Re:START/ If/ Great War Record

Re:START/ If/ Great War Record
Records 01: Penyihir Cahaya dan Ahli Pedang I (Part 02)


__ADS_3

Setiap kubu telah bersiap pada posisi masing-masing, berbaris dalam formasi dan bisa menyerbu kapan saja. Kekaisaran telah menyiapkan rencananya dalam menyerang pulau melayang dengan meriam sihir sebagai pembuka, sedangkan Kerajaan telah bersiap dengan serangan awal berupa panah yang akan dikombinasikan dengan sihir para penyihir roh. Sang Ular dari Kekaisaran, Sang Jenius dari Kerajaan, para otak kedua pihak tersebut telah membuat strategi matang untuk menyerang.



Di langit, para penyihir yang melihat pergerakan pasukan di permukaan melapor kepada salah satu pemimpin mereka. Pasukan penyihir dipimpin oleh Penyihir Agung dalam komandan tertinggi, dan di bawahnya wewenang dipegang oleh kelima penyihir Intara Hexe. Kelima penyihir tersebut melayang tanpa menggunakan sapu seperti penyihir lain, hanya memanipulasi Mana dengan tubuh sebagai medium dan dapat dengan bebas menggunakan sihir. Intara Hexe bukanlah manusia, melainkan Homunculus generasi pertama yang diciptakan melalui Sihir Langit yang didapat Penyihir Agung dari salah seorang nenek moyang sihir yang disembah penduduk kota Miquator sebagai Dewa. Sebab dari keidentikan gen mereka, kelima penyihir yang berjenis kelamin perempuan tersebut memiliki paras yang serupa dari ujung rambut sampai ujung kaki, hanya kemampuan sihir saja yang membedakan mereka berlima.



Salah seorang penyihir Intara Hexe melayang ke turun sampai ketinggian seratus meter dari permukaan tanah. Sosoknya dengan rambut pirang berkibar terang di bawah langit mendung yang mulai mengeluarkan suara gemuruh, Ia adalah I tipe B0 (Ibio), seri pertama dari Intara Hexe. Pengguna sihir petir sekaligus penguasa sihir cuaca. Mengikuti Ibio, kedua penyihir dari Intara Hexe ikut menurunkan ketinggian dan melayang di sebelahnya. Di sisi kanan terlihat seri kedua, II Tipe A Gran (Iiagran), sedangkan di sisi kiri terlihat IV Tipe B (Vib) yang merupakan seri keempat dari kelima Intara Hexe. Kedua penyihir di kedua sisi Ibio memiliki sihir khusus masing-masing, Vib ahli dalam bidang sihir pelindung, sedangkan Iigaran ahli dalam sihir atribut angin.



Melihat hanya tiga penyihir terkuat Miquator yang menghampiri pasukan Kekaisaran, Li Qiang sebagai komandan merasa dihina. Pria besar dengan tubuh kekar yang berdiri di barisan terdepan pasukan itu menggertakkan giginya dengan penuh rasa murka. Mengangkat tombak tinggi-tinggi, Ia berteriak, “Maju!!!” Tetapi sebelum pasukan yang dipimpinnya mulai bergerak, sebuah suara tembakkan meriam terdengar dari garis pasukan paling belakang kekaisaran. Sebuah bola bercahaya merah melesat ke arah ketiga Intara Hexe yang melayang di udara, lalu menghantam mereka dan membuat ledakan dahsyat.



Li Qiang terkejut melihat itu. Menoleh ke belakang, dirinya sadar kalau yang memberi perintah menyerang seperti itu adalah Qibo Quon. “Kakek ..., kau juga tidak sabar untuk perang ya ....” Li Qiang menyeringai lebar. Kembali menurunkan tombak, Komandan Naga tersebut memerintah pasukkan kavaleri untuk bermanuver melebar dan dibagi menjadi dua kelompok besar untuk menyerang ketiga Intara Hexe di udara.



Sebelum asap dari hasil ledakan serangan meriam pertama menghilang, suara tembakkan selanjutnya terdengar. Kali ini bukan hanya satu, melainkan sebuah serangan beruntun meriam sihir dari garis belakang dan sampai langsung ke pasukan musuh. Tepat sasaran di udara, ledakan bertubi-tubi tercipta dan membuat angin di medan pertempuran berubah arahnya. Mendung bertambah gelap karena panas yang dihasilkan dari ledakkan, membuat muatan air di dalam awan mulai berat dan meneteskan air. Hujan turun dan perlahan mulai deras kurang dari satu menit. Sebelum pasukan kekaisaran selesai bermanuver memutar untuk mengepung para penyihir, asap dari hasil ledakkan menghilang karena hujan.



