Re:START/ If/ Great War Record

Re:START/ If/ Great War Record
Records 02: Penyihir Cahaya dan Sang Ahli Pedang II (Part 02)


__ADS_3

Di bawah pulau melayang, Aldebaran, puluhan Wyvern yang ditunggangi para penyihir satu persatu berjatuhan, dipotong sayapnya dan penunggang terpenggal kepalanya. Sosok yang melakukan semua itu adalah Dart. Meski hanya dirinya yang tersisa dari Keluarga Luke, pemuda itu sama sekali tidak mundur atau menyerah.



Menggunakan Mana yang dipadatkan sebagai pijakan untuk meloncat di udara, pemuda itu membantai para penyihir yang beterbangan dengan sapu dan Wyvern mereka seraya menghindari serangan dari tiga penyihir Intara Hexe yang mengejar. Sosok pemuda itu sadar kalau bertarung langsung melawan mereka sangatlah merugikan, terutama sosok imitasi malaikat yang bisa dikatakan sangat merepotkan bagi pemuda tersebut karena kuantitas Mana yang dimiliki makhluk imitasi tersebut sangat melimpah.



“Sialan kau! Jangan kabur pengecut!!”



Dart sama sekali tidak memedulikan hinaan Mavis, dan tetap meloncat-loncat di udara menggunakan teknik pemadatan Mana miliknya. Menebas setiap penyihir yang dilewati, sudah tidak terhitung nyawa yang diambil Dart dalam peperangan.



Pemuda itu sama sekali tidak memperlihatkan wajah puas atau bersalah, dalam benak hanya ada hasrat membunuh sebanyak mungkin untuk melampiaskan perasaan dalam benaknya. Sedikit melirik ke belakang, Dart memastikan kalau Vib, Mavis, dan Ibio masih mengejarnya.



Mengejar Dart yang bergerak cepat di udara, Mavis menggunakan sihir panah cahaya untuk menghambat pergerakan pemuda tersebut. Dart menghindarinya dengan mudah, lalu memantulkan balik serangan tersebut dengan ayunan pedang.



Mavis menghindari pantulan sihirnya itu, lalu kembali melancarkan serangan serupa. Sadar tidak ada habisnya, Dart membuat pijakan Mana padat untuk melesat ke permukaan. Mendarat di atas tanah dengan kaki kiri terlebih dahulu, pemuda tersebut langsung berlari cepat di antara pasukan kerajaan dan kekaisaran yang masih tersisa.



Ketiga penyihir Intara Hexe yang mengejar Dart melihat pemuda tersebut dengan tatapan tajam dan tidak melepaskan pandangan mereka. Meski begitu, tiba-tiba Dart lenyap dari penglihatan mereka dan benar-benar menyembunyikan keberadaannya. Beberapa puluh detik berusaha mencari pemuda tersebut di antara pasukan yang ada di bawah, tiba-tiba Dart telah meloncat ke arah mereka bertiga dari belakang.



Tidak ada di antara Mavis, Vib, atau pun Ibio yang menyadari pergerakan lincah yang dikombinasikan teknik Langkah Dewa pemuda tersebut. Tanpa membiarkan mereka menoleh ke belakang, Dart langsung membuat Mana sebagai pijakan di bawah kedua kakinya sendiri untuk memantapkan kuda-kuda saat berada di udara.



“Teknik Pedang ....” Dart mengalirkan Mana pada pedang di tangan kanan yang menjadi satu-satunya senjata, lalu menekuk siku kanan dan menodongkan ujung pedang ke depan. Mengarahkan kepalan tangan kiri ke depan untuk membidik, pemuda tersebut langsung melancarkan tiga tusukan sangat cepat dan hampir pada waktu yang bersamaan. “Tiga Tanduk!” Tusukan tersebut dengan telak mengenai ketiga penyihir Intara Hexe tersebut, dan yang paling parah adalah Vib karena tepat mengenai punggung kanan sampai tembus ke dada.



Baru menyadari keberadaan Dart setelah serangan, dalam hitungan detik Ibio segera meregenerasi bagian bahunya yang rusak dengan petir dipadatkan. Menoleh dan melihat Dart hendak melancarkan serangannya lagi, imitasi malaikat tersebut mengubah sepasang sayap petirnya menjadi tangan dan mendorong Mavis beserta Vib ke bawah. Mengubah sepasang sayap petir lain menjadi sepasang tangan petir padat, Ibio langsung melancarkan tinju tangan berbentuk energi tersebut ke arah Dart.



