
"Gue datang bukannya disambut malah pada diam-diaman. Ada masalah hidup apa Lo berdua?" Sosok tersebut langsung mendudukkan dirinya diantara Radya dan Ezio. Ia melirik secara bergantian antara Radya dengan Ezio.
"Shan!!" Suara Radya yang memekakkan telinga akhirnya meluruhkan keheningan yang terjadi di antara ia dan Ezio.
"Gue kira Lo nggak bakalan datang." Kali ini Ezio ikut menimpali.
"Gue kan sudah terlanjur janji." Shan mengulurkan tangannya. Mencomot makanan milik Ezio.
"Heh, makanan gue!!" Pekik Ezio yang tidak terima makanannya diambil. Bahkan Ezio sampai memukul tangan Shan, ketika Shan tidak memedulikan protesan dari Ezio dan tanpa malu masih melanjutkan aktivitasnya.
Memang diantara mereka bertiga, Ezio lah yang paling suka makan. Terutama jika gratisan. Namun, meski Ezio banyak makan tubuhnya masih tetap ideal.
"Yaudah sih, pesan aja lagi. Ntar gue bayarin."
"Nah, yang gini nih gue demen. Sok atuh dimakan. Sering-sering lah, kayak gini."
"Ye... Gak tau diri Lo!" Radya sampai melemparkan kentang gorengnya melihat kelakuan Ezio. Setelahnya, Ezio memanggil kembali pelayan untuk menambah pesanan.
"Oh, iya Ra. Gue barusan dapat informasi baru. Ada yang bilang kalau dia pernah lihat orang yang mirip kakak lo di daerah sekitar alun-alun. Akhirnya gue periksa cctv daerah sana sesuai waktu dimana saksi melihatnya. Sekaligus gue juga periksa jalur yang dilewati sama orang itu lewat cctv. Tebak, gue dapat apa?" Shan menghentikan penjelasannya membuat Radya dan Ezio jengkel. Terutama Radya. Sedangkan Shan menarik turunkan alisnya. Menggoda Radya dan Ezio. Terlebih senyumannya membuat Radya dan juga Ezio bertambah jengkel.
"Kagak usah main-main Lo. Ingat, ini informasi penting yang benar-benar kita tunggu sejak lama. Terutama Radya." Ezio mengemukakan suaranya. Mewakili kejengkelan Radya yang sudah tergambar jelas di wajahnya.
"Ck, kagak asik Lo berdua." Shan tanpa permisi mengambil minuman Ezio. Menyeruputnya hingga habis. Hal itu justru menambah kekesalan bagi Ezio.
"Oke, Oke. Jadi, setelah gue telusuri cctv yang dilewati orang itu akhirnya gue ketemu daerah di mana dia tinggal. Gue kagak sempat nemu rumahnya sih. Soalnya daerah situ kumuh banget. Jadi di sana kagak ada cctv. Lagipula daerah itu juga kurang mendapat perhatian dari pemerintah."
Shan memerhatikan kedua orang didepannya. Kemudian kembali melanjutkan perkataannya, "Tapi masalahnya bukannya kata bokap Lo, kakak kembar Lo di bawa ke panti asuhan ya? Nah, yang gue bingung itu disini. Menurut Lo gimana, Ra? Soalnya belum tentu itu kakak Lo. Soalnya foto yang kita punya itu foto kakak Lo ketika umur lima belas tahun. Pasti sekarang beda lah, ya. Meski ada sedikit kemiripan." Shan menatap manik mata milik Radya yang masih tertutup oleh kacamatanya.
__ADS_1
Radya mengetukkan jari telunjuknya di atas meja. Dahinya mengkerut. Tanda bahwa dia sedang berpikir keras Sedangkan dua orang lainnya memandang Radya. Masih menunggu keputusan yang akan dipilih oleh Radya.
"Gini, selama ini kan kita udah sering cari-cari informasi tentang kakak gue. Kita juga udah putar-putar cari kakak gue di daerah panti asuhan. Dan hampir semua panti asuhan yang kita datangi kita masih juga belum mendapat titik terang."
"Lagipula kalian tahu sendiri watak bokap gue. Bisa jadi bukannya di buang ke panti asuhan kakak gue justru di buang ke jalanan. Siapa yang tahu? Justru lebih baik kita periksa terlebih dahulu seperti yang sebelum-sebelumnya." Lanjutnya lagi.
"Nah, benar tuh. Meski bokap Lo bilang kalau kakak Lo di bawa ke panti asuhan, bisa jadi itu akal-akalan bokap Lo doang." Timpal Ezio.
