
"Tetua Dao, kita sudah sampai di clan Huo Jin. sebaiknya kita turunkan saja putri dan bayi ini di depan gerbang !!" ujar pria berpakaian putih yang memanggul pedang di punggungnya sambil menarik tali kekang kudanya.
Dari sikapnya, dia enggan mengusik ketenangan orang-orang di balik gerbang itu.
"Hahaha, dengan misi ini, kita pasti akan membuat kedua clan akan bertarung hingga mereka hancur bersama" sahut pria berkepala botak yang di panggil tetua Dao.
"Jika nanti anak ini tumbuh dewasa, pasti dia akan menjadi bintang penghancur untuk clan ini. dengan begitu, kita bisa dengan mudah menduduki Kerajaan Qin tanpa ada perlawanan !!" lanjutnya lagi dengan nada suara yang terdengar bersemangat.
Seorang pria yang bersamanya, hanya menganggukkan kepala tanda setuju atas ucapan Dao Yu.
"Baiklah, kita harus segera kembali, Pekh khim." pinta Dao Yu
Sebelum keduanya beranjak pergi meninggalkan seorang wanita dan bayi di gendongannya, Pekh khim datang menghampirinya, "Putri, jaga diri baik"
Dari raut wajahnya dia sangat mengkhawatirkan keselamatan wanita ini.
"Jangan khawatir paman Khim, demi kebaikan kita semua, melakukan hal kecil seperti ini tidaklah masalah." jawabnya dengan santai. sedikitpun dia tidak menunjukkan ketakutan untuk menjalankan sebuah misi yang mungkin akan membahayakan dirinya.
Gerbang berwarna hitam dengan ukiran nyala api berwarna merah di tengahnya, adalah gerbang clan Huo Jin. Mereka adalah orang-orang yang terkenal akan kesaktiannya, sebagai ahli penjinak api.
Dan hari ini clan Huo Jin kedatangan seorang wanita dengan bayi dalam gendongannya. Entah kedatangan keduanya membawa anugerah atau membawa bencana yang pasti wanita ini memiliki tujuan yang besar pada clan ini.
Sementara itu di balik gerbang, nampak semuanya dalam kesibukan untuk sebuah upacara yang sebentar lagi akan di mulai.
Upacara pemujaan kepada patung naga yang terletak di bibir pantai clan Huo Jin. patung yang di percaya sebagai penyelamat negeri ini di masa lalu.
Wanita muda yang di tinggalkan kedua orang tadi, melangkah masuk tanpa sedikitpun merasa takut atau pun ragu. seolah dia sudah terlatih melakukan pekerjaan sebagai penyusup.
Beberapa saat yang lalu raut wajahnya tidak terlihat bersedih. tapi begitu menginjakkan kaki melewati gerbang clan Huo Jin, seketika wajah yang terlihat anggun dan cantik berubah menjadi raut wajah kesedihan. perubahan ekspresi wajah yang aneh.
Dia memakai pakaian yang kusut dan tampak acak-acakan, rambutnya yang semula lurus dan teratur sengaja di buatnya tak beraturan. mungkin untuk membuat jalan rencananya berjalan mulus.
Dengan langkah bergegas dia menerobos masuk ke kumpulan orang-orang yang sedang melakukan upacara pemujaan kepada leluhur.
Melihat kedatangannya yang tiba-tiba, beberapa murid Huo Jin segera menghadang wanita itu agar tidak mengganggu jalannya upacara yang sedang berlangsung.
__ADS_1
"Nona berhenti !!" ujar dua murid sambil menghadang wanita yang hendak menuju ke arah depan. "ini tempat terlarang bagi orang luar, sebaiknya anda pergi.!!" pinta kedua murid.
Namun wanita itu tidak menghiraukan kedua murid yang berusaha mencegatnya. dia tetap berusaha melepaskan diri dan tetap mencoba menerobos.
"Lepaskan aku !!, aku ingin bertemu Ling Tian !!" teriaknya.
Aksi saling hadang itu mengusik ketenangan semua yang berada di situ. hingga mengusik seseorang yang berada di barisan terdepan.
Dia adalah ketua clan Huo Jin yang akan memimpin upacara pemujaan ini. bertubuh tinggi besar dan berpakaian layaknya seorang panglima perang. penampilannya terlihat gagah dan berkesan tangguh.
Dia melirik tajam ke wanita yang sama sekali tidak di kenalinya. "siapa dia ?, dia mengenalku ?" gumamnya.