Tidak gentar dengan pukulan yang datang secepat kilat tersebut, Dart tetap fokus dan tidak mengubah posisi kuda-kudanya di atas Mana yang dipadatkan. Sesaat sebelum pukulan petir tersebut mengenai kepala pemuda itu, sosoknya menghilang dari tempat dengan seketika. Muncul kembali kurang dari hitungan dua detik, Dart telah meloncat di atas Ibio dan siap melancarkan tebasan.



“Teknik Pedang ....” Dart menggenggam gagang pedangnya dengan dua tangan, lalu memperkuat otot tangannya untuk mengumpulkan tenaga. Menarik napas dan menyesuaikan momentum, pemuda tersebut menebaskan pedangnya ke bahwa secara horizontal. “Cakar Tunggal!” Tebasan Dart memotong keempat tangan Ibio yang tumbuh dari punggung. Membuat pijakan di udara dengan Mana dipadatkan, pemuda itu berputar di udara dan bersiap melancarkan teknik selanjutnya.



“Gwwaaaaa!!”



Ibio menjerit keras dan menyebarkan petirnya ke segala arah. Dart langsung membatalkan teknik pedangnya, lalu menyilangkan kedua tangannya ke depan untuk menahan sambaran petir. Terpental beberapa meter ke atas, pemuda itu berputar di udara dan langsung menggunakan Mana padat sebagai pijakan untuk meloncat menjauh.



Mavis dan Vib yang terkena tusukan sebelumnya jatuh ke permukaan, beberapa tulang mereka patah karena hal itu. Melihat pertahanan mereka berdua terbuka lebar karena meringkuk kesakitan di atas permukaan tanah, Dart berhenti mundur dan memutuskan untuk menyerang lagi. Pemuda itu melesat ke bawah menggunakan Mana sebagai pijakan untuk meloncat ke bawah.



Tidak membiarkan Dart menyerang Mavis dan Vib, Ibio langsung mengaktifkan gaya elektromagnetik pada mata pedang ke arah Dart yang sebelumnya menyentuh petirnya, lalu membuat bola petir di udara untuk ditembakkan. Dart menghindari serangan yang terlihat lambat di matanya itu dan menghancurkannya dengan tebasan pedang, lalu menyerang balik dengan tebasan jarak jauh menggunakan Mana ke arah punggung kanan Ibio.



Tangan kanan imitasi malaikat itu putus, dan hanya tinggal tangan kiri saja yang tersisa. Dart mengubah incarannya dan melesat menggunakan Mana dipadatkan ke arah Ibio di udara, sudut posisi pedangnya diubah dan sebuah tebasan horizontal langsung terarah ke pinggang malaikat imitasi tersebut.



Tetapi sebelum pedang milik Dart bisa memotongnya, tiba-tiba pemuda tersebut dipindahkan ke bawah sebelum dirinya sadar. Dart melayang jatuh tepat ke arah tombak patah yang tertancap di tanah dan ujung runcingnya mencuat ke atas.



“Tch!” Dart segera membuat Mana padat di udara, lalu menendangnya dan berputar beberapa kali untuk mengubah tempat jatuh. Mendarat dan berguling di permukaan tanah, pemuda tersebut langsung bangun dan mendongak ke atas.



Seperti apa yang dipikirkan, sosok yang memindahkannya terlihat melayang beberapa belas meter di udara, tepat di dekat Ibio. Sosok yang datang tersebut adalah Penyihir Agung, saat bertatapan mata dengannya, Dart merasakan emosi yang langsung memuncak.



“Ah, lagi-lagi teleportasi menggunakan sihir ruang lagi! Sungguh, sihir itu menyebalkan ya. Sangat membuat kesal, akhh!!!”



Dart menghentak-hentakkan kaki kanannya sampai sepatu kulitnya rusak, dan telapak mengecap jelas di permukaan tanah. Melepas sepatu dari kedua kakinya, pemuda tersebut membuang itu ke belakang.



