Rapunzel And The Prince Vampir

Rapunzel And The Prince Vampir
Tak terduga


__ADS_3

"Tetaplah bertahan hidup nak... bila waktunya sudah tiba, kita akan bertemu lagi." Setelah mengucapkan kaliamat tersebut, dia mencium kening sang anak dan kemudia menghilang di kegelapan malam.


****


Suara ketukan pintu memecah keheningan malam.


siapa yang mengetuk pintu sebuah rumah sederhana di tengah malam ? Karena penasaran, seorang wanita keluar untuk melihat siapa tamunya, wanita itu adalah Wei Nuan, sang pemilik rumah.


Wei Nuan menjadi heran karena tidak ada siapa pun, dan tanpa sengaja pandangnya beralih ke bawah kakinya. Tepat dibawah kakinya, terdapat sebuah keranjang besar. Dia memutar wajahnya kesana kemari hanya untuk mencari siapa orang yang telah meletakan keranjang itu.


Setelah tidak melihat seorangpun, Wei Nuan membawa keranjang besar tersebut masuk ke rumahnya.


Karena penasaran dengan isi keranjang, Wei Nuan membuka tudungnya. Dan dia dibuat lebih terkejut lagi, karena didalam keranjang tersebut terdapat bayi yang tertidur dengan lelapnya, tanpa terganggu dengan keberadaanya.


Karena rumahnya hanya dihuni olehnya dan suaminya, dan suaminya sedang tidak ada. Maka dia berfikir untuk merawat bayi ini, bila suatu saat orang tuanya mencarinya.


***


3 Bulan kemudian....


"Suamiku, akhirnya kau pulang juga." Teriak Wei Nuan yang telah menunggu suaminya didepan pintu rumah.


"Iya iya, aku pulang." Sahut Liu Moran dari halaman, dan berjalan menghampiri Wei Nuan yang masih setia menunggunya, Liu Moran sangat merindukan istrinya.

__ADS_1


"Lihat ini." Wei Nuan menunjukan bayi dalam dekapanya.


"Dari mana bayi ini, apakah kamu yang telah menculiknya? mentang mentang kita tidak bisa punya anak." Tanya Liu Moran penuh selidik.


"Sembarangan, makanya kalau pergi itu jangan lama lama." Wei Nuan mencubit perut sang suami.


"Ternyata, banyak hal yang aku tidak ketahui." Liu Moran hanya terkekeh dengan kelakuan Wei Nuan, sudah lama Liu Moran tidak seperti ini dengan Wei Nuan.


"Ayo masuk, akan kusiapkan makanan kesukaanmu."


"Benarkah, ternyata istriku tidak melupakanku." Godanya.


"Terserah kau saja." Wajah Wei Nuan terlihat memerah, karena gombalan Liu Moran. Segera saja Wei Nuan melangkah pergi meninggalkan Liu Moran yang sudah tertawa terpingkal pingkal.


"Coba kau ceritakan, dari mana asal bayi itu."


Wei Nuan pun menceritakan bagaimana dia bertemu dengan bayi, tanpa menambah atau mengurangi faktanya.


Setelah Liu Moran mendengar ceritanya, dia mengamati bayi itu dengan cermat. Bayi itu sangat cantik, rambutnya lebat berwarna emas.


Itu sama sekali bukan bayi biasa, ada sebuah keistimewaan dalam dirinya. Sepertinya dewa telah menurunkan sebuah karunia yang sangat berharga. Senyum bahagia tampak menghiasi wajah pasangan tersebut.


Sudah lama merekah menginginkan keturunan, namun apa daya, dewa berkehendak lain. Namun dengan kehadiran bayi tersebut, merekah dapat merasakan bagaimana rasanya menjadi orang tua.

__ADS_1


"Sepertinya ini adalah takdir kita." Ucap Liu Moran.


"Perkataanmu benar, suamiku."


Tok.... tok...


"Sepertinya ada tamu." Wei Nuan beranjak dari duduknya.


Ketika membuka pintu, lagi - lagi hal aneh terjadi. Tidak ada seorang pun di depan rumahnya, karena semakin penasar dia menuju halaman, namun matanya tidak sengaja melihat kotak hitam kecil.


"Kotak apa ini? Aneh, dari mana kotak ini berasal? Dan siapa yang mengirimnya? Apakah ini berkaitan dengan bayi ini?" Banyak pertanyaan yang berlalu lalang dalam otaknya.


Karena penasaran dia pun membuka kotak tersebut, kotak tersebut berisikan sebuah liontin kristal yang indah.


"Ehh ada surat." Dia membaca pesan yang dikirim bersama liontin kristal tersebut. "Sepertinya liontin ini hanya separuh, baiklah anak cantik sepertinya ini pesan dari orang tuamu dan sangat penting untuk masa depanmu."


Setelah mendapat pesan tersebut Wei Nuan segera masuk kedalam rumah, dan menceritakan kejadian itu kepada Liu Moran.


Bayi itu berceloteh lucu didekapan Wei Nuan, tanganya bergerak liar, terlihat sangat menggemaskan.


"Rapunzel kecil, kenapa kamu bisa seimut ini si." Wei Nuan tiada hentinya mencubit pipi gembul Rapunzel.


Rapunzel kecil hanya menjawab dengan celotehan yang membuatnya menjadi lebih menggemaskan. Pipinya sudah merah sejak tadi, namun tangan Wei Nuan belum puas untuk melepaskanya.

__ADS_1


__ADS_2