“A-Apa!? Mereka sama sekali tidak tergores?” Li Qiang yang masih berdiri di tempatnya terkejut melihat ketiga penyihir tersebut sama sekali tidak bergeming. Di balik lapisan sihir pelindung transparan yang dibuat oleh Vib, seri keempat dari Intara Hexe, ketiga penyihir tersebut sama sekali tidak terluka.



Melakukan peran masing-masing dalam formasi tiga anggota, mereka mulai mempersiapkan serangan. Ibio merentangkan kedua tangannya ke samping, lalu mulai merapalkan sihir serangan sekala besar yang bercampur dengan transformasi sihir kuno. Berperan sebagai pengalih, Iiagran menurunkan ketinggian dan mengulurkan telapak tangannya ke arah Li Qiang yang berada di dalam jarak pandang.



“Angin dalam kehendak, menjadi padan ... melakukan apa yang diriku perintah. Tombak adalah wujud dasar, karena itu muncullah!”



Angin berkumpul dengan cepat dan membuat sebuah tombak transparan dengan tekanan udara tinggi, senjata tersebut melayang di sekitar Iiagran dan mulai berputar pada porosnya. Menghadapkan ujung tajamnya ke arah pasukan Kekaisaran di depan, tombak tersebut langsung melesat ke cepat ke arah pria kekar di bawah.



“Hah!” Li Qiang menyeringai melihat serangan tersebut datang. Berancang-ancang dengan senjatanya, dengan sekali tebas pria itu menghancurkan tombak angin yang datang. Partikel hijau sekilas terlihat saat ujung tombak melengkung Li Qiang menghancurkan sihir angin tersebut. Tidak membuang waktu lama, pria itu langsung berlari cepat ke depan. Menginjak tanah yang becek karena hujan, langkahnya sama sekali tidak terhambat. Kaki tanpa alasnya bergerak dengan cepat, bahkan melebihi kecepatan kuda dan langsung mengarah ke ketiga Intara Hexe.



Dalam jarak yang sesuai, pria berbadan kekar itu berancang-ancang meloncat setelah mengumpulkan momentum dengan berlari. Dengan satu kali loncatan saja, pria tersebut bisa mencapai ketinggian lebih dari seratus meter dan sampai pada ketinggian yang sama dengan ketiga penyihir tersebut. Iiagran dan Vib terkejut melihat ada manusia bisa meloncat setinggi itu hanya dengan kekuatan fisik. Sebelum mereka bersiap, Li Qiang langsung mengayunkan tombaknya ke arah Iiagran.



“Mati!!”



Tangk!! Tombaknya membentur sesuatu yang keras sebelum mengenai leher Iiagran. Vib mengubah posisi sihir pelindung untuk digunakan kepada Iiagran. Saat hembusan angin kencang tercipta dari benturan tersebut, pria itu menyeringai karena tujuan serangan awalnya sesuai incaran. Memegang perisai transparan di hadapan, Li Qiang menggunakannya sebagai pijakan, dan langsung meloncat lebih tinggi ke arah Ibio yang masih merapalkan sihir serangan sekala luas. Li Qiang mengayunkan tombaknya sekuat tenaga, mengerahkan seluruh otot tangan kanannya untuk menghasilkan serangan sangat cepat dan kuat.



Tetapi sebelum ujung tombaknya mengenai Ibio, tiba-tiba dirinya langsung berpindah dengan cepat dan berdiri di permukaan tanah becek. Dengan wajah bingung, pria itu berhenti mengayunkan tombaknya. “Apa yang terjadi?” Ia menoleh ke kanan dan kiri karena tidak paham mengapa dirinya bisa berada di bawah.



“Sudah diriku bilang untuk menghindari pertarungan jarak dekat .... Itu sangat merugikan bagi penyihir.”



Mendengar suara itu, Li Qiang mendongak ke atas dan melihat ketiga penyihir yang seharusnya berada dalam jarak jangkauan serang. Di antara mereka yang berada di udara, terlihat sosok Penyihir Agung yang mulai menurunkan ketinggian bersama penyihir lain yang terbang menggunakan sapu.



