Ratih Widyatama

Ratih Widyatama
4. Bingung


__ADS_3

Tidak ada hal yang special selain kemunculan Ratih yang tiba-tiba. Aku menatap kosong layar laptop di depanku dengan perasaan yang masih tidak karuan. Apa.. semua ini mimpi? tapi.. ini terlalu nyata dan.. aku senang dia masih hidup.


Tok Tok


"Kak.. kenapa gak turun? daritadi Bunda udah panggil"


Aku langsung membuka kamar dan melihat wajah khawatir Bunda. Aku berdiri dan berkata "Maaf, kakak.. gak denger". Bunda mengangguk dan kami berdua turun bersama.


Di meja makan, semua sudah berkumpul. Tinggal kursi ku dan Bunda yang kosong, sepertinya mereka menunggu ku yang malah tidak kunjung turun.


"Ada masalah kak? dari pulang sekolah murung, kalau ada apa-apa cerita aja ya" kata Bunda mengelus pelan rambutku dan kemudian duduk di samping kursi ku.


"Masalah cowok?" ledek Ayah yang setelah menyeruput kopi hitamnya dan kini ia melirik ke arahku dengan penuh tanda tanya di wajahnya. Aku mengangguk, tidak tau harus berbicara bagaimana.


"Ratih... dia masih hidup" mulutku sangat sulit terbuka hingga akhirnya aku berani mengucapkan kalimat yang mungkin akan mereka sangkal.


Tiba-tiba suasana di meja makan makin mencekam. Ayah dan Bunda saling bertukar pandang, sedangkan adikku hanya diam tak mengerti maksud pembicaraan. Aku menunduk menatap tatanan nasi dan lauk-pauk yang baru saja ku ambil.


"... jangan mengada-ada, mereka sudah meninggal. Apa kau begini karena stress masalah Daniel?" tanya Bunda dengan ekspresi tidak percaya.


"Dia benar-benar Ratih bunda! Tadi dia sendiri yang memperkenalkan diri di depan kelas dan menjelaskan semuanya kenapa dia menghilang dan tidak ada kabar selama 10 tahun ini!" aku mulai menaikkan nada bicara. Melihat ke arah Bunda dengan ekspresi sedih yang tidak bisa dijelaskan.


"Bunda tau kamu suka sama Ratih, siapa tau dia Ratih yang lain?! Ela, mereka.. satu keluarga udah meninggal.." jawab Bunda yang kini mulai menatap tajam wajahku


"Mereka menghilang karena tante kena serangan jantung! Demi nama baik perusahaan paman, mereka menghilang dan enggak mengaktifkan apapun agar gak ada rumor yang beredar kalau paman dan tante terkena musibah. Bunda, percaya Adel. Ratih.. dia masih hidup!" aku menatap wajah bunda yang kini menjadi pucat pasi. Selama ini Bunda selalu menepis kemungkinan keluarga dari temannya itu masih hidup. Di nalar pun.., tidak akan bisa. Karena itu bunda menjadi sensi saat aku membahas mengenai Ratih.

__ADS_1


Bunda menghela nafas berat, menatapku dengan tatapan marah yang diselubungi senyuman tekanan kepadaku.


"Oh? kalau begitu, bawakan Ratih besok ke sini. Bunda sendiri yang akan melihatnya dengan mata kepala Bunda sendiri!"


Aku kembali menunduk di meja makan, tidak seperti biasanya. Suasana saat kami makan bersama, kini menjadi canggung karena aku membahas masalah sensitif mengenai Ratih. Ayah dan adikku juga diam, tak berani berkomentar. Begitu aku selesai, aku langsung pergi dari meja makan dan segera masuk ke kamar.


"Aneh" gumamku sambil mengambil posisi tidur yang nyaman. Tak berapa lama kemudian, aku tertidur lelap sambil memegang guling kesayanganku.


