
Pada arah Pegunungan Pengabadian, beberapa kilometer di luar medan peperangan yang berlangsung di Lembah Gersang, seseorang berselimut jubah hitam berdiri di dataran tinggi daratan tinggi seraya melihat medan perang.
Tudung dari jubah panjangnya tertiup angin dari dataran lebih rendah dan terbuka, memperlihatkan raut wajah pucat dari perempuan berambut hitam yang memiliki telinga runcing tersebut. Dengan ekspresi bahagia yang terlihat gelap, ia mulai tersenyum lebar sampai pipinya terangkat ke samping.
Wajah perempuan berambut hitam tersebut terlihat sangat muda, memasang wajah euforia dalam kegilaan. Mata berwarna hijau gelapnya terbuka lebar sampai seakan meloncat keluar, mulutnya terbuka dan lidah penuh liur berceceran dijulurkan. Perempuan itu merentangkan kedua tangannya ke samping, mendongak dan mulai tertawa terbahak dalam kegilaan.
Angin yang berhembus dari bawah tebing tempatnya berdiri dan menerpa wajahnya, membuat rambut hitam gelapnya berkibar layaknya kegelapan langit malam. Sosok tersebut terlihat begitu membawa kengerian dalam tawanya, penuh dengan kegilaan dan memandang peperangan yang ada dengan sangat rendah, layaknya melihat sekumpulan belatung di batang pohon.
“Aaahhh~ Betapa mengerikannya mereka~ menyedihkan~ Sungguh tidak bermoral dan tidak bisa diampuni!! Sungguh dungu dan bejat! Dewaku, kumohon berikanlah hukuman pada mereka! Jadikan nyawa mereka tidak lebih berhara dari ternak!”
Perempuan bertelinga runcing itu mengulurkan tangan kanannya ke langit, lalu kembali menghujat peperangan yang ada di daerah lembah. Sosok tersebut adalah salah seorang Zaim dari Aliran Sesat yang tumbuh di kekaisaran dalam beberapa belas tahun terakhir selama masa peperangan. Dalam kepercayaan mereka, peperangan adalah hal yang salah dan memang dalam ajaran aliran tersebut mengajarkan perilaku-perilaku yang baik.
Tetapi ada beberapa hal menyimpang yang tidak bisa ditolerani dalam ajaran mereka yang menyebabkan aliran kepercayaan itu disebut Aliran Sesat, salah satu hal intoleran tersebut adalah Dewa yang mereka percaya. Aliran Sesat yang tumbuh di kekaisaran itu menyembah Dewa Iblis, Odrania Karln Ilmika Spirculo, sebagai dewa utama mereka. Selain hal tersebut, ada juga beberapa keyakinan yang menyimpang seperti sifat rasis dan hukuman kejam yang ada di dalam penegakan ajaran.
“O~Wahai Dewa yang kami sembah, Odrania Spiculo! Tolong tunjukkanlah kekuatanmu pada orang-orang bodoh di bawah saja! Berikan mereka hukuman langitmu kepada mereka! Hamba di sini berdoa untukmu, wahai sang Dewa para bangsa iblis yang bijaksana!”
__ADS_1
Tepat di belakang sosok perempuan itu, terlihat tumpukan-tumpukan mayat yang menggunung sampai setinggi dua meter. Mayat-mayat itu bukanlah orang militer dari kerajaan atau kekaisaran, melainkan warga sipil Miquator tidak berdosa yang didapatnya dari tempat pengungsian perang di wilayah dekat tempatnya berdiri.
Membuka kedua telapak tangan seperti sedang berdoa, sosok tersebut menciptakan lingkaran sihir kegelapan di depan dadanya. Dalam hitungan detik, lingkaran tersebut mengoyak dada dan masuk sampai menebus tulang rusuk dan sampai ke organ dalam. Darah berceceran, suara tulang yang hancur terdengar nyaring dan jelas.
Jantungnya ditarik keluar dari dada oleh lingkaran sihir, melayang penuh tetes darah dengan arteri yang masih tersambung. Saat putus, seketika perempuan tersebut ambruk ke belakang. Jantung berselimut lingkaran sihir yang melayang itu masih berdetak, terbang ke arah tumpukan mayat dan masuk ke tengahnya.
