Ratih Widyatama

Ratih Widyatama
3. Daniel


__ADS_3

Selama kurang lebih 6 menit aku berada di pelukannya.. kini pundaknya penuh dengan air mata ku yang membanjirinya..


"Udah enakan?" tanya nya sambil mengelus-elus pundakku. Aku menjauh darinya dan mengangguk pelan, mataku sembab dan ingus ku keluar. Mulutku tak bisa berhenti sesenggukan seperti orang yang sudah lama tidak menangis.


Dia merogoh sakunya dan memberikan sebungkus tisu kecil dan mengambilkannya untukku. "Pakai ini" katanya sambil mengelus pelan wajahku.


Selang beberapa menit. Aku sudah mulai mengatur emosiku dan mulai menanyakan hal lain lagi padanya.. "Kenapa Tria dan Alvin tidak kaget saat bertemu denganmu?". "Aku yang mengabari mereka duluan. Aku sudah pindah kesini sekitar 2 bulan yang lalu dan.. tidak sengaja bertemu dengan Alvin di dekat perpustakaan" kini wajahnya tidak lagi menatap ke arahku, ia menunduk dengan kedua tangan saling bertautan di atas pahanya.


"Aku... tidak bermaksud menyembunyikan semua ini, aku hanya belum siap untuk bertemu denganmu.. kau.. begitu berarti bagiku. Aku.. takut kau membenciku dan tidak mempercayai ku setelah semua ini..., makanya..., aku tidak bisa menceritakannya padamu begitu pulang dari sini.."


Wajahnya semakin muram, tak ada lagi cahaya kebahagiaan yang tersirat di emosinya. Nadanya penuh dengan emosi kesedihan yang begitu mendalam. Aku menarik nafas panjang bersiap untuk memberikan jawaban yang terbaik.. bagiku..


"Aku... tidak pernah membencimu. Meski awalnya aku kesal padamu.., tapi aku mengakui keberanian mu untuk menceritakan padaku. 10 tahun.. waktu yang cukup lama untuk dirimu membangun kepercayaan diri kembali setelah melalui semua hal yang diluar prediksi awal. Karena itu, aku akan menerima alasan itu" kataku menoleh kearahnya. Kini wajah kami saling berhadapan,


Aku mengelus punggung tangannya dan memberikan sedikit senyuman yang selama ini hanya akan kuberikan kepada orang-orang terdekatku.. "Promise me, never to leave me again. And.. love me like i did for 10 years ago till now"


Sepertinya sekarang ia lah yang tidak bisa menahan air matanya. Sisi rapuh yang ku yakin tidak akan pernah ia tunjukkan pada siapapun. Kini semuanya runtuh begitu kami berbicara dari hati ke hati seperti ini.


"Yes.. i promise.. i will love you.. until whenever.. I will not leave you again"


Aku tersenyum dan mengelus rambutnya yang kini berantakan di terpa angin. Suasana menjadi hening, hanya suara isak tangis nya dan angin yang bersaut-sautan. Tria dan Alvin datang menuju kami dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Di cariin juga! udah jam masuk ini, nanti terlambat kita yang di marahin!" kata Tria dengan wajahnya yang berubah merah padam karena habis berlari.


"Ratih,ayo" kata Alvin kemudian menarik tangan Ratih dan berlari. Ia bahkan tak sempat menoleh kebelakang dan hanya mengikuti langkah kaki Alvin.


"What do you feel now? feel better?" tanya Tria kemudian duduk di sampingku


"Kenapa kamu harus bohong kalau pernah ketemu sama dia selama ini?!" balasku kesal


"I'm sorry i forgot to tell you about this man~. But trust me, dia gak bakal pergi lagi. Makanya aku selalu ragu kalau kamu bilang mau move on dari dia.. dia punya rencananya sendiri, maaf aku begini juga karena dia yang bilang suruh rahasiain dari kamu" jawabnya sambil memegang kedua tanganku dan menggenggamnya erat seakan perkataan yang dia ucapkan ini benar-benar serius dan aku harus mempercayai nya


".... semakin lama aku jadi ragu siapa teman dekat mu sebenarnya" aku berdiri dan membereskan sisa tisu-tisu dan membuangnya ke tempat sampah dekat bangku.

__ADS_1


" Oh.. ayolah! percaya aku! dia bakal ngelakuin semuanya demi kamu! Yah.. seenggaknya aku lebih dukung kamu sama Ratih daripada sama satu cowok itu" kata Tria memancing


" ... kalian bertiga bicarain apa dikantin? tumben dia gak ikut kalian" tanyaku menoleh kearahnya dengan wajah terheran.


Tria hanya tersenyum dan tidak menjawab apapun. Dia hanya berjalan mendahului ku tanpa menoleh ke belakang. Tandanya akulah yang kali ini harus bertindak memberikan semua penjelasan ku kepada anak itu.


Terkadang aku bersyukur karena mereka berdua selalu ada untukku. Tapi di lain hal, aku merasa mereka berdua terlalu berbahaya kalau terus melakukan hal yang seperti ini.


Tapi..., hal seperti ini lah yang membuatku semakin dekat dengan mereka, aku paham dengan maksud mereka. Dan mereka mengetahui batasan mana yang harus mereka lakukan untukku.


Daniel


"Pulang sekolah, ke taman sekolah. Aku tunggu"


^^^Adel^^^


^^^"Sekalian ada yang mau bicarain"^^^


Daniel


Aku menepuk pundaknya "Thanks" dia hanya mengangguk dan kemudian kami berdua berlari menuju ke arah kelas.


...----------------...


