
Langit dipenuhi dengan warna abu-abu yang kelam.
Emily duduk di kursinya dengan tatapan kosong memperhatikan hujan yang berjatuhan dengan lembut di luar jendela.
Ada dua ketukan lembut di pintu dan suara Kak Dessy terdengar dari luar, "Nyonya, Pak Owain ingin bertemu."
Setelah mendengar suara itu, Emily menatap kosong sejenak sebelum akhirnya bereaksi. Dia menundukkan pandangannya, menyembunyikan matanya yang memerah, dan dengan letih merapikan pakaiannya yang kusut dengan tangannya sambil berkata, "Silakan masuk."
Pak Owain masuk ke dalam ruangan bersama dengan Kak Dessy. Dia membawa koper dan mengenakan setelan jas yang rapi. Dengan rambut yang disisir rapi, setiap gerakannya memperlihatkan bentuk sopan santun kepada Emily.
"Halo, Nona Milton," sapa Pak Owain.
Sebuah perpaduan aroma segar dan tajam yang menyenangkan mengisi ruangan.
Meski Emily sangat kelelahan, dia tetap terlihat cantik. Mata indahnya yang sedikit merah, pipi pucatnya, dan helai rambut yang tak rapi di dahinya meningkatkan penampilannya yang memang sudah memikat dengan sedikit sentuhan yang membuatnya terlihat seperti meminta untuk dikasihani.
Ini pertama kalinya Owain Peter bertemu dengan Nona Milton. Hanya memandangnya dengan sekilas, Owain Peter seolah-olah mengerti kenapa Tuan Raymond Milton terobsesi dan mengagumi Emily.
"Terimalah belasungkawa saya, Nona Milton," kata Owain Peter dengan bibir tertutup dan lembut.
Sambil menahan rasa sakit yang begitu kuat di hatinya, Emily berbisik, "Terima kasih, Pak Owain." Dia merenggangkan otot-otot kepalanya dengan letih dan melanjutkan, "Saya ingin tahu apa yang membuat Anda kemari hari ini?"
Beberapa malam tanpa tidur telah membuat kesehatan Emily yang sudah rapuh jadi semakin tidak karuan. Pada saat ini, yang diinginkannya hanya tidur, walaupun beberapa jam saja.
Namun, ketika Emily membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur yang empuk, pikirannya dipenuhi oleh badai permasalahan seperti hujan deras di luar ruangannya yang semakin.
Saat pandangannya mulai kabur,dia teringat Pak Owain pernah berucap,"Tuan Raymond Milton meninggalkan wasiat. Sebelum Tuan Raymond meninggal dunia, semua aset akan beralih kepemilikan atas namamu Nyonya Emily Wilton."
Kenapa? Kenapa dia sangat baik kepadaku? pikir Emily dengan perasaan yang sangat menyesakkan seakan hatinya telah diikat dengan tali yang sangat kencang. Lalu, tanpa sadar air mata keluar dari mata indahnya. Tak lama, Dia tidak bisa menahan ratapannya dan menangis.
Hujan yang sangat deras membuat jendela mengeluarkan suara ketukan.
Emily menutup matanya dalam-dalam, mengusap air mata yang keluar dari ujung matanya yang membasahi bantal sutranya yang halus.
Saat kekalutan mengisi pikirannya, dia teringat kecelakaan mobil yang dia alami.
Malam itu hujan, sama seperti saat ini.
Pada malam hujan yang deras itu, jalanan sepi dan hening, jalanan diterangi oleh lampu yang agak redup.
Mereka duduk berjarak dengan posisi sempurna dalam mobil, seakan dua sisi dunia yang dipisahkan oleh jarak.
__ADS_1
Tiba-tiba, cahaya yang silau menyorot mereka, dan sebelum Emily bisa bereaksi, Raymond Milton memeluknya dengan sangat erat.
Raymond Milton memeluknya sangat kuat, seolah-olah dia menggunakan seluruh tenaga di tubuhnya dan mengabaikan segalanya hanya untuk melindunginya.
Emily merasa bahunya sangat sakit, dan kakinya terjepit sesuatu, menyebabkan sensasi yang sangat menyakitkan.
Cahaya mobil menerangi seluruh jalan, dan meski sakit, Emily mengangkat kepala dan melihat mata dalam dan misterius Raymond Milton.
Darah merah segar perlahan mengalir di dahi Raymond Milton, menngotori wajahnya yang biasanya dingin dan pucat. Tapi dia seolah-olah tidak memperhatikan kondisinya sendiri, menatap Emily tanpa berkedip, seolah-olah dia ingin mengingat Emily dalam jiwanya.
"Jangan takut, Emi."
Di pelukannya, yang terasa hangat, Emily bisa mendengar dengan jelas suara seraknya.
Ini adalah pertama kalinya dia memanggilnya Emi.
