
"Oh, saya tahu dek. Saya beberapa kali pernah melihat di daerah sini." Sahut salah satu warga yang ikut melihat foto tersebut. Radya, Shan dan Ezio bernapas lega. Akhirnya mereka menemukannya.
"Kalau boleh tahu, dimana dia tinggal ya, Bu?"
Ibu-ibu yang mengetahui sang kakak kembar Radya tersebut memimpin jalan mereka. "Dia memang jarang keluar, jadi mungkin tidak banyak warga yang tahu. Tapi beberapa kali dia ikut kakek yang memberinya tumpangan untuk berdagang." Sambil memimpin arah ibu itu menjelaskan. Bahkan ibu tersebut tidak banyak bertanya mengapa mereka mencari kakak kembar Radya tersebut.
Setelah sampai, ibu tersebut pamit undur diri. Sambil menyalami ibu tersebut, Radya menyisipkan beberapa lembar uang seratus ribuan ke tangan sang ibu ibu tersebut sebagai ucapan terimakasih. Awalnya ibu itu menolak. Setelah beberapa kali dibujuk akhirnya ia menerima juga. Biar bagaimanapun, ia tetap sangat membutuhkan uang tersebut.
Radya, Shan, dan Ezio melihat rumah tersebut. Sangat tidak layak menurut mereka. Radya jadi membayangkan susahnya kehidupan sang kakak jika ia benar-benar tinggal di tempat ini.
Mereka bertiga akhirnya berjalan menuju pintu rumah yang masih tertutup. Radya sebagai perwakilan mengetuk pintu rumah tersebut. Karena sangat tidak sopan jika mereka bertiga mengetuk pintu secara bersamaan.
Setelah mengetuk pintu beberapa kali, akhirnya pintu tersebut dibuka dari dalam oleh sang pemilik. Melihat sang pemilik rumah membuka pintu, Radya tidak dapat menahan perasaannya. Mata gadis itu mengembun. Kemudian satu persatu kristal bening itu lirih juga. Akhirnya penantian panjangnya membuahkan hasil.
"Maaf, cari siapa, ya?" Pemuda tersebut bertanya meski tidak tahu dimana tamu tersebut berada.
"Abang..." Suara Radya bergetar. Tapi meski begitu pemuda tersebut masih dapat mengenali sang pemilik suara meski tahun-tahun telah berlalu.
"Adek... Ini beneran Adek Radya?" Pemuda tersebut seolah tak percaya. Radya menubruk lelaki tersebut. Memeluknya erat. Pemuda tersebut ikut memeluk gadis yang dikenalnya sebagai adik kembarnya. Pelukan penuh kerinduan.
###
"Kakek, apakah saya boleh membawa Abang saya pulang kembali? Jika kakek berkenan, kakek juga bisa ikut bersama kami. Biar bagaimanapun, kakek sudah dianggap keluarga oleh Abang saya. Dan saya juga akan menganggapnya begitu."
__ADS_1
Setelah pelukan penuh kerinduan yang terjadi oleh pasangan kembar tersebut, akhirnya mereka dipersilakan untuk masuk ke dalam rumah yang tidak layak di sebut rumah. Kemudian mereka mendapati seorang tua renta yang telah menampung dan merawat sang kakak terbujur lemah diatas dipan kayu reot. Sudah dapat dipastikan jika kakek tersebut sedang sakit.
"Tidak apa nak, kakek ingin menghabiskan masa tua kakek disini. Kalian bisa membawa kembali Raditya. Raditya pasti sangat senang setelah bertemu dengan saudara kembarnya setelah sekian lama. Lagipula waktu kakek sudah tidak lama lagi."
"Jangan bilang begitu, kek. Saya bisa membawa kakek dan memberikan pengobatan kepada kakek." Radya kembali menawar melihat sang kakak tidak tega meninggalkan kakeknya sendirian.
"Kakek tidak ingin berobat. Biar bagaimanapun, penyakit ini penyakit orang tua. Memang sudah waktunya kakek menderitanya. Jika diobati pun, kalau sudah waktunya pergi ya pergi. Namanya juga sudah tua. Kalian kembali saja. Kakek tidak apa-apa ditinggal."
