Rapuhnya hati wanita

Rapuhnya hati wanita
Bab 3. Perdebatan Wira dan Tama.


__ADS_3

"Hay, anak gadis nggak boleh bengong sendirian!" Suara seorang laki-laki mengagetkan aku yang sedang melamun. Aku langsung menoleh ke arah sumber suara.


Terlihat temanku, Wira sedang berjalan menaiki tangga. "Kamu ngagetin aja deh, Wir! Apa itu yang kamu bawa?" tanyaku menatap kantong plastik berwarna putih yang di dalamnya terdapat beberapa bungkusan dari kertas nasi yang tidak tahu apa isinya.


"Ayok, makan dulu, gadis-gadis! Kalian lapar bukan?" ucap Wira sambil berjalan dengan membawa kantung plastik berwarna putih.


" Ini gado-gado, ayok buruan kita sarapan dulu! Aku tadi udah pesan air untuk kita mandi, tiga puluh menit lagi katanya airnya baru bisa diantar, soalnya abangnya sedang mengantarkan air di gang samping," jelas Wira ketika sudah berada di atas, ia langsung masuk ke dalam kontrakannya.


"Tam, bangun Tam! Ayok makan dulu!" panggil Wira kepada temannya, Tama, yang sedang tidur di atas lantai.


"Huam!" Tama menguap dengan lebar dengan kedua mata masih terpejam.

__ADS_1


"Ealah, kamu sudah seperti kuda nil saja deh, Tam. Tutup Napa tuh mulut Lo, bau tahu!" goda Wira.


"Hemmm, badanku rasanya remuk semua, aku pingin mandi, Sudah datang belum orang yang jualan air, Wir? Sudah nggak tahan nih pingin mandi biar badanku segar lagi!" ucap Tama sambil duduk bersila.


"Tiga puluh menit lagi baru datang!" jawab Wira sambil membuka plastik. ia keluarkan satu persatu bungkusan yang ada di dalam plastik itu.


"Mending kita makan dulu, hayok!" ajak Wira yang sudah sangat kelaparan dari semalam sewaktu masih berada di dalam bus.


"Iuwh ... mana bisa aku makan tanpa mandi dan gosok gigi terlebih dahulu!" protes Tama merasa jijik dengan sikap temannya yang terlihat begitu lahap makan gado-gado padahal belum mandi ataupun membasuh mukanya apalagi menggosok gigi.


"Bodoh amat. Amatnya aja tidak mikirin kita kenapa kita mesti mikirin dia!" ucapnya asal sambil mengunyah makanan.

__ADS_1


"Siapa juga yang lagi ngomongin Amat! Kenapa nyambungnya ke dia, bodoh amat sama si Amat!" gerutu Tama.


"Nah ... itu kamu tahu! Makanya ayok buruan makan, nggak usah malu-malu ataupun merasa nggak enak sama aku, aku tahu aku orang baik. Nanti kamu bisa ganti setelah sudah bekerja dan punya uang!" balas Wira dengan penuh percaya diri.


"Ih ... PD sekali kau! Siapa juga yang mau ganti makanan ini, wek ...! Kalau mau berbuat baik itu yang ikhlas jangan minta di kembalikan!" ucap Tama, kesal.


Aku hanya tersenyum geli melihat perbincangan mereka yang tidak akan ada abisnya jika terus di turuti. mereka tidak ada yang mau mengalah setiap kali berdebat. "Sudah, jangan pada ribu, mending kita makan saja, yuk Tam, daripada mati kelaparan. Aku juga sudah sangat lapar sekali!" sambung ku berusaha menghentikan perdebatan mereka yang tidak mau berhenti.


"Abis, dia nyebelin banget," sungut Tama.


"Awas lho, Tam, jangan terlalu sebel sama aku, nanti kamu malah jatuh cinta lagi sama aku yang ganteng dan baik hati ini!" ucap Wira, lagi-lagi ia berbicara dengan penuh percaya membuat Tama menjadi semakin kesal dengannya.

__ADS_1


__ADS_2