
Lia mengingat kejadian dulu saat dia masih bersama dengan ibu kandung Gracella, wanita yang melahirkan Gracella, dan meninggalkannya beberapa tahun yang lalu di tangan Lia.
Wanita yang melahirkan Gracella bernama Ambarwati, wanita baik dan polos kala itu, yang ingin merubah hidupnya karena tekanan dan beban yang dipikulnya, dia meninggalkan kampung halaman, keluarganya untuk mencari uang.
Ambar dan Lia bersahabat karib, Ambar wanita dari banyuwangi yang datang merantau ke Jakarta ingin mencari kehidupan yang layak, Ambar sang tulang punggung keluarga yang membawa beban berat di pundaknya berangkat dengan izin ibunya yang sudah sakit parah.
Pertemuan Ambar dan Lia kala itu saat mereka sama-sama berada di Terminal Bus, Lia yang sudah sudah setahun lamanya tinggal di Jakarta memberikan tumpangan kepada Ambar.
Kehidupan di Jakarta membuat Ambar harus banting tulang, namun sekeras-kerasnya dia bergulat dengan kehidupan Jakarta, tidak membuat ibunya bisa mendapatkan pengobatan yang layak.
"Uangnya masih belum cukup juga untuk operasi dan cuci darah." Ambar sedih dan meneteskan air mata di atas kasur kamar kosnya.
Kamar kos kecil dan sempit yang masih menumpang di kos sewaan Lia, selama ini Lia lah yang banyak membantu Ambar, dan Ambar banyak berhutang budi kepada Lia.
Lia memeluk erat tubuh gadis itu, dia memahami betul bagaimana isi hati Ambar, Lia mencoba menenangkan hati sahabatnya itu.
"Ambar...kamu mau cari uang lebih banyak?" Tanya Lia seketika memecahkan keheningan kamar kosan kecil itu.
"Waktuku sudah tidak cukup lagi untuk serabutan, kamu kan tau sendiri aku hanya punya 6 jam waktu istirahat, mandi dan tidur, aku bisa mati kalau memaksakan mencari pekerjaan serabutan lagi." Ucap Ambar.
"Bos di tempat kerjaku sedang mencari seorang wanita yang bersedia menemaninya ke luar kota selama sebulan, kalau kamu mau.... kamu akan dibayar untuk sebulan." Ucap Lia.
"Dibayar untuk menemaninya ke luar kota? Dia laki-laki?" Tanya Ambar dengan polos.
"Iya... bukan hanya menemani sekedar diperjalanan." Ucap Lia lagi.
"Lalu jalan-jalan?" Tanya Ambar masih dengan tatapan polos.
"Kamu butuh uang yang banyak untuk pengobatan ibumu kan? Kamu juga ingin adik-adikmu sekolah kan? Bos aku itu baik, tapi dia pengen wanita yang menemaninya ya seperti kamu... masih virgin." Ucap Lia.
"Maksud kamu? Menemaninya tidur?" Tanya Ambar.
"Maafkan aku Ambar, aku tahu ini dosa, tapi kamu gak perlu capek-capek kerja seperti yang sekarang kamu lakonin, lihat tuh kantung mata kamu makin hitam, kulit kamu juga kusam, pucat, aku khawatir dengan kesehatanmu, kalau kamu sakit... siapa yang akan menanggung hidup keluargamu?" Tanya Lia mencoba meyakinkan Ambar.
"Tidak Li... aku tidak sudi menjadi wanita yang menjual dirinya demi uang." Jawab Ambar menolak.
"Ambar... pikirkanlah! Kamu akan dibayar dengan harga tinggi, mungkin kalau dia suka dan nyaman denganmu, bukan hanya sebulan, bisa jadi dia akan menikahimu juga. Ambar... kamu mau kan ibumu sembuh?" Ucap Lia masih mencoba meyakinkan sahabatnya itu.
"Lia... aku takut dosa." Ucap Ambar.