Memasang wajah kesal, sifat temperamental pemuda itu mulai muncul dengan jelas. Dart tidak pernah merasakan hal tersebut sebelumnya, rasa kesal yang mencapai tingkat murka pada sesuatu.



Penyihir Agung melayang turun ke permukaan bersama Ibio, lalu menyembuhkan Mavis dan Vib dengan sihirnya. Lingkaran sihir tercipta di atas kedua orang tersebut, lalu dalam hitungan detik luka tusukkan yang dibuat Dart tertutup dengan cepat.



Mavis pulih terlebih dahulu, tetapi Vib membutuhkan waktu lebih lama karena luka yang diderita lebih parah. Ibio yang ikut turun mulai meregenerasi tangan dan sayap petirnya dengan energi melimpah yang masih ada dalam tubuh imitasi malaikat tersebut.



Tidak membiarkan proses penyembuhan mereka selesai, Dart menggunakan Langkah Dewa dan langsung menghilangkan jarak yang ada dengan gerakan yang tidak bisa ditangkap secara visual.



Menghilang dari penglihatan semua orang yang melihat ke arahnya, Dart kembali muncul tepat satu meter di depan Penyihir Agung. Pemuda itu langsung menusukkan pedangnya dengan penuh amarah. Sebelum bisa mengenai Penyihir Agung, dirinya kembali dipindahkan ke belakang, beberapa belas meter dari para penyihir tersebut berada.



Tidak memedulikan hal tersebut dan benar-benar tertelan amarah, Dart kembali menggunakan Langkah Dewa untuk mendekat. Sekali lagi, dirinya dipindahkan menjauh beberapa belas meter. Lagi, lagi, lagi, lagi, dan lagi, Dart terus menggunakan Langkah Dewa dan terus menerus berusaha menyerang Penyihir Agung dan bahkan sampai tidak memedulikan proses penyembuhan Vib.



“Pemuda, apa yang kau lakukan percuma. Di sekitar diriku sudah tercipta distorsi spasial, kau akan terus dipindahkan beberapa kali pun mencoba.”



Sama sekali tidak mendengarkan perkataan Penyihir Agung, Dart tetap menggunakan cara yang sama untuk menyerang dan terus dipindahkan menjauh. Setelah percobaan ke lima puluh tuju kali dalam waktu kurang dari tiga puluh detik, pemuda itu mulai paham konsep distorsi yang digunakan Penyihir Agung.



Sekali lagi menggunakan Langkah Dewa, pemuda itu berhenti dalam jarak tipis beberapa sentimeter dari batas distorsi. Melihat sebuah ruang tipis yang melengkung secara visual, Dart langsung berputar menggunakan kaki kanan sebagai tumpuan dan menebas ruang tersebut. Suara seperti kaca yang pecah terdengar, membuat Penyihir Agung terbelalak saat melihat sihir andalannya bisa dihancurkan hanya dengan sebuah tebasan pedang.



Segera memasang kuda-kuda, pemuda berambut hitam tersebut menyiapkan teknik pedangnya. Ibio yang melihat itu menyerang Dart dengan pukulan petir, sedangkan Mavis melancarkan sihir panah cahaya. “Tenik Pedang ... Lebah Tunggal!” Dart menghilang dari tempatnya dan melewati serangan kedua penyihir tersebut. Berdiri tepat satu meter di depan Penyihir Agung, Dart langsung mencengkeram leher Penyihir Agung dengan tangan kiri dan langsung menusukkan pedangnya melalui bagian bawah lengan kiri. Crak! Pedang patah, sebuah sihir perisai tebal melindungi Penyihir Agung pada detik terakhir sebelum ujung pedang menusuk dadanya.



Paham serangannya tidak berhasil, Dart langsung menggunakan Langkah Dewa dan mundur beberapa meter menjauh. Membuang pedangnya yang sudah patah, Dart terlihat semakin kesal akan sesuatu yang tidak jelas. Kehampaan yang selalu ada dalam dirinya benar-benar berubah menjadi amarah yang tidak jelas diarahkan untuk apa.


__ADS_1


Melihat ke arah Penyihir Agung dan lainnya yang terlihat panik karena serangan tadi, Dart sedikit memasang senyum datar dengan niat menghina. Meningkatkan aura tempurnya, pemuda itu sama sekali tidak berniat berhenti bertarung meski sudah kehilangan senjata. Sebelum sempat menggunakan Langkah Dewa untuk menyerang kembali, tiba-tiba Penyihir Agung bertanya.



