
Ini adalah kisah tentang aku, namaku Morita, aku berusia 19 tahun. Aku terpaksa pergi merantau ke kota untuk bisa membantu kedua orang tuaku mencari uang agar bisa memenuhi kebutuhan hidup dan untuk biaya pengobatan kedua orang tuaku yang sering sakit-sakitan. Hari Senin tanggal 15 February tahun 2021, tepat pukul 19.00 WIB. Aku berangkat ke kota dengan menaiki bus pariwisata menuju kota XX bersama sahabatku Wira dan Tama.
Aku yang belum pernah pergi ke kota sama sekali, agak was-was dan ada perasaan takut. Namun, sahabatku Wira selalu memberikan aku semangat. Ia berjanji akan selalu menjaga dan menolongku apapun yang terjadi.
Wira Prasetyo, itulah nama sahabatku yang menyarankan dan mengajakku pergi ke kota XX. Ia berjanji akan mencarikan pekerjaan untukku nanti di sana. Ucapan Wira yang meyakinkan membuat aku akhirnya mau mengikuti dirinya untuk pergi ke kota demi untuk merubah nasib.
"Apakah masih lama, Wir?" tanyaku kepada sahabatku Wira yang duduk di kursi yang ada di depanku ketika aku sudah mulai merasa lelah. Duduk berjam-jam membuat badanku jadi pegal semua.
"Masih dua jam lagi kita baru sampai ke kota XX. Sekarang baru berada di kota W!" jelas Wira sambil melihat ke jalanan melalui kaca bus yang ada di sampingnya.
"What! Masih dua jam lagi, Wir?" tanyaku terkejut memajukan badanku ke depan. Mendekatkan wajahku tepat di samping Wira, untuk memastikan jika aku tidak salah dengar.
__ADS_1
"Iya, sudah ... kamu tidur aja lagi!" jelas Wira dengan kedua matanya yang sudah kembali terpejam.
Aku pun kembali dengan posisiku semula, duduk seperti sediakala. Ku senderkan tubuhku di senderan kursi. Ku lirik sahabatku Tama yang ada di sampingku. Dia terlihat begitu tenang dengan kedua mata terpejam.
Tama tidur dengan begitu pulas, lain denganku yang merasa gelisah sehingga tidak bisa tidur dengan nyenyak seperti Tama. Ku pejamkan mataku, mencoba untuk tidur kembali seperti yang sudah dikatakan sahabatku Wira. Namun, aku tidak bisa.
Ku ambil ponselku yang ada di dalam tas ransel kecil milikku, lalu aku memasang handset dan menempelkan dia benda kecil itu di telingaku. Ku pencet tombol ponsel, memutar musik kesukaanku. Berlahan mataku mulai tertutup.
"Morita, bangun! Kita sudah sampai!"
Deg ...
__ADS_1
Aku langsung membuka mataku, kaget. "Hah ... apa kita sudah sampai?" tanyaku kepada sahabatku Tama yang ternyata sudah bangun dari tidurnya.
"Iya, ayok kita harus cepat turun. Periksa barang-barang kamu agar tidak tertinggal di bus ini!" ucap Tama mengingatkan.
"Halo, Ta, Tam. Apa kalian sudah bangun? kita sebentar lagi sampai terminal." Wira menoleh ke belakang, memeriksa kedua sahabatnya, takut mereka masih tertidur. Namun, ternyata mereka sudah bangun. "Good! periksa barang-barang kalian, pastikan tidak ada yang tertinggal!" lanjut Wira mengingatkan.
Aku pun memeriksa barang bawaan ku. "Oke, semua aman!" jawabku kemudian setelah memastikan jika semua barang-barang milikku ada di dalam tas.
Tidak lama bus yang aku tumpangi bersama kedua temanku pun berhenti. "Yok Tam, kita sudah sampai terminal!" ajak Morita lebih dulu berdiri diikuti oleh Tama yang duduk di sampingnya dekat kaca.
Satu persatu para penumpang bus pariwisata itu turun, termasuk Morita dan kedua sahabatnya, Tama dan Wira.
__ADS_1