Tapi juga terakhir kalinya.
Satu tetes darah Raymond Milton jatuh ke wajahnya, seakan menyulut rasa panas yang menyengat.
Di akhir ingatannya, suara serak Raymond Milton terputus-putus, seolah-olah menggunakan sisa kekuatannya untuk mengatakan padanya, "Aku mencintaimu."
Emily sudah menduga bahwa pernikahan mereka hanya sebuah kerja sama bisnis belaka, tanpa perasaan yang nyata di antara mereka. Di bawah paksaan dan rayuan ayahnya, mereka hanya beberapa kali bertemu sebelum menikah.
Setelah pernikahan mereka terlaksana, mereka hanya menyapa satu sama lain dengan anggukan seolah-olah mereka adalah orang asing meskipun mereka tinggal di rumah yang sama.
Emily tidak pernah mengharapkan bahwa ketika hal yang tidak diinginkan terjadi, Raymond Milton akan melindunginya dengan sekuat tenaga dan bahkan mengabaikan nyawanya sendiri.
Dan dia mengungkapkan bahwa dia mencintai Emily, entah sejak kapan rasa cinta itu muncul.
Mereka telah menikah selama dua bulan, dan waktu kebersamaan mereka tidak lebih dari tiga bulan.
Pertama kali mereka bertemu, dia dengan tegas mengatakan pada Raymond, "Tuan Raymond Milton, maaf, tapi saya sudah memiliki seseorang yang saya sukai."
Lampu tidur kecil di meja samping tempat tidur menyala, memancarkan cahaya kuning yang hangat.
Emily berdiri, mendekati sendalnya, cepat-cepat mengenakannya, lalu keluar dari pintu.
Ada celah kecil di jendela di lorong rumahnya, membuat angin yang dingin masuk tanpa halangan.
Emily tak bisa menahan kedinginannya, dia mempercepat langkahnya, menuju pintu di ujung lorong.
__ADS_1
Di sana ada kamar Raymond Milton.
Pikiran yang terasa melayang-layang selama beberapa hari terasa terbangun oleh angin dingin. Hatinya berdebar dengan cepat, dan darah tampak mengalir sangat deras di dalam tubuhnya.
Langkah demi langkah, dia membuka pintu yang terkunci rapat, lalu masuk.
Kamar itu dihiasi dengan nuansa abu-abu dan putih, dingin dan sederhana, seperti kesan yang diperlihatkan Raymond Milton.
Beberapa dokumen tertata rapi di atas meja, bersama dengan bingkai foto cokelat tua yang berisi foto pemandangan yang indah. Selain itu, tidak ada yang lain.
Emily tidak tahu mengapa dia tiba-tiba datang ke kamar Raymond, mungkin karena rasa bersalah dan penyesalan di dalam hatinya yang membuatnya ingin memahami seperti apa sosoknya sebenarnya.
Pada dasarnya, dia tidak tahu apa-apa tentangnya.
Emily mengulurkan tangan dan membuka laci di bawah meja, dan ternyata dia hanya menemukan file pekerjaan Raymond yang penuh. Dia berbalik dan mencari melalui laci kecil di rak buku, akhirnya menemukan apa yang dia cari, sebuah album foto.
Album ini terlihat agak jadul, dengan sampul hitam tua yang memudar namun masih dalam kondisi baik. Terlihat jelas bahwa pemiliknya merawatnya dengan baik. Bahkan sudut-sudut albumnya kokoh karena dilapisi dengan pelindung yang terbuat dari kulit.
Emily dengan penuh semangat membuka album foto itu, tetapi foto-foto di dalamnya membuat jarinya gemetar tanpa kendali.
Itu adalah fotonya. Lebih tepatnya, foto itu adalah foto-foto ketika dia SMA.
Gadis di foto-foto itu duduk di kursi piano, dengan lampu sorot berkilauan dan memukau sebagai latar belakang fotonya. Di foto itu, dia terlihat sedikit membungkukkan kepala dan memainkan piano dengan konsentrasi.
Entah kapan foto-foto ini diambil.
Karena tak bisa menahan diri, Emily mengeluarkan foto dari album dan memeriksanya dengan hati-hati, dan menemukan sebuah kalimat yang tertulis di bagian belakang.
"Pertunjukan pertama Emi."
Perasaan sakit muncul di hatinya. Dia mencium dan meletakkan kembali foto tersebut ke dalam album.
Setelah terus melihat-lihat, ternyata semua foto-foto ini hanya memotret dirinya.
Saat makan, tertawa bersama teman sekelas, dan fokus belajar.
Hampir mencakup seluruh masa SMA-nya.
Tapi jelas foto-foto ini tidak diambil tanpa sepengetahuannya. Dalam beberapa foto, dia bahkan tersenyum kepada kamera.
"Dari mana dia dapat foto-foto ini?" gumam Emily.
__ADS_1