
"Sayang, orangtua ku ingin sekali bertemu dengan orangtuamu, dan keluargamu, kapan ya kira-kira kita mempertemukan mereka?" Tanya Regi sambil memeluk Gracella di sebuah taman.
Gracella melepaskan dekapan Regi, dan mengatur nafasnya, "Maksudnya?" Tanyanya panik dan gugup.
"Sayang, tadi aku nanya kapan yah keluarga kita bertemu?" Regi mengulangi maksud dari pertanyaanya.
Sedikit menegangkan walaupun hanya pertanyaan santai buat wanita itu, "Nanti aku tanyakan dulu yah." Ucap Gracella.
Apa yang ditakutkan Gracella akhirnya terjadi, dia sangat takut jika keluarganya Regi akan mengetahui keberanan yang sesungguhnya. Namun untuk menikah, hal ini harus terjadi.
"Gimana ini? Sampai kapan aku akan menutupi semua ini? Aku gak mau kehilangan Regi, dia laki-laki yang akan membuat aku menjadi isteri, dia laki-laki sempurna." Gumam Gracella dalam batinnya.
***
"Kenapa ya Mah, calon mantu kita itu tidak mau mempertemukan kita dengan keluarganya? Padahal kan Regi sudah ada keinginan akan menikahinya dalam waktu dekat ini." Ucap Arief kepada isterinya.
"Mama juga gak paham, apa sebenarnya yang disembunyikan Gracella dari kita? Apakah dia tidak sungguh-sungguh mencintai anak kita?" Ucap mama Regi.
"Gimana kalau kita saja yang mendesak Regi agar Regi membawa kita ke rumah Gracella, papa juga penasaran dengan kehidupan gadis itu, dia kan calon menantu kita, wajar kalau kita mencari tahu bibit, bebet, bobotnya." Ucap Arief.
"Ya Mama setuju dengan ide Papa. Mama juga penasaran dengan calon besan kita itu, mama gak mau Regi mendapatkan mertua yang gak baik seperti mamanya si Diana." Ucap Mama Regi.
"Kasihan ya Mah Regi, smoga aja Gracella orang yang tepat untuknya, dan smoga aja ini benar-benar pernikahan terakhir Regi."
Mama dan Papa Regi terus menerus mendesak Regi untuk mempertemukan mereka dengan keluarga Gracella, hal itu membuat Gracella semakin panik dan ketakutan.
"Mami, apa yang akan aku lakukan?" Tanya Gracella kepada Mami Lia.
"Kamu harus cari pekerjaan halal." Ucap Mami Lia.
"Tapi bagaimana dengan utang-utang Mami?" Ucap Gracella.
__ADS_1
"Biarkan Mami yang memikirkan itu, kamu pantes untuk bahagia, Sella. Mami merasa banyak salah kepadamu, seharusnya mami gak bawa-bawa kamu ke dalam pekerjaan lembah hitam ini." Tangis Mami Lia pecah.
Gracella memeluk Mami Lia sang ibu angkatnya, menyeka air mata Mami Lia, "Sudahlah Mi, jangan menangis lagi, ini sudah menjadi suratan tanganku, semua sudah diatur Tuhan. Mami jangan berkata seperti itu." Ucap Gracella pasrah.
"Sayang, dengarkan Mami, kamu pantas untuk bahagia, kalau kita tidak bisa menghapus histrory hidup kita, kita masih bisa merubahnya dengan mencari pekerjaan halal, sekarang kamu harus cari pekerjaan yang baik." Pinta Mami Lia.
"Ya Mami, Gracella akan mencari pekerjaan yang halal, mungkin Gracella akan mendapatkan uang yang lebih sedikit tapi setidaknya status Gracella akan menjadi baik di mata Mas Regi dan kelurganya.." Gracella mendapatkan semangat hidup kembali, Mami Lia selalu mendukungnya.
Gracella menyiapkan berkas untuk mencari pekerjaan, mulai membuat surat lamaran dan mencari-cari infomarsi tentang lowongan kerja di sosial media dan mulai mengitari jalanan.
"Ternyata gak mudah mencari pekerjaan." Ucapnya dalam hatinya.
Seperti biasanya di siang hari, di sela-sela kesibukannya Regi selalu menyempatkan dirinya untuk berkomunikasi dengan Gracella, walaupun hanya sekedar menanyakan kabar membuat Regi bahagia, begitupun dengan Gracella.
