
Ibukota Kerajaan Felixia, Millia, sebuah kota besar yang mengambil nama Danau Millia yang terletak beberapa kilometer dari pusat perkotaan. Kota tersebut memiliki kepadatan penduduk sampai 2.000 jiwa lebih per kilometer. Dari segi arsitektur bangunan, Ibukota Kerjaan Felixia merupakan sebuah kota dengan unsur benteng yang dikelilingi tembok raksasa dan menara-menara pengawas di berbagai sudut. Memiliki jalanan yang terbuat dari bebatuan yang disusun rapi, saluran irigasi merata dengan sumbar Danau Millia, dan memiliki kerapatan bangunan yang tinggi untuk pemukiman dan berbagai sektor lainnya.
Dalam pola pembangunan di Ibukota tersebut, terdapat lebih dari lima belas jalan utama yang menyatu ke arah empat gerbang utama yang terletak di keempat arah mata angin dari pusat kota. Sektor utama tempat tersebut terbagi menjadi empat wilayah menurun fungsi kuadran, yaitu untuk pemukiman rakyat dan pekerja, pemukiman para bangsawan, kegiatan industri umum seperti jasa dan dagang, dan terakhir adalah wilayah untuk Keluarga Kerajaan yang luasnya paling sempit dari semua wilayah tetapi letaknya paling strategis karena berdiri di atas bukit yang berbatasan langsung dengan Danau Millia. Ada juga wilayah militer yang tersebar melingkar mengikuti garis benteng. Dalam hal itu, wilayah militer menjadi wilayah khusus yang pengaturannya independen tidak di bawah bangsawan atau para penjabat, tetapi tetap berada dalam pengawasan Raja.
Setengah bulan setelah diangkatnya Raja dan Ratu baru Kerajaan Felixia, suasana perayaan masih terasa dan jalan-jalan terlihat dihiasi ornamen bendera dan bunga-bunga. Memang ada beberapa orang, terutama pihak militer tidak bisa memasang wajah senang atas perayaan yang ada karena korban yang jatuh pada peperangan terakhir terlalu banyak. Tetapi, suasana kegembiraan dan kemeriahan masih tersebar jelas di penjuru Ibukota.
Di wilayah Keluarga Kerjaan, terlihat sebuah istana besar yang merupakan pusat dari pemerintahan Kerajaan Felixia. Istana tersebut dibangun dengan mengukir bukit batu marmer di dekat Danau Millia menjadi sebuah bangunan megah berwarna putih, memiliki satu bangunan utama bertingkat-tingkat, lima menara tinggi di sekitarnya, dan sebuah taman yang dirawat indah di tengah istana.
Pada teras di dekat taman istana, seseorang dengan paras berwibawa tinggi berjalan cepat. Sosok tersebut mengenakan jubah berwarna biru tua, alas kaki kulit sepatu kayu dengan motif rumit, dan mahkota sebagai tanda seorang penguasa. Dia adalah Raja baru Felixia, Gaiel vi Felixia. Dengan sorot mata mengantuk dan berkantung gelap, sang Raja tergesa-gesa menuju ke suatu tempat setelah rapat dengan para senat selesai.
Tanpa dikawal oleh satu pun penjaga, Raja muda tersebut berjalan di teras menuju ke tempat sahabatnya. Berbelok di persimpangan, Ia masuk ke lorong dan berhenti di depan pintu salah satu kamar tamu kehormatan di istana tersebut. Raja Gaiel mengetuk pintu beberapa kali, tetapi tidak ada jawaban. Langsung membuka pintu kamar tersebut, sang Raja sempat terkejut melihat sahabatnya yang ada di dalam kamar.
Dart Luke, pemuda yang terkenal lebih suka melatih kemampuan pedangnya di halaman atau tempat latihan militer, sekarang malah duduk di lantai keramik kamar dengan pencahayaan terang dan terlihat sedang membaca buku. Gaiel sempat tidak percaya melihat sahabatnya mau membaca dan berlama-lama di dalam kamar, setahu sang Raja sifat pemuda berambut hitam itu lebih suka kegiatan di luar ruangan seperti berlatih dan berkebun.
