
Aku dan Tama mengikuti teman kami, Wira. karena hanya dia yang sudah hafal dengan keadaan kota. Wira sudah lebih dulu bekerja di kota itu, sedangkan kami berdua baru pertama kali pergi ke kota.
"Dimana kontrakan kamu, Wir? Masih lama kah?" tanyaku sudah tidak sabar, rasanya aku ingin segera mandi dan beristirahat. Badanku rasanya sangat lengket dan bau. Semalaman berada di dalam bus, membuat badanku terasa remuk.
"Sebentar lagi juga sampai, sabar ya gaes!" ucap Wira terus berjalan memasuki gang sempit, kami berdua hanya bisa mengekor mengikuti langkah kakinya.
"Capek, Wir!" keluh Tama menghentikan langkahnya.
"Noh ... kontrakan aku!" ucap Wira menunjukkan sebuah rumah berukuran tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar, terbuat dari papan kayu, memanjang, bertingkat dua. Terdapat banyak pintu.
Wira mengajak kedua temannya naik tangga yang terbuat dari bambu untuk menuju ke kontrakannya yang berada di lantai dua, setelah kami berada di lantai dua, Wira langsung mengajak kami ke kamar kontrakannya. Betapa terkejutnya kami, ternyata tempat Wira mengontrak hanya memiliki satu ruangan yang terlihat begitu sempit. Aku melongo melihat isi ruangan, atau kontrakan Wira . "Ini kontrakan kamu, Wir?" tanyaku.
"Iya, kenapa?" tanya balik, Wira.
__ADS_1
"Nggak apa-apa, kirain kontrakan kamu seperti rumah kita di kampung, he ...." kataku sambil nyengir.
"Serius, ini kontrakan kamu cuma segini? Hanya ada satu ruangan? Terus kita nanti tidur di mana? Terus kamar mandinya di mana?" Tama terlihat syok, ia menyerbu banyak pertanyaan untuk sahabatnya itu.
"Untuk sementara kita tidur bertiga di tempat ini. Sudah ... jangan pada bawel, letakkan barang-barang kalian di sudut sana, terus kalian kalau mau mandi, kamar mandinya ada di bawah. Ayok aku tunjukkan kamar mandinya! Eh ... tunggu dulu, tukang air datangnya jam delapan pagi. Sabar ya kalau mau mandi!" ucap Wira membuat kami berdua tambah melongo.
"Maksudnya, Wir?" tanyaku semakin bingung.
"Aku nggak punya stok air, mesti nunggu orang jualan air keliling," jelas Wira. Aku dan Tama masih terdiam, belum paham.
"Beli air?" tanya kami berdua bersamaan.
"Biasa aja kali kagetnya, jangan berlebihan gitu!" ucap Wira dengan santainya.
__ADS_1
"Udahlah, Tam, kita pasrah saja. Sudah terlanjur datang ke sini!" ucapku kepada Tama yang terlihat begitu kecewa.
"Emangnya nggak ada kontrakan yang lebih baik dari ini, Wir?" tanya Tama sambil mengibas-ngibaskan tangannya saat berjalan untuk meletakkan barang bawaannya ke ujung sudut ruangan yang tadi ditunjukkan oleh Wira.
"Ada, tapi bayar sewanya mahal, untuk pekerjaan bangunan seperti aku, mana sanggup bayar." jelas Wira.
"Tenang saja, ini cuma sementara buat kalian berdua, sebelum kalian berdua punya uang sendiri buat nyewa kontrakan. Besok kalian aku kenalkan ke orang pasar yang mencari karyawan untuk bantu-bantu di tokonya!"
"Jauh nggak, tempatnya dari sini, Wir?" tanyaku.
"Nggak, cuma dua puluh menit dari sini," kata Wira memberitahu.
"Huh ...." Tama merebahkan tubuhnya di atas lantai dari semen, tanpa alas. "Oke, aku capek," ucap Tama sudah tidak bisa berpikir lagi karena badannya terasa begitu lelah.
__ADS_1
Aku lebih memilih untuk keluar, berdiri di teras seorang diri, sedangkan Wira turun lagi ke bawah.
"Inikah kota Jakarta? Tempat dimana banyak orang datang untuk mencari pekerjaan di tempat ini . Banyak orang percaya jika datang ke kota ini, kehidupannya akan jauh lebih baik. Aku kira tempatnya begitu menyenangkan, ternyata kenyatannya tidak seperti yang aku bayangkan," gumam ku di dalam hati.