Rahasia Wanita Malam

Rahasia Wanita Malam
Hutang


__ADS_3

8


"Selamat datang, Son!" Seorang pria tua berkaca mata merentangkan tangan menyambut putranya. Kendrick yang sudah meninggalkan rumah selama 5 tahun lamanya. "Kau tumbuh dengan baik dan semakin tampan saja. Kemarilah, kenapa kau seperti orang asing di rumahmu sendiri? Apa kau tidak merindukan ayahmu ini?"


"Bukankah Anda sudah menjadikan aku sebagai orang asing di keluarga ini?" Kendrick tidak berniat sedikit pun mendekati ayahnya, ia masih ingat perlakuan kejam ayahnya saat mengirimnya dulu. 5 tahun lalu Ken tidak punya kuasa melawan sang ayah hingga ia terpaksa pergi dan tak kembali selama 5 tahun.


"Apa kau masih dendam pada ayahmu ini? Ayolah, kau jadi seperti sekarang karena ayahmu juga. Jadi, jangan membenciku terlalu lama. Aku sudah semakin tua jadi jangan buat terlalu banyak berpikir."


Martin memeluk Kendrick dan berulang kali menepuk punggungnya. Anak kebanggaannya pernah membuat dirinya kecewa hingga ia tega mengusirnya dan mengancam akan menyakiti ibunya bila Kendrick tidak mematuhi perintahnya.


Kendrick tidak membalas pelukan sang ayah, matanya mencari orang lain yang sangat ia rindukan.


"Di mana ibuku?" Kendrick tidak menghiraukan ocehan ayahnya. "Aku pulang untuk menemui ibu."


Martin menghela napas, ia kecewa akan sikap Kendrick yang acuh dan dingin padanya. "Kau memang putraku, pergilah temui ibumu di kamar."


Lima tahun berpisah dengan ibunya hanya karena dilarang pulang oleh sang ayah. Kendrick masih kesal setiap kali mengingat itu.


"Ayah harap kau tidak mencari gadis itu lagi, Ken." Ucapan Martin menghentikan langkah kaki Kendrick. "Jangan berurusan dengan wanita-wanita dari kasta rendah."

__ADS_1


Kendrick mengepalkan tangan, itu lah alasannya mengapa selama ini ia bergerak hati-hati mencari wanita yang telah ia nodai dulu. Kendrick tidak mau ayahnya mengacaukan semuanya.


"Aku sudah dewasa. Tidak ada yang bisa melarangku melakukan apa yang aku mau lakukan!" jawab Ken tanpa melihat ayahnya. Kedua pria yang memiliki hubungan darah itu seperti sama-sama mengibarkan bendera perang.


*


*


*


Di lain tempat.


"Tempat apa ini, Bi? Kenapa kita datang ke sini?" Ntah sudah berapa kali Elga melontarkan pertanyaan yang sama tapi tidak sekali pun Jesica menjawabnya. Sedari tadi wanita itu tampak sibuk dengan benda pipihnya.


Jesica membawa Elga ke suatu ruangan. "Duduklah!" Ia menunjuk kursi persis di sebelah meja.


Elga duduk ragu-ragu. Kini, ia dan Jesica sudah duduk saling berhadapan.


"Aku punya pekerjaan baru untukmu. Mulai malam ini kau adalah wanita malam yang harus melayani para pria yang menginginkan dirimu!" Jesica langsung bicara pada intinya lalu ia mengambil lembaran kertas di laci.

__ADS_1


Elga tersentak mendengarnya, ia tau apa arti ucapan Jesica membuat dirinya menatap Jesica penuh tanya.


"Bibi tidak serius 'kan? Bibi tau aku tidak mungkin melakukan itu." Elga merasa asing dengan sikap Jesica yang sangat berbeda dari biasanya.


"Aku serius dan kau harus lakukan itu atau kau lunasi semua hutangmu ini." Jesica memberikan kertas itu pada Elga.


"Hutang apa yang bibi maksud?" Elga membaca isi yang tertera di sana dan mendapati rincian pengeluaran selama dirinya tinggal di rumah Jesica. "Bukankah selama ini bibi tidak pernah mengungkit atau menagihnya dariku, tapi kenapa sekarang aku harus membayar sebanyak ini?"


"Apa pun itu kau pasti tau tidak ada yang gratis di dunia ini dan aku mau malam ini kau harus melunasinya atau putrimu yang akan jadi taruhannya!"


Jantung Elga terasa dirampas dari tubuhnya, selama ini putrinya adalah nyawa dan alasan ia tetap bertahan hidup dan Elga tidak akan biarkan putrinya dalam tekanan siapa pun.


"Jangan bawa-bawa anakku, Bibi. Aku akan bertanggung jawab melunasi hutang-hutangku, tapi beri aku waktu sampai aku bisa mengumpulkan banyak uang." Elga bicara dengan tubuh bergetar.


Jesica menggeleng. "Tapi kau tetap harus membayarnya malam ini."


"Bibi tau aku tidak punya uang sebanyak itu!"


"Bayarlah dengan tubuhmu, Elga. Kau bisa mencicilnya mulai malam ini."

__ADS_1


Elga terkesiap setengah mati, ia tidak menyangka kalau Jesica setega ini padanya. Ternyata selama ini ia ada di tempat yang salah. Baru ia sadari sejak lama sebuah jebakan telah disiapkan begitu sempurna untuk menjerat dirinya.


__ADS_2