
Membuka pintu kamar penginapan, Dart dan Mavis langsung masuk dan duduk di depan meja kayu dengan perut buncit kekenyangan. Proten terakhir masuk, lalu menutup pintu geser tersebut dan duduk di sisi lain meja.
“Aaah, kayangannya ....” Dart membaringkan tubuhnya dengan penuh kepuasan. Mengikuti pria itu, Mavis ikut membaringkan tubuh dengan wajah puas.
“Jangan langsung tidur, kalau kena penyakit nantinya susah, loh.”
“Ha ha, tubuhku kebal terhadap penyakit internal.”
“Saya tidak bicara soal anda, saya bicara soal Kakak.”
Segera bangun, Dart lekas memegang tangan Mavis dan menariknya duduk. Dengan malas, wanita berambut pirang tersebut membaringkan wajahnya ke atas meja. “Ah, dia tepar ternyata,” ucap Dart sambil berdiri. Pria tersebut mengambil selimut yang masih tergelar rapi di atas kasur, lalu memakaikannya untuk menutupi tubuh Mavis yang mulai tertidur.
“Apa Kak Mavis sering tidur terus seperti itu?” tanya Proten.
“Hmm, memang. Tapi kalau pas tengah malam dia pasti bangun.” Dart menatap perempuan berambut putih tersebut dengan datar. “Menggangguku tidur,” ucapnya dengan wajah datar.
“Sepertinya itu sangat menyebalkan ...,” benak Proten.
Membuka tirai babu yang menutupi jendela, pria berambut hitam tersebut duduk di lantai dan melihat keluar melalui jendela. Mengamati gemerlap kota Gahon di malam hari, rasa tenang terasa dalam benaknya. Tetapi saat sekilas melihat sosok yang bersembunyi di antara genteng bangunan kayu bertingkat, sorot mata pria tersebut berubah datar.
“Sampai kapan Rubah itu mau menguntit?”
Sedikit menghela napas, Dart menoleh ke arah Proten. “Dia ... sepertinya masih mengikuti,” ucapnya dengan nada malas.
“Dia? Apa Nona Rubah itu?”
“Ya ....”
“Apa perlu saya usir dia?”
“Bisa?”
“Pakai kekerasan.”
Melihat Proten mengangkat kedua tangan dan mulai menggerakkan jemarinya dengan cepat, Dart hanya memberikan tatapan datar. Sedikit menghela napas, Ia berkata, “Sebaiknya jangan .... Kota ini damai, aku tidak ingin ada kerusuhan.” Kembali melihat keluar, sosok yang bersembunyi di balik genteng telah menghilang. Melihat memindai sekilas, Dart langsung menemukannya semakin dekat dan menatap jelas dengan mata yang menyala dalam kegelapan.
“Perasaanku tidak enak ..., dia ....”
Sedikit menyingkir dari jendela, pria tersebut mulai meningkatkan kewaspadaannya dan mulai berlutut siaga. Seperti yang diduga, gadis rubah yang bersembunyi di balik bayangan meloncat masuk ke kamar dan langsung menerjang ke arah Proten. Tetapi sebelum bisa menyentuh perempuan berambut putih tersebut, Dart mencengkeram pergelengan tangan atas gadis rubah tersebut dari belakang dan langsung menguncinya dengan melipatnya ke belakang punggung.
__ADS_1
Gadis rubah tersebut menyikut ke arah Dart dengan tangan kiri. Menghindari serangan tersebut, Dart langsung menendang bagian tumit kanan gadis rubah itu dan membuat keseimbangannya hilang, lalu melayang jatuh. Pria berambut hitam tersebut langsung menarik pergelengan tangan kenan gadis rubah itu tersebut, dan langsung melemparnya keluar jendela.
Melihat hal tersebut terjadi sangat cepat dengan kedua matanya, Proten sama sekali tidak sempat bangun dan hanya terduduk dengan mulut menganga. Melihat gadis rubah yang dilempar keluar itu berputar vertikal di udara dan menggunakan sihir angin sebagai pijakkan, Proten langsung berteriak, “Dia kembali lagi!” Dart tidak berbalik dan tetap menghadap ke arah perempuan berambut putih itu.
Dalam hitungan detik, pria itu tiba-tiba menghilang dari tempatnya dan telah melayang di udara tepat di atas gadis rubah. Melancarkan pukulan tapak ke arah bahu kanan, serangan Dart dihindari gadis rubah tersebut. Ia menyerang balik dengan berputar ke samping di udara dan melancarkan tendangan kaki kiri. Buak! Tendangan tersebut ditahan Dart dengan satu tangan. Memegang ujung kaki gadis rubah tersebut, pria berambut hitam itu langsung menyiapkan teknik pemadatan Mana dengan tangan satunya.