"Baiklah, kek. Kami akan sering-sering berkunjung menengok kakek. Cepat sembuh ya, kek."
"Iya, nak. Kakek tunggu kedatangannya. Jangan khawatir dengan keadaan kakek yang seperti ini."
Setelah berpamitan dengan sang kakek, mereka kembali pulang. Radya menggenggam erat tangan sang kakak. Raditya pun membalasnya tak kalah erat.
Mereka pun sampai di sebuah mansion mewah. Mansion milik Radya pribadi. Karena tidak mungkin Radya membawa kembali sang kakak ke rumah nerakanya.
Mansion ini sudah beratas namakan Radya sejak tahun lalu. Mereka pun juga sering mengadakan pertemuan di mansion Radya. Selain itu, mansion ini juga sudah ditempati oleh puluhan pelayan dan penjaga mansion. Jadi, jika Raditya ditinggalkan oleh Radya untuk kembali ke rumah sang ayah, Radya tidak merasa khawatir karena mansion mewah ini memiliki penjaganya yang otomatis juga akan mengurus dan menjaga sang kakak selama Radya tidak berada di sini.
"Ini dimana, dek?" Merasa asing dengan suasananya, Raditya bertanya. Meski tidak dapat melihat, Raditya pasti bisa merasakannya.
"Ini mansion pribadiku, Bang. Untuk sementara ini, Abang tinggal di sini dulu. Tenang saja, ada banyak pelayan nanti yang akan membantu Abang. Jadi Abang tidak akan kesulitan. Karena tidak mungkin aku membawa Abang ke rumah papa. Aku tidak ingin berpisah kembali dengan Abang." Raut wajah Raditya pun menyendu mengingat kembali perbuatan sang ayah.
"Abang juga tidak ingin kembali kesana."
__ADS_1
"Tenang saja, aku tidak akan membawa Abang kesana. Sekarang Abang disini dulu, ya. Nanti aku suruh Ezio menjaga Abang. Aku harus kembali ke rumah. Ini sudah sangat larut." Mengingat Shan tidak bisa berpisah dengan sang ibu, maka Radya memilih Ezio untuk membantunya membuat Raditya beradaptasi dengan lingkungan barunya. Beruntung Ezio dengan segudang waktu luangnya bersedia membantunya.
Setelah memastikan sang kakak baik-baik saja, Radya dan Shan memutuskan untuk kembali ke rumah masing-masing.
Sebelum mencapai daun pintu, Radya mendengar suara Ezio yang memekakkan telinga. Membuat Radya dan Shan akhirnya membalikkan badannya ke arah dimana Ezio berada, "Jangan lupa gratisannya boss!!" Lagi-lagi hanya itu yang berada di kepala Ezio. Radya bahkan sampai heran. Mengapa jika membahas makanan serta gratisan, Ezio tidak akan pernah lupa.
Setelah itu, Radya mengantar kembali Shan menuju kafe tadi untuk mengambil kembali motornya yang tertinggal.
###
"Dari mana saja kamu?" Sapaan yang sering Radya dengar jika sampai rumah. Sapaan yang bahkan terdengar begitu arogan di telinga Radya.
" Bukan urusan Papa."
"Berani kamu menjawab Papa. Setiap hari pulang malam. Mau jadi apa kamu? Pekerjaan saja sekarang kamu tidak punya."
"Terserah Papa saja, lah. Aku sudah lelah." Radya melanjutkan langkahnya menuju kamar.
"Radya! Papa belum selesai berbicara. Jangan sekali-kali kamu melanjutkan langkahmu." Radya kembali menghentikan langkahnya.
"Papa ingin bicara. Duduk di depan Papa."
"Ini apa Radya? Ini milik kamu, bukan?" Sang ayah memperlihatkan sebuah benda berbentuk persegi panjang yang sangat tidak mungkin dimiliki oleh Radya. Radya memandang ayahnya tak percaya. Masalah apa lagi ini?
__ADS_1
BERSAMBUNG...