
Crip.. Crip..
" HAH? Serius mau ngelupain tu anak?" tanya Tria teriak
" Sssstttt, berisik tau" kataku dengan wajah kesal
" Lah? Tapii yakin mau ngelupain??? Ini dah kali ke 100 kamu bilang sih" jawab Tria ragu
" huft.. Entahlah, aku..., capek nunggu kepastian yang gak pasti" kataku memejamkan mata
" Yauda lupain aja gih, masih ada Daniel tuh yang nunggu kamu" jawab Tria bercanda
" Kenapa harus Daniel dari sekian banyaknya..." kataku agak kecewa
" Lagian dia yang dulu terang-terangan nembak kamu, jadi yang paling berbekas emang si Daniel, kalau yang lain mah apaan, pakai surat segala!" jawab Tria mengingat masa lalu
" Kalau soal itu emang si, siapa yang bakal lupa" kataku tertawa kecil
" Tapi Del, katanya ada anak pindahan yang mau ke kelas kita. Cowok pula, bisa tuh kamu gebet dia" pancing Tria
" Aku gak mau mikirin hal itu dulu sekarang, Mau mikirin cara biar move on dari Ratih dulu"
Kemudian kami berdua berdiri dan berjalan menuju arah kelas.
Taman memang tempat yang paling menyenangkan dan menyejukkan di sini. Rasa ketika melihat tanaman hijau tumbuh dengan subur membuat pikiranku menjadi tenang. Semua isi pikiran yang begitu rumit hilang begitu saja sirna dengan desiran angin yang berhembus pelan.
Segala kegundahanku selalu hilang dengan hanya menatap tanaman dan langit.
Jam masuk pun mulai, sesuai dengan kata Tria. Ada murid baru yang masuk hari ini. Awalnya aku yang tidak terlalu tertarik dengan pria itu menjadi terus melihat kearahnya setelah ia memperkenalkan diri.
"Perkenalkan, nama saya Machael Ratih Widyatama"
Aku dan Tria langsung saling berhadap-hadapan. Begitu juga dengan Alvin yang duduk di belakang ku.
" Lah, orang yang aku bahas tadi pagi malah muncul hari ini" kataku kepada Tria
" Nasib mu nyuruh biar kamu gak move on dari dia kayaknya" jawab Tria dengan wajah panik
'D-Dia.. bukan Ratih. Ratih.. sudah tewas 10 tahun yang lalu. Tidak mungkin itu dia...'
Jujur saja.. aku terbelalak kaget, sekujur tubuhku merinding begitu ia mengucapkan namanya. Aku berkeringat dingin dan tak bisa berkata apa-apa lagi. Tubuhku membeku, mata ku seperti ingin menangis. Semua perasaan yang campuraduk ini... membuat kepalaku pusing karena tidak tau harus merespon bagaimana..
" Sialan.., tapi gak mungkin sih dia inget aku"timpalku dengan wajah pucat pasi
" Sapa tau juga" kata Tria terus melihat kearah depan
" Nah kalau begitu, nak Ratih bisa duduk di sebelah Alvin ya..., semoga kalian bisa akrab dengan Ratih. Kalau begitu saya permisi terlebih dahulu" kata Bu wali kelas kemudian pergi
" Bisa dibilang ini nasib sial tapi juga bagus kataku" timpal Alvin nimbrung
" Lebih ke nasib sial sih kataku" jawabku dengan wajah agak kesal
__ADS_1
Setelah Ratih duduk di belakangku, dia langsung menepuk pundakku
" Adela Kirana Micaela kan? Aku gak amnesia soal kamu kok" katanya berbisik dan tersenyum menampakkan gigi nya
Badanku mematung begitu ia menepuk pundakku. Rasa merinding dan aneh ini.. terus tercampur aduk. Apakah aku harus mempercayai nya? atau tidak...?
Aku menoleh ke arahnya dan tersenyum normal sebisa mungkin. Aku tidak berani menatap matanya... Tria hanya tertawa kemudian berkata " Makin cakep juga kamu, habis ini traktir bolehh lah"
" Emang niatku. Alvin juga nanti" jawab Ratih sambil tersenyum
Aku hanya bisa terdiam karena jantungku berdetak sangat cepat sampai-sampai rasanya pusing untuk mengaturnya.
Dan pelajaran pertama pun dimulai...
Selama pelajaran kami tidak banyak berbicara, hanya saja terkadang Ratih daan Tria mengobrol sangat asik, sedangkan aku lagi-lagi hanya bisa terdiam tak berani menoleh ke belakang.