Matanya tertuju pada bungkusan kain yang di bawa oleh wanita itu. sebuah tangan kecil sehalus kain sutera, terjulur keluar dari bungkusan kain yang di peluk oleh wanita yang mencoba menerobos ke arahnya. "itu ?...." tenggorokannya terasa tersumbat.
"bayi...?"
"Lepaskan dia !!" ujar ketua clan Huo Jin kepada murid-muridnya.
Kedua murid itu langsung melepaskan pegangan mereka tanpa perlu di perintah untuk yang kedua kalinya.
Suaranya yang terlihat sengaja untuk di perdengarkan. membuat semua yang berada di tempat itu, mengalihkan pandangan kepada keduanya.
"Apa ?, Tuan Ling...."
Semua yang berada di dekat wanita itu kaget dengan perkataannya. selama ini mereka tahu ketua Ling tidak mungkin lagi memiliki keturunan.
Sebab sudah sepuluh tahun lebih lamanya, tujuh selir yang menemani Ketua Ling, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Dan kesimpulannya, ketua Ling Tian "mandul."
Tapi hari ini, semua yang berada di tempat ini, di buat kaget dengan kehadiran seorang wanita yang mengaku telah mengandung anak darinya.
"Kita bicarakan di dalam saja" pinta ketua Ling kepada wanita itu dengan dingin.
Ketua Ling tidak menunjukkan sikap kaget atau penasaran. dia berjalan perlahan menuju ruang pribadinya.
Dalam ruangan itu hanya berisi buku-buku yang terlihat tua dan berbagai macam botol yang berisi minuman. dan satu kursi besar seperti kursi untuk seorang raja dan sebuah meja yang tidak terlalu besar.
__ADS_1
"Sekarang, coba kamu katakan yang sebenarnya !?" kata Ling Tian dengan menatap tajam wanita itu.
"Hmmm...aku tidak di tawari untuk duduk ?" gumam Fengyin sambil melihat sekelilingnya. yang tampaknya hanya ada satu kursi saja di ruangan itu.
"Masih ingatkah penginapan Jinzhu?, itu adalah hari dimana kita bertemu untuk pertama kalinya."
Wanita yang bernama Fengyin ini berhenti sejenak dan menyeka air matanya sebelum melanjutkan kisahnya.
"Hari itu, aku pun tidak sadar telah tergoda akan hasrat yang bergejolak."
"Jika saat itu aku tahu akhirnya akan menderita seperti ini, aku tidak akan melakukannya. tapi ini sudah terjadi, apa yang harus aku sesali?"
"Seorang putri kerajaan yang mengandung anak tanpa ada ikatan pernikahan, adalah aib yang hanya akan membuat malu keluarga kerajaan."
"Hari ini, aku telah di usir dari kerajaan dan tidak tahu lagi harus kemana. biarlah aku yang menderita, tapi aku tidak bisa melihat anak yang tak bersalah ini, harus menanggung perbuatan kita."
"Asalkan anak ini baik baik saja, itu sudah cukup. aku biarlah menderita di luar sana."
"Tolong rawat anak ini, meski dia terlahir tanpa adanya perasaan di antara kita. anak ini tetap darah dagingmu."
Fengyin menyerahkan bayi yang sejak tadi di peluknya ke Ling Tian.
Terasa kaku seluruh tubuh Ling Tian ketika bayi itu berada dalam pelukannya.
Pikirannya kosong dan tak bisa berpikir dalam beberapa saat.
Memang dirinya sangat mendambakan kehadiran seorang putra. tapi kedatangan anak ini begitu mendadak dan begitu tiba-tiba. bahkan logikanya saat ini tidak bisa bekerja dengan baik.
"Terima kasih, Tuan Ling" kata Fengyin sambil mengambil langkah meninggalkan ruangan itu tanpa mendengar jawaban dari Ling Tian yang masih terdiam.
"Tunggu !!, anak ini butuh seorang ibu, bagaimana bisa seorang ibu meninggalkan anak yang baru saja di lahirkan?, tinggallah di tempat ini. aku akan bertanggung jawab untuk semua ini" kata Ling Tian dengan tegas.
Wajah wanita itu menggambarkan keharuan yang begitu dramastis. tapi sorot matanya memancarkan sebuah tatapan yang aneh dan sulit untuk di jelaskan dengan kata-kata.
Dengan kata lain, wanita ini telah berhasil dalam misinya kali ini.
__ADS_1
...----------------...