“Teknik Tangan Kosong: Tapak Ular!”
Dart mendaratkan sebuah pukulan tapak tangan tepak ke arah dada kanan gadis rubah tersebut. Serangan itu tidak kuat, tetapi Mana yang dipadatkan di atas telapak tangan langsung menyebar ke seluruh tubuh gadis rubah tersebut dan membuat tubuhnya kaku.
“A-Apa ini?”
Tidak segan-segan, Dart langsung menendang kepala gadis rubah tersebut dan membuat tubuhnya terpental masuk ke kamarnya melalui jendela yang terbuka. Tubuhnya melesat dan membentur pintu di dalam kamar sampai rusak, lalu berhenti saat menabrak dinding kayu di lorong. Menggunakan Mana yang dipadatkan sebagai pijakan, pria berambut hitam tersebut meloncat masuk kembali ke dalam kamar.
Sekilas ke arah gadis rubah yang terbaring mati rasa di lantai, pria berambut hitam itu melirik ke arah Mavis yang terbangun karena suara gaduh. Berjalan ke arah wanita tersebut, Ia mengelus kepalanya untuk membuatnya tidur kembali.
“Tidak apa, kalau masih mengantuk tidur saja lagi.”
Mavis kembali membaringkan wajahnya ke atas meja. Melirik ke arah gadis rubah yang terbaring mati rasa, Dart sempat terkejut karena gadis itu berusaha melepaskan teknik Mana pengekangan secara paksa dan beberapa ekor rubahnya mulai keluar karena transformasi Huli Jing tersebut mulai terlepas.
“Oh, dia rubah berekor sembilan rupanya.”
“Hmm, benar juga ....Kalau begitu ....”
Dart langsung melesat ke arah gadis rubah tersebut dengan sangat cepat dan langsung mendaratkan tendangan ke arah perut, tubuhnya terpental vertikal ke atas. Berancang-ancang dengan tinju, Dart langsung melancarkan tinju tampaknya untuk kembali memasang Mana padat pengekang. “Ugh!!” Serangan kali ini lebih parah dari sebelumnya, tubuh gadis rubah tersebut sepenuhnya dibungkus Mana padat bercahaya biru tua dan hanya kepalanya yang tidak tertutup.
Terkapar dan sama sekali tidak bergerak, gadis rubah tersebut berhenti meronta karena paham tidak bisa melepaskan ikatan Mana tersebut dengan wujud tidak sempurnanya. Dart berjongkok di depan gadis rubah itu, lalu bertanya, “Kenapa kau menyerang? Dan juga, kenapa menguntiti Proten?”
“Ak-Aku hanya ingin akrab dengan perempuan berambut putih itu!” ucapnya dengan gugup.
“Hah?” Dart menatap datar mendengar hal tidak masuk akal tersebut. Menoleh ke arah Proten, pria tersebut sedikit mengangkat pundaknya tanda tidak paham apa yang terjadi di antara Proten dan gadis rubah tersebut.
Proten mendekat, lalu ikut berjongkok di depan gadis rubah tersebut. “Eng ..., kenapa memangnya? Katamu tadi ingin akrab ..., untuk apa? Bukannya kita baru saja bertemu tadi pagi?” tanyanya dengan nada sedikit bingung.
“Aku ... ingin mengikutimu! Tidak tahu mengapa, tapi instingku berkata harus mengikutimu di penghujung siklusku ini!”
Mendengar perkataan tersebut, Dart dan Proten paham kalau gadis rubah tersebut sudah mencapai tingkat tertinggi dari ras Huli Jing dan memiliki sembilan ekor. Dari siklus yang menjadi pengetahuan umum di kekaisaran, itu berarti Huli Jing tersebut tidak bisa lagi menghapus ingatannya meski sudah berlangsung seratus tahun setelah terakhir kali menghapus ingatan. Dari hal tersebut, itu juga berarti kalau sosok Huli Jing tersebut akan mencapai tingkat Hewan Suci yang setara dengan Deity setelah umurnya mendekati seribu tahun. Dari peningkatan kekuatan tersebut, itu juga berarti dirinya akan meninggalkan dimensi dunia nyata dan naik ke dimensi yang lebih tinggi layaknya seorang malaikat.
“Kenapa kau memilih Proten sebagai tuanmu di kesempatan terakhirmu di dunia ini?” tanya Dart. Pemuda itu menyentuh tubuh gadis rubah itu dan melepaskan ikatan Mana pengekang.
