Rapunzel And The Prince Vampir

Rapunzel And The Prince Vampir
Kekuatan Rahasia


__ADS_3

"Hipy? Bukan - bukan, kamu bukan Hipy, siapa kamu? Dimana kamu menyembunyikan Hipy?" Rapunzel menggelengkan kepala, belum mempercayai pada apa yang dia lihat sekarang. Hipy si kurcaci tidak mungkin berubah menjadi sosok lain, terlebih sosok yang berdiri didepanya sekarang.


Sosok ini sangat asing bagi Rapunzel, sangat mustahil bila ini adalah Hipy. Dia memakai jubah hitam, rambut hitam legam menjuntai bagaikan air terjun. Wajahnya rupawan sekaligus mengerikan, lebi mengerikan dari sosok yang selalu menghiasi malam Rapunzel.


"Ha... ha... ha... hmm gadis kecil, otakmu lumayan cerdas, parasmu juga lumayan. Namun sayang, hari ini kamu harus mati ditangaku ha... ha... ha...." Tawa licik terdengar menggema diudara, sosok itu mulai berjalan mendekati Rapunzel yang masih terpaku ditempatnya.


"Ka... kamu mau apa, ja... jangan mendekat." Tubuh Rapunzel mulai bergetar, udara di sekitarnya menjadi lebih dingin, dibandingkan ketika dia baru sampai ditempat ini, seiring sosok itu mulai mendekat.


Kaki Rapunzel terasa lemas, dia terduduk di tanah. Dengan gerakan cepat, Rapunzel melempar segenggam pasir disekitarnya kewajah sosok tersebut. Meskipun dengan tangan bergetar, namun lemparan itu sangat akurat mengenai matanya. Namun apa yang diharapkan oleh Rapunzel tidak sesuai kenyataan.


"Ha.. ha.. ha gadis kecil tidak semudah itu untuk lari dari tanganku. Ha... ha... tidak akan ada yang akan menolongmu, karena para kurcaci itu telah mati ditanganku. Ha.... ha... ha... apa kamu takut? Bila kamu ketakutan, kematianmu ini tidak akan begiti menyakitkan. Ha.... ha... ha..." Sosok itu mencengkeram tangan dan leher Rapunzel dari belakang, membuatnya sulit bernafas.


Sosok itu menyapukan tanganya dan sesuatu muncul. Di depan Rapunzel kini terdapat semacam diagram samar yang bisa menunjukan gambar dalam jarak jauh. Rapunzel melihat bahwa 6 kurcaci telah dibantai habis oleh seseorang, namun Rapunzel tetap tidak bisa menemukan keberadaan Hipy.

__ADS_1


"Bagaimana? Apa kamu suka dengan hadiah pertemuan kita? Ha... ha... ha..."


Kepala Rapunzel menunduk, matanya yang semula berwarna biru langit yang indah, kini berubah gelap, pikiranya kosong.


"Tidak.... tidak mungkin itu merekah, merekah tidak mungkin mati." Sebuah kekuatan muncul dari dalam diri Rapunzel. Kepalanya yang semula menunduk kini mulai terangkat, matanya yang telah menggelap berubah menjadi lebih kekam dari sebelumnya, membuat suasana menjadi terbalik.


Sekilat kemarahan, kebencian, dan putus asa hadir dihatinya, tubuhnya sudah tidak terkendali. Rambut emasnya bersinar terang. Menakutkan, bagaikan iblis yang sedang mengamuk.


Rapunzel yang sudah mulai bisa mengendalikan diri, memeluk lututnya dan menangis sekencang - kencangnya. Baginya menangis adalah hal paling murah untuk melepaskan beban, meskipun hanya sesaat.


"Sampai kapan kamu akan menangis? apakah kamu juga percaya kalau kami para kircaci akan mati semudah itu. Atau, kamu menyesal telah membunuhnya?" Seseorang berdiri besamping Rapunzel.


Rapunzel terkejut dengan suara yang tidak asing lagi baginya, sontak saja Rapunzel segera mengangkat kepalanya dan menatap manik hitam pemilik suara, yang tersenyum dengan lembut kearahnya.

__ADS_1


"Herf..." Rapunzel memeluk tubuh kecil Herf dengan sangat erat, air matanya terus mengalir dengan deras. Mulanya Rapunzel berfikir tidak akan pernah bisa bertemu dengan merekah lagi, namun kenyataanya sangat terbalik.


"Menangislah..."


Dengan ketenangan yang Herf miliki, dia membiarkan gadis itu menangis dipelukanya, dan melepaskan semua beban dihatinya. Dia bisa merasakan perasaan gadis itu saat ini.


"Pepet terus, siapa tau jodoh." Ucapan Harf membuat Rapunzel menyeka air matanya dan melepaskan diri dari pelukan Herf. Dia tidak heran dengan kehadiran kurcaci lain.


"Dimana Hipy?" Rapunzel melontarkan pertanyaan setelah dia sadar bahwa Hipy tidak bersama dengan merekah semua.


Sebelum pertanyaan Rapunzel dijawab oleh para kurcaci, sebuah pisau kecil meluncur dengan cepat, kearah Rapunzel. Entah sosok dari mana yang datang, namun dia berhasil menangkap pisau itu dengan tanganya.


Gerakanya sangat cepat, tidak dapat di lihat dengan mata telanjang.

__ADS_1


__ADS_2