Rahasia Sang Gadis

Rahasia Sang Gadis
DUA


__ADS_3

Mata gadis yang masih terlelap di ranjangnya itu mengerjap perlahan. Akibat dari sinar matahari yang menerpa malu-malu dari sela-sela jendela yang tertutup gorden. Dengan nyawa yang belum terkumpul sempurna, gadis itu mendudukkan dirinya pada kepala ranjang. Kemudian menguap.


Gadis berumur dua puluh tahun ini segera beranjak dari tidurnya. Tidak lupa juga membereskan kamarnya. Setelah itu baru membersihkan dirinya karena ia sudah berencana untuk keluar rumah seperti hari-hari sebelumnya.


Setelah siap dengan pakaian kasualnya yang cukup rapi serta tambahan polesan bedak tipis dan lipgloss dan juga kacamata nonminus yang sering dipakainya akhirnya Radya keluar dari kamarnya. Tidak lupa juga ia untuk mengunci pintu kamar, mencegah orang-orang rumah itu untuk masuk tanpa seijinnya.


Radya berjalan menuju dapur tanpa memedulikan keluarganya yang telah berkumpul di meja makan tampak bahagia tanpa kehadiran dirinya. Gadis itu hanya mampir untuk menuntaskan dahaganya. Kemudian tetap pada rencana awalnya untuk keluar berjalan-jalan.


"Radya, mau kemana kamu?" Tanya sang kepala keluarga yang lagi-lagi siap untuk mengeluarkan emosinya melihat sang anak.


Radya tidak berniat untuk menjawabnya sama sekali. "Kamu sudah lulus kuliah. Setidaknya kamu harus kerja untuk membalas Budi karena sudah diterima di keluarga ini. Jangan jadi pengangguran yang bisanya habisin duit sana sini karena kebiasaanmu yang suka keluyuran tidak jelas."


"Lihat itu adik kamu. Selalu nurut orang tua. Tidak pernah membantah. Masih kuliah tapi sudah bisa bangun butik sendiri." Lanjutnya lagi.


Radya menghentikan langkahnya ketika hampir keluar dari pintu. "Bangun butik sendiri? Memangnya Papa pikir aku nggak tahu kalau butik itu masih pakai uang Papa?"


"Setidaknya dia sudah berusaha untuk membangun karirnya sendiri. Tidak seperti kamu yang masih pengangguran." Celetuk sang mama tiri. Membela anak dan suaminya.


Setelah itu Radya tidak mendengar kembali apa yang diucapkan oleh keluarganya. Gadis itu bergegas untuk keluar mengendarai mobilnya.


###


Begitu masuk di sebuah kafe, Radya memutar pandangannya keseluruh bagian kafe. Mencari seseorang yang seharusnya telah sampai sesuai dengan apa yang disampaikannya lewat pesan.

__ADS_1


Begitu melihatnya, Radya langsung menemuinya. Ia duduk dihadapan orang tersebut.


"Udah lama?" Tanyanya. Sejujurnya itu hanyalah sekadar basa-basi. Karena ditilik dari pesan yang disampaikan sang lawan bicara, itu sudah terhitung cukup lama.


"Pakai nanya lagi Lo." Sang lawan bicara tampak bersungut-sungut. Cukup imut. Tapi tidak sesuai dengan tubuhnya yang kekar atletis.


"Ya, maaf. Biasalah. Ada kendala sebentar." Setelahnya, Radya memanggil seorang pelayan. Begitu menyebutkan pesanannya, pelayan tersebut pamit undur diri. Melanjutkan tugasnya.


"Jadi, ada berita apa?" Tanya Radya membuka percakapan. Seketika kedua orang tersebut langsung masuk pada mode serius.


"Gue kemarin berhasil membeli saham perusahaan bokap Lo. Gue dapet lima persen sahamnya. Kalau ditotalkan berarti kita sudah berhasil mengumpulkan dua puluh satu persen saham dengan saham yang kita miliki sebelumnya." Ezio-sang lawan bicara yang saat ini berstatus sebagai asisten kepercayaannya sekaligus teman dekatnya mulai memberikan informasi pentingnya.