'Mereka kok kaya orang yang gak ketemu sehari. Kenapa gak canggung sih?' pikirku merasa heran
"Pstt Pstt, Adell" bisik Alvin sambil menepuk pelan pundakku
" Ada apa?" tanyaku menoleh ke belakang
Dia memberiku sepucuk surat yang udah dilipat. Aku membuka isi surat itu dan mendapati tulisan tangannya :
"You good?"
Aku menoleh kearahnya kemudian menggelengkan kepala. Dia menyobek kertas kecil kemudian menulis lagi
Setelah aku menerimanya, aku langsung melirik ke arah sampingnya dan memasang wajah cemberut.
Alvin menghela nafas kemudian tersenyum dan memberi isyarat tangan yang terkias
" Semua akan baik-baik saja, ikuti saja arah hatimu. Aku selalu ada untuk buatmu"
Aku tersenyum dan mengangguk. Setelah itu aku kembali fokus kepada pelajaran yang sedang diterangkan.
Tringggg Tringggg
Bel istirahat pertama pun berbunyi, tentunya sangat banyak anak perempuan yang mengerubungi Ratih.
Bagaimana tidak? Dia begitu sempurna untuk ukuran fisik anak SMA. Mungkin kalau aku tidak mengenalnya pun pasti bakal ikut terpana dengan ketampanannya itu.
"Maaf ya teman-teman, aku mau coba keliling sekolah dulu" kata Ratih berdiri
" Boleh tuh sama aku. Aku hafal semua" kata Tiara mengusulkan diri
" Wah... Maaf kalau gitu, Adel udah janji keliling sama aku duluan. Minta maaf yaa" jawab Ratih sambil memegang lengan tangan kanan ku
Aku yang sedari tadi hanya diam langsung menoleh kearah belakang,
"Ka-"
__ADS_1
" ADELLLLLL, AYOOOO KE KANTIN BARENGGG" Teriak salah satu anak laki-laki yang datang dari luar, siapa lagi kalau bukan Daniel
Aku langsung melihat kearah luar, tapi Ratih mengeratkan genggaman tangannya di lenganku
" Tuh, Adel udah ada pacar. Biasanya dia selalu ke kantin bareng tu cowok" kata Tiara
Ratih hanya terdiam mendengarnya. Meski begitu ia tetap memegang erat lenganku
" Ayo" kataku menarik tangannya dan terus berjalan menerobos semua perempuan itu.
Daniel yang sudah menunggu di luar kelas langsung bertanya " Siapa itu?". Seketika wajahnya yang tadi ceria kini menjadi sinis menatap Ratih dengan tatapan tajam.
" Aloo Daniel. Kabarmu baik?" tanya Tria memecahkan suasana
" Dia siapa?" tanya Daniel ke Tria
" Bener-bener deh. Kenalin dia Ratih, murid baru" kata Tria memperkenalkannya
" Saya Ratih, murid pindahan. Dan juga teman masa kecilnya Adel" kata Ratih memperkenalkan dirinya
Akhirnya dia melepaskan tangannya dan menjabat tangan Daniel.
" Kenapa tadi gandengan tangan?" tanya Daniel masih curiga dengannya
" Aku yang gandengan tangannya.., kenapa? Ada masalah?" tanyaku malas
"tapi kenapa-"
" Udahlah, ke kantin ajaa, Adel bad mood gara-gara kamu cerewet nihh" kata Tria sambil menarik tangan Alvin yang sedari tadi diam dan tangan Daniel yang terlepas dari tangan Ratih.
Sedangkan Ratih dan aku berjalan bersama di belakang mereka. Rasanya canggung karena kami sudah lama tidka bertemu, apalagi mengobrol.
'Apa dia masih inget janjinya dulu?' pikirku selama perjalanan
" Aku udah denger semuanya dari Tria, sebagian besar sih"
Aku langsung menoleh kearahnya
" Gimana kabarmu? Baik?" tanyanya dengan nada lembut
" Sesuai yang kamu lihat aja" jawabku tak bisa menahan rasa malu,
'Sejak kapan dia jadi lebih tampan gini' pikirku melayang kemana-mana dengan sedikit curi-curi pandang dari sampingnya.
" Baguslah, maaf ya aku baru bisa kesini sekarang. Kamu pasti nunggu lama banget ya? Sekarang kamu bisa lampiasin semua ke aku, udah ada aku sekarang" jawabnya sambil mengelus pelan rambutku dan tersenyum
" Iya, aku nunggu lama. Sekarang kamu gak boleh pergi lagi dari aku. Atau ga kamu bakal tau akibatnya nanti" timpalku sambil menarik dasinya
" Aku gak bakal kemana-mana lagi, janji kelingking" jawabnya sambil menyodorkan jari kelingkingnya
Aku mengaitkan jari kelingking ku dengannya. Kemudian kami berdua berjalan bersama dengan jari kelingking yang masih saling berkaitan.
__ADS_1