
Hari itu seperti mimpi yang tak berujung. Hari dimana ia mengaitkan jari kelingkingnya di jariku sembari tersenyum sendu yang tak bermakna.
Kembali teringat apa yang ia katakan dengan senyum sendunya itu "Kalau kita sudah besar nanti. Aku janji akan mencari mu ke seluruh penjuru negeri".
Omong kosong seorang anak kecil yang berumur 7 tahun itu terus menerus terngiang-ngiang di kepalaku. Seharusnya tidak usah aku hiraukan tetapi begitu membekas karena ia adalah teman spesial ku.
Terkadang aku berharap suatu saat ia akan membuktikan omongannya. Tapi di sisi lain aku juga sadar bahwa anak kecil itu sudah meninggal 10 tahun yang lalu.
Apa yang aku harapkan dari mengingat janji dan senyumnya itu?. Hal itu tidak akan membuatnya kembali hidup dan mencari ku sesuai apa yang ia katakan.
Alasan waktu itu ia pergi adalah karena tugas kedua orang tuanya. Ayahnya merupakan seorang pebisnis di Eropa. Sedangkan Ibunya blesteran Amerika-Indonesia. Setelah cukup lama tinggal di Indonesia, Ayahnya mengajak sekeluarga untuk kembali ke Eropa dulu dan menemui kakek neneknya. Baru setelah itu ke Amerika ke keluarga sang Ibu.
__ADS_1
Tak berapa lama setelah mereka sekeluarga pergi. Kami mendengar berita, bahwa pesawat yang keluarganya tunggangi mengalami kesalahan teknis dan akhirnya terjatuh ke laut. Harapan untuk mereka hidup sangatlah sedikit.
Setelah kejadian itu, Ibuku yang merupakan teman dekat nya terus mencoba menghubungi keluarga dari temannya itu. Tetapi hasilnya nihil. Akhirnya kami menangisi mereka yang sudah meninggal karena kecelakaan tersebut.
Dan sampai sekarang, kami sama sekali tidak dan belum pernah mendapatkan kabar satupun dari keluarganya. Karena itu, kami benar-benar menganggap mereka semua sudah meninggal.
Aku marah padanya yang seenaknya membuat janji padahal tidak bisa ia lakukan ataupun tepati. Aku marah karena ia tidak menepati janjinya. Yang ada pada diriku sekarang adalah rasa benci kepadanya yang membuatku berharap bahwa dirinya masih hidup dan menepati janjinya kepadaku.
Aku masih tetap akan menantinya.
Aku akan memperkenalkan diriku terlebih dahulu.
__ADS_1
Namaku Adela Kirana Mickaela. Banyak dari temanku yang memanggilku Adel, Adela ataupun Kirana. Tapi lebih sering dipanggil Adel. Tahun ini aku berumur 17 tahun. Aku bersekolah di SMA Negeri di kota kecilku. Aku mempunyai 2 (3) orang teman yang sudah selalu bersama ku semenjak kami kecil.
Nama mereka Alvin dan Tria. Mereka berdua sama-sama anak yang pintar dan cerdas. Kalau Alvin mendapatkan juara 1, maka Tria akan mendapat juara 2. Sedangkan aku juara 5.
Dalam bidang akademis, ku akui kalau diriku tidak terlalu mahir. Aku lebih menyukai bidang kesenian dan olahraga. Sewaktu SD, aku lebih sering diikutkan dalam lomba olahraga seperti atletik. Tetapi saat SMP aku mulai belajar yang lain, Taekwondo dan seni Tari. Dan ternyata disitu lah bakat ku muncul.
Semasa SMA ini, aku lebih sering diikutkan ke Taekwondo karena di sekolah kami jarang yang memiliki seorang atlet bela diri, apalagi putri.
Tahun ini aku sudah berada di kelas 2. Jurusan IPS. Kalau ditanya alasan, aku akan menjawab karena kedua orang tuaku adalah seorang pebisnis. Aku harap dengan masuk ke jurusan ini dan lanjut ke perguruan tinggi bisa lebih mudah untuk menolong beliau. Toh juga dari awal aku tidak ada niatan untuk masuk ke IPA karena berurusan dengan mata pelajaran yang tidak ku suka.
Fisika.
__ADS_1
Aku paling malas bila disuruh menghafal rumus. Maka dari itu aku menjauhinya, bukan mendekatinya kemudian mencela.