“Pemuda, sebenarnya apa yang engkau perjuangkan sampai-sampai bertarung seperti orang gila? Apa kau ingin membalaskan dendam ayah dan kakakmu?”



Wajah Dart seketika berubah datar mendengar itu. Pemuda tersebut bertarung bukan untuk membalaskan dendam, bahkan hal seperti itu sama sekali tidak terbesit dalam benak terdalamnya.



Kematian adalah hal yang wajar bagi makhluk hidup, itulah yang menjadi akal sehat pemuda tersebut. Karena itu, meski keluarganya meninggal Dart sama sekali tidak merasa sedih atau sejenisnya, hanya sebuah kata keharusan yang mendorong pemuda itu tetap berada di tengah medan perang.



“Ah ..., entahlah. Mungkin ... aku hanya kesal pada kalian.” Dart menunjuk ke arah para penyihir di hadapannya dengan tatapan datar, kemudian kembali berkata, “Kalian para penyihir ..., entah mengapa seperti memandang rendah yang lainnya, ya?” Menurunkan tangan, pemuda tersebut mulai melotot tajam penuh murka. “Padahal cuma pernah baca beberapa lusin buku saja, kalian para penyihir menganggap diri kalian sudah berbeda kasta dan memandang rendah segalanya. Kalian pikir siapa diri kalian!? Hah!? Sok berlaga seperti orang intelektual dan memandang rendah segalanya! Kalian itu hanya sekumpulan pengecut yang cuma bisa berdiam di dalam kandang! Apa kau pernah dengar perkataan ini? Air tenang itu tempat berkumpul kotoran, itu sangat tepat untuk menggambarkan Miquator!”



“Kalau begitu, apa peperangan yang selalu kalian lakukan itu tindakan gagah dan pantas dipuji? Apa penindasan dan penundukan dengan kekuatan itu sesuatu yang benar? Jawab diriku, pemuda.”



“Tentu saja salah, siapa juga yang bilang kalau perang itu benar! Kau pikir aku ikut perang karena keinginanku sendiri? Kalau bisa ..., aku ingin diam di rumah dan berkebun! Sialan! Kenapa ... aku harus ....”



Penyihir Agung terdiam mendengar jawaban seperti itu. Berbeda dari apa yang dirinya tahu tentang garis keturunan Luke yang suka bertarung, pemuda berambut hitam tersebut sama sekali tidak terlihat seperti itu.



Sorot mata hitam yang tidak menginginkan apa-apa, raut wajah penuh rasa lelah, dan hela napas yang sesekali keluar, pemuda di hadapan Penyihir Agung tersebut sama sekali tidak memuliki ambisi untuk mencapai kehormatan atau penghargaan dalam perang.



“Lantas kenapa dirimu terus membunuh para penyihir di medan perang ini?”



Dart terdiam dan tidak langsung menjawab. Pemuda itu mengulurkan tangan kanannya ke depan, lalu mulai mengalirkan Mana dalam jumlah besar. Dalam hitungan tiga detik, Mana putih terang yang berkumpul tersebut mulai memadat dan membentuk sebuah pedang sepanjang satu setengah meter di genggaman tangan Dart. Itu bukanlah sihir, tetapi salah satu bentuk manipulasi bentuk Mana tingkat tinggi. Melihat apa yang dilakukan Dart, Penyihir Agung merasakan potensi yang sangat besar dari pemuda itu.



“Kau tahu, Penyihir Agung .... Ini perang, kau paham artinya? Perang bukan soal masalah individu, ini masalah negeri. Hanya karena tidak mau, bukan berarti orang sepertiku yang diberkahi talenta bisa bermalas-malasan.”



“Talenta ... ya. Kalau dirimu lahir di Miquator, mungkin dirimu tak usah dibebani masalah seperti itu, pemuda.”



“Hah! Aku tidak sudi!”



Menggenggam pedang Mana padat dengan kedua tangan, pemuda tersebut memasang kuda-kuda aliran pedang Keluarga Luke tingkat terakhir. Menegakkan badan dengan kaki kanan lebih maju sedikit, pemuda itu mengulurkan kedua tangan ke depan, dan menyilangkan tangan kanan yang memegang pedang ke atas tangan kiri.