“Eh? Kenapa bisa ...?”


__ADS_1


Semakin menurunkan ketinggiannya, Penyihir Agung berkata, “Sepertinya engkau kebingungan, pemuda. Itu sihir ruang, diriku memindahkanmu ....”



“Sihir ruang keahlianmu ya! Bukannya itu hanya bisa dilakukan kalau Mana milikmu menyentuh langsung benda yang akan dipindahkan? Dan juga, itu boros tenaga kalau memindahkan makhluk hidup, ‘kan!?” teriak Li Qiang seraya menatap kesal.



“Oh, apa Ular memberitahumu? Huh, rasanya sedih harus melawan anak didik sendiri seperti ini. Perang itu ... memang cara terburuk untuk menyelesaikannya. Tapi kurasa hanya itu yang anak didikku itu tahu .... ”



“Diam kau Nenek Sihir! Dasar monster!”



Li Qiang memasang kuda-kudanya dan memegang tombak dengan dua tangan. Aura tempur meningkat drastis dan sekujur tubuhnya terlihat seperti mengeluarkan uap putih. Berancang-ancang untuk menyerang, pria itu langsung meloncat tinggi ke arah Penyihir Agung yang berada di ketinggian sekitar 50 meter. Sebelum tombaknya mengenai sasaran, Li Qiang dikembalikan ke permukaan tanah dan berdiri dengan wajah bingung karena dipindahkan tanpa jeda waktu satu detik pun.



“Tch! Lagi?!”



“Percuma menyerang. Engkau tahu, anak muda. Sihirku sudah menyebar ke seluruh medan perang. Kalau diriku mau, satu jentikkan jari saja semua orang di medan perang ini bisa diriku pindahkan ke laut.”



“Hah! Hanya gertakan! Kau akan langsung mati kalau melakukan itu!”



Penyihir Agung hanya memasang wajah datar mendengar itu. Menarik napas karena intimidasi tidak berjalan lancar, Ia mengulurkan telapak tangan kenannya ke arah Li Qiang dan mulai membuat lingkaran sihir.



“Engkau tahu, hujan ini sudah bersatu dengan Mana milikku. Engkau pikir penyihir akan bertarung di medan yang tidak menguntungkan mereka, pemuda?”




“Ini akhir bagi kekaisaran. Kalian pikir kami tidak menyusun cara yang lebih efektif untuk melawan setelah berperang dua kali dengan kalian?” ucap Penyihir Agung.



Tubuh Ibio yang merapalkan sihir dalam sekala besar mulai terangkat ke udara, lebih tinggi dari pulau melayang. Saat petir dari balik menyambar tubuhnya, kilatan tersebut langsung tersebar dan masuk seakan petir alam disedot ke dalam tubuh. Menyalurkannya keluar dan mengolah elektron dalam sekala raksasa tersebut, sebuah jaringan mulai tercipta dan dua pasang sayap petir mulai tumbuh dari punggung Ibio. Pada tubuh berselimut petir berwarna putih terang tersebut, sebuah halo berbentuk runcing pada bagian luar muncul di atas kepala salah satu penyihir Intara Hexe tersebut. Sosok itu terlihat tidak seperti makhluk mortal lagi, melainkan seperti seorang malaikat bersayap petir.



“Oi oi, jangan bilang kalau itu sihir Malak?” Li Qiang gemetar melihat sosok tersebut. Meski itu pertama kalinya pria itu melihat sihir transformasi tersebut, tetapi secara insting dirinya sadar kalau itu bukanlah kabar baik bagi pasukan kekaisaran.



“Hmm, benar. Sihir itu adalah Malak, Fragmen Baraq.” Penyihir Agung kembali menaikkan ketinggiannya dan hendak meninggalkan garis depan peperangan dengan kekaisaran.



Li Qiang tidak bisa bergerak karena sadar dirinya diincar langsung oleh sosok Ibio yang berubah menjadi imitasi malaikat. Saat dirinya terdiam, pasukan penyihir turun dan memulai serangan kepada pasukan kavaleri kekaisaran yang tersebar di kedua sisi medan perang. Perbedaan ketinggian membuat itu menjadi penyerangan satu arah, para pasukan kavaleri tidak bisa mendaratkan serangan tombak mereka pada penyihir meski senjata dilemparkan. Semua penyihir yang menyerang benar-benar telah menemukan cara paling efektif dengan hanya menggunakan penyihir khusus serangan jarak jauh untuk menyerang, hal tersebut didapat dari pengalaman mereka di peperangan sebelumnya.



