
"Halo Nduk! Apa kamu sudah mendapatkan pekerjaan? Kamu sudah punya uang belum? Kalau sudah punya uang jangan lupa kirim ya Nduk! Bapakmu sakit lagi, kata dokter bapak mesti di rawat di rumah sakit! Kok kamu belum juga mengirim uang untuk kami?"
"Oh ... maap Bu, aku belum dapat pekerjaan."
"Lho ... piye toh Nduk, masa sudah hampir satu bulan tinggal di situ belum juga mendapatkan pekerjaan! Ibu sangat membutuhkan uang untuk biaya pengobatan bapakmu lho Nduk!"
"Iya Bu, maap!"
"Yo wes lah, percuma ibu ngomong sama kamu, kamu ternyata tidak memikirkan nasib kami, kamu tidak serius mencari uang untuk kami, tut ... tut ...." Ibu mematikan panggilan telepon dariku.
"Maap," ucapku lirih sambil menatap ponselku setelah panggilan telepon dariku dimatikan oleh ibu.
"Ada apa, Ta?" tanya Tama yang tiba-tiba ada di sampingku.
"Eh, Tam, tadi aku menelpon kedua orang tuaku, pingin tahu keadaan mereka di kampung, ibu memberi kabar kalau bapak sedang sakit. Ibu marah karena aku sampai sekarang belum juga mengirim uang untuk mereka!" ucapku menjelaskan.
__ADS_1
"Kamu pakailah uang aku dulu untuk kamu kirimkan kepada kedua orang tuamu, Ta!" kata Tama.
"Tidak, Tam, utang aku sudah banyak sama kamu. Aku besok mau menemui Bu Lastri saja, aku putuskan untuk menerima tawarannya untuk bekerja di perumahan bersama dia," ucapku.
"Kamu serius? Bukannya kamu tidak mau jika harus bekerja di perumahan?"
"Aku sudah tidak punya pilihan lain lagi, Tam! Aku harus mendapatkan uang untuk biaya pengobatan Bapak, kalau tidak, ibu bisa marah!"
***
Majikan perempuan hanya bertanya siapa namaku dan berapa umurku saja setelah itu, beliau langsung menyuruh Ibu Lastri untuk mengantarkan aku ke kamarku yang letaknya ada di tempat paling belakang di perumahan yang super besar itu.
Satu bulan kemudian.
"Ta, kamu disuruh Nyonya ke supermarket untuk membeli ini!" kata Bu Lastri memberikan aku selembar kertas yang isinya daftar barang yang harus aku beli.
__ADS_1
"Nanti nunggu Pak Darmo pulang. Pak Darmo yang akan mengantarmu!" lanjut Bu Lastri.
"Mbok!" Terdengar suara ibu dari majikan kami yang baru datang dari luar negeri, memanggil Bu Lastri saat perempuan paruh baya itu sedang berbicara denganku.
"Iya Nyonya besar, sebentar!" jawab Bu Lastri sedikit berteriak karena kami ada di belakang sedangkan majikan kami ada di ruangan lain yang letaknya lumayan jauh dari tempat kami saat ini berada.
"Ini siapa yang menggosok baju bapak? lihatlah, baju bapak kenapa bisa seperti ini, hah!" bentak Nyonya besar terlihat begitu marah.
"Maap Nya, itu Morita yang menggosok baju Tuan!" kata Bu Lastri memberitahu kebenarannya.
"Morita!" Perempuan yang usianya sudah hampir enam puluh tahun itu pun berteriak memanggil namaku.
Aku pun segera berlari ke ruangan di mana di sana sudah ada Bu Lastri dan ibu dari majikan perempuan kami. "Iya, Nyonya, ada apa?" tanyaku penasaran setelah aku sudah berada di samping mereka.
Perempuan tua itu pun melempar baju yang sedang di genggamannya ke arahku. "Gaji kamu bulan ini aku potong, karena kamu sudah merusak baju suamiku!" bentak perempuan paruh baya itu.
__ADS_1
"Ada apa sih Bu?" Seorang perempuan yang sudah berumur tetapi masih terlihat cantik datang menghampiri kami. Perempuan itu adalah majikan kami yang sesungguhnya. orangnya baik tidak seperti ibu kandungnya yang jahat, melakukan kesalahan sedikit langsung memotong gaji kami.