"Sayang sudah makan?" Tanya Regi.
"Belum nih, emangnya kamu da makan Sayang?" Tanya Gracella kembali.
"Kamu makan sana, atau aku anterin makanan?" Tanya Regi.
"Di luar? Dimana?" Tanya Regi lagi.
"Gawat, aku keceplosan lagi, aku gak boleh beritahukan Regi bahwa aku ini sedang mencari pekerjaan." Gumam Gracella dalam batin.
"Sayang... halo..." Regi menyapanya kembali.
"Aku sedang keluar dengan temanku, temanku mau shopping jadi minta ditemenin." Ucap Gracella gugup.
"Oh begitu, yauda hati-hati yah dijalan." Ucap Regi calon suami Gracella.
Tak mudah hidup menjadi Gracella, di saat dirinya ingin berubah, banyak godaan yang datang.
__ADS_1
"Duh ban motornya kempes." Gracella memperbaiki ban motornya, ternyata ada mantan tamu yang pernah ngebookingnya di bengkel tersebut.
"Hey cantik, sembari menunggu bannya diganti, mending ban Om dulu sini yang kamu service, da lama nih gak ngerasain tubuh kamu." Ucap seorang pria berusia sekitar kepala empat.
"Emang kamu kenal sama wanita ini?" Tanya seorang pria lainnya.
"Ya kenal dong, siapa yang gak kenal sama anak-anak Pondok Lima? Malahan aku kenal luar dalam, dah pernah cicipin juga, benar gak cantik?" Jawab pria tersebut.
Bagaikan tersayat sembilu rasanya Gracella, sebegitu hinakah dia dimata orang-orang sampai-sampai berkata seperti itu, tak sepantasnya dia mendapatkan kata-kata yang melecehkannya di depan orang banyak, ingin rasanya dia segera terbang ke angkasa dan menghilang sekejap.
"Kenapa ini ya? Apes banget aku, apa ini karma aku karena sudah bohong sama Regi? Seandainya ban motor sialan ini gak pakai acara kempes, gak akan aku mau lama-lama di bengkel busuk ini." Gerutu Gracella dalam hatinya, dengan expresi manyun namun tetap cantik.
"Sejam nya berapa nona?" Tanya pria lainnya sambil tertawa.
"Murah hanya 300 ribu..." Jawab pria yang pernah memakai jasa Gracella sebagai wanita panggilan.
"Murah banget." Ucap pria tersebut mengolok-olok.
"Telingaku hampir meledak mendengar olok-olok mereka semua, tapi ini adalah dosaku, maafin aku ya Tuhan, selama ini aku sudah melakukan dosa dan kesalahan kotor, aku terima semua olok-olok dan hinaaan orang-orang kepadaku asalkan Regi dan keluarganya tidak tahu apapun tentang masalah ini, aku ingin lahir menjadi orang yang baru." Gumam Gracella, dengan mata yang berkaca-kaca.
"Udah selesai bannya diganti Mbak." Ucap tukang bengkel.
"Ini uangnya Mas, terimahkasi." Dengan tergesa-gesa gadis itu menaiki motornya lalu bergegas pergi meninggalkan bengkel tersebut.
Tanpa tujuan dan arah yang jelas dia membawa motornya jauh, dia hanya ingin menenangkan hatinya ke tempat yang tidak satupun mengenalinya.
"Sakit sekali hatiku mendengar olok-olok dan hinaan orang, tapi bagaimana kalau seandainya Regi juga tahu masalah ini suatu saat nanti, apakah dia akan jijik dan membenci aku? Apakah sebaiknya aku harus jujur kepadanya seperti yang pernah dikatakan Mami Lia? Aku gak sanggup jika harus kehilangan." Gracella menumpahkan air matanya, berhenti di sebuah jalanan yang sepi, menangis sepuasnya.
Mami Lia menelpon anak angkatnya itu, "Kamu dimana sayang?"
"Aku lagi di jalan Mi, bentar lagi aku balik ke Pondok." Jawabnya.
__ADS_1
"Kamu baru menangis? Kenapa serak?" Tanya Mami Lia.
"Gak apa-apa Mi." Jawab Gracella menenangkan hati maminya.