
Satu minggu telah berlalu, akhirnya Tama bekerja di sebuah toko sembako tidak jauh dari kontrakan Wira, sedangkan aku memutuskan untuk melamar kerja di berbagai perusahaan dengan menggunakan ijazah yang aku punya. Aku pernah bekerja di toko bersama Tama, tetapi aku tidak betah.
Aku pun memutuskan untuk keluar dari toko dan memilih untuk melamar pekerjaan di perusahaan-perusahaan dengan menggunakan ijazah yang aku punya. Wira dan Tama pernah menyarankan aku untuk bekerja di warung makan di sebuah warung tenda yang ada di pinggir jalan dekat kontrakan, tetapi aku menolaknya.
Ini adalah hari ke tiga aku pergi untuk melamar pekerjaan setelah dua hari yang lalu lamaran aku di tolak oleh tiga perusahaan sekaligus, dengan alasan yang sama, yaitu karena aku tidak memiliki pengalaman kerja. Aku tidak mau menyerah begitu saja, hari ini aku memutuskan untuk pergi ke sebuah pabrik kertas yang ada di ibukota. Temanku, Wira, memberitahuku jika di pabrik itu sedang membutuhkan karyawan.
"Kenapa sih kamu tidak ikut bekerja di toko sembako bareng aku saja, Ta?" ucap Tama sebelum ia pergi bekerja di toko sembako.
"Aku pingin kerja di kantor, kalau nggak jadi karyawan pabrik," jawabku.
"Ya sudah, terserah kamu saja. Aku berangkat kerja dulu, semoga kali ini kamu di terima!" pamit Tama menuruni tangga.
__ADS_1
Kami masih tinggal bertiga di kontrakan Wira, karena kami belum memiliki uang untuk bayar kontrakan sendiri. Untung Wira adalah teman yang baik. Dia memperlakukan kami seperti saudaranya sendiri. Meskipun Wira adalah seorang laki-laki, tetapi ia tidak menggunakan kesempatan ini untuk berbuat jahat. Ia tetap menghargai kami sebagai seorang wanita.
Ibu kontrakan mau menerima kamu tinggal bersama Wira, karena Wira mengatakan kepada ibu kontrakan jika kamu adalah saudaranya dari kampung. "Tama!" teriakku dari lantai atas ketika temanku Tama sudah ada di bawah.
"Ada apa?"
"Nih!" Aku melemparkan sebuah kertas yang sudah aku remas sehingga berbentuk seperti bola.
Aku lihat Tama terlihat kesusahan mencoba membuka dan merapikan kertas yang sudah kusut itu. ia membacanya dengan teliti tulisan yang aku tulis di kertas. " Talangi dulu pakai duwit kamu ya!"
"Oke, siip!" teriaknya kemudian setelah membaca tulisan yang ada di lembaran kertas kusut itu.
__ADS_1
Aku menulis agar Tama jangan lupa membelikan aku pembalut di tempatnya bekerja dan keperluan untuk mandi serta untuk mencuci baju, karena persediaan pembalut ku dan sabun mandi serta sabun cuci untuk cuci baju milik Wira sudah banyak yang habis, sedangkan uang ku sudah sangat menipis.
Aku pun bersiap-siap untuk pergi melamar pekerjaan. Aku pergi ke pabrik kertas dengan naik angkutan umum. "Mau ke mana Neng?" tanya pak supir.
"Ke pabrik kertas ya Pak!" ucapku.
"Oh ... oke!" kata pak supir langsung paham, karena pabrik kertas di tempat ini hanya ada satu.
Tiga puluh menit aku berada di dalam angkot menuju pabrik kertas, akhirnya sampai juga kita di pabrik itu. Aku langsung turun dari angkot, lalu berjalan ke depan, berdiri di samping pintu sebelah kiri bapak supir saat ini sedang duduk sambil memegang kemudi. "Berapa Pak?" tanyaku kepada bapak supir angkot.
"Sepuluh ribu, Neng!" jawab bapak supir. Aku menyerahkan uang sepuluh ribuan lalu mengucapkan kata terima kasih kepada bapak supir. Saat aku sedang berjalan, tanpa sengaja aku menabrak seorang laki-laki.
__ADS_1
"Maap, Pak, aku tidak sengaja," ucapku sambil menundukkan kepala tanpa berani melihat wajah laki-laki yang tadi aku tabrak.