
9
Jesica tidak memberikan pilihan lain kepada Elga, ia bahkan mengancam akan mengambil Chery bila tidak menuruti perintahnya. Hati Elga sangat hancur mendengarnya, ia takut Jesica benar-benar akan memisahkan dirinya dan Chery.
Menjadi wanita malam tidak pernah terlintas di dalam benak Elga, tapi nyatanya Jesica menginginkannya menjadi bagian dari bisnis yang baru diketahui Elga. Ternyata selama ini wanita yang sangat baik padanya memiliki bisnis seperti ini.
"Cepat ganti pakaianmu lalu temui tamu di kamar vvip," ucap Jesica sambil memberikan pakaian yang sangat minim kepada Elga.
"Apa Bibi benar-benar mau aku melakukan itu? Kenapa Bibi sangat tega padaku?" Air mata menetes dari pelupuk mata Elga, ia masih berharap Jesica masih mau berbaik hati padanya.
"Jangan buat drama, cepat pergilah jangan buat tamuku kecewa dan marah. Atau kau tidak bisa bertemu dengan putrimu lagi!" Jesica tidak main-main. Ia bahkan sudah menawarkan Elga pada pria kaya raya seperti Kevin.
__ADS_1
Elga tidak punya pilihan lain, dirinya berat hati menerima pakaian yang sebenarnya lebih pantas dipakai anak kecil dari pada wanita dewasa sepertinya. Tapi, semua ia lakukan demi anakya Chery.
Semakin hancur harga diri Elga saat memakai pakaian itu. Belahannya sangat rendah bahkan sampai membuat bagian da da terkespoxe jelas, kedua pa ha putih mulusnya pun terpampang di depan mata.
Jesica tersenyum puas melihatnya. "Hapus air matamu," katanya, ia lalu memoles wajah Elga dengan make up. Lalu memberikan wine kepada Elga. "Ini pertama kali kau di sini, aku harap kau tidak membuat kekacauan."
Elga sudah kehabisan kata-kata untuk mengiba, demi putrinya ia terpaksa mengikuti perintah Jesica.
Cahaya temaram menemani setiap langkah kaki Elga, ia berada di bawah pengawasan dua orang suruhan Jesica, seseorang dari mereka membuka pintu ruangan lalu menyuruh Elga segera masuk.
Suara pintu ditutup membuat Kevin berbalik badan, ia tersenyum melihat wanita cantik dan se xy itu. "Kenapa lama sekali? Kemarilah!" titahnya, ia menatap Elga penuh naf su.
__ADS_1
Elga tidak berani bergerak, masih di tempatnya ia bicara. "A-aku hanya mengantarkan minuman ini, Tuan. Di mana aku harus meletakkannya?"
Kevin memicingkan mata. "Hanya mengantar? Bukankah kau datang ke sini untuk melayani aku?"
Elga semakin gemetaran, apa lagi Kevin sudah mendekatinya. Refleks Elga melangkah mundur sampai punggungnya menempel di dinding.
Kevin mengurung Elga dengan kedua tangannya hingga Elga tidak bisa menghindarinya. "Kenapa kau kelihatan takut sekali?" Ia bicara tepat di depan wajah Elga. "Tidak mungkin kau tidak tau harus melakukan apa 'kan?"
Elga menggeleng kepala, kakinya gemeraran hebat. "Tapi, aku memang tidak tau apa pun."
"Tidak tau?" Kevin berdecak kesal, beruntung wanita yang ada di hadapannya sangat cantik jika tidak akan ia beri pelajaran. "Apa aku yang harus memulainya lebih dulu?" Ia menatap bibir Elga yang sangat menggoda. Dengan gerakan cepat ia menarik pinggang Elga hingga menempel di dadanya.
__ADS_1
Elga tersentak, tiba-tiba kejadian beberapa tahun lalu terlintas di dalam benak membuat dahinya dipenuhi keringat dingin.
"Tolong jangan sentuh aku, Tuan. Aku ada di sini karena terpaksa dan aku tidak bisa melakukan apa pun untuk Tuan," ucap Elga dalam satu kali tarikan nafas, dirinya diselimuti ketakutan yang ternyata tanpa ia sadari sudah membuatnya trauma.