
Tria, Alvin dan Ratih + ( Daniel ). Mereka semua berbincang dengan asiknya sambil memakan menu pesanan mereka hari ini. Sedangkan aku... diam, pikiranku kosong.
'Kok bisa?' tanyaku sedari tadi pada diri sendiri yang entah merasa aneh dan ganjal dengan keadaan ini.
'Kalian apa gak merasa aneh? dia.. udah meninggal 10 tahun lalu loh! Kok...'
Di tengah lamunan ku, jari Ratih mengetuk lengah kanan ku. Aku menoleh ke arahnya dengan wajah yang masih kebingungan "Mau bicara berdua?" katanya dengan wajah datar.
Aku mengangguk dan segera berdiri, disusul dirinya yang kemudian menarik lengan kananku.
"Hey! mau kemana kalian berdua? gak aneh-aneh kan?!" teriak Daniel tidak suka
"Mending kamu diem. Itu urusan mereka, orang luar kaya kamu gak perlu tau" jawab Alvin kesal
"Hayo-hayo cemburu yaa, udah. Gak papa, santai aja, mereka berdua tau apa yang harus di lakuin. Kenapa? kamu masih tetep suka sama Adel?" tanya Tria memandang dalam wajah Daniel yang sedang kesal
"Selagi ada harapan, kenapa gak? toh dia waktu itu juga gak nyuruh aku berhenti kan?" jawab Daniel kemudian meneguk es teh di depannya
" Mungkin. Tapi beda lagi sekarang, Ratih itu.. paling susah buat di lawan. Saranku aja, daripada kamu terluka lebih dari ini. Nyerah" kata Tria yang semula masih tetap tersenyum, kini raut wajahnya menjadi lebih serius dan galak
"Kenapa?. Apa aku gak pantes buat dia? Padahal selama ini aku yang selalu ada di sampingnya, tapi karena satu anak aku harus menyerah?" Daniel tetap bersikeras menepis semua perkataan dari Tria.
Alvin yang diam dan menikmati suasana, kini juga berubah menjadi serius sama seperti Tria " Kami disini memang mendukung mu untuk selalu ada di sisi Adel. Tapi bukan berarti kami mendukung kalian berdua jadian, itu.. hal yang mustahil sedari awal kamu meminta kami untuk membantumu mendekati Adel" terang Alvin menatap tajam dirinya.
__ADS_1
Daniel tidak bisa membantah perkataan dari Alvin, dia benar. Daniel.. hanya sekedar pengganti yang tidak dianggap oleh Adel.
Dia melupakan sesuatu yang paling penting. Perianjian yang dia lakukan dengan Adel saat berkenalan.
"Aku gak bakal nganggep kamu lebih dari sekedar temen. Kalau kamu sakit hati karena perkataan ku nantinya, aku akan meminta maaf. Maaf karena hatiku sudah diisi oleh seseorang dari masa lalu. Bahkan aku sendiri ragu bisa melupakannya. Kalau kau tetap saja bersikeras ingin menjadi pelampiasan ku, jangan salahkan aku saat kau sakit hati nantinya"
"Iya, aku tidak masalah"
'Sialan' gumam Daniel tak berani menatap wajah mereka berdua.
...---------------...
Nafasku terasa lebih berat dari sebelumnya. Awalnya aku hanya merasa ada yang aneh, tapi semakin aku melihat belakang punggungnya perasaan tidak karuan itu kini kembali muncul. Perasaan yang tidak asing ini membuatku sedikit berdebar tak nyaman.
"Bagus, apa ini semua kamu yang menata?" tanya nya memecahkan suasana keheningan di taman yang luas ini
Aku melepaskan tangannya. Dan melihat sekeliling "Tidak semua, anak ekskul juga membantuku" jawabku kemudian duduk di bangku yang memang sudah di sediakan di taman. Bangku yang biasa ku pakai untuk duduk bersama dengan Tria atau Alvin dan anak ekskul lainnya.
"Indah" komentarnya kemudian duduk di sampingku.
" Ini bukan pembicaraan yang ku mau" jawabku seraya menundukkan wajah, tak kuasa melihat wajahnya yang kini sudah berubah lebih.. dewasa dan berwibawa.
Aneh.
__ADS_1
"Mau.. darimana ku ceritakan?"
"Dari semua.. yang kamu sembunyikan"
Suasana menjadi hening. Dia tak memberikan jawaban apapun. Kurang lebih 5 menit kami tidak saling mengobrol maupun bertatap muka. Hanya suara desiran pohon dan dedaunan yang saling bersahutan.
"Waktu.. itu, sebenarnya kami membatalkan penerbangan. Kami tidak jadi terbang karena Bunda terkena serangan jantung. Karena tak ada waktu, akhirnya kami segera merujuk Bunda ke UGD untuk segera melakukan penanganan medis oleh profesional. Waktu itu suasananya sangat runyam, kami takut kalau seandainya informasi mengenai Bunda sakit ini bocor ke publik. Bisa saja usaha yang Ayah dan Bunda bangun selama ini menjadi turun, bahkan Ayah pun.. tidak bisa kuajak komunikasi. Beliau begitu frustasi melihat Bunda yang tergeletak lemah di, bahkan hingga saat ini juga..."
Ratih menjelaskan dengan tatapan kosong, hatinya pasti merasa hancur melihat kedua orangtuanya yang kini makin melemah. Bohong kalau aku tidak tau mengenai seberapa besar cinta antara kedua orang tuanya. Pasti sangat sakit.
"Apa itu alasan kenapa kau tidak bisa dihubungi?" tanyaku tanpa menoleh nya. Bisa-bisa aku menangis nanti.
Ratih menghela nafas panjang, "Iya, selama kurang lebih 7 tahun.. kami menghapus nomor kami masing-masing agar tidak bisa dihubungi oleh pihak manapun. Kakek dan Nenek setuju dengan keputusan ini, karena bagaimana pun juga hal ini demi kebaikan nama keluarga."
Aku tak berani menjawab. Perasaanku campur aduk, antara kesal dan iba dengan hal yang menimpa keluarganya itu.
"Selama ini.. aku melanjutkan sekolah di Amerika sekaligus menangani bisnis Ayah yang dibantu sekretaris. Siang malam aku tidak tau lagi, aku terus-terusan bekerja agar tidak ada yang curiga bahwa Bunda dan Ayah sedang tidak baik-baik saja. Maaf.. aku sungguh minta maaf.."
Hal yang selalu aku benci dari diri sendiri adalah, perasaan. Di mana logika tidak bisa lebih unggul dari hati. Kali ini benteng pertahanan ku benar-benar runtuh olehnya.
Aku meneteskan air mata yang selama ini sudah ku bendung oleh diriku sendiri.
"Maaf.., maafkan aku.. aku benar-benar... meminta maaf sebesar-besarnya. Maaf sudah membuat mu khawatir, maaf sudah membuat semuanya menangis. Aku benar-benar minta maaf" katanya sambil menghadap kearah ku.
__ADS_1
Ratih memelukku dengan erat, membiarkan ku menangis di pelukannya.