Paginya, aku langsung bangun dan segera membersihkan diri berangkat menuju sekolah. Aku... bingung bagaimana caranya mengajak Ratih ke rumahku. Dia.. bilang dia akan datang kalau sudah siap, tapi.. Bunda menginginkan nya hari ini juga.


"Benar-benar hari yang buruk" gumamku sambil menggigiti kuku jari. Aku berjalan menunduk menuju ke ruang kelas yang kini sudah penuh dengan anak-anak kelas ku.


"Tumben akhiran Del?" tanya Tria sambil melambaikan tangannya.


Aku segera menjatuhkan tanganku dan berjalan menuju samping tempat duduknya.


"Pagi-pagi udah tidur, gak baik atuh el" kata Alvin yang baru saja selesai mengobrol dengan Ratih. "Cowokmu nih dari tadi nanyain kabar mu mulu" ledeknya sambil tersenyum nakal.


Aku menoleh ke belakang dan mendapati Ratih yang sedang menatap punggungku sesaat sebelum aku melihat ke arahnya.


"Belum official btw" jawabku kemudian menoleh ke depan.


"SIALAN SIALAN SIALAN AKU NGOMONG APAAN BARUSAN???? GIMANA KALAU DIA MALAH--- WKHAJAAKKAKAKAAK"


Setelah itu, aku sama sekali tidak berani menatap wajah Ratih. Bahkan aku pun menjaga jaraknya darinya selama seharian penuh. Apa yang harus ku lakukan? bagaimana dengan membuktikannya kepada Bunda padahal saat ini juga aku malah menjaga jarak darinya?

__ADS_1


Ting!


Satu pesan masuk di dalam handphone yang sedari tadi sedang aku anggurkan. Sejujurnya, aku tidak sesering itu bermain handphone, bahkan tak jarang aku lupa menaruhnya.


"Ada apa? kenapa menghindari ku?" pesan dari Ratih terpampang jelas di layar handphone ku sekarang. Aku.. sedikit bingung harus menjawab bagaimana.


"Kata-kataku tadi pagi, kumohon lupakan saja" aku menjawab pesannya dengan perasaan tidak karuan, takut dia salah paham..


"Em... jadi.. maksud mu kau tidak serius mengatakan 'official' kepadaku?". Kini malah diriku semakin merasa malu dengan perkataan yang spontan aku katakan saat pagi.


"Iya.. kalau kau tidak nyaman, benar-benar.. maaf". Tidak seperti tadi, kali ini dia menjawabnya dengan jeda waktu yang lebih lama. Aku sangat ingin menoleh ke belakang dan bertanya kenapa tidak kunjung menjawab pesan dariku. Tapi sepertinya rasa malu ku masih ada sehingga membuatku mengurungkan hal itu.


Baru saja aku berpikir seperti itu, pesan darinya masuk. Kali ini lebih singkat "Baiklah". Sekarang giliran aku yang memberikan jeda untuk menjawab pesan darinya.


Aku menoleh ke arah Tria yang sedari tadi sibuk mengerjakan tugas, "Apa?" tanyanya saat dia sadar bahwa aku menatap dirinya dengan kurun waktu yang tidak sebentar.


"Nothing" aku kembali menatap layar handphone dan segera menjawab pesannya.


"Nah..., mau datang ke rumahku? Bunda.. sepertinya kangen denganmu" akhirnya aku mengirim kan pesan itu. Perasaanku semakin campur aduk dan tidak karu-karuan. Seperti orang yang... ketakutan berbohong.


Puk puk


Seseorang menepuk pundakku dari belakang, aku segera menoleh dan melihat Ratih yang sedang tersenyum kepadaku.


"Bilang dong daritadi. Daripada cemberut gitu. Nanti kita ke sana bareng ya" katanya sambil tersenyum lebar. Aku hanya mengangguk dan segera menghadap ke depan.

__ADS_1


"Yes"


__ADS_2