
Terkapar di atas tanah, Dart dan Quon melihat ke arah pulau melayang yang jatuh ke permukaan. Melihat bagaimana pulau itu jatuh, dapat dipastikan kalau semua orang yang masih di bawahnya dan tertindih pasti mati. Pada saat pulau melayang itu jatuh, dapat diperkirakan kalau lebih dari seribu nyawa melayang seketika.
Dari pinggiran pulau melayang yang menyentuh permukaan tanah, terlihat beberapa prajurit dan penyihir yang sebagian tubuhnya tergencet pulau dan remuk sebagian. Beberapa rekan mereka berusaha menolong, tetapi hanya sebagai tubuhnya yang dapat ditarik dan setengahnya benar-benar remuk tertindih pulau benteng melayang tersebut.
Pada detik itu juga, pertempuran yang berlangsung berhenti tanpa perintah terucap. Orang-orang yang tadinya sibuk membunuh satu sama lain langsung terbelalak dengan apa yang terjadi, mereka ada yang berusaha menyelamatkan rekannya yang setengah tertindih pulau, berlutut dengan wajah putus asa, atau ada juga yang hanya menggigil ketakutan.
Di garis belakang pasukan Kerajaan Felixia yang berada di luar pulau melayang, Gaiel terbelalak melihat apa yang terjadi saat pulau tersebut jatuh menimpa orang-orang yang ada di bawahnya. Rasa bersalah menyerang sosok jenius itu karena mereka semua berada di sana sebab strategi yang digunakannya sebagai komandan perang.
Saat sedikit mendongakkan kepala ke atas dan melihat sosok raksasa yang berdiri di atas pulau melayang, rasa bersalah pada diri Gaiel dengan cepat berubah menjadi ketakutan. Tepat di atas Aldebaran, raksasa berkulit hitam berjongkok seraya membunuh para penyihir di atas sana seperti merusak sekumpulan mainan.
Itu adalah Iblis, Gaiel langsung paham akan hal tersebut saat melihat monster raksasa itu. Tinggi makhluk tersebut bisa mencapai lima puluh meter lebih saat berdiri, memiliki sepasang sayap hitam berselaput dengan lebar sampai puluhan meter saat terbentang. Wajah Iblis yang mulutnya terlihat selalu tersenyum mengerikan itu memiliki sepasang tanduk melengkung pada kepalanya, dan telinga runcing tidak rapi.
Menangkap para penyihir di atas Aldebaran, Iblis itu memutar kepala mereka lalu meminum darah segar yang mengalir keluar dari leher tanpa kepala, dan memakan tubuh mereka saat darah sudah tidak mengalir.
Para penyihir segera meloncat keluar dari pulau melayang, kocar-kacir dalam ketakutan. Beberapa penyihir Miquator yang menunggang Wyvern berusaha menghentikan sosok raksasa itu dengan sihir mereka.
Tetapi saat terbang di sekitar Iblis tersebut, hanya dengan tiupan dari mulut mereka langsung terbakar habis oleh api hitam kebiruan. Iblis tersebut seakan menikmati pembantaian, mengambil orang-orang dalam jangkauan tangan besar dan panjangnya, lalu mempermainkan mereka sebelum dimasukkan ke dalam mulut.
Di sisi lain medan perang, Dart yang melihat ke atas juga melihat sosok raksasa yang berjongkok di atas pulau melayang tersebut. Pemuda berambut hitam itu langsung menggigil ketakutan, melihat hal yang bahkan tidak dirinya bayangkan bisa ada di dunia.
Sosok Iblis itu terlihat mengerikan, keji, dan sangat kuat sampai ke tingkat tidak masuk akal. Melihat aura yang berkobar dari kulit hitam iblis itu, dirinya langsung sadar kalau monster itu tidak akan bisa dirinya kalahkan.
“A-Apa itu? Iblis ...? Kenapa bisa makhluk seperti itu bisa ad―”
Menoleh ke arah Quon yang terkapar di dekatnya, Dart melihat pria tua itu tidak kalah terkejutnya dengan sosok yang ada di atas pulau melayang yang jatuh tersebut. Pria tua itu berkeringat dingin, gemetar dan terlihat bertambah semakin tua saking takutnya.
Beberapa detik kemudian, Penyihir Agung muncul di dekat mereka berdua menggunakan sihir ruangnya. Membawa Mavis dan Ibio, Penyihir Agung langsung melihat ke atas Aldebaran. Wajahnya terbelalak seketika, bersama dengan Mavis dan Ibio yang juga melihat ke arah yang sama. Paham sosok apa yang membantai rekan-rekannya di atas pulau, ketiga penyihir itu langsung murka.
Tidak bisa menahan amarah, Penyihir Agung memberikan perintah tanpa berpikir terlebih dulu, “Ibio, bunuh makhluk itu!!!” Imitasi malaikat petir langsung terbang melesat ke arah sosok Iblis raksasa tersebut. Seakan mendeteksi kekuatan ilahi yang mendekat, Iblis yang sibuk membantai orang-orang di atas Aldebaran langsung menoleh ke arah Ibio. Melebarkan senyumnya, Iblis itu membuka telapak tangan dan langsung dengan sangat cepat menangkap imitasi malaikat petir yang datang ke arahnya.
Gerakan tersebut sangat tidak wajar untuk ukuran tubuhnya yang sangat besar, semua orang yang melihat kecepatan itu merasa kengerian yang sangat jelas. Bertahan menggunakan petir yang dipancarkan ke penjuru arah, Ibio menahan genggaman tangan kanan Iblis tersebut sebelum tubuhnya digenggam.
Penyihir Agung yang melihat senyum Iblis itu berkata, “Belphegor?” Nama itu sekilas muncul dalam benaknya. Senyum iblis yang terlihat malas sampai tidak mau berdiri, sosok Iblis yang di atas Aldebaran adalah salah satu pangeran dari neraka, sosok dari perwakilan kemalasan.
Iblis raksasa itu membuka telapak tangan kiri, lalu langsung menepuk Ibio di antara telapak tangan seperti menepuk seekor lalat. Tubuh Ibio yang sebagian terbentuk dari energi petir hancur seketika dan suara remuk tubuhnya terdengar jelas dalam radius beberapa ratus meter.