“Teknik Pedang Utama ... Wujud Aw―”



Sebelum menyempurnakan kuda-kudanya, tiba-tiba rasa nyeri luar biasa menyerang kedua kakinya. Pemuda tersebut langsung terjatuh berlutut, dan napasnya mulai terengah-engah tidak beraturan. “Si-Sialan! Sudah batasnya ya .... Nyeri ini ....” Seluruh tubuh Dart mulai merasakan nyeri luar biasa, itu merupakan kram dan cidera otot berat karena terlalu sering mengalirkan Mana dalam tubuh selama beberapa jam. Dalam gaya bertarung Dart yang mengandalkan kecepatan dan ketajaman, kelemahan jelas yang dimilikinya adalah batas kemampuan ototnya untuk tetap bergerak mengikuti bakat pemuda tersebut.



“Begitu ya ..., dirimu juga punya batasan rupanya. Sayang sekali pemuda penuh talenta seperti dirimu harus mati ....”




Semua orang terkejut melihat kepala tersebut yang ternyata milik seri kedua Intara Hexe, Iiagran. Wajah dari kepala yang menggelinding di tanah itu penuh luka memar, mata kirinya telah pecah, dan pada mulut tertancap belati yang tembus sampai belakang kepala.



“HAAAA!!!” Mavis langsung menjerit histeris melihat itu, sedangkan Penyihir Agung murka melihat salah satu ciptaan yang telah dirinya anggap seperti anaknya sendiri dalam kondisi mengenaskan seperti itu.



Menengok dengan penuh amarah ke arah kelapa tersebut dilemparkan, ketiga Intara Hexe dan Penyihir Agung melihat sosok pria tua keriput berjalan dengan tatapan gelap ke tempat mereka.



Hanfu yang dikenakan pria tua itu penuh darah, luka pada kulit keriputnya terlihat menganga pada kedua tangan dan wajah. Sosok yang datang itu adalah salah satu Komandan Zodiak Kekaisaran, Qion Sang Ular.



“Bocah dari Felixia, terima kasih sudah membuat mereka berkumpul bersama seperti ini. Tenang saja, para jalang itu akan mati segera .... Mereka sudah berani membunuh anak angkatku, jangan pikir bisa keluar dari medan perang ini hidup-hidup.”



Pria tua yang sebelumnya terlihat kurus kalau tertutup kain Hanfu yang dikenakan, ternyata lebih kekar dari penampilannya. Kulit keriput dan kurusnya sama sekali tidak mencerminkan kekuatan sebenarnya. Saat Hanfu yang dikenakan dibuka sampai pinggang dan telanjang dada seperti sekarang, tubuh yang telah ditempa melalui latihan puluhan tahun terlihat jelas. Bekas luka, lekuk otot, urat tebal, dan beberapa luka sayatan yang masih segar terlihat pada tubuhnya.



“Quon ..., apa dirimu yang membunuh Iiagran?” tanya Penyihir Agung.



“Oooh, tentu saja! Tidak kusangka Anda benar-benar memaksa boneka itu menggunakan teknik terlarang tersebut ya, Guru Besar. Karena itu ..., anak angkatku mati.”



Pria tua itu menatap tajam. Memasang kuda-kuda tinju ular dengan tangan kanan siap mematuk, Ia mulai meningkatkan aura tempur dan benar-benar bersiap membunuh sosok yang pernah membesarkannya tersebut. Penyihir Agung memasang wajah bingung untuk murka.



Sosok perempuan yang dikenal sebagai Penyihir Agung tersebut adalah manusia yang menjadi seorang Deity. Karena hal tersebut, dirinya telah hidup dalam beberapa generasi dan membesarkan beberapa murid didik kesayangan yang tersebar di benua Michigan, salah satu di antaranya adalah pria tua yang sekarang menatap dengan penuh rasa nafsu membunuh di hadapan.



“Quon ..., apa kau sudah punya keluarga?” tanya Penyihir Agung.



“Diriku di sini bukan untuk reuni!!”