Melihat pasukannya mulai dibantai, Li Qiang sama sekali tidak bergerak karena instingnya yang kuat memerintahkan tubuh secara paksa untuk tetap di tempat. Tatapan dari sosok berselimut petir di udara benar-benar memberikan intimidasi kuat. Menggigit bibirnya sendiri dan melawan insting tersebut, Li Qiang melangkahkan kaki dan berlari kencang ke sayap kanan pasukannya untuk membantu.



Belum sempat berlari dua ratus meter, Ibio langsung melesat cepat di udara dan menghadang Li Qiang. Sosok petir bersayap tersebut tidak langsung menyerang, hanya mengintimidasi dan tidak membiarkan Komandan Naga tersebut lewat.



“Sialan, dasar Puppet witchcraft!”

__ADS_1



Bola meriam kembali melesat ke barisan paling depan dengan tiba-tiba, lalu langsung menghantam para penyihir yang sedang membantai pasukan kekaisaran. Diikuti hal tersebut, pasukan infanteri mulai bergerak maju menyerbu dengan membawa panahan.



Tembakan dari pasukan altileri berlanjut, meledakkan para penyihir yang tadinya unggul dalam alur peperangan. Tubuh mereka hancur dan darah serta daging gosong mereka berceceran dari udara. Melihat hal tersebut, dua penyihir Intara Hexe terkejut dan langsung bergerak. Iigran langsung melesat ke arah pasukan altileri untuk menyerang, sedangkan Vib melesat ke arah pasukan penyihir untuk memasang sihir pelindung.



Mengetahui alur peperangan tidak condong ke pihak Kota MIquotor lagi, Li Qiang menyeringai gelap dan menatap tajam sosok imitasi malaikat yang melayang di hadapannya. Sorot matanya bagaikan seekor naga yang melahap langit, tidak merasa takut dengan sosok yang lebih superior keberadaannya.



“Heeeeh! Terima kasih, Kakek! Dengan ini, aku bisa bertarung sepuasnya!”



Li Qiang menggunakan Battle Art miliknya. Pria itu memutar bagian tengah gagang tombak, lalu melepasnya menjadi dua bagian. Pada gagang tanpa mata tombak, mulai dialirkan Mana dan membentuk mata tombak melengkung bercahaya yang murni berwarna merah darah, sedangkan pada gagang yang memiliki mata tombak diselimuti Mana berwarna keemasan. Pada tubuh pria tersebut mulai bercahaya terang dan terlihat seakan mengenakan sebuah zirah dengan bentuk seperti seekor naga. Tangan kiri memegang senjata tombak dengan kekuatan napas api, tangan kiri memegang tombak dengan kekuatan cakar naga. Berjalan merentangkan kedua senjatanya tersebut ke samping, Li Qiang kembali tersenyum lebar.



Secara otomatis Ibio merespons peningkatan aura tempur tersebut, wujud imitasi malaikat itu langsung menciptakan senjatanya dengan petir. Sebuah pedang petir di tangan kanan dan bola petir di atas telapak tangan kiri. Dalam petir bersinar terang yang menyelimuti tubuhnya, sosok tersebut langsung melesat ke arah Li Qiang. Sebuah ayunan pedang petir mengarah ke pria kekar itu, menggunakan refleks Li Qiang menghindar dan hanya mengikis aura pelindungan di sekujur tubuhnya.



Merendahkan posisi kuda-kudanya dan masuk ke titik buta Ibio, Li Quang langsung menusukkan tombak di tangan kiri. Serangan tersebut telak mengenai sasaran, tetapi karena petir yang melindungi tubuh Ibio, tombak sama sekali tidak bisa menusuk masuk sampai dada. “Kena kau!” Li Qiang langsung mengaktifkan Mana berbentuk mata tombak merah di ujung senjatanya, sebuah ledakkan kuat yang tercipta dari jarak sangat dekat dan mementalkan tubuh pria itu.