Membuka kedua telapak tangan, tubuh remuk Ibio menempel pada telapak kanan Iblis tersebut. Menjilat telapak tangan kanan dan menelan Ibio, Iblis tersebut muali tersenyum lebar menikmati santapan megah tersebut.
“AAAAKKKKHHHHH!!!” Mavis menjerit histeris. Cahaya yang memancar dari tubuhnya tambah bersinar terang, mengeluarkan kekuatan Ilahi yang sangat dahsyat sampai membuat hembusan angin kencang di sekitarnya.
Penyihir Agung terkejut melihat pancaran cahaya dari Mavis. Apa yang dikeluarkan olehnya itu mirip dengan sihir Malak yang dipakai Ibio, tetapi itu lebih tinggi tingkatnya dan terasa seperti bukan sesuatu imitasi.
Dari balik jubah Mavis, mulai merobek keluar sepasang sayap bulu yang bersinar terang. Cahaya mulai menyelimuti seri terakhir Intara Hexe tersebut, lalu membakar habis pakaiannya dan berubah menjadi gaun putih murni yang bersinar terang.
Pada waktu yang hampir bersamaan, sebuah halo bercahaya keemasan muncul di atas kepalanya. Wujud itu berbeda dengan Malak yang merupakan sihir untuk meniru malaikat, sosok Mavis tersebut sangat mirip dengan malaikat itu sendiri dan kekuatannya yang dipancarkan ratusan kali lebih kuat dengan sihir transformasi malaikat yang Penyihir Agung ketahui.
“Anak ini ..., dia ... berubah menjadi Archangel? Apa dia menarik paksa pengetahuan Henokh yang tertanam pada unsur intinya?”
Penyihir Agung terbelalak. Apa yang menjadi perubahan Mavis tersebut memang sebuah bentuk sempurna dari salah satu hal yang ingin dibuat Penyihir Agung, sebuah malaikat buatan sempurna yang memiliki kekuatan ilahi dari tingkat dimensi yang lebih tinggi.
Mavis dalam bentuk malaikatnya melebarkan kedua sayapnya yang mencapai delapan meter lebih, lalu tubuhnya perlahan mulai terangkah ke udara. Struktur huruf dan angka yang bukan termasuk sihir mulai muncul mengitarinya, membentuk struktur kekuatan penghancur yang lebih mematikan dari sihir Malak.
Iblis Belphegor menyeringai gelap melihat kemunculan malaikat, tatapannya terlihat seakan telah menemukan makanan mewah lainnya. Merentangkan kedua sayap selaput hitamnya, Iblis yang tingginya hampir mencapai lima puluh meter tersebut mulai berdiri dan membuat Aldebaran berguncang kembali.
“KHA! KHA! KHAAAA!!”
Suara mengerikan seperti tawa terdengar dari Iblis tersebut, mulutnya terbuka lebar dan menggeleng-gelengkan kepala dengan kacau. Mengangguk-angguk dengan dan kembali tersenyum lebar dengan mengerikan, Iblis hitam itu membuka telapak tangannya dan langsung menepak ke arah Mavis. Krak!! Pergelengan tangan Iblis tersebut patah, pelindung dari beberapa Rune berbentuk aneh di sekitar Mavis menghentikan serangan Iblis itu.
Terlihat bingung dengan tangannya yang patah, Iblis raksasa tersebut langsung mencabut pergelengan tangannya sendiri yang patah dan memakannya. Dalam hitungan detik, tangan kembali tumbuh dan luka benar-benar lenyap.
Dart yang berada di permukaan mulai berdiri, melihat pertarungan kedua makhluk mengerikan di atas sana. Tubuhnya bergetar penuh rasa takut, tetapi hal lain mulai bercampur dalam benaknya, sebuah rasa yang membuat darahnya seakan mendidih hidup. Quon yang sakit punggungnya sudah mulai pulih ikut berdiri, menatap ke arah yang sama dengan Dart.
Semua orang yang masih hidup di medan perang melihat kedua sosok tersebut, dalam rasa takut yang bercampur takjub bisa menjadi saksi pertarungan kedua makhluk yang menjadi perwakilan baik dan jahat itu. Berbeda dengan mereka semua, Penyihir Agung terlihat sangat cemas dengan apa yang dilakukan Mavis dengan bentuk malaikatnya tersebut.
Dalam inti konstruksi informasi seri terakhir Intara Hexe tersebut, ada sebuah pengetahuan mengenai buku Henokh, informasi mengenai penciptaan malaikat dan iblis. Dalam informasi tersebut, memang ada sebuah metode untuk dapat meningkatkan dimensi tubuh fisik dan mengakses kekuatan ilahi, tetapi hal tersebut dapat berakibat beban pada informasi tubuh fisik dan mengakibatkan makhluk mortal hancur kepribadiannya.
“Shakal ..., Dar ... Zalaam ....”
Mavis mulai mengubah struktur keilahian miliknya. Bentuk Rune aneh mulai berubah posisi, membentuk sebuah segi empat yang tumpang tindih dengan sebuah pola segi delapan dan lingkaran. Dalam struktur Rune yang terbentuk di depan Mavis, mulai terjadi distorsi ruang dan dari dalamnya keluar sebuah pedang cahaya keemasan. Pedang tersebut Mavis genggam gagangnya dengan kedua tangan, lalu mengangkatnya ke Iblis di hadapan.
Pola Rune berubah cepat, lalu kembali membentuk lingkaran sempurna tepat di belakang Mavis melayang. Iblis di hadapannya mulai mengepakkan sayap dan meningkatkan ketinggiannya, hembusan angin kencang yang tercipta dari kepakkan sayap membuat orang-orang di atas Aldebaran beterbangan terhempas.
Iblis itu membuat api hitam kebiruan di atas telapak tangannya, lalu mengayunkannya ke arah Mavis. Menapak pelindung cahaya malaikat buatan tersebut, api Belphegor sama sekali tidak bisa menembus perisai cahaya tersebut. Kembali membuat api biru di atas telapak tangan kanannya, Iblis tersebut kembali menyerang.
Mavis tidak tinggal diam, Ia langsung menambahkan cahaya ke dalam pedang dan memperbesar ukurannya. Mengayunkan pedang yang membesar sampai sebesar menara di tangannya, Mavis langsung memotong tangan kanan Belphegor sampai bahu.
Tanpa membiarkannya beregenerasi, Mavis kembali mengayunkan pedang raksasanya dan memenggal kepala Iblis tersebut. Pedang cahaya menghilang setelah serangan, kembali ke dimensi yang lebih tinggi dan lenyap dalam hitungan detik.
