Rapuhnya hati wanita

Rapuhnya hati wanita
Bab 5. Bertemu perempuan paruh baya.


__ADS_3

"Punya mata digunakan yang bener dong, jalan tuh lihat-lihat! jangan Meleng!" ucap laki-laki yang aku tabrak terdengar ketus.


"Sekali lagi, saya minta maap, Pak! Saya tidak sengaja," jawabku lagi dengan kepala masih menunduk, tidak berani melihat wajah laki-laki yang ada di depanku.


"Huh ... perempuan menyebalkan!" Ku dengar laki-laki itu menggerutu. Aku hanya bisa menarik napasku, mencoba untuk bersabar.


Ku angkat wajahku, saat merasakan jika laki-laki yang tadi aku tabrak tidak ada lagi di depanku. "Hufh," Aku membuang napasku dengan kasar sambil mengusap dada. Akhirnya aku bisa bernapas lega setelah laki-laki itu sudah tidak ada di hadapanku lagi.


"Siapa ya? Orang yang tadi aku tabrak? Ah bodoh lah," ucapku kemudian.


Aku melanjutkan langkahku. "Pak, maap, katanya pabrik ini sedang membutuhkan karyawan ya Pak? Saya datang ke sini ingin melamar menjadi karyawan di sini, saya harus menyerahkan surat lamaran ini kepada siapa ya Pak?" tanyaku kepada seorang satpam yang sedang berjaga di depan.


"Oh iya, mari saya antar Neng!" ajak pak8 satpam dengan ramah.


"Terima kasih, Pak!" jawabku membungkukkan badan.


Aku pun di antar oleh pak satpam ke ruang HRD. Pak satpam mengetuk pintu ruangan itu, Seorang perempuan menyuruh kita masuk. Pak satpam mengatakan tentang maksud dan tujuan ku datang ke pabrik kepada perempuan itu.


Perempuan yang masih terlihat muda itu menatapku, lalu aku dipersilahkan untuk duduk. Aku diberi banyak pertanyaan dari perempuan itu, ia juga memeriksa berkas-berkas lamaran yang aku bawa.


"Maap, saudari Morita, kami tidak bisa menerima anda untuk bekerja di sini. Yang kami cari adalah seseorang yang punya pengalaman kerja, yang sudah terlatih."

__ADS_1


Deg.


Lagi-lagi aku di tolak dengan alasan yang sama. "Hemmm, ternyata susah sekali mencari pekerjaan di kota ini," gumam ku yang tentu saja hanya di dalam hati.


Aku pun keluar dengan perasaan kecewa. "Hiks ... apa yang harus aku lakukan sekarang? Haruskah aku menerima tawaran Tama untuk bekerja di warung makan? Oh tidak!" teriakku sambil berjalan gontai.


Tik ...


Tik ...


"Waduh, kok malah hujan sih!" gerutu ku saat tiba-tiba butiran-butiran air turun dari langit. Aku berlari kecil menuju tempat untuk berteduh.


"Syukurlah, akhirnya!" ucapku penuh syukur bisa menemukan tempat untuk berteduh.


Aku duduk di atas kursi yang ada di teras toko sembako yang telah tutup. " Kenapa hujannya malah tambah deras? Waduh, bagaimana caranya aku pulang kalau begini caranya!" keluh ku.


Akibat hujan yang tidak juga berhenti, membuat udara semakin lama semakin dingin. Aku pun lama-lama jadi mengantuk. Ku senderkan tubuhku di senderan kursi. Tanpa aku sadari, aku tertidur dengan pulas.


"Hah! Ya Allah, aku tertidur!" ucapku lirih.


"Astaghfirullah, di mana map dan tasku?" kataku mulai panik saat menyadari tas dan map yang berisi ijazah untuk mencari pekerjaan ternyata tidak ada.

__ADS_1


"Oh Tuhan, ternyata ada yang mengambilnya! Hiks ... bagaimana ini? Gimana caranya aku pulang ke kontrakan Wira, ponselku juga telah hilang," keluhku sambil terisak.


"Ada apa Neng?" Tiba-tiba ada seorang perempuan paruh baya di sampingku. Rupanya perempuan itu penasaran karena aku menangis.


"Ada yang mencuri tasku, Bu!" jawabku menoleh ke arah perempuan paruh baya itu.


"Memangnya si Eneng dari mana mau ke mana? Kok bisa tas Eneng di curi?"


"Aku tadi habis mencari pekerjaan, Bu. Saat mau pulang tiba-tiba turun hujan, akhirnya aku berteduh di tempat ini. Sangking enaknya udara akibat hujan, membuat aku tidak bisa menahan rasa kantukku. Aku tertidur, dan saat aku terjaga, tas sama map yang berisi ijazah sekolahku sudah tidak ada, Bu!" kataku menjelaskan apa yang terjadi.


"Oalah, kamu mau mencari pekerjaan toh! Kalau Eneng mau, ikutlah bersamaku, kebetulan aku sedang mencari orang untuk bekerja bareng denganku di perumahan elit tidak jauh dari sini!" tawar perempuan paruh baya itu.


"Jadi asisten rumah tangga?"


"Iya, kenapa? Kamu tidak mau ya? gajinya lumayan lho! Daripada kamu bekerja di pabrik, uang gaji kamu bakal habis untuk bayar kontrakan"


"Pekerjaan asisten rumah tangga memang nggak sekeren karyawan pabrik atau pegawai kantoran, tetapi untuk makan dan kebutuhan hidup kamu sehari-hari, ku tidak harus mengeluarkan uang. Kalau kerja di perumahan, uangmu bakal terkumpul, soalnya semua keperluan untuk mandi, makan, dan tempat tinggal kita sudah di sediakan oleh majikan kita. Beda jika kita bekerja di pabrik atau kantor. Kita mesti mikir buat bayar kontrakan, beli keperluan untuk sehari-hari, uang yang dengan susah payah kita dapatkan akan cepat habis tidak bisa ngumpul."


Ucapan perempuan paruh baya itu sedikit membuat aku akhirnya mulai berpikir. "Benar juga," gumam ku lirih.


"Memangnya apa kerjaannya atau tugas untukku nanti, Bu?" tanyaku.

__ADS_1


"Kamu hanya beres-beres rumah, aku yang masak dan mencuci baju. Bagaimana? Apa kamu tertarik?"


__ADS_2