Ratih Widyatama

Ratih Widyatama
5. Bunda Pergi


__ADS_3

Bell tanda pulang sekolah sudah berbunyi. Aku segera memasukkan buku-buku pelajaran yang ku taruh di meja kembali ke tas. Setelah mengecek atas meja dan laci, aku segera mengangkat tas ku dan berdiri. Tria pun juga sama, kami berempat segera turun ke bawah untuk menuju parkiran.


"Jadi kalian bonceng terus nih kalau pulang?" tanya Tria penasaran


"Gak sering, tapi kadang" jawabku melihat sekitar


"Setelah ini jadi makin sering kok" tiba-tiba terdengar suara seorang pria dari belakang kami dengan wajah tersenyum nya. Iya, itu Ratih.


"Ku kira kamu ketinggalan di belakang bareng Alvin." jawabku mengalihkan pembicaraan


"Kayaknya OSIS agak sibuk ya? dia yang awalnya seneng pulang awal malah sekarang harus ketemu Pak Kepala Sekolah. Kamu gak ya?(Tria)" kata Ratih sambil berjalan menyelaraskan badan di sampingku


"Eh? di suruh ngumpul kah?" Tria segera membuka handphone nya dan ternyata benar ada pemberitahuan agar anggota OSIS segera berkumpul di aula setelah pulang sekolah. Ia bergegas pergi, tak lupa melambaikan tangan dan segera berlari menuju ke aula.


"OSIS mah selalu gitu disini. Serba mendadak pengumumannya, jadi emang kudu siap siaga mangengin hp. Kalau bisa mah kasih nada dering yang beda biar tau kalau itu dari sekolah" jelasku


" Kenapa kamu gak mau jadi OSIS?" tanya Ratih penasaran


"Aku.. gak suka hal yang ngerepotin diriku sendiri. Aku udah repot sama kehidupan ku, di tambah masuk OSIS, serius? gak dulu" jawabku sambil menyilangkan tangan di depan wajahku dan menunjukkannya ke Ratih


"Okelah, sama sih kaya aku haha"


Setelah tiba di parkiran, ia segera mengeluarkan motornya dan menuju ke arahku. Aku membisikkan lirih 'permisi' kemudian barulah naik di jok motornya. Kami pun segera keluar dari sekolah dan kini.. menuju rumahku.


---


Setibanya di depan rumah, sepertinya Bunda sudah tau tentang diriku yang membonceng motor dari suara knalpot yang sama dengan kemarin. Ia sedang duduk di teras rumah dan mengobrol bersama Ayah. Sedangkan adikku.. sepertinya masih berada di kamar karena kelelahan pulang sekolah.


"Assalamualaikum" sapaku seraya memasuki teras rumah dan di susul Ratih yang baru saja melepas helm motornya.


"Waalaikumsalam" Bunda dan Ayah segera bangun dari tempat duduk. Aku pun menyalami tangan mereka. Bunda dan Ayah langsung melihat ke arah belakangku sambil menatap tak percaya.

__ADS_1


"Mari, masuk dulu" kata Bunda kemudian kami berdua pun membuntuti dari belakang.


Saat ini suasana hening.., aku tidak mendengar adanya percakapan yang terjadi antara Ayah, Bunda dan Ratih. Aku sedang membuatkan teh untuk mereka bertiga karena sepertinya akan terjadi perbincangan yang panjang dan lama. Adikku turun dan bertanya sedang apa yang terjadi saat ini. Aku hanya menaikkan bahu dan tidak akan memberitahukannya.. untuk saat ini.


"Ini.. teh nya" kataku sambil membagikan teh yang ku bawa dengan nampan. Tak ada jawaban hanya seulas senyuman dari masing-masing. Suasana masih saja tegang. Aku segera kembali ke dapur untuk mengembalikan nampan dan berjalan ke atas menuju kamarku yang ternyata adikku ikut membuntuti ku dari belakang.


"Mas Ratih itu siapa kak?" tanya adikku yang sepertinya sudah menahan rasa penasaran nya selama ini


"... Mas Ratih itu temen kakak duluuuu banget. Waktu kakak masih umur 7 tahun. Tapi setelah itu keluarga Kak Ratih harus pergi ke luar negeri. Sekarang balik lagi" kataku tidak mau menjelaskan semuanya


"Tapi kenapa kemarin Bunda kelihatan marah banget gara-gara Kak Ratih? emangnya kenapa kak?" tanya adikku penasaran lagi


"Dimas... kakak cerita kapan-kapan aja ya. Kakak capek habis pulang sekolah" jawabku kemudian mengelus pelan rambutnya


"em.... oke deh. Janji ya cerita soal Kak Ratih!" dia mengajukan jari kelingkingnya sambil tersenyum ke arahku, aku menautkan jariku kepadanya dan ikut membalas senyumannya itu.