Melihat Iblis berhasil dihabisi, orang-orang di permukaan mulai bersorak-sorak ramai penuh kegembiraan. Mereka sama sekali tidak memedulikan lagi peperangan, hanya ada rasa senang dan lega dalam benak mereka setelah sang Iblis dikalahkan.
Tetapi kurang dari satu menit setelah itu, teriak meriah tersebut berubah menjadi keheningan penuh rasa takut. Iblis tanpa kepala mulai menyusut ukurannya sampai sebesar manusia dewasa, lalu kepala yang jatuh mulai melayang ke udara dan ukurannya mulai mengecil. Kembali kepada tempatnya, kelapa Iblis tersebut membuka mata dan mulai bergerak kembali. Tangan dalam bentuk raksasa yang tadi terpotong mulai terserap masuk pada tubuhnya.
Sayap dari Iblis tersebut menghilang, lalu berubah menjadi tangan yang keluar dari punggung dan tangan yang terpotong mulai beregeneris. Dua kepala mulai tumbuh dari kedua sisi pundaknya, dengan ekspresi tersenyum gila dan ekspresi murka. Itu adalah wujud sesungguhnya dari Belphegor sang pangeran neraka, kemalasan yang menjadi simbolnya membawakan rasa murka saat diganggu dan senang saat terpuaskan yang tercermin jelas dari dua kepala yang tumbuh.
Keempat tangannya mulai mengeluarkan cairan hitam yang memadat dengan cepat, lalu membentuk sebuah sabit raksasa yang dipegang oleh masing-masing tangan. Sebuah halo hitam muncul di atas kepalanya, mempertahankan tubuh Iblis tersebut tetap melayang dengan manipulasi gravitasi.
Meski sekarang ukuran Iblis tersebut tidak jauh berbeda dengan Mavis, tetapi hawa mengerikan dengan jelas terpancar semakin kuat. Iblis tersebut mengayunkan salah satu sabitnya dan menyerang terlebih dulu. Perisai cahaya menahan serangan tersebut dan membuat senjatanya terpental.
Kembali mengayunkan senjatanya, Belphegor melancarkan serangan bertubi-tubi dengan sabit raksasa yang panjangnya mencapai empat meter lebih dan mata sabitnya yang melengkung mencapai tiga meter. Hembusan angin tercipta setiap kali sabit diayunkan, tetapi serangan itu sama sekali tidak bisa menebus perisai cahaya milik Mavis.
Mengubah keempat sabit di tangan menjadi sebuah bola energi gelap dan disatukan pada satu titik ke depan, dengan keempat tangannya Iblis tersebut memadatkan bola tersebut sampai berubah warna menjadi merah.
“KHAA!!”
Bola energi ditembakkan ke arah Mavis. Tetapi sebelum mengenainya, sosok malaikat buatan itu mengubah struktur perisai cahayanya dari pertahanan menjadi refleksi. Seketika bola tersebut kembali ke arah pemiliknya, membakar perut Iblis tersebut, lalu terus melesat menembus bangunan-bangunan di atas Aldebaran dan meledak di garis belakang Kerajaan Felixia di arah Pegunungan Perbatasan. Hembusan angin kencang dari ledakkan bertiup sampai ke tempat Mavis. Dalam ledakkan dahsyat tersebut, sebagian besar pasukan kerajaan terbakar dan garis belakang mereka benar-benar hampir musnah.
__ADS_1
Meregenerasi tubuh dengan cepat, Iblis tersebut memulihkan perutnya yang terbakar karena serangan yang direfleksikan. Sadar kalau semua yang dikakukan tidak ada gunanya karena perisai cahaya Mavis, Iblis berkepala tiga itu melayang kembali ke Aldebaran dan berdiri dengan tegak tanpa melakukan serangan.
Mavis tidak bisa langsung menyerang, informasi pergerakan horizontal miliknya sangat rendah dan mobilitasnya sangat lambat. Malaikat buatan tersebut hanya bergerak ke atas dan bawah dengan cepat, tetapi dalam pergerakan secara horizontal hanya bisa dilakukan mobilitas kurang dari dua puluh sentimeter per menit.
Memang ada pilihan untuk Mavis untuk menyerang dalam jarak jangkauan sekitar lima puluh meter dari tempatnya melayang, tetapi informasi yang dapat membuatnya bisa menyerang dalam jarak jangkauan tersebut hanya pada saat dirinya diserang, dengan kata lain hanya counter-attack yang menjadi satu-satunya opsinya untuk menyerang.
Melihat malaikat buatan tersebut seakan terdiam pada tempatnya, Dart menghampiri Penyihir Agung dan membentak, “Oi! Kenapa dia malah diam!?” Penyihir Agung melirik tajam melihat tingkah tidak sopan itu. Tidak mempermasalahkannya, Penyihir Agung paham kalau sekarang bukan saatnya untuk berselisih karena musuh dunia benar-benar muncul di hadapan semua orang dan berusaha untuk sabar.
“Mavis tidak punya informasi mobilitas secara horizontal .... Dalam bentuk itu, dia membuang informasi yang tidak perlu dan meningkatkan informasi untuk bisa mencapai bentuk tersebut .... Intinya, dia hanya bisa bergerak ke atas dan bawah. Tentu saja, informasi untuk dapat menyerang atau merusak objek lain juga hilang, itu digantikan dengan informasi kuat untuk melindungi diri ....”
“Eh? Bagaimana dia bisa bertarung kalau seperti itu?!”
“Tenaglah, bocah.” Quon menghampiri mereka, lalu menepuk pundak Dart. “Kita benar-benar tertolong oleh malaikat itu. Kalau tidak ada makhluk itu, iblis sialan di sana pasti sudah menerjang ke arah kita semua ....”
“Kita?” Dart menoleh ke arah Quon. Saat melihat orang-orang di belakang pria tua tersebut, para penyihir, pasukan kekaisaran, dan kerajaan berdiri bersebelahan dan melihat ke arah yang sama. Pemuda itu sadar kalau medan pertempuran yang dirinya tahu telah menghilang.
Perasaan dan harapan semua orang di tempatnya berdiri menjadi satu, yaitu berharap Mavis bisa mengalahkan Iblis tersebut dan membalaskan kematian orang-orang yang telah dibunuh oleh makhluk persimbolan dari kejahatan itu.