Pria tua tersebut langsung berlari ke arah Penyihir Agung. Sebelum sempat menyerang, Mavis tiba-tiba membuat pedang cahaya dan ditebaskan ke arah pria tersebut. Pedang itu ditangkap Quon dengan tangan kanan, dihimpit antara keempat dari dan jempol yang berselimut Mana untuk menahan panas pedang tersebut.



Menarik pedang cahaya tersebut, itu ikut membuat Mavis yang memegangnya tertarik, dan Quon langsung melancarkan pukulan tapak tangan tepat ke arah dada Mavis. Serangan tersebut telak mengenainya dan membuat Mavis muntah darah, lalu tubuhnya terpental ke belakang karena gelombang kejut dari pukulan.



Ibio datang menyerang Quon setelah Mavis terpental, imitasi malaikat itu mengayunkan pedang petir padat secara horizontal ke arah pria tua itu. Serangan tersebut ditangkap dengan cara yang sama saat, lalu pria tua tersebut kembali melancarkan pukulan tapak ke arah dada.



Saat pukulannya mengenai tubuh Ibio, bentuk fisik imitasi malaikat itu terlepas dan berubah menjadi energi petir seutuhnya karena telah memprediksi pergerakan pria tua tersebut. Kembali membentuk wujud fisik di belakang Quon, imitasi malaikat itu menyerang dengan pukulan petir dari titik buta.

__ADS_1



Itu percuma, penglihatan hanyalah sebuah indra yang sudah tidak Quon andalkan karena pada dasarnya Ia sudah mulai rabun. Menggunakan Battle Art pasif miliknya, pria tua itu menjulurkan lidah dan mendeteksi pergerakan di sekitarnya dengan cepat. Menemukan letak Ibio, pria tua itu merunduk dengan melebarkan kedua kakinya ke samping untuk menghindari serangan. Langsung menyikut ke belakang untuk menghancurkan pelindung petir imitasi malaikat tersebut, Quon segera berdiri dengan tangan kiri dan berputar di udara untuk melancarkan tendangan tepat ke arah dada Ibio sebelum imitasi malaikat tersebut meregenerasi pelindungnya. Ibio terpental dan dada dari tubuh petirnya sampai retak karena serangan tersebut.



Segera memantapkan kuda-kuda dengan memijakkan kedua kaki di atas permukaan tanah dengan cepat, Quon kembali menyerang ke arah Penyihir Agung. Tetapi sebelum sempat melancarkan serangan, pria tua itu dipindahkan sebelum Ia sadar dan tiba-tiba telah berdiri di samping Dart. “Hah?” Sesaat terkejut, Quon langsung paham kalau itu ulah Penyihir Agung.



“Sihir spasial ya .... Tch! Dari dulu sihir itu memang menyebalkan memang! Seakan menghina kerja keras seseorang ....”



Quon memasang kuda-kuda pukulan ularnya kembali, bersiap bertarung dan meningkatkan aura tempur. Dart yang masih belum pulih dari rasa ngilu mulai berdiri, tepat di sebelah Quon dan menatap tajam ke arah keempat penyihir di hadapan.



“Bocah Luke, apa kau masih bisa bertarung?” tanya Quon.



“Tentu saja!”



“Begitu ya ..., apa kau ingin membalaskan dendam ayahmu?”



“Tidak ..., aku hanya ingin membunuh mereka.”



Dart menyeringai gelap. Melihat hal itu, Quon tersenyum karena menemukan orang yang memiliki tujuan sama. “Orang tua ini suka senyummu, nak!” ucap Komandan Ular tersebut. Dart memaksa tubuh memeras Mana yang tersisa, dan kembali membentuk pedang Mana padat di genggaman tangan kanan. Pembuluh darah di sekitar tangan pemuda itu pecah dan mengeluarkan darah, otot di sekitar matanya mengencang dan sampai kedua matanya mengeluarkan air mata darah.



Bersaing dengan Dart dalam hal semangat dan ambisi mengalahkan para penyihir, Quon memusatkan Mana pada kedua tangan dan memanipulasi bentuknya menjadi ular yang seakan hidup. Para penyihir ikut bersiap melihat gelagat kedua orang tersebut.