Dia lari kegirangan menuju kamarnya. Sedangkan aku menuju kamarku untuk berganti pakaian.


Tapi tiba-tiba..


BRAKK!!!!


"GAK! SAYA GAK PERCAYA DIA PUNYA PENYAKIT JANTUNG!". Baru saja turun pun aku sudah mendengar suara teriakan Bunda sambil menggebrak meja dengan keras. Aku harap Ayah baik-baik saja.


Aku tarik lagi perkataan perbincangan damai nya.


"Memang ini sulit untuk di terima. Ayah dan saya pun juga sama, tapi memang begitu kenyataannya" sepertinya Ratih tetap mencoba untuk tenang dengan gertakan Bunda barusan. Yah meski wajahnya tersenyum saat menjawabnya


"Kalau begitu, di mana dia sekarang? saya akan percaya begitu melihatnya dengan mata kepala saya sendiri" Bunda melotot ke arah Ratih sambil mengajukan jari telunjuk ke arahnya. Sepertinya perbicangan kali ini jauh dari kata damai.


"Kalau Bunda mau, saya akan pesankan tiket ke Amerika sekarang juga. Beliau saat ini sedang di rawat di salah satu rumah sakit disana" jawab Ratih sambil mengeluarkan handphonenya

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu. Adel!"


Begitu terdengar Bunda memanggil namaku, aku segera berjalan cepat menuju ruang tamu dan mendapati mereka bertiga kini menatap ke arahku.


"Ratih bersedia membawa Bunda ke Amerika untuk bertemu keluarganya. Kau di rumah jagalah Dimas dan Ayahmu sebentar. Sepertinya banyak yang harus Bunda bicarakan dengan Ratih"


Aku mengiyakan perintah Bunda. Bunda langsung masuk ke dalam untuk menyiapkan semuanya.


"Ratih.., yakin? kamu juga kesana?" tanyaku kepadanya


"Enggak. Aku kan baru aja masuk sekolah, gak mungkin langsung ijin. Aku panggil ajudan yang udah kenal sama Bunda-mu. Aku juga udah dapet ijin dari Ayah biar Bunda-mu bisa kesana, harus ada akses khusus. Nanti bakal di terangin sama ajudan ku kok" terang Ratih sambil tersenyum. Aku menoleh ke arah Ayah


"Gapapa, Bunda mu kan emang sayang banget sama keluarganya Ratih. Ayah dah ijinin kok ,kamu gak perlu pusing mikirin itu. Sekarang masuklah, solat habis tu makan. Bunda tadi udah masak, dimakan" kata Ayah sambil mengelus kepalaku


"Apa.. sifat Bunda selalu seperti ini?" pikirku tanpa bisa ku katakan langsung di depannya


Tak berapa lama kemudian, Bunda sudah mengemasi kopernya. Ratih juga sudah memakai helm, ia berpamitan kepadaku dan Ayah yang terus melihatnya dari arah teras. Aku menyalimi tangan Bunda sebelum ia naik ke motor Ratih.


"Bunda gak akan lama. Setelah perbincangan Bunda selesai, Bunda bakal pulang. Jaga rumah ya. Bunda sayang kalian semua" ia kemudian tersenyum dan melambaikan tangan


"Ela juga sayang sama Bunda. Jangan lama-lama ya" kataku seperti menahan tangis


"Iya. Bunda pamit ya, Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Ratih membawa Bunda pergi menjauh dari tempat kami berdiri. Sejujurnya ini terlalu mendadak dan tidak ku prediksi. Sedihnya aku merasa seperti tidak kehilangan karena sudah terbiasa ditinggal oleh Bunda yang memiliki jiwa bebas. Ayah termasuk orang yang sabar dan tabah karena bisa menyesuaikan diri dengan kemauan Bunda.


"Ayo masuk, Ayah angetin dulu masakan Bunda habis tu kita makan bareng" kata Ayah kemudian menarik masuk pundakku.


Suasana malam itu lebih sepi dari malam-malam biasa. Aku harap Bunda baik-baik saja.

__ADS_1


__ADS_2