“Mungkin ini kejam ..., tapi .... lupakan saja amarahmu, bocah. Ini sudah bukan lagi peperangan antar negeri, ini ... peperangan untuk keselamatan dunia. Kalau yang muncul itu salah satu iblis tingkat atas, ada kemungkinan Iblis tingkat atas lainnya akan terpanggil dan segel Raja Iblis di daratan itu akan terlepas ....”
“Iblis di sana kemungkinan besar Belphegor,” ucap Penyihir Agung. Mendengar itu, Quon bertambah cemas dan melihat ke arah Iblis di atas Aldebaran.
“Dia benar-benar salah satu Pangeran Neraka itu? Kalau begitu, mungkin saja pada iblis tingkat atas lain ....”
Dart tidak paham apa yang dibicarakan Quon dan Penyihir Agung, dirinya tidak tahu-menahu tentang masalah Iblis atau semacamnya. Saat suara tawa iblis yang sangat terdengar lantang, perhatiannya dan semua orang kembali terarah pada kedua Mavis dan Iblis tersebut.
Mavis bergerak lambat ke depan, beberapa sentimeter dalam setiap tiga puluh detik. Melihat mobilitas selambat itu, Iblis mulai berbaring dan tidur malas-malasan di atas Aldebaran seakan menghina malaikat tersebut. Dart di permukaan melihat itu dengan rasa geram, rasa marah harus mempercayakan kemenangan melawan Iblis kepada Mavis membuat harga diri pemuda itu terusik.
Dengan cepat Dart duduk sila di atas permukaan tanah becek, lalu masuk dalam mode meditasi instan. Dalam hitungan kurang dari sepuluh detik, Ia masuk ke dalam alam bawah sadar dan mulai menyerap Mana alam untuk memulihkan stamina, dan dalam hitungan satu menit seperdelapan staminanya pulih.
Kembali berdiri, Dart menggunakan teknik meditasi pasif untuk mengumpulkan Ether dari udara dan mengubahnya menjadi Mana untuk diserap dalam tubuh. Dengan membagi konsentrasinya, Ia melakukan itu dengan sendirinya seperti layaknya bernapas. Quon dan Penyihir Agung terkejut melihat pemuda itu bisa manipulasi Mana seoptimal itu.
Tidak memedulikan sekitarnya, Dart langsung meloncat dan menggunakan Mana padat untuk melesat ke udara. Dalam hitungan kurang dari dua puluh detik, pemuda itu sampai pada ketinggian yang sama dengan Mavis. Sampai di hadapan malaikat buatan tersebut, Dart langsung membuat pedang Mana padat dan melesat cepat ke arah Iblis menggunakan Mana padat sebagai pijakkan di udara.
“Teknik Pedang ... Cakar Tunggal!!”
Sebuah tebasan mengarah tepat ke leher Iblis yang terbaring santai di atas lantai Aldebaran. Seakan tidak menganggap serangan tersebut sebagai ancaman, Iblis tersebut hanya mengangkat jari telunjuk dari salah satu tangannya dan menghentikan serangan Dart. Tepat di ujung kuku panjang Iblis, tebasan Dart tertahan. Mendarat di atas Aldebaran dan mengganti posisi pedangnya ke tangan kiri, Dart menebas secara diagonal ke arah kepala Iblis.
Iblis tersebut meloncat menghindar, lalu menjaga jarak dari Dart. Secara insting Iblis itu sadar kalau manusia yang datang menyerangnya menggunakan teknik aneh yang dapat mengganggu konsentrasi kepadatan kegelapan yang menjadi konstruksi tubuhnya. Mengamati pedang Mana yang bersinar putih milik Dart, sang Iblis paham kalau pedang tersebut dapat menghisap kekuatan dari objek yang ditebasnya.
“Kha! Kha!” Iblis tersebut merentangkan keempat tangannya, lalu kembali mengambil senjata sambit raksasa yang diletakkan di atas lantai. Pada keempat sabit tersebut, mulai terpancar aura gelap dan mengerikan.
Iblis mengayunkan salah satu sabitnya ke arah Dart dengan sangat cepat. Seakan tidak memedulikan datangnya serangan itu, Dart hanya berdiri tegak tanpa memasang kuda-kuda. Pada saat sabit akan mengenai lehernya, pemuda tersebut menghilang dari tempatnya dan tiba-tiba kembali muncul satu meter tepat di depan sang Iblis. Dart langsung menusukkan pedangnya ke arah dada Iblis. Tidak bisa mengantisipasi hal tersebut, Iblis itu tertusuk dan Mana hitam terserap masuk ke dalam pedang.
Kesakitan kekuatannya terhisap, Iblis itu mengayunkan ketiga sabitnya ke arah dirinya sendiri untuk menghabisi Dart. Pemuda itu meloncat cepat ke belakang dan menghindar, ketiga sabit tersebut menusuk tubuh Iblis itu sendiri tanpa bisa melukai Dart.
Mencabut senjata dari tubuh, luka pada Iblis tersebut yang muncul karena sabit pulih dengan cepat. Tetapi, luka pada dada butuh jeda waktu lebih lama untuk sembuh karena kekuatan untuk mempertahankan bentuknya diserap.
“Sebanyak apa kekuatan yang dimilikinya? Bahkan pedangku sampai menghitam,” pikir Dart. Pemuda itu menghilangkan pedang Mana yang sudah tercemar, lalu kembali menciptakan pedang Mana lainnya dalam genggaman kedua tangan. Bersiap bertarung kembali, tiba-tiba rasa nyeri menyerang pemuda tersebut dan membuat konsentrasi pudar. Pedang pada genggaman tangannya mulai buyar dan bentuknya tidak stabil.
Mengepakkan sayap dan terbang mengejar Dart, Iblis hitam itu mengayunkan salah satu sabitnya dengan kencang. Dart berbalik di udara dan menahan serangan tersebut dengan pedang Mana yang tidak stabil. Crang!! Pedangnya pecah dan hancur berkeping-keping. Saat serangan sabetan sabit datang lagi, punggung pemuda tersebut menabrak Mavis. Menyeringai gelap, Ia bergelantungan pada malaikat buatan tersebut dan menjadikannya perisai.
