Rahasia Sang Gadis

Rahasia Sang Gadis
LIMA


__ADS_3

"Ini apa Radya? Ini milik kamu, bukan?" Sang ayah memperlihatkan sebuah benda berbentuk persegi panjang yang sangat tidak mungkin dimiliki oleh Radya. Radya memandang ayahnya tak percaya. Masalah apa lagi ini?


"Dimana Papa menemukan benda ini?"


"Jadi benar jika ini milikmu. Dasar tidak tahu diri. Sudah dibesarkan susah-susah malah buat aib keluarga."


"Aku bertanya bukan berarti aku mengakui bahwa benda itu milikku. Jadi, dimana Papa menemukan benda ini?"


"Kamu tidak perlu tahu Papa menemukan benda ini dimana. Lagipula, mengapa kau menyangkal bahwa benda ini bukan milikmu. Jika bukan kamu, siapa lagi? Kamu pasti tahu, kan kalau mamamu sudah tidak bisa hamil lagi. Sedangkan Rania tidak mungkin hamil. Keluar malam saja tidak pernah."


"Yang penting itubukan milikku, Pa!" Radya menatap nanar ayahnya. Rasanya, sangat menyakitkan dituduh melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukannya.


Benda yang sedari tadi menjadi titik fokus perdebatan adalah sebuah testpack. Terlebih testpack tersebut tercetak dua garis didalamnya. Menandakan jika sang pemakai positif hamil.


"Benar kata Cindy," Cindy merupakan istri baru sang ayah yang sangat dielu-elukan. "Seharusnya Papa tidak perlu menampung kamu. Kamu sama saja seperti ibumu yang bodoh dan kakakmu yang cacat. Seharusnya, Papa juga membuangmu sejak awal seperti Raditya."


"Setelah ini bereskan semua barang-barangmu. Jangan sampai kau membawa fasilitas yang selama ini kamu dapatkan. Setelah itu pergi juga malam ini. Papa sudah tidak ingin melihatmu lagi. Mencoreng nama baik keluarga saja. Memalukan!"


"Ada apa ini, sayang? Kenapa ribut sekali? Ini sudah cukup larut." Seorang wanita turun dari tangga. Ialah ibu tiri Radya. Cindy.


"Bukan apa-apa. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya telah aku lakukan sejak lama." Cindy menatap heran sang suami.


"Aku akan mengusirnya malam ini. Seperti yang kamu mau."


"Benarkah? Aku senang sekali, sayang. Aku tidak ingin keturunan wanita itu masih berada di rumah ini. Rania juga pasti senang." Setelahnya, mereka berdua berciuman. Memadu kasih tanpa peduli dengan Radya yang tengah menatap mereka dengan tatapan jijik.


Begitu selesai membereskan barang-barang pribadinya, Radya langsung memutuskan untuk pergi dari rumah. Melewati sepasang suami istri yang sedang memadu kasih, Radya tidak juga menghentikan langkahnya.


###


Radya memarkirkan mobilnya di halaman mansion. Ini sudah melewati tengah malam. Tidak heran jika suasana mansion begitu sepi sebab para penghuninya berada di bilik mereka masing-masing. Terlebih ketika malam hari para pelayan tidak diijinkan untuk berada di dalam mansion. Mereka memiliki bangunannya sendiri. Sebuah paviliun sayap kiri.


Radya membawa barang-barangnya yang memang cukup sedikit karena sebagian besar barang berharga Radya sudah berada di mansionnya.


Setelah meletakkan barangnya di dalam kamar, Radya kembali keluar kamar menuju dapur. Karena sebenarnya, di waktu yang sangat larut ini Radya belum juga mengisi perutnya.

__ADS_1


Radya membuka satu persatu rak-rak dapur. Berharap menemukan mi instan yang sudah lama tidak pernah dimakannya. Selain itu, Radya juga hanya menginginkan makanan yang simpel simpel saja. Karena selain sudah cukup larut, Radya juga ingin cepat cepat beristirahat. Hal yang sudah sangat ingin dilakukannya sejak baru datang ke mansion keluarganya. Sayangnya, ada sedikit kekacauan.


Radya cukup senang ketika berhasil menemukan mi instan. Segera Ia memasaknya dengan tambahan dua butir telur yang ditemukannya lebih dulu di dalam kulkas.


Saat tengah kesibukannya memasak, Radya dikejutkan dengan kehadiran Raditya. Entah bagaimana caranya ia berhasil mencapai dapur di tengah kondisi matanya yang tidak memungkinkan. Terlebih Raditya datang sendiri. Tidak bersama Ezio yang seharusnya telah Ia tugaskan untuk menjaga sang kakak.


"Siapa?" Tangan Raditya meraba-raba tembok untuk menuntunnya berjalan. Karena Raditya masih belum terbiasa dengan tempat tinggal barunya. Terlebih bangunan mansion Radya sangat besar. Tidak seperti gubuk kecilnya di kawasan kumuh sebelumnya.


Melihat Raditya kesusahan mencari jalan, Radya buru-buru membantunya. Radya memapahnya untuk duduk di salah satu kursi bar.


"Abang kenapa malam-malam begini belum tidur?"