"Jadi, rencananya mulai kapan kita cari kakak Lo, Ra?" Setelah terdiam cukup lama, ia menjawab, " Semakin cepat, Semakin baik. Gue sih mau mulai sekarang gak masalah. Lagipula sekarang masih jam sepuluh pagi. Masih banyak waktu. Yang jadi masalah kalian bisa nggak? Bisa jadi kalian ada kegiatan lain. Terutama Lo, Shan. Emang Lo gak masalah ninggalin nyokap Lo."
"Justru setelah gue dapat informasi ini gue udah persiapin waktu berharga gue. Gue sih, udah memperkirakan kalau Lo bakal mau langsung cari."
""Kalau gue, waktu kosong gue banyak. Jadi gue santai aja, lah. Sekarang juga gue bisa." Ezio ikut menimpali.
"Oke, jadi kita pergi sekarang. Tapi kita pakai mobil siapa? kita bertiga kan bawa kendaraan masing-masing."
"Ya, tadi gue bawa kesayangan. Kayak kagak tau aja Lo kalau gue lebih sering bawa kesayangan gue"
Radya dan Shan memutar bola mata. Malas meladeni perkataan Ezio. "Berarti ini pakai mobil gue, ya."
Ketika mereka baru beranjak, Ezio menghentikan pergerakan mereka. "Makanan gue gimana?"
"Ck. Tinggal ajal lah. Hitung-hitung sedekah. Ntar kalau kakak gue ketemu gue traktir deh, sepuasnya. Sebagai perayaan."
"Oke. Kalau gini kan gue jadi tenang" Tanpa rasa bersalah, Ezio melenggang pergi keluar pintu utama kafe. "Jangan lupa bill nya dibayar." Teriaknya. Hal itu membuat kedua temannya yang masih ditempat menutup wajahnya malu. Karena para pengunjung secara otomatis melihat kearah mereka.
Setelah keadaan menjadi kondusif, mereka berjalan kearah kasir. Membayar bill pesanan. Kemudian pergi.
__ADS_1
"Lama amat Lo berdua." Setelah berada di parkiran, mereka berdua melihat Ezio yang sedang berjongkok di samping mobil milik Radya. Lagi-lagi mereka harus menanggung malu akibat dari perbuatan Ezio yang seringkali membuat mereka mengelus dada. Padahal dulu Ezio merupakan sosok yang pemalu. Mengapa sekarang menjadi sosok yang malu-maluin?
"Ini juga karena perbuatan Lo. Gue udah kagak punya muka lagi buat datang ke kafe ini"
"Shan, Lo yang nyetir karena Lo yang tahu daerahnya." Radya melemparkan kunci mobil ke arah Shan yang langsung ditangkap tepat sasaran.
Radya membuka pintu penumpang samping kemudi. Diikuti oleh Shan dan Ezio yang mendapat tempat di belakang.
###
"Di sini tempatnya?" Radya bertanya setelah laju mobil terhenti.
Mereka melihat kearah sekitar yang tampak benar-benar kumuh. Bahkan mobilnya pun tidak dapat melewati jalan tersebut karena terlalu sempit. Maka terpaksa mereka berjalan kaki untuk masuk lebih dalam ke area kumuh tersebut.
Daerah tersebut tampak tidak layak lagi untuk ditinggali. Sampah tercecer dimana-mana. Bahkan jalanan yang mereka lewati telah tertutup oleh sampah dan lumpur. Rumah rumah yang terbangun di sana juga tampak tidak layak. Bahkan mereka membayangkan jika tersenggol sedikit saja bangunan rumah mereka akan langsung roboh.
Ketika mereka berjalan, warga kampung yang mereka lewati melihat mereka dengan tatapan aneh. Karena tampilan mereka yang tampak bersih dan berkelas tidak cocok dengan kawasan yang tengah mereka datangi.
Salah satu dari warga memberanikan diri untuk bertanya, "Maaf, adik-adik ada keperluan apa ya?"
"Maaf, pak. Apa bapak mengenal orang ini?" Radya memperlihatkan foto Raditya lima tahun lalu kepada bapak tersebut.
"Maaf, pak. Ini juga foto lima tahun lalu. Mungkin sekarang orang ini agak berbeda sedikit dari foto yang saya bawa. Selain itu dia juga tidak memiliki mata yang berfungsi dengan baik atau bisa disebut dengan kebutaan." Bapak tersebut masih memperhatikan foto tersebut. Melihat itu, satu persatu warga yang melihat dari kejauhan mulai memberanikan diri untuk mendekat dan ikut melihat foto tersebut.
"Oh, saya tahu dek. Saya beberapa kali pernah melihat di daerah sini." Sahut salah satu warga yang ikut melihat foto tersebut. Radya, Shan dan Ezio bernapas lega. Akhirnya mereka menemukannya.
BERSAMBUNG...
__ADS_1