Radya memang sedang berencana untuk mengumpulkan saham perusahaan ayahnya dengan atas nama dirinya. Namun untuk saat ini agar rencananya tidak terendus oleh keluarganya, maka pembelian dan kepemilikan saham masih beratas namakan Ezio. Asisten sekaligus teman dekatnya. Namun tentu semua berasal dari uang pribadinya. Karena sebelum bermain saham di perusahaan ayahnya, Radya juga sudah sering membeli saham di perusahaan lainnya. Namun semua ini masih menjadi rahasia. Hanya Ezio saja yang telah mengetahuinya.


Ezio memiliki kecerdasan diatas rata-rata. Maka dari itu Radya tertarik dengan kecerdasannya sehingga ia berinisiatif untuk menariknya agar berada di sisinya sebelum orang lain menyadarinya. Beruntungnya, Ezio tidak terlihat terpaksa dengan ajakannya.


Selain Ezio, Radya juga memiliki seorang lagi yang menjadi orang kepercayaannya. Ia merupakan kenalannya di bangku perkuliahan. Juga seorang laki-laki. Sayangnya untuk saat ini ia tidak dapat datang tepat waktu karena ada suatu hal yang harus dilakukan. Atau mungkin bisa jadi ia tidak akan datang.


"Dua puluh satu persen ya... Cukup banyak. Tapi masih belum cukup untuk bisa melawan bokap gue. Gue masih butuh banyak. Tapi untuk mendapatkan slot di perusahaan bokap gue juga cukup sulit." Responnya begitu selesai mencerna informasi.


"Nah, iya. Kalau menurut gue, kita masih harus menyelidiki orang-orang pemegang saham di perusahaan bokap Lo. Bisa kita cari kelemahannya. Baru kita bisa membujuk mereka untuk menjual sahamnya kepada kita." Ide itu tercetus saja dari bibir Ezio. Sudah dikatakan, bukan. Ezio ini memang jenius.


"Untuk hal-hal seperti ini kita membutuhkan Shan." Begitu ucapan Radya keluar, datang pelayan mengantarkan pesanan yang telah mereka pesan sebelumnya.

__ADS_1


Percakapan mereka terhenti sejenak. Begitu pelayan pergi, mereka kembali melanjutkan percakapan yang tertunda.


"Hm. Tapi Shan belum tahu datang kapan. Bagi dia ibunya nomor satu." Mereka berdua terkekeh pelan. Mengingat sang sahabat satu lagi-Shan merupakan sosok yang sangat menyayangi ibunya. Hingga hidupnya diprioritaskan untuk ibunya. Karena sejak lahir ia hanya tinggal berdua dengan ibunya. Entah dimana sang ayah sebab ibunya tidak pernah bercerita tentang ayahnya. Shan pun tidak pernah bertanya. Ia hampir tampak seperti anak mami. Begitu julukannya di era ini.


" Sebaiknya kita makan dulu. Gue belum sarapan tadi." Putus Radya.


"Kenapa Lo?"


"Pakai tanya lagi. Kayak kagak tau modelan keluarga gue aja."


Ezio hanya tampak manggut-manggut saja. Setelahnya suasana terasa hening. Hanya denting sendok-garpu yang terdengar.


"Lo udah dapat informasi perihal kakak Lo?" Ezio kembali memecah keheningan. Sepanjang Radya mengenalnya, Ezio memang merupakan sosok yang tidak menyukai keheningan ketika bersama teman-temannya. Radya dan Shan. Karena sejujurnya dunia luar mengenal Ezio sebagai sosok yang pendiam dan menyukai keheningan.


Radya hanya dapat menghela napas pelan. Cukup frustasi dengan permasalahan tersebut. Sebab informasi tentang kakak kembar kesayangannya masih belum mendapat titik terang.


Melihat gelagatnya, Ezio sudah dapat menyimpulkan jawaban atas pertanyaan yang diajukannya. Ezio sendiri cukup merasa prihatin sebenarnya terhadap permasalahan keluarga Radya. Namun sejauh ini ia hanya bisa berperan sebagai penguatnya. Sesekali ia juga memberikan solusi demi mencari keberadaan kakak kembar sahabatnya.


Suasana kembali hening. Ezio tidak cukup tega untuk memecah keheningan. Terlebih Radya terlihat tidak cukup baik suasana hatinya akibat dari pertanyaan yang diajukan oleh Ezio tadi.


"Gue datang bukannya disambut malah pada diam-diaman. Ada masalah hidup apa Lo berdua?" Sosok tersebut langsung mendudukkan dirinya diantara Radya dan Ezio. Ia melirik secara bergantian antara Radya dengan Ezio.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2