Dalam beberapa detik, cahaya berwarna ungu gelap bersinar terang. Tumpukan mayat tersebut dengan cepat meleleh menjadi gumpalan cairan berwarna hitam pekat, lalu seakan hidup mulai bergerak dan menelan mayat perempuan yang mengorbankan jantungnya.
Tidak lama berselang, cairan tersebut mulai membentuk pola lingkaran sihir di atas permukaan tanah berbatu. Lingkaran sihir itu terdiri dari unsur utama struktur menyimpang simbol The All-Seeing Eye, sebuah mata tunggal raksasa yang perlahan mulai timbul. Terbuka lebar di atas permukaan tanah, mata itu terlihat hidup dan berkedip-kedip.
Tangan yang muncul dari permukaan itu menjunjung tinggi obor, lalu mengarahkannya ke langit seakan-akan menyembah sesuatu. Tangan tersebut mengerah membatu bersamaan dengan mata, dan hanya meninggalkan obor besar keemasan yang di atasnya terdapat api hitam kebiruan yang mengeluarkan suara-suara mengerikan.
“Tolong .... Tolong!”
“AKh! Sakit! Mama ..., sakit!”
__ADS_1
“Kak, kakak di mana? Aku tidak bisa melihat!”
“AKHHHH! Sakit!! Sakit!!”
Dalam hitungan detik, langit malam yang tadinya sudah terang kembali tertutup awan yang berpusar pada satu titik tepat di atas pulau melayang, Aldebaran. Di medan perang, dari mayat-mayat yang bergelimpangan di permukaan tanah mulai keluar partikel-partikel cahaya putih dan mulai terangkat ke atas, menuju ke arah pusaran awan yang mulai terbentuk.
Fenomena tersebut semakin meluas, dan sampai mayat di seluruh medan pertempuran Lembah Gersang mengeluarkan partikel putih ke udara. Semakin mendekati pusaran gelap di langit, partikel-partikel yang berkumpul semakin berubah menggelap dan pada akhirnya menjadi hitam.
Dari pusaran awan gelap di langit peperangan, dua tangan berukuran raksasa perlahan keluar. Tangan itu begitu hitam keseluruhan, memiliki kuku panjang dan runcing, serta membawa hawa mengerikan bersama kemunculannya.
Para penyihir yang berada di atas Aldebaran pertama kali melihat sosok yang mulai menampakkan dirinya di langit tersebut. Seakan hukuman ilahi mengerikan yang datang, sosok itu mengeluarkan kepalanya dari pusaran awan.
Itu adalah Iblis, tanpa dijelaskan oleh siapa pun para penyihir Miquator tahu kalau sosok tersebut adalah makhluk yang paling ditakuti di benua Michigan. Kulit yang sepenuhnya berwarna hitam, mata putih menyala terang dan tanduk melengkung seperti tanduk kambing, itu sudah menjadi ciri-ciri nyata yang diceritakan dalam buku-buku yang ada di perpustakaan yang sering dikunjungi para penyihir di tempat mereka belajar. Hanya kepala saja yang muncul, besarnya sudah melebihi seekor dua kali Wyvern dewasa, dan telapak tangan sosok raksasa tersebut bahkan dapat menggenggam ujung menara pengawan yang ada di atas Aldebaran.
Melihat para penyihir yang ketakutan di bawah, sang Iblis menyeringai dalam wajah gelapnya dan mulai menjamah ke permukaan, menghancurkan apapun yang disentuhnya dengan tangannya.
__ADS_1
Perisai pelindung kuat pulau melayang tersebut robek dengan mudahnya, dan Iblis tersebut menyentuhkan jarinya ke permukaan pulau melayang, seketika aura hitam yang menyebar dari kulit makhluk raksasa itu langsung mencemari permukaan tempat itu. Setiap penyihir yang terkena aura hitam tersebut langsung terbakar, lalu nyawa mereka berubah menjadi partikel cahaya dan melayang masuk ke mulut sang Iblis Raksasa.