Sabetan Iblis mengenai sihir pelindung Mavis. Secara sistematis, malaikat buatan tersebut melakukan reaksi atas serangan pada dirinya. Kembali mengatur Rune berbentuk aneh di belakang, Mavis kembali menarik pedang cahaya dari dimensi yang lebih tinggi menggunakan distorsi ruang. Menyalurkan cahayanya dan memperpanjang pedang, Mavis langsung menebas Iblis di hadapannya. Tubuh Iblis tersebut terbelah menjadi dua, tetapi dalam hitungan detik menyatu kembali dengan cepat. Sebelum menyatu secara penuh, Dart meloncat ke arahnya menggunakan Mana yang dipadatkan dan menebas iblis tersebut.
Serangan itu telak mengenai dada Iblis dan membuat luka secara diagonal. Memegang kepala Iblis tersebut dan bergelantungan, Dart menyeringai gelap bahkan sampai menakuti sang Iblis. Tangan kiri Dart yang memegang kepala Iblis perlahan terbakar api biru. Tidak memedulikan hal tersebut, pemuda itu langsung menusuk-nusuk tubuh iblis dengan brutal. Lima tusukan, pedang berubah menjadi gelap. Membuat kembali pedang Mana padat lain dalam hitungan detik, pemuda itu menusuk-nusuk tubuh iblis lagi.
Iblis menjerit kesakitan, suaranya terdengar mengerikan dan membawa teror ke permukaan. Mengayunkan keempat senjatanya untuk menyerang Dart, pemuda tersebut menjatuhkan dirinya ke bawah dan menghindar. Api yang membakar tangan kirinya padam, luka bakar parah membuat pemuda tersebut benar-benar tidak bisa menggunakan tangannya untuk menggenggam senjata. Saat dirinya menutup mata dan pasrah jatuh ke bawah, tiba-tiba dirinya ditangkap oleh sesuatu yang lembut dan diangkat ke atas. Membuka mata, Dart melihat dirinya didekap Mavis dengan sayapnya.
“Kenapa kau ....”
Dart terlihat bingung. Tetapi saat mendengar rintihan Iblis yang semakin keras, pemuda itu langsung memanjat melalui sayap Mavis dan bergelantungan pada bahu malaikat buatan tersebut. Mavis kembali melakukan mobilitas secara vertikal ke atas, lalu berhadapan langsung dengan sang Iblis yang bentuknya semakin kacau karena konstruksi bentuknya di dunia nyata rusak.
Melihat Iblis hitam itu berusaha meregenerasi bentuknya, Dart benar-benar tidak percaya ada makhluk yang masih bisa bergerak setelah vitalitasnya diserap habis-habisan. Mavis menyentuh kepala Dart dengan lembut, pemuda tersebut tersentak kaget dan menoleh ke arah malaikat buatan yang dijadikan tempat bergelantungan bahunya. Sebelum Dart sadar, Mavis telah mendekatkan bibirnya dan langsung mencium Dart.
“Eh ....?”
Wajah pemuda tersebut terbalak bingung. Tetapi satu detik kemudian, ribuan informasi yang tidak diketahui Dart mengalir deras dalam pikiran dan membuat kepala pemuda tersebut terasa akan meledak.
Dalam informasi yang masuk ke dalam dirinya, Dart semakin tahu orang seperti apa Mavis itu. Perasaan seri terakhir Intara Hexe tersebut masuk ke dalam Dart. Rasa sedih, murka, dan bahkan kepingan kenangan masuk ke dalam diri pemuda itu.
Saat Mavis menghentikan ciumannya, air mata mengalir keluar dari pemuda berambut hitam tersebut. Itu pertama kalinya bagi Dart merasakan emosi yang begitu kuat, murni, dan tulus dalam hidupnya.
Sebelum pemuda itu sadar, sebuah sayap tunggal keluar merobek pakaian dari punggung kanannya, dan sayap yang dimiliki Mavis hanya tersisa sebelah kiri. Pada detik itu, informasi kedua individu tersebut terbagi secara merata dan menjadi sosok malaikat utuh dalam satu kesatuan.
Mavis menggenggam telapak tangan kanan Dart dengan kedua tangan, kedua individu tersebut mulai menyinkronkan kekuatan mereka menjadi satu. Cahaya sangat terang memancar keluar dari tubuh mereka, bagaikan sebuah matahari di tengah malam yang menyinari daratan. Paham apa yang ingin dilakukan Mavis, Dart mulai mengulurkan tangan kenannya ke depan bersama dengan seri kelima Intara Hexe tersebut. Pemadatan Mana berbentuk pedang tercipta dalam genggaman pemuda tersebut, lalu langsung memanjang dan menusuk tubuh Iblis yang berusaha meregenerasi bentuk fisiknya.
Pedang Mana itu mulai menyerap kegelapan dari sang Iblis, membuat warnanya berubah hitam. Sebelum mencemari pedang secara penuh, Mavis memegang punggung tangan Dart dan menyalurkan kekuatan suci ke dalam pedang, lalu mulai menyucikan kekuatan kegelapan sang Iblis yang terhisap.
Dalam siklus menghisap kekuatan dan disucikan, Iblis perwakilan sifat malas tersebut meronta-ronta dan berusaha mencabut pedang. Tetapi seakan menempel dengan erat, pedang tersebut mulai menyatu dengan tubuh Iblis dan perlahan menghancurkan bentuk fisiknya.
Cahaya memancar semakin terang dari Mavis dan Dart, dan terus melakukan penyucian pada sang Iblis. Sebelum suci secara menyeluruh, Iblis hitam tersebut memotong salah satu tangannya. Tubuh Iblis itu hancur dan lenyap menjadi butiran cahaya. Tetapi pada tangannya yang terpotong, perlahan mulai terbentuk tubuh sang Iblis dalam ukuran kecil kurang dari satu meter.
Mengepakkan sayap selaput hitam, Iblis tersebut segera melesat ke atas lebih tinggi dari Mavis dan Dart. Merentangkan kedua tangan dengan tergesa-gesa dan penuh kepanikan, sebuah pancaran aura hitam keluar dari tubuhnya dan melesat ke langit.
Dalam hitungan detik, sebuah obor besar berwarna keemasan datang dari arah Pegunungan Pengabadian. Di atas obor tersebut menyala api berwarna hitam kebiruan, dan mengeluarkan suara mengerikan dari jiwa-jiwa gentayangan.