“Dart ....?”
Mendengar namanya dipanggil, pemuda yang duduk di atas lantai sambil bersandar pada ranjang tersebut menutup bukunya. Menoleh ke arah Raja Gaiel, sorot mata pemuda tersebut terlihat sangat berbeda. Ia sudah tidak terlihat kosong, matanya seakan memiliki tujuan hidup yang jelas.
“Ada apa, Gaiel? Bukannya kau sedag rapat dengan para senat yang bisanya bicara doang itu? Rapatnya sudah selesai ya ....”
Dart meletakkan buku besar di tangannya ke atas ranjang, lalu mulai berdiri. Memakai alas kaki sandal kulit, pemuda tersebut berbalik menghadap Raja Gaiel. Wajahnya Dart memang terlihat murung, tetapi jelas terasa ada yang terasa berbada darinya, Gaiel sebagai sahabatnya sangat tahu akan hal tersebut.
“Bisa ... keluar sebentar? Aku ingin berbicara denganmu ....”
“Oh ..., tentu. Tunggu dulu di luar, aku mau beres-beres buku dulu.”
__ADS_1
Dart mulai menata tumpukan buku yang ada di lantai ke pojok ruang, lalu berjalan ke arah Gaiel dan ikut keluar bersama. Sebelum pergi, pemuda tersebut sempat menutup pintu kamarnya dengan rapat dan itu membuat Gaiel terkejut karena kepribadian Dart tidaklah seperti itu.
Berjalan ke arah taman istana, mereka berdua duduk bersebelahan di bangku taman. Kicauan burung terdengar, gemericik air mancur di depan mereka membuat rasa damai terasa jelas, dan hembusan angin sejuk membuat suasana segar terasa. Duduk di samping sahabatnya, Dart tidak memulai percakapan dan tidak bertanya sesuatu tentang keadaan Kerjaan sekarang.
“Dart ..., apa kau tidak kembali ke wilayahmu? Kau sudah meninggalkan wilayah Keluarga Luke lebih dari setengah tahun, bisa-bisa nama Luke makin merosot ....”
Mendengar itu, Dart mendongakkan kepala dan melihat langit biru cerah. “Untuk apa? Di sana sudah tidak ada apa-apa lagi .... Keluargaku sudah tidak ada, bahkan keluarga cabang juga ...,” ucap pemuda tersebut seraya menoleh ke arah Raja Gaiel.
“Rakyat wilayahmu butuh seorang pemimpin. Merek―”
“Mereka orang asing, tidak ada kaitannya denganku. Kau tahu, aku bahkan tidak pernah menyentuh hal-hal seperti itu ..., kakak yang melakukan semuanya. Aku tidak punya kemampuan untuk memimpin wilayah. Lagi pula ..., bukannya Kepala Keluarga Rein yang baru saja dilantik itu sudah mengurusi wilayah Luke juga, bukan? Untuk apa aku ....”
“Haaah, kenapa kau selalu manja seperti ini.”
Dart terusik dengan perkataan Gaiel. Melirik dengan tajam, pemuda itu memancarkan aura permusuhan yang kuat. “Ya ..., tidak sepertimu yang berbakat dan impiannya terwujud, aku orang gagal. Aku kehilangan segalanya! Bukannya enak ..., bisa menikahi pujaan hatimu dan menduduki tahta tertinggi di Kerjaan ini?”
“Sepertinya memang kata-kata tidak bisa menggerakkanmu, ya .... Kalau begitu, Dart. Ini perintah dari Raja, ikut aku ke kota Miquator nanti!”
Alis Dart terangkat mendengar itu. “Hah? Kenapa? Untuk apa?” ucapnya dengan heran.
