
Sarapan yang dibuat Bibi Hevi tetap lezat seperti biasanya.
Setelah selesai sarapan, Emily mengambil tas punggungnya dan meninggalkan rumah.
SMA Lentera Vienna, tempat dia bersekolah, adalah sekolah menengah terelit di kota ini. Mereka yang dapat masuk ke sekolah ini hanya orang-orang berbakat, entah berbakat secara akademik yang luar biasa atau memiliki bakat lain yang sangat istimewa.
Dan kebetulan Emily memiliki keduanya.
Dia memiliki bakat dalam bermusik dan rajin berlatih. Dia mulai bermain piano sejak usia empat tahun dan mendapat pujian dari hampir setiap guru yang mengajarnya.
Sejak kecil, dia telah memenangkan banyak medali emas kompetisi piano hampir di setiap kelompok usia, mulai dari kelompok pra-sekolah, anak-anak, hingga remaja.
Hidup tampak begitu mudah baginya.
Berasal dari latar belakang berkecukupan, penampilan menarik, dan nilai akademis yang sangat baik, semua orang menyukainya, semua itu Emily dapatkan dalam hidupnya.
Namun, segalanya berubah saat tahun terakhir dia bersekolah. Kakak laki-lakinya meninggal dalam kecelakaan pesawat ketika melakukan perjalanan bisnis. Tidak ada penumpang yang selamat pada kecelakaan itu. Orangtuanya, khawatir karena tidak ada pewaris untuk bisnis keluarga dan menuntut agar Emily meninggalkan pendidikan musiknya dan mulai belajar ilmu bisnis.
Emily memandang orangtuanya yang tiba-tiba terlihat rapuh dan menua, dan hanya bisa menganggukkan kepala pertanda setuju.
Dia merasa seolah-olah dia telah kehilangan jiwanya dan menjadi seorang boneka yang mengikuti keinginan orangtuanya: belajar, lulus, menikah, dan mewarisi bisnis keluarga.
Akhirnya, semuanya berakhir tragis.
Dia merasa banyak penyesalan: kematian kakaknya, mimpi yang tidak terwujud, dan yang paling penting—
Kematian Raymond.