Berdiri kembali setelah terpental beberapa meter ke belakang, Li Qiang melihat Ibio sama sekali tidak terluka terkena serangan tersebut. Imitasi malaikat tersebut masih melayang beberapa sentimeter pada tempatnya, memberikan tatapan mati dengan mata biru menyala dan rambutnya berkibar terang. Mengamati ada yang sedikit berbeda darinya, Li Qiang sadar kalau panjang rambut imitasi malaikat semakin pendek karena terbakar oleh petirnya sendiri. Kembali meningkatkan pengamatan, jari kiri kelingking Ibio sudah menghilang dan jari kelingking kanan sudah mulai retak.



“Begitu ya, hah! Meski bisa menyerap energi alam dan menggunakannya, tapi tubuh itu hanya sebuah wadah yang tidak bisa menampung kekuatan dahsyat seperti itu. Ada batas waktunya dan itu bersifat destruktif pada tubuh sendiri ....”



Hal serupa sebenarnya diderita oleh Li Qiang, kekuatan Battle Art wujud naganya tidak bisa dipertahankan lebih dari satu jam karena pada dasarnya menguras cepat stamina dan membebani otot-otot tubuh. Menarik napas dalam-dalam dan hanya melepas aura berbentuk zirah miliknya untuk menghemat stamina, Li Qiang meningkatkan tekanan Mana pada ujung kedua senjatanya.



Tanpa menunggu lama, pria itu langsung melesat menyerang. Tombak di tangan kiri diayunkan, dilanjutkan dengan serangan berputar tombak di tangan kanan. Serangan bertubi-tubi dilancarkannya ke arah Ibio, tetapi hal tersebut sama sekali tidak bisa mendorong mundur sosok tersebut. Imitasi malaikat itu terus melayang pada tempatnya dan tambah meningkatkan petir putih di sekitar tubuh sebagai pelindung. Itu bukanlah sebuah pertahanan yang dilakukan dengan santai, satu demi satu jemari imitasi malaikat tersebut menghilang menjadi abu karena dikonsumsi untuk media perubahan wujudnya.



Pada saat kecepatan serangan Li Quang berkurang karena kelelahan, Ibio langsung menyerang balik menggunakan pedang petir yang dipegang dengan tiga jari yang tersisa. Serangan tersebut telak mengenai kepala Li Qiang karena tidak sempat menghindar, tubuhnya terpental seketika dan melayang beberapa meter di udara. Mendarat di permukaan tanah dengan posisi terkapar, pria itu diserang kembali dengan sebuah serangan bola petir. Sebuah sambaran sangat keras mengenai tubuhnya, membuat tanah di sekitar tempatnya terkapar sampai hangus.



Suasana menjadi senyap, hujan deras terasa jelas menerpa, dan suara pertarungan antara penyihir dan pasukannya terdengar jelas oleh Li Qiang yang terkapar dengan kesadaran pudar. Merapatkan giginya, Komandan Naga tersebut kembali berdiri dengan tubuh penuh luka bakar dan mengeluarkan asap. Seakan seekor naga yang murka, Ia menyilangkan kedua senjatanya dan mulai meningkatkan aura tempur untuk bertarung kembali.



“Kau pikir petir bisa membunuhku? Ha!? Kita mulai ronde kedua, sialan!”



Ibio ikut meningkatkan tekanan sihirnya. Mengorbankan kedua tangannya menjadi petir dan hancur menjadi partikel-partikel, imitasi malaikat tersebut menumbuhkan sepasang sayap petir lagi dan meningkatkan tekanan sihirnya. Kedua tangannya yang hancur mulai tumbuh kembali. Tetapi bukan tubuh fisik, melainkan tangan dari petir padat dan memegang pedang petir pada kedua tangan.



Kaki mulai dikorbankan Ibio, hancur menjadi medium. Dialirkan energi pada tubuh, dua pasang tangan petir padat mulai tumbuh dari punggung sosok imitasi tersebut. Sebuah wujud petir dengan enam sayap dan empat tangan yang masing-masing memegang pedang petir tercipta. Itu sudah tidak terlihat seperti manusia lagi di mata Li Qiang.



Melihat wujud tersebut, rasa terbebas karena melawan sebuah sosok tidak berbentuk manusia membuat Li Qiang melepas batas dirinya. Pria tersebut membuang jauh-jauh rasa kejantanan karena melawan seorang perempuan.



“Hah! Ternyata kau hanya monster ya!” hina pria tersebut.

__ADS_1


__ADS_2