Menjauhkan wajah, Raja Gaiel melihat air mancur bertingkat di depannya. Dengan tatapan lelah, Raja muda itu berkata, “Sepertinya kabar itu belum kau dengar ya .... Kerajaan kita ..., Felixia akan menadakan konferensi dengan pihak Miquator dan Kekaisaran. Karena peperangan tidak berlanjut hampir setahun setelah perang di Lembah Gersang, peperangan menemui titik buntu. Ketiga pihak mengalami kerugian besar dan tidak bisa melanjutkan peperangan, alur perang masuk fase gencatan senjata seperti sekarang. Karena itu, aku mengajukan usulan pada mereka untuk mengadakan konferensi di Kota Sihir itu dan disetujui oleh Kekaisaran dan Miquator sendiri sebagai tuan rumah.”
Dart benar-benar baru mendengar itu. Menyilangkan kaki kanan ke atas kaki kiri, pemuda berambut hitam itu menghela napas dengan malas. “Kenapa aku harus ikut?” tanyanya seraya melirik tajam.
Raja Gaiel menatap ke arah Dart, lalu tersenyum kecil kepada sahabatnya tersebut. Memegang pundaknya, Raja muda itu berkata, “Yang akan aku datangi adalah wilayah musuh. Meski kunjungan itu untuk alasan diplomasi, tapi tetap saja aku butuh penjaga. Aku hanya percaya padamu, karena itu aku mengajakmu. Terlebih lagi ..., kau juga ingin tahu tentang keadaannya, bukan?” Mengangkat tangan dari pundak Dart, Raja Gaiel kembali melihat air mancur di hadapannya.
__ADS_1
“Apa maksudmu?”
“Kalau tidak salah ..., namanya Mavis ya, perempuan yang melakukan bentuk manifestasi malaikat itu ....”
Dart sesaat terdiam. Dalam benak pemuda tersebut memang ada rasa ingin bertemu, karena sebagian informasi dan perasaan milik perempuan bernama Mavis itu pernah mengalir dalam dirinya. Dari hal tersebut, Dart berubah. Sifatnya yang keras kepala sedikit berkurang, dan rasa apatis dengan kondisi sekitar mulai hilang. Hasil dari itu adalah munculnya kemauannya untuk membaca buku.
“Baiklah ..., aku akan ikut. Tapi ..., apa tujuanmu mengadakan konferensi itu?”
“Untuk perdamaian ....”
“Ah?”
Menoleh ke arah Dart, Gaiel mengangkat jari telunjuk seraya berkata, “Kau tahu, aku belum sempat tidur dengan Dalia karena rapat melulu. Kalau ada perang lagi, tidak ada jaminan kalau aku akan selamat.”
“Nih orang .... Hah, dasar buta cinta.”
Kembali mendongak ke atas, Dart merasa setuju soal perdamaian yang dikatakan Gaiel. Dalam benak pemuda tersebut, dirinya dari dulu memang tidak menyukai apa yang bernama perang meski telah dibesarkan di medan perang.
Ikut mendongak dan melihat langit cerah bersama Dart, Raja Gaiel berkata, “Kau tahu, Dart. Jatuh cinta itu rasanya membuat hidup lebih berarti, dan membuat cara pandang terhadap dunia berubah. Aku sangat yakin kalau diriku ini adalah pria yang paling mencintai Dalia, dia juga berkata demikian padaku .... Jujur, ini kebahagiaan terbesar yang perah aku rasakan. Mimpiku menjadi kenyataan ....”
“Aku tidak akan jatuh cinta kurasa. Terlebih lagi, siapa yang mau dengan bangsawan gagal sepertiku?”
“Merendah diri?”
“Itu kenyataan.”
__ADS_1
Setelah itu, mereka berbicara beberapa hal lainnya sebelum Gaiel pergi ke pertemuan penting lain. Sebagai seorang Raja, Ia memiliki jadwal sangat ketat sampai tidak sempat melakukan bulan madu dengan sang Ratu. Pada usulan yang diberikan Gaiel kepada Dart, pemuda tersebut meminta syarat kalau konferensi berhasil, Raja Gaiel harus memberikan waktu dan rute untuk membuatnya bertemu dengan Mavis. Itu bukan berarti Dart memiliki perasaan khusus atau semacamnya, Dart hanya sebuah rasa penasaran dengan keadaan perempuan tersebut setelah terakhir bertemu di medan perang.