Penyihir Agung mulai kembali mengatur sihir spasialnya, Ibio mulai meregenerasi bagian tubuhnya dengan energi petir, Vib bersiap dengan sihir perisainya, dan Mavis mulai meningkatkan tekanan sihir sampai membuat sinar terang keluar dari tubuh.



Langkah pertama diambil Quon, pria tua itu melancarkan tinju ularnya dan memanipulasi Mana berbentuk ular untuk melakukan serangan jarak jauh. Seakan hidup, Mana berbentuk ular melesat di udara dari pukulannya, mengarah dengan cepat ke Ibio yang dianggapnya musuh paling merepotkan setelah Penyihir Agung. Mengetahui serangan itu mengincarnya, imitasi malaikat itu tetap diam. Tanpa bisa mengenai sasaran, Mana kemerahan berbentuk ular itu masuk ke dalam distorsi ruang dan dipindahkan ke belakang Quon.



Pria tua itu tidak menyadari distorsi berpola milik Penyihir Agung. Dengan sangat cepat, Dart mengayunkan pedang Mana padat dan menghancurkan tinju Mana berbentuk ular yang datang dari arah belakang Quon. Pria tua itu sempat terkejut, tetapi dirinya langsung paham kalau tidak ada waktu untuk membuang-buang waktu.



Langsung berlari melesat ke depan, pria tua itu melancarkan dua tinju Mana ular ke arah Penyihir Agung. Tetapi sebelum terkena distorsi seperti sebelumnya, tinju Mana yang memanjang dari kedua tangannya itu dibelokkan lajunya dan menyerang Mavis dan Vib. Menggunakan sihir perisai keahliannya, Vib membuat tembok sihir transparan di depan dirinya sendiri dan Mavis. Kekuatan perisai yang terbagi tidak terlalu kuat dan hancur bersama pukulan Mana tersebut.



Dart menggunakan Langkah Dewa, lalu berhenti beberapa sentimeter di depan dinding tidak kasatmata dan melancarkan tebasan untuk menghancurkan sihir distorsi spasial dengan mudah seperti sebelumnya.



Menggunakan punggung Dart sebagai pijakkan, Quon meloncat ke udara dan langsung melancarkan teknik pukulan ularnya. Mana memanjang berbentuk ular langsung melesat cepat ke arah Penyihir Agung, tetapi terhalau oleh sihir perisai yang menjadi pertahanan terakhir perempuan berambut ungu gelap tersebut.



Masih berada di udara, sesegera Quon menyiapkan tinjunya kembali dengan mengumpulkan Mana pada kedua tangan dan mengubahnya menjadi bentuk ular dengan cepat. Kembali melancarkan serangan dalam jeda kurang dari dua detik, pria tua itu mengincar Vib.



Karena sihir perisai milik Vib baru saja dihancurkan, jeda yang ada membuat penyihir itu tidak bisa memasang pertahanan. Ular berbentuk Mana langsung menggigit kedua sisi lehernya, lalu mengoyak pembuluh nadinya sampai putus. Darah berceceran dengan cepat, muncrat dari luka tersebut. Mendaratkan kaki di wajar Vib, Quon langsung salto ke belakang menggunakan wajah penyihir tersebut sebagai pijakan.



Mavis bertambah murka melihat hal itu. Dalam hitungan kurang dari satu detik, Penyihir Cahaya tersebut langsung membuat tombak cahaya di genggaman tangan kanan dan melemparkannya ke arah Quon. Dart yang masih berpijak di tanah langsung meloncat, lalu menepis tombak cahaya yang mengerah ke Quon. Melayang berputar di udara, tombak cahaya tersebut lenyap dengan sangat cepat karena kekuatannya terhisap oleh pedang Mana milik Dart.



Quon yang masih melayang di udara langsung menyiapkan tinju ularnya. Memanipulasi Mana pada kedua tangan, pria tua tersebut menarik Dart ke belakang dengan teknik manipulasi Mana berbentuk ular untuk menyelamatkan pemuda itu dari tebasan Ibio yang telah siap memenggal kepalanya dari titik buta pemuda tersebut. Rambut Dart sedikit terpotong pedang petir, lalu tubuhnya tertarik ke belakang dengan cepat dan mendarat ditangkap Quon beberapa meter ke belakang.



