gue bingung. Gue baru aja masuk rumah. Ternyata bokap gue udah nungguin gue pulang. Terus, nih. Bokap gue tiba-tiba aja maki-maki gue. Awalnya gue bingung kenapa? Nah, waktu bokap gue nunjukin tuh testpack, gue baru paham maksudnya. Dia nuduh gue hamil cuma gara-gara gue tanya dimana dia nemuin tuh testpack. Jadi, ya gitu deh. Gue diusir. Nggak masalah, sih. Soalnya gue udah lama mau kabur dari rumah."
"Nggak masalah, sih nggak masalah. Tapi kalau bisa ya Lo keluar dari rumah dengan cara terhormat. Bukan karena diusir gini. Seharusnya sebelum keluarga Lo ngusir Lo, Lo udah kabur duluan dari rumah." Ezio tampak tersulut emosinya. Tidak heran. Karena Ezio paling mudah tersulut emosinya.
Ezio berdehem pelan. Kemudian bertanya, "Jadi sebenarnya itu testpack siapa?" Pertanyaan itulah yang sejak tadi bercokol di pikiran Ezio.
__ADS_1
"Nah, itu dia. Kalau bukan Si Tante Cindy berarti itu milik Rania. Tapi setahu gue Tante Cindy sudah tidak bisa hamil lagi." Radya juga ikut-ikutan berpikir.
"Jangan-jangan itu punya Rania?"Radya menoleh ke arah Ezio.
"Kita harus mencari kebenarannya. Itu bisa kita pakai sebagai salah satu kartu kita untuk menjatuhkan mereka. Selain itu, gue tidak mau selamanya di cap sebagai wanita nggak benar karena hamil di luar nikah."
"Ngomong-ngomong, kita harus sarapan dulu. Sebentar, gue panggil Abang gue dulu." Radya kemudian berlari menuju lantai atas untuk memanggil Raditya yang masih berada di kamarnya. Akan susah juga jika Raditya berjalan sendiri melewati tangga. Sebenarnya, di mansion ini terdapat fasilitas lift. Hanya saja lift tersebut masih dalam tahap perbaikan.
Setelahnya, mereka sarapan bersama di meja makan yang sebenarnya cukup untuk digunakan banyak orang. Namun, karena mereka hanya bertiga saja, maka meja makan tersebut tampak sepi.
###
"Ngomong-ngomong, Shan hari ini kesini tidak?" Radya membuka percakapan di saat semuanya sudah selesai menghabiskan sarapannya.
"Belum tahu juga. Lo tahu sendiri jika dia cukup tidak terduga." Radya mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Jangan lupa, Ezio. Kesayangan Lo masih ada di kafe kemarin. Ntar kesayangan Lo hilang, Nangis!!"
"Oh, iya. Gue lupa. Untung Lo ingetin, Ra."
"Gue ambil sekarang aja, deh. Gue pinjam mobil plus sopir Lo ya, Ra? Buat nganterin gue. Hemat ongkos."
"Dasar!!... Yaudah sana pinjam aja sana." Kemudian Ezio berlari meninggalkan Radya juga Raditya.
Raditya yang sejak tadi hanya menyimak percakapan antara Radya dengan Ezio bertanya, "Kesayangan? Pacar maksudnya? Masa pacarnya di tinggal di kafe, Dek?"
Radya yang mendengarnya pun tidak dapat menahan ketawanya. "Bukan, bang Maksudnya itu motor kesayangannya Ezio. Tapi, bisa jadi sih itu motor dianggap pacar sama Ezio. Sesayang itu soalnya." Raditya pun hanya bisa mengangguk mengerti.
"Oh, iya bang. Nanti aku mau daftarin nama Abang di Bank Mata. Tapi Abang tidak boleh terlalu berharap, ya. Mencari kecocokan antara si pendonor dan si penerima donor mata cukup sulit. Abang masih bisa bersabar, kan hingga saatnya tiba?"
"Nggak masalah, dek. Abang sudah terbiasa dengan keadaan Abang yang seperti ini. Lagipula, sebagian besar waktu Abang selama ini ditemani oleh kekurangan Abang." Raditya mencoba menghibur Radya. Sebab Raditya tahu betapa berharapnya Sang Adik melihat dirinya sembuh. Bukan karena repotnya sang adik ketika membantu segala kesulitannya.
__ADS_1
BERSAMBUNG...