Rahasia Wanita Malam

Rahasia Wanita Malam
Hamil


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, seorang dokter wanita separuh baya datang memenuhi panggilan Jesica. Tidak banyak basa-basi ia langsung melakukan tugasnya.


Elga berbaring di atas tempat tidur tanpa memejamkan mata, ia hanya pasrah ketika dokter tersebut memeriksa dirinya, mengecek tekanan darahnya sampai meraba bagian perutnya.


"Kapan terakhir kali kau datang bulan?" Pertanyaan itu membuat Elga menatapnya intens. "Apa ada yang salah dengan pertanyaanku?"


Elga menggeleng lemah dan sekilas memejamkan mata. "Aku lupa, tapi sepertinya aku sudah terlambat datang bulan."


"Faktor fikiran bisa menyebabkan terlambat datang bulan, tapi aku pikir tidak ada salahnya kalau kita memastikannya lebih lanjut." Dokter itu lalu mengambil sesuatu di dalam tas lalu ia berikan kepada Elga. "Coba lah alat ini dengan urine mu. Nanti kita akan tau hasilnya seperti apa."


Deg!

__ADS_1


Jantung Elga seperti genderang mau perang, matanya berkedut dan terasa panas, ia bukan tidak tau apa fungsi alat yang berukuran kecil itu.


"Kenapa kau memberinya tespeck? Gadis ini belum menikah." Jesika pun dibuat heran.


Dokter tidak terkejut mendengarnya, sebab di negara ini hamil di luar nikah memang sudah menjadi hal biasa. Bahkan, tinggal satu atap dengan pria di luar hubungan pernikahan pun sudah menjadi hal lumrah.


"Aku hanya ingin memastikan agar tidak salah memberikan obat padanya," ujarnya lagi.


Elga tertatih ke kamar mandi dan melakukan seperti apa yang dikatakan dokter tadi. Tidak butuh menunggu waktu lama, hasilnya sudah terlihat dan itu membuat Elga jatuh terduduk di kamar mandi.


"Hamil? A-aku hamil?" Ya, hasil tespeck itu sangat akurat. Terdapat bakal janin di rahimnya. "Tidak mungkin, aku tidak mau! Aku tidak mungkin hamil!" Elga menangis histeris di kamar mandi. Dirinya tidak menginginkan anak dari pria asing itu.

__ADS_1


Jesica membuka pintu kamar mandi yang memang tidak dikunci. "Kenapa kau menangis, Elga?" Ia panik melihat Elga tampak kacau. Benda pipih yang ada dilantai menjadi jawaban atas pertanyaannya. "Kau hamil, Elga? Siapa pria yang telah menghamilimu?" Ia terkejut sekali pasalnya selama tidak ada seorang pun yang datang menemui Elga dan Elga pun tidak pernah keluar rumah.


"Siapa yang menghamilimu?" Jesika mendesak sambil mengguncangkan bahu Elga. "Kenapa kau diam saja?"


Elga masih menangis dan menunduk dalam, ia pun sangat terkejut dan tidak bisa menerima kenyataan pahit ini.


Jesica meraih dagu Elga hingga mereka saling bersitatap. "Tidak apa-apa kalau kau tidak mau memberitahu siapa pria itu. Tapi, kau harus menjawab pertanyaanku ini, kau mau mempertahankan anak ini atau mau menggugurkannya?"


Bibir Elga bergetar, tenggorokkannya terasa kering hingga ia tidak bisa bicara, tanpa sadar tangannya meraba perut yang masih datar. Ia berada di antara pilihan yang sangat sulit.


"A-aku tidak tega menggugurkan anak ini, Bibi. Meskipun aku tidak inginkan kehadirannya tapi aku tidak punya hak melenyapkan dirinya. Aku .... " Elga memejamkan mata kala dirinya teringat perbuatan kejam ibu tirinya terhadapnya, jika ia menggugurkan anak ini maka dirinya akan menjadi orang yang lebih kejam dari ibunya. "Aku akan tetap pertahankan anak ini, Bi. Aku akan melahirkan anakku. Biar bagaimana pun juga anak ini tidak bersalah dan aku tetap ibu kandungnya. Aku mohon biarkan aku mengandung dan melahirkannya, Bibi." Elga menangis dan memohon pada Jesica untuk tidak mengusirnya.

__ADS_1


Jesica pun tidak merasa keberatan. "Baik, kau rawatlah kandunganmu dengan baik," ucap Jesica yang merasa lebih diuntungkan dengan kehamilan Elga.


__ADS_2