“Kýrie, voithíste me!” suara keluar dari mulut sang Iblis. Sosok Iblis hitam tersebut memeluk obor dengan kedua tangannya, dan mulai mengaktifkan objek yang berfungsi sebagai katalis dan medium tersebut.
Beberapa detik setelah itu, langit mendung kembali berpusar spiral pada satu titik dan membentuk sebuah pola aneh. Awan gelap yang ada di langit mulai membentuk huruf dan angka dalam jumlah ratusan dengan ukuran besar, dan membentuk struktur lingkaran sihir kegelapan dalam sekala raksasa. Melihat hal tersebut, Penyihir Agung yang berada di permukaan sadar kalau struktur yang terbentuk dari awal itu adalah sihir pemanggilan makhluk dari dimensi lain.
“Jangan biarkan dia memanggil Iblis lagi!!!” teriak Penyihir Agung.
Mendengar hal tersebut, Mavis dan Dart yang telah menyatukan informasi dan kekuatan mereka melakukan pergerakan bebas di udara. Melesat terbang ke arah sang Iblis, mereka kembali mengayunkan pedang cahaya dan melenyapkan Iblis Belphegor secara penuh. Kembali mengangkat pedang, mereka berdua memotong obor keemasan yang menjadi katalis dan medium pemanggilan.
Rasa lega sesaat terasa dalam benak Penyihir Agung. Tetapi sadar kalau pusaran awan di langit tidak menghilang, rasa lega itu hilang dalam seketika. Gerbang telah terbuka, di dalam pusaran awan mulai keluar tangan tengkorak raksasa yang diselimuti daging busuk pada bagian sendinya. Tangan tersebut sangat besar, bahkan jemarinya saja sudah memiliki panjang rata-rata lebih dari tujuh meter.
__ADS_1
“Tidak mungkin ..., itu ... sang Raja Iblis yang tersegel dalam ... penjara ruang abadi itu? Tidak mungkin ... hal ini ....”
Penyihir Agung menggigil ketakutan saat melihat tangan yang ukurannya sangat besar tersebut keluar ke dunia. Meski hanya melihat tangan yang keluar sampai pergelengan saja dari pusaran awan, dirinya yang pernah menjelajah beberapa dimensi tahu sosok apa itu. Wujud dari kehancuran, awal dari kekacauan di Peperangan Dewa dan Iblis, sang Raja Iblis Kuno, Odrania Dies Orion.
“Kalau malapetaka itu datang ke dunia ini ..., kiamat akan ....”
Memaksa tubuh gemetarnya bergerak, Penyihir Agung sesegera membuat struktur sihir di udara dan mempersiapkan sihir ruang skala raksasa. Melihat sosok yang selalu tenang itu gemetar ketakutan, Quon yang berada di dekatnya ikut takut dan mulai paham betapa mengerikannya sosok yang perlahan keluar dari awan tersebut.
“Master, apa yan―”
“Jangan ganggu aku dulu!”
Selesai mempersiapkan sihirnya, Penyihir Agung mengompres lingkaran sihir berdiameter lima meter menjadi sekecil telapak tangan. Membuka telapak tangan kanan ke atas, sebuah pancaran cahaya di tembakkan ke udara, melewati ketinggian Mavis dan Dart, melesat lurus ke arah tangan tengkorak raksasa yang keluar dari balik awan.
Beberapa belas meter dari tangan raksasa tersebut, pancaran cahaya yang ditembakkan tersebut berubah menjadi lingkaran sihir raksasa selebar dua puluh lima meter. Memancarkan cahaya keunguan, sebuah distorsi ruang terjadi dalam skala besar. Distorsi tersebut sangat tidak stabil, tidak seperti pusaran awan di langit.
Perlahan ruang di sekitar lingkaran sihir tersebut mulai pecah. Dari pecahan celah dimensi itu, sebuah tangan bersisik dan berkuku tajam keluar. Mendobrak dengan paksa, seekor Naga raksasa berkulit hitam keluar dari celah dimensi yang tercipta dari lingkaran sihir yang mulai menghilang.
Sosok tersebut adalah Naga Hitam yang dikurung di Dunia Astral, sang pembawa malapetaka dan kehancuran. Mengepakkan sayap dan terbang di langit, naga tersebut meraung dengan keras sampai daratan seakan berguncang.
“Kenapa kau memanggil naga pembawa malapetaka itu!?” tanya Quon dengan panik.
“A ... ke-kenapa yang datang Naga Hitam? Bukannya struktur ruang itu terhubung dengan tempat Ifrit ...?”
Penyihir Agung tidak memperkirakannya, sosok yang diharap datang untuk membantu ternyata adalah sebuah malapetaka lain. Merentangkan kedua sayapnya lebar-lebar, Naga raksasa tersebut menyemburkan bola api magma raksasa ke permukaan. Menghadang bola api raksasa tersebut, Dart dan Mavis memasang pelindung sihir dan menahannya.
Bola api itu meledak di udara, terpencar dan menjadi hujan api dalam jangkauan luas. Di daratan, orang-orang berlarian kocar-kacir menghindari hujan api tersebut. Ada beberapa yang tertimpa dan terbakar, dan juga ada yang mati terkena ledakkan.
Kembali menyiapkan serangannya, Naga Hitam tiba-tiba digenggam dari belakang oleh tangan tengkorak raksasa yang keluar dari pusaran awan. Kekuatan Naga Hitam terhisap, sosok perkasa tersebut meronta kesakitan.
Secara insting Naga Hitam tersebut paham kalau musuhnya adalah sosok tangan raksasa yang menyerangnya. Meningkatkan suhu di sekitar tubuh, Naga Hitam tersebut membuat tekanan udara untuk mendorong genggaman tangan raksasa tersebut untuk melepaskan diri.
Terbang menjaga jarak, Naga Hitam membuka mulutnya dan mengumpulkan Ether untuk membentuknya menjadi bola plasma merah gelap. Menembakkan bola peledak tersebut, serangan telak mengenai tangan raksasa itu dan membuat hempasan udara sangat kuat yang bahkan sampai orang-orang di daratan terhentak tekanan.
