Rahasia Wanita Malam

Rahasia Wanita Malam
10


__ADS_3

10


Kevin memiliki anak dan istri, tapi di belakang mereka ia sering bermain dengan wanita malam. Kevin sudah banyak mengenal bermacam sifat dari berbagai wanita yang rela melakukan apa saja demi uang, apa lagi biasanya akan berlomba-lomba untuk mendapatkan perhatiannya.


Tapi, wanita yang ada di hadapannya terlihat berbeda. Wanita itu bukan sekedar gemetaran tapi menggigil ketakutan. Kevin yang penasaran semakin memungkas jarak mereka.


"Mereka bilang namamu Elga, malam ini untuk pertama kali kau di sini dan aku adalah pelanggan pertamamu. Tapi, kenapa kau seperti tidak berniat me la ya niku? Kau tamapak ketakutan sekali?" Kevin melihat Elga dari atas sampai bawah.


"Se-sebenarnya, bukan kemauanku ada di tempat ini. A-aku terpaksa melakukannya, Tuan. Tolong jangan sentuh aku." Elga tidak tau apakah keputusan bicara yang sebenarnya kepada pria ini bisa membuat ia terbebas dari ruangan ini atau tidak, ia berusaha mencari cara untuk menyelamatkan dirinya tanpa membuat Jesica marah padanya.


Baru pertama kali Kevin merasa iba pada wanita biasa seperti Elga, padahal biasanya ia suka memaksa mereka. "Duduklah." Kevin menggiring Elga hingga duduk di bibir tempat tidur, botol minuman ia letakkan di atas meja lalu Kevin ikut duduk di samping Elga.


Elga mendekap tubuhnya sendiri seolah tidak mau tubuhnya dilihat Kevin. "A-apa Tuan tetap akan menyentuhku?" Ia bertanya tanpa melihat Kevin. Sedari tadi hanya menundukkan pandangan.


"Kau sendiri mau disentuh atau tidak?" Kevin kembali bertanya.

__ADS_1


Elga menggelangkan kepala. "Tidak mau, tolong biarkan aku keluar dari sini," katanya memohon.


"Apa kau pikir jika kau keluar dari sini kau bisa bebas dari tangan para pria di luar sana? Jesica pasti akan menawarkanmu pada orang lain," kata Kevin, ia tersenyum meremehkan Elga.


Elga tidak bisa membendung air matanya lagi hingga ia menangis ketakutan. Melihat itu Kevin menjadi sedikit panik karena baru pertama kali ada wanita menangis di hadapannya.


"Tenanglah, katakan apa alasannya kau tidak mau me la yaniku. Jika alasanmu masuk akal dan bisa kuterima maka, kau boleh pergi tapi jika sebaliknya jangan harap malam ini kau bisa lolos dariku."


Tangisan Elga perlahan memudar, ia beranikan diri melihat Kevin yang masih menatap dan menunggu jawabannya.


Kevin tersentak mendengarnya dan hal itu mengingatkan dirinya pada anaknya sendiri.


***


"Tuan, kita sudah sampai," ucap Derel setelah mematikan mesin mobil.

__ADS_1


Dengan tidak bersemangat Ken melihat ke luar jendela. Mengernyit dahi melihat apa yang ada di luar sana.


"Kenapa kau bawa aku ke sini?"


"Sedari tadi Tuan diam saja, jadi aku pikir membawa Tuan ke sini bisa mengembalikan semangat Tuan. Ayo, kita masuk." Pria itu turun sangat bersemangat dan membukakan pintu mobil Kendrick. "Aku pikir Tuan butuh hiburan."


"Dasar kau!" Kendrick enggan, tapi tetap mengikuti Derel masuk ke dalam rumah bordir yang cukup terkenal di kalangan para pria hidung belang.


Kedatangan Kendrick disambut para wanita yang berusaha merebut perhatian Ken, tapi pria itu menolak mereka semua.


"Tuan, bukankah dia Kevin?" Derel berbisik sambil menunjuk Kevin yang saat itu sedang bicara dengan Jesica yang ia tahu adalah pemilik tempat ini.


"Kenapa kau heran? Bukannya dia sudah biasa datang ke tempat seperti ini?" Kendrick tidak perduli.


Derel membenarkan dan langsung mengalihkan perhatiannya dari Kevin. Sementara Kendrick masih melihat Kevin sampai pria itu tampak memasuki suatu ruangan yang diyakini untuk menemui wanita yang sudah dibayar.

__ADS_1


Sementara itu, Jesica gemetaran melihat nominal angka yang tertera di chek pemberian Kevin. Ya, pria itu baru saja membeli Elga dengan mahal sebagai jaminan Elga tidak boleh diberikan kepada pria mana pun. Dengan kata lain Elga sudah menjadi milik Kevin dan hanya boleh me la yani pria tersebut.


__ADS_2