Jam pulang sekolah tiba. Aku dan Ratih berjalan bersama, sedangkan Tria dan Alvin menuju ke ruang OSIS karena akan rapat mengenai festival sekolah.


Sesuai janjiku pada Daniel. Aku segera menemuinya dan menuju ke arah taman, tempat yang selalu membuat perasaanku menjadi tenang.. entah kenapa rasanya berbeda. Apa ini perubahan yang kudapat setelah melewati semua?


"Kalau kamu gak mau bilang, bisa aku wakili" Ratih menggenggam erat tanganku seperti seseorang yang akan menghilang


"Aman" kataku dengan nada yang tak bersemangat. Sepertinya aku terlalu lelah untuk berpura-pura cuek untuk keadaan seperti ini. Ratih yang tiba-tiba saja muncul sudah membuatku kehilangan ketenangan diri yang biasanya dapat ku kendalikan dengan mudah. Dan kini.., ditambah dengan seorang Daniel yang menyukaiku semenjak bangku SMP.


"Aku akan tunggu di sini. Kau.. masuklah dan berbicara padanya. Akan aku tunggu, kalau ada apa-apa teriaklah, aku akan berlari ke arahmu" dia mengelus pelan rambutku dan tersenyum.

__ADS_1


Sudah berapa lama aku tidak melihat senyumnya yang menenangkan ini? Rasanya aku seperti ingin menangis hanya dengan melihatnya. Aku mengangguk dan segera masuk ke dalam taman, di sana terlihat seorang pria yang sedang jongkok dan memberi makan kucing liar.


"Maaf membuatmu menunggu" kataku begitu sampai di belakanganya. Dia segera berdiri dan menoleh ke arahku, baru kali ini aku melihat ekspresi tidak semangat darinya. "Aku juga baru aja datang. Santai aja" kemudian dia duduk di bangku dan aku segera mengikuti ke kesamping nya.


"To the point aja, apa yang mau kamu bicarain?" tanyaku tanpa menoleh kearahnya. Sepertinya ia tau bahwa mood ku sedang tidak bagus untuk pembicaraan santai.


"Apa.. selama ini effort ku ke kamu kurang? apa aku memang seenggak pantes itu buat kamu?" tanyanya tanpa menoleh sedikit pun. Ia hanya memandang langit oranye dengan corak alam yang begitu indah. "Tidak, effort mu terlalu bagus sampai-sampai aku selalu merasa bersalah padamu. Karena menyukai perempuan yang masih memiliki penghuni di dalamnya".


Dia tersenyum pahit dan menunduk "Yah.. aku tidak mengharap jawaban yang manis darimu. Apalagi kata semangat, bahkan selama 3 tahun ini.. aku belum pernah sekalipun membuatmu tersenyum. Seharusnya aku mengetahui itu"


"Selama ini.. yang bisa ku ucapkan hanya terimakasih. Aku benar-benar merasa terimakasih padamu karena sudah mau mendekati ku selama 3 tahun. Aku menganggap semua yang kau berikan padaku itu berharga, moment di mana kita berdua bermain.. aku selalu mengingat nya. Hanya saja..., aku tidak bisa menerima mu sebagai pengganti dari yang lama. Dan kini.. seseorang yang tidak bisa digantikan sudah kembali. Aku harap..., setelah ini kau bisa mencari yang lebih baik dariku. Daniel.., kau laki-laki yang baik. Carilah perempuan yang baik seperti dirimu juga"


Setelah mengatakan itu, aku berdiri sejenak dan melihat ke arahnya "Semua.. tidak sia-sia. Aku lah yang tidak bisa menerima mu, sesuai dengan jawaban ku 3 tahun lalu. Maaf dan terimakasih karena sudah menyukaiku. Ku harap kau bisa menemukan yang memahami mu dan memberikanmu feedback yang pantas dan lebih dari apa yang kamu berikan kepadaku" perlahan aku mulai menjalankan kakiku, menjauhi dirinya yang sedari tadi mematung tidak mengatakan apapun.


Di luar, Ratih sedang menunggu sambil membaca novel yang tidak ku ketahui judulnya. Begitu melirikku keluar, ia langsung menutup novelnya "Sudah? mau langsung pulang?" tanyanya dengan wajah khawatir


" Iya.. pulang aja langsung. Aku... lelah" aku menggandeng tangannya dengan posisi nyaman seperti anak kecil yang perlu pelukan. Ratih memelukku sebentar dan mengelus punggungku.


"Naik motor ku ya. Kita ke parkiran dulu"


Sepanjang perjalanan, tidak ada pembicaraan apapun diantara kami. Ratih hanya diam, dan aku larut dalam pikiranku sendiri. Apa yang sebenarnya sedang terjadi sekarang?


Selang beberapa menit, Ratih sudah sampai di depan rumahku. Aku segera turun dan melepaskan helm ku dan hendak memberikan itu padanya "Enggak, itu buat kamu. Khusus baru aku beliin tadi"


"Lah, ga enak dong. Masa langsung dibeliin helm?" tanyaku merasa tidak enak


"Anggap aja hadiah reuni dariku. Aku pulang duluan ya. Kalau ada apa-apa chat aku aja. Aku selalu online buatmu" dari matanya.. ia terlihat seperti tersenyum padaku. Aku hanya membalasnya dengan senyuman biasa.


"Gak mampir?" tanyaku basa basi


" Itu sih.. belum siap. Kalau udah mateng, aku bakal kesana" jawabnya kemudian segera pergi meninggalkan di depan rumah.


Meski aku tidak tau apa maksud dari perkataan nya. Aku hanya tersenyum dan memeluk helm yang dia berikan.

__ADS_1


__ADS_2