Asap di sekitar tangan raksasa perlahan tersingkir, tetapi sosok tangan raksasa tersebut tidak hancur dan hanya mendapat luka bakar pada daging busuk di sekitar sendi jari-jarinya. Karena serangan Naga Hitam tersebut, distorsi di awan mulai tidak stabil dan mulai tertutup. Sadar akan hal tersebut, tangan tengkorak raksasa tersebut kembali ke tempatnya dan pergi tanpa perlawanan. Sebelum pergi sepenuhnya, sesaat suara terdengar.
“óloi me periménoun ....”
Tidak ada yang memperhatikan suara tersebut, malapetaka yang masih tersisa di langit membuat setiap orang di daratan menggigil takut. Naga Hitam dikenal sebagai sosok pembawa kehancuran. Setiap kali monster tersebut datang tanpa peringatan, Ia membawa kehancuran di tempat yang dilewatinya. Entah itu di kerajaan atau kekaisaran, semua orang di benua Michigan paham akan kengerian makhluk tersebut yang hampir setara dengan kengerian Iblis.
Segera menggunakan sihir melayang dan terbang ke arah Mavis dan Dart, Penyihir Agung menyiapkan sihir skala besar di telapak tangannya. “Bawa makhluk itu ke dekat celah dimensi!” teriaknya.
Mavis dan Dart mulai terbang ke arah Naga Hitam, lalu memasang perisai cahaya dalam ukuran besar dan mendorong Naga Hitam tersebut. Tidak sudi kembali ke tempatnya, sang naga mengepakkan sayapnya dan mendorong balik.
Penyihir Agung sampai di depan celah dimensi yang terbuka, lalu dengan segera mengaktifkan segel pada Naga Hitam yang dipasang oleh para Dewa untuk mengurung sosok pembawa malapetaka tersebut di Dunia Astral.
Rantai-rantai keluar dari celah dimensi, lalu mengikat sayap, kedua kaki, badan, dan leher naga tersebut, dan menyeretnya kembali ke Dunia Astral. Melayang pergi dari depan celah dimensi yang terbuka, Penyihir Agung membuat lingkaran sihir kembali dan menembakkan sihir cahaya untuk mendorong masuk Naga Hitam kembali ke Dunia Astral.
Setelah Naga Hitam berhasil terusir dari dunia nyata, sesegera Penyihir Agung membuat lingkaran sihir raksasa dan menutup ruang dimensi yang pecah tersebut. Dalam hitungan detik, seperti waktu diputar balik, celah dimensi yang terhubung dengan Dunia Astral tersebut tertutup.
Awal gelap di langit menyingkir dengan cepat karena hempasan angin yang keluar sangat kencang saat celah dimensi tertutup. Langit malam penuh bintang datang menjadi penanda berakhirnya pertempuran.
Tenaga Penyihir Agung habis dan sihirnya terlepas. Jatuh dari ketinggian, Dart dan Mavis menangkapnya dengan sayap mereka. Belum sepuluh detik melayang di udara, perubahan malaikat Mavis habis dan ketiga orang tersebut jatuh ke bawah dengan cepat.
Melihat mereka jatuh, Quon memanipulasi Mana yang menyelimuti tangannya menjadi ular dan menangkap ketiga orang tersebut sebelum membentur tanah dengan keras, lalu menurunkan mereka dengan mulus. Terkapar di atas tanah berlumpur, ketiga orang tersebut benar-benar kelelahan dan sama sekali tidak bergerak.
Semua orang bersorak secara serentak, penuh meriah dan senang karena kemenangan mereka. Pihak Miquoator, Kekaisaran Urzia, dan Kerajaan Felixia bersatu dalam kebersamaan rasa senang karena kemenangan yang didapat atas iblis dan dampak kemunculan Naga Hitam yang tidak terlalu parah dari biasanya saat naga tersebut muncul.
Memang ada beberapa orang dari masing-masing pihak yang tidak suka dengan keselarasan tersebut, tetapi memang mayoritas orang yang ada di tempat itu merasa senang atas kemenangan mereka melawan Iblis dan mencegah kehancuran skala besar yang terjadi saat seekor Naga Hitam datang ke dunia nyata.
Peperangan di Lembah Gersang tersebut berakhir, hasil yang didapat semua pihak adalah kerugian besar-besaran dalam berbagai aspek. Tidak ada pemenang jelas pada salah satu perang massal di masa Perang Besar tersebut, hanya ada kerugian besar dan semua pihak menarik pasukan masing-masing sampai markas utama.
Ketiga pihak menarik pasukan mundur dan benar-benar memasuki masa genjatan senjata tidak resmi dalam alur peperangan di benua Michigan. Kekaisaran menarik mundur pasukan utama sampai Ibukota, Kerajaan Felixia sampai daerah dataran tinggi di Pegunungan Perbatasan, dan Miquator kembali ke daerah kota di pesisir pantainya. Dalam peperangan di daerah tanah genting tersebut, sekitar lima ribu orang meninggal pada peperangan tersebut dari ketiga pihak, dan mereka juga kehilangan sosok-sosok penting yang menjadi aset berharga masing-masing negeri.
Pada pihak Kekaisaran, korban jiwa hampir mencapai seribu lima ratus jiwa. Bukan hanya itu saja yang diderita kekaisaran, salah satu Komandan Zodiak, Li Qiang Chen sang Naga meninggal dalam peperangan juga berdampak cukup parah dari garis peperangan di selatan kekaisaran dan membuat mereka harus menarik pasukan mundur sampai Ibukota untuk mengadakan rapat mengenai lanjutan dari invasi mereka.
Tetapi, itu hanyalah sebuah kehilangan yang diderita kekaisaran pada peperangan di Lembah Gersang. Pada zona peperangan di tempat lain yang dilakukan kekaisaran, mereka mengalami kekalahan sangat telak lanjutan dari invasi pulau barat yang dilakukan kerajaan Moloia.
Pasukan dari negeri yang mengandalkan teknologi tersebut melanjutkan serangan dengan menyeberang ke daratan utama kekaisaran, dan menggempur habis-habisan para Komandan Zodiak yang masih berada di daerah perbatasan laut.
Pada penggempuran tersebut, hampir semua Komandan Zodiak mati, kecuali sang Ular yang selamat dari perang di Lembah Gersang dan sang Macan yang selamat dari gempuran pasukan Moloia. Tikus, Kerbau, Monyet, Kelinci telah mati pada peperangan sebelumnya, dan pada gempuran pasukan Moloia tersebut, Kuda, Ayam, Anjing, Babi, Kambing, juga ikut mati. Ditambah kematian sang Naga, dari 12 Komandan Zodiak benar-benar dua Komandan saja yang tersisa, yaitu Ular dan Macan.