__ADS_1
“Aku ... ingin melihat cahaya!”
Perkataan tersebut sama sekali tidak bisa dipahami Dart. Tetapi melihat gadis rubah tersebut duduk dan menatap dengan mata penuh harapan, pria tersebut sedikit paham seberapa seriusnya gadis rubah itu. Tersenyum ringan, Dart menepuk kepala gadis rubah tersebut seraya berkata, “Kalau begitu, terserah kau saja. Kalau Proten mengizinkannya, aku juga tidak keberatan.”
“Eeeh, kok bisa seperti itu .....”
“Ngomong-omong, namamu?”
“Fiola ....”
Tersenyum tipis ke arah Fiola, Dart menemukan sesuatu yang menarik dalam pikirannya. Mulai bangun dan melihat ke luar jendela, pria tersebut berkata, “Bagaimana kalau kita membuat Party? Kalau tidak salah, istilah seperti itu ada di kalangan orang-orang Guild yang berburu monster .... Party yang membunuh para Iblis, kedengarannya menarik bukan?”
Proten terkejut mendengar itu, Ia lekas berdiri dan berkata, “Tu-Tunggu Tuan Luke, bukannya katanya anda tidak mau mendaftar ke Guild? Kenapa tiba-tiba .... Dan juga, bukannya anda terlalu gampang menerimanya ....” Melirik ke arah gadis rubah tersebut, rasa curiga nampak pada wajah Proten.
“Hmm, jujur aku sudah capek bertarung solo. Sesekali mencoba mengandalkan orang lain mungkin menarik ....”
“Tapi dia bisa saja menyerang punggung anda!”
“Aku akan berusaha percaya .... Tentu saja denganmu juga, Proten.”
Melihat percakapan kedua orang tersebut, Fiola baru saja menyadari fakta mengejutkan. Lekas berdiri dengan wajah terkejut, Ia bertanya, “Jangan-jangan anda ..., Sang Ahli Pedang, Dart Luke? Sosok pahlawan perang di Lembah Gersang itu?”
Mendapat pertanyaan tersebut, Dart menoleh dan memberikan senyum padanya. “Ou, aku Dart Luke.” Wajah Fiola langsung berseri, bagaikan menemukan cahaya yang lebih terang lainnya dalam hidup. Merasa hatinya membara akan semangat untuk melayani, perasaan loyal dengan jelas tumbuh dalam benaknya.
Pada akhirnya, gadis rubah yang ternyata telah menguntit Proten selama seharian itu masuk ke dalam rombongan Dart. Meski Proten sendiri tidak terlalu menyukai gadis rubah tersebut, dirinya terpaksa mengakrabkan diri karena akan bersama ke depannya.
Pada detik itulah, sebuah Party yang kelak disebut dengan Pembasmi Iblis terbentuk. Mereka benar-benar menjadi kelompok dan berpetualang bersama di kekaisaran untuk memburu para anggota Aliran Sesat. Pada misi pertama mereka bersama, pembasmian di daerah Hutan Kabut menjadi lebih mudah daripada saat Dart melakukannya sendiri.
Beberapa bulan setelah terbentuknya kelompok tersebut dan prestasi mereka karena membasmi banyak iblis beserta markas Aliran Sesat, nama mereka terkenal dengan cepat dan menjadi Party paling terkenal di kalangan Guild kekaisaran.
Mendengar prestasi Party Dart tersebut, pihak Konferensi Keempat Negeri mengadakan peninjauan kembali pada tugas yang diberikan kepada Kepala Keluarga Luke tersebut. Dari tugas yang awalnya hanya mengatasi Aliran Sesat yang ada di daerah kekaisaran, mereka juga diberikan tugas untuk membasmi pergerakan iblis di negeri lain seperti Kerajaan Ungea.
Pada saat melakukan tugas-tugas tersebut, Dart dan Mavis mendapat gelar pahlawan karena dalam dokumen resmi konferensi mereklah orang yang tercatat melakukan prestasi dalam pembawaan kedamaian tersebut. Dalam catatan resmi lainnya, sosok yang mendapat gelar pahlawan juga didapat beberapa orang dari Kekaisaran Urzia dan Kerajaan Ungea karena melakukan prestasi yang serupa, meski tidak sebanyak yang Party Dart lakukan.
======================================================
Terima kasih untuk kalian para penikmat yang sudah membaca seri ini. Semoga seri ini semakin menarik.
Untuk pembaca, silakan dukung seri ini dengan:
Like, Komentar, Saran, 5 bintang, dan Share kalian.
See You Next Time!!
__ADS_1