"Kita semua manusia yang sejak lahirpun sudah berdosa, kamu tau kan nenek moyang kita hawa melahirkan kita karena berdosa?" Ucap Lia masih tidak menyerah membujuk dan meyakinkan sahabatnya.
"Aku tidak mau, Li. Jangan paksa aku." Ucap Ambar kala itu.
__ADS_1
"Aku tidak memaksamu, aku hanya membukakan pikiranmu tentang hidup, Jakarta itu keras." Ucap Lia.
"Aku takut tidak virgin lagi..." Jawab Ambar masih penuh pertimbangan.
"Ambar, kalau kamu mempertahankan keperawaw*nan kamu pun, belum tentu kamu bisa menikah dengan seseorang yang masih menjaga keperjaka*anya." Ucap Lia.
Ambar mengernyitkan keningnya, mencoba berpikir keras, antara ingin dan takut. Ambar menghela nafasnya panjang, dia belum bisa mutuskan apapun saat itu.
***
Lia berencana akan menikah dengan seorang Pria bernama Galuh, mereka sudah lama menjalin hubungan asmara, dan bahkan hubungan mereka sudah sangat dekat layaknya suami dan isteri.
Malam itu, Lia berpakaian dan berdandan cantik seperti malam biasanya, Lia bekerja sebagai pemandu lagu karoke di sebuah studio karoke terkenal di kota Metropolitan. Dia berasal dari kampung yang sama dengan Ambar, wanita yang melahirkan Gracella. Namun meskipun berasal dari kampung yang sama, Lia dan Ambar berkenalan setelah mereka di Jakarta karena sebelumnya mereka tidak saling mengenal.
Lia dan Ambar merupakan anak yang latar belakang keluarganya susah, yang mengemban beban menjadi tulang punggung keluarganya namun jalannya berbeda.
"Lia... aku pinjam uang kamu boleh gak? Sebenarnya aku gak enak kalau mengatakan ini kepadamu, tapi aku gak tahu harus bagaimana lagi, ibuku smakin sakit, kemarin dia jatuh di sumur belakang rumah." Isak tangis Ambar menghalangi Lia akan berangkat kerja di malam itu.
Ini bukan untuk pertama kalinya Ambar meminjam dan meminta uang dari sahabatnya itu, biasanya Ambar memberikannya walaupun terkadang jumlahnya tidak seperti yang diiinginkan sahabatnya namun dia sering berusaha.
"Maafin aku Ambar, kali ini aku tidak dapat membantumu." Ucap Lia dengan tatapan sedih.
"Lia... tolong aku!" Ucap Ambar.
"Mbar, kamu tahu kan aku juga sama sepertimu, aku harus mengirim ke kampung untuk keluargaku, aku harus melunasi utang ayahku, dan aku juga harus melunasi hutang-hutang judiku, aku kalah terus, sampai kapan aku begini, aku puyeng kalau harus menjelaskan semuanya ini, aku mumet, aku gak bisa terus menerus membantumu... Lagian yang kemarin juga masih belum bisa kamu lunasin kan?" Ucap Lia.
Ambar semakin sedih, dia menangis menjatuhkan dirinya di kursi rongsokan yang ada di ruangan itu, "Ya Tuhan..." Gumammnya sambil menangis.
"Lia, kamu harus memikirkan kembali tawaran aku kemaren, aku tahu itu dosa, tapi semua manusi di dunia ini berdosa, hanya saja bentuk dosanya berbeda-beda. Lagian kalau kamu gak banyak dosa, kamu pasti cepet mati." Ucap Lia.
"Kamu ini bisa aja bercandanya." Tawa mereka menghiasi kamar kos kecil itu.
"Aku senang melihat kamu bisa tertawa seperti ini Mbar. Walaupun aku tahu bebanmu berat, namun kamu harus tetap happy." Ucap Lia menghibur hati sahabatnya itu.