“Vib!!” Mavis segera menghampiri perempuan yang lehernya terkoyak tersebut. Menggunakan sihir penyembuh kepada Vib, itu tidak bekerja dengan semestinya. Luka yang ada pada leher seri keempat Intara Hexe tersebut bersifat korosi karena terdapat Mana bersifat asam dalam tinju ular yang dilancarkan Quon.



Kesadaran Vib mulai pudar dalam dekapan Mavis, Ia muntah darah dan mata serta hidungnya mulai mengalirkan darah yang bercampur zat seperti asap berwarna hijau. Dalam hitungan kurang dua puluh detik setelah terkena serangan, nyawa seri keempat Intara Hexe tersebut melayang. Meninggal dalam dekapan Mavis, itu untuk kedua kalinya perempuan itu melihat saudarinya mati tepat di depan mata. Rasa amarah bercampur dengan kegilaan, membuat mental perempuan berambut pirang tersebut berteriak kacau penuh rasa frustrasi.



“AAAAAAAAAAAAAAAAAKKKHHHH!!!!”



Tubuh Mavis memancarkan cahaya terang keputihan, bersamaan dengan tekanan sihir yang menguat pesat. Dart dan Quon sadar kalau kekuatan sihir yang terpancar dari penyihir tersebut terasa berbeda dari hawa yang bisa dipancarkan oleh manusia atau Demi-human. Sadar kalau ada yang salah dengannya, kedua orang tersebut meloncat semakin menjauh dari para penyihir yang mereka lawan.



Mengamati pergerakan yang ada, tiba-tiba terdengar suara aneh dari atas. Pulau melayang yang menjadi atap panggung peperangan mulai bergetar dan bebatuan kecil mulai rontok ke bawah. Dari atas keluar suara aneh yang terdengar jelas oleh semua orang di bawah pulau melayang. Mendongak ke atas, Dart dan Quon melihat kalau Aldebaran mulai bergerak ke bawah.



“Kek, apa hanya perasaanku saja ..., pulaunya.”



“Cepat lari Bocah!!”



Pulau tersebut benar-benar jatuh ke bawah, akan menimpa semua orang yang sedang berperang di permukaan. Sadar akan hal tersebut, Quon langsung berlari secepat dirinya bisa. Dart mengikutinya dan meninggalkan pertempuran yang belum selesai, tidak memikirkan para penyihir yang sedang dilawan. Pedang Mana padat pada tangan pemuda berambut hitam itu menghilang, lalu Mana yang ada dialihkan pada kaki untuk mempercepat laju lari.



Baru berlari beberapa ratus meter, penyakit punggung Quon kambuh dan membuat pria tua itu jatuh tersungkur. Melihat hal tersebut, Dart sempat berhenti dan menggendong pria tua tersebut.



Berlari kembali, sesaat dalam benak Dart bertanya-tanya mengapa dirinya menolong pria itu tanpa ragu, sedangkan waktu kakaknya sendiri sempat ragu. Mendengar suara gemuruh keras dari pulau yang mulai jatuh, pikiran itu langsung hilang dari kepala Dart. Pemuda itu memusatkan Mana pada kedua kaki yang sudah terlalu terbebani, lalu berlari sekencang dirinya bisa.



Hampir keluar dari bawah pulau melayang yang jatuh, Dart sadar kalau dirinya tidak akan sempat. Memusatkan Mana pada kedua tangan, pemuda itu menarik lengan Quon yang digendongnya, lalu melempar pria tua itu sekuat tenaga keluar dari bagian bayang-bayang pulau melayang. Tidak meninggalkan Dart, Quon menggunakan manipulasi Mana berbentuk ular untuk mengikat tubuh pemuda itu dan ikut membawanya melayang keluar menggunakan momentum yang ada.



Pada detik terakhir sebelum pulau melayang benar-benar menimpa permukaan, Dart dan Quon berhasil lolos dan tubuh mereka terhempas beberapa belas meter ke udara karena daya hempas yang tercipta dari pulau raksasa melayang yang jatuh tersebut. Berguling beberapa kali di permukaan tanah dan menderita beberapa tulang retak, mereka berdua terkapar penuh rasa sakit.



“Akh ..., kau masih hidup, Kek?”



“Hmm, tapi punggungku rasanya patah semua. Akh ..., encokku tambah parah ....”

__ADS_1


__ADS_2