Dalam kekosongan kursi komandan secara massal tersebut, Kaisar dari Urzia bertitah untuk mengajukan gencatan senjata sementara dan meminta kepada Kerajaan Moloia untuk berhenti menyerang. Untuk mau memenuhi permintaan, kerajaan yang memiliki sistem mesin kalkulasi tingkat tinggi tersebut mengajukan syarat untuk dapat memiliki beberapa tambang di daerah garis pantai barat daratan utama kekaisaran. Kaisar menyetujui hal tersebut dengan cepat dan invasi kerajaan Moloia berhenti menginvasi.
Tetapi dalam perjanjian tersebut ada sebuah hal yang janggal, yaitu pemimpin dari kedua pihak tidak bertemu secara langsung dan hanya mengirimkan satu surat khusus pada saat yang bersamaan seakan telah tahu kalau masing-masing pihak akan mengambil tindakan yang diprediksi kedua belah pihak.
Setelah kesepakatan gencatan senjata tersebut disetujui oleh kedua belah pihak, beberapa bulan kemudian Kekaisaran Urzia mengalami konflik internal dari pihak para Demi-human yang masih ingin berperang dan menganggap diri mereka mampu. Alasan tersebut muncul karena rasa dendam, sebab sebagian besar pasukan di garis pantai barat yang digempur dan terbunuh oleh pasukan Kerajaan Moloia adalah ras Demi-human.
Untuk Kota Sihir, Miquator, pihak tersebutlah yang mendapat kerugian terberat mengingat sumber daya yang dimiliki sangat sedikit. Negara Kota tersebut kehilangan enam ratus penyihir, dan lebih dari seratus ekor Wyvern jinak. Selain kerugian tersebut, keempat seri Homunculus Intara Hexe yang menjadi kekuatan utama Miquatror telah tiada dan hanya tinggal seri terakhir saja, itu pun dengan kondisi tidak bisa dikatakan layak sebagai penyihir karena kerusakan kepribadian yang diderita.
Dari semua kerugian yang ada, yang paling berdampak adalah hancurnya pulau melayang, Aldebaran, dan tidak bisa diperbaiki lagi karena kerusakan yang ada sudah terlalu parah. Dari tiga pulau melayang yang dimiliki pihak Miquator, hanya Aldebaran yang bisa digunakan untuk mobilitas dan memiliki sihir pelindung kuat untuk digunakan sebagai benteng melayang.
Pada pihak Kerajaan Felixia, negeri tersebut mengalami kerugian paling besar dalam peperangan. Dari semua korban jiwa yang tumbang di medan peperangan Lembah Gersang, yang paling banyak adalah dari pasukan Kerajaan Felixia karena tertimpa pulau melayang. Bukan hanya itu saja kerugian besar yang diderita Felixia, hilangnya dua kepala Keluarga Bangsawan Utama membuat dampak besar dalam bidang politik negeri tersebut.
Sosok-sosok penting pihak Kerajaan Felixia yang meninggal dalam perang salah satunya adalah Kepala Keluarga Luke, Madis Luke. Hilangnya kepala keluarga Luke berarti sama saja Felixia kehilangan senjata utama, dan itu menurunkan moralitas dan semangat para prajurit yang ada untuk berperang.
Dalam kasus umum, putra sulung akan menjadi penerus keluarga tersebut. Tetapi karena Gariad Luke juga meninggal dalam perang, secara otomatis Dart Luke yang masih sangat muda menjadi Kepala Keluarga Luke ke 5. Pada hierarki keluarga utama tersebut, terjadi keruntuhan besar karena Keluarga Cabang, Shieal, semua keturunannya tidak tersisa dan mati bersama tuan mereka di medan perang. Hasil dari hal tersebut adalah menurunnya martabat Luke di mata para bangsawan kerajaan Felixia.
Pada Keluarga Bangsawan Utama Rein, mereka juga kehilangan Kepala Keluarga karena ledakan dari serangan Iblis hitam yang direfleksikan, lalu terpental dan meledak di garis belakang Felixia pada peperangan Lembah Gersang. Setelah kematian Michara Dima Rein, putra sulung di keluarga tersebut, Thomas Rein, diangkat menjadi Kepala Keluarga Rein selanjutnya.
Tidak seperti Luke yang tidak memiliki keturunan lagi selain Dart, Michara Dima Rein yang memiliki banyak istri dan anak meninggalkan beberapa konflik dalam keluarga Rein karena tidak menulis surat wasiat resmi penyerahan Kepala Keluarga. Meski begitu, masalah tersebut hanya terjadi secara internal dan selesai dengan cepat meski ada beberapa yang protes karena kepala keluarga selanjutnya masih sangat muda.
Dari semua kerugian yang diderita Kerajaan Felixia, yang paling mengejutkan adalah kabar yang datang dua bulan setelah perang di Lembah Gersang. Ratu dari Kerajaan Felixia meninggal dunia di kediamannya yang berada di Ibukota, Millia. Kabar tersebut mengguncang seluruh hierarki kebangsawanan Kerajaan karena belum ada kandidat resmi untuk dijadikan suami Tuan Putri Kerjaan Felixia, untuk menjadikannya pasangan Raja dan Ratu selanjutnya.
Putri dari mendiang ratu sudah berumur matang untuk menikah, tetapi calon yang pantas seperti raja sebelumnya belum ada. Dari rapat para senat Kerajaan Felixia yang diadakan beberapa hari sebelum pemakaman Ratu, nama Gaiel muncul menjadi kandidat terkuat dan menyingkirkan nama bangsawan-bangsawan lain. Lima minggu setelah pemakaman sang Ratu, Gaiel dan Tuan Putri Huanian Dalia vi Felixia menikah secara resmi di Ibukota Kerajaan Felixia.
__ADS_1
Selang kurang dari satu bulan, kedua sosok tersebut langsung diangkat menjadi Raja dan Ratu oleh para anggota Keimanan Kerajaan Felixia. Nama marga Gaiel berubah, dan dirinya menjadi Gaiel vi Felixia, sosok pemimpin kerajaan yang menjalin kontrak dengan para Roh Agung Dunia Astral, sekaligus suami dari Ratu ke 5 Kerajaan Felixia, Huanian Dalia vi Felixia.