"Ibuku sakit parah, namun aku belum dapatkan uang untuk dikirimkan ke kampung Li, aku gak tahu harus bagaimana lagi sekarang. seandainya aku ini orang kaya pasti ibuku tidak akan mengalami sakit seperti ini." Ucap Ambar kala itu.
"Mbar, Tuhan sudah memberimu jalan, kamu nya aja yang melewatkan kesempatan itu. Kamu mau kan jadi simpanan bos aku sebulan? Kalau kamu mau, aku akan kenalkan kamu malam ini dengan bos aku, dia akan membawamu ke Kuala Lumpur selama sebulan, anggap aja refreshing untuk dirimu, dan kamu juga akan dapat uang." Ucap Lia.
Ambar menghela nafasnya panjang, mungkin kali ini dia tidak dapat pilihan lain lagi, dia menganggukkan kepalanya, "Oke." Ucapnya lirih.
"Kamu mau?" Tanya Lia.
"Aku gak tahu harus bagaimana, aku gak tahu apakah harus aku lakukan tawaran itu." Ucap Ambar ragu-ragu.
__ADS_1
Lia memeluk Ambar dan menguatkan hati sahabatnya itu, "Kamu tidak ada pilihan lain, Ambar." Ucapnya.
"Iya Li, gak ada pilihan lain lagi kan?" Ucap Ambar.
***
"Yauda, sekarang kamu mandi, bersih-bersih dan pakai baju yang cantik, sono dandan!" Ucap Lia.
Kali ini Ambar tidak menolak lagi, dia melakukan semua arahan yang diucapkan sahabatnya itu, dan malam itu Ambar dikenalkan kepada bos pemilik studio karoke tempat Lia bekerja.
"Kenalin ini Pak Ridwan." Ucap Lia.
"Ambar Pak." Jawab Ambar.
"Kamu cantik dan semok, aku suka." Ucap Pak Ridwan memberikan pujian di awal pertemuan.
Lia tersenyum, meninggalkan Ambar dan Pak Ridwan berdua di dalam room, Lia melanjutkan tugasnya.
***
Seketika air mata Lia jatuh mengingat kisah sahabatnya yang akhirnya terjerumus lembah hitam karena bujukannya.
"Maafin aku Ambar, karena aku... kamu menjadi seperti ini, dan sekarang anakmu juga mengikuti jejak kita, maafin aku." Gumam Lia dalam hatinya.
"Mami..." Panggil seorang wanita.
"Ya Mira." Jawab Mami Lia.
"Ada yang pengen booking Gracella tuh, dari tadi nelpon Mami gak diangkat katanya." Ucap Mira.
"Gracella ngambek sama mami, dia tadi pergi, kamu aja yang handle boleh?" Tanya Mami Lia.
"Dia gak mau sama yang lain, dia maunya sama Sella, penasaran gue sama si Sella, kok banyk banget sih yang ketagihan sama dia, padahal senioran kan gue dibanding dia, cantikan gue juga." Ucap Mira ketus.
"Mira... yauda mana teleponnya, biar mami yang ngomong." Ucap Lia.
"By the way Mi... kenapa Gracella ngambek? kok kayaknya mami baik banget sih sama tuh anak, dibanding ke kita?" Ucap Mira lagi.
"Mami punya satu hutang beban kepada dia, makanya mami merasa bersalah banget, dan sekarang dia mau menikah, tapi gak mami izinin." Ucap Mami Lia.
"Kok ga diizinkan?" Tanya Mira heran.
"Ceritanya panjang, suatu saat nanti kalian akan tahu, sekarang mana teleponnya? Mami mau telepon balik Om nya." Ucap Mami Lia.
__ADS_1
Salah satu anak Mami yang banyak digemari om-om hidung belang adalah Gracella, mungkin karena parasnya yang ayu, bodynya yang semok seperti ibu kandungnya Ambar, sehingga lelaki yang melihatnya menjadi semakin tertarik.