"Lho, adek? Kenapa adek bisa ada disini?" Raditya merasa aneh sekaligus kaget mendengar suara Radya. Karena yang ia tahu Radya sudah pulang ke rumahnya tadi.


"Memangnya aneh kalau aku berada di mansion ku sendiri?" Cetus Radya setengah bercanda. Hal itu membuat Raditya gelagapan sendiri.


,"Bu-bukan begitu maksud Abang. Abang merasa aneh aja. Soalnya tadi, kan adek sudah pamit mau pulang."


"Seharusnya begitu, sih. Tapi ada masalah sedikit tadi. Jadi aku keluar dari rumah."


"Masalah apa? Adek nggak diapa-apain sama mereka, kan?" Raditya terlihat khawatir dengan kondisi sang adik begitu mendengar ucapan yang terlontar mulut Radya. Terlebih Raditya sangat tahu dengan perangai buruk keluarganya.


"Lagipula, tadi aku tanya Abang belum jawab. Abang kenapa malam-malam begini belum tidur?" Lanjut Radya. Saat ini Radya tengah meletakkan mi nya di atas meja bar. Kemudian ia mengambil tempat duduk tepat di samping Raditya.


"Tadi, sih Abang sudah tidur. Tapi terbangun gara-gara haus. Eh, gatau nya ada ribut-ribut di dapur. Ternyata ada Adek."


"Oh, Abang haus? Kenapa tidak bilang dari tadi? Sebentar, aku ambilkan air dulu." Radya segera beranjak mengambil air minum untuk Raditya. Juga untuk dirinya sendiri.


"Nih, bang." Radya meletakkan sebuah gelas berisi air tepat dihadapan sang kakak.


"Ngomong-ngomong, Abang mau?" Radya menawarkan mi nya kepada sang kakak.


"Boleh deh. Mencium aroma mi instan adek, Abang jadi pengen juga."


"Yaudah, sini makan bareng. Aku yang suapin. Abang tinggal nikmatin aja."

__ADS_1


"Memangnya gapapa? Adek makan malam-malam begini pasti karena laper banget, kan? Nanti kalau Abang ikut makan adek jadi nggak kenyang." Raditya tampak tidak enak hati dengan tawaran adiknya, Radya.


"Nggak masalah, kok. Apa, sih yang enggak buat Abang." Ucapnya setengah menggoda.


Setelahnya, mereka sama-sama makan mi instan dengan Raditya yang disuapkan oleh Radya.


###


"Abang, aku mau tidur dengan Abang, boleh?"


"Hm... boleh kok. Sudah lama juga kita nggak tidur bareng. Adek pasti kangen banget, ya sama Abang?"


"Hu um. Aku cari Abang bertahun-tahun baru bisa ketemu sekarang."


"By the way, Abang mau nya tidur di kamar siapa?" Lanjut Radya.


"Di kamar kamu saja, dek." Setelahnya mereka berbaring bersama di ranjang Radya. Saling berbagi cerita perihal absennya mereka di kehidupan masing-masing selama beberapa tahun terakhir. Tidak sadar, mereka bercerita hingga tertidur.


###


Pagi ini, satu mansion di buat geger karena tidak adanya Raditya di kamarnya. Pelaku utama dari keributan tersebut adalah Ezio. Awalnya ia berniat untuk mengecek kondisi Raditya sekaligus mengajaknya untuk sarapan bersama karena waktu sarapan yang hampir lewat. Biar bagaimanapun, Ezio lah yang bertugas untuk menjaga Raditya selaku kakak dari bos sekaligus sahabatnya.


Namun, justru ia dikagetkan dengan tidak adanya Raditya di kamarnya. Saat ini, Ezio sudah ketar-ketir membayangkan jika Radya mengetahui masalah ini.


Ezio berteriak kepada para pelayan memerintahkan untuk mencari keberadaan Raditya. Biar bagaimanapun, seharusnya Raditya tidak berada jauh mengingat kondisi matanya yang buta.


"Ada apa ini? Kenapa berisik sekali?" Tampak Radya berjalan menuruni tangga. Melihat sosok Radya, Ezio menjadi panas dingin karena Raditya belum juga ditemukan.


"Lo kenapa bisa ada di sini?" Ezio membuka suaranya.


"Pertanyaan bodoh. Memangnya ada larangan gue gak boleh berada di mansion gue sendiri?" Ezio langsung terdiam. Merutuki mulutnya yang salah bicara.


"Gue tanya sekali lagi. Ini kenapa pagi-pagi sudah sangat berisik? Kalau kakak gue kebangun gara-gara kalian bagaimana?" Suasana tampak hening. Semua orang menjadi takut jika sewaktu-waktu Radya mengamuk karena kehilangan sang kakak lagi.


"Anu...R-Radya. Kakak Lo gak ada di kamarnya." Takut-takut Ezio mulai membuka suaranya. Menjelaskan kondisi saat ini.

__ADS_1


"Oh, kakak gue ada di kamar gue. Kita tidur bareng semalam." Ucap Radya santai tanpa beban. Membuat semua orang melongo tidak percaya. Terutama Ezio. Ia tampak seperti orang yang benar-benar merasa tersakiti.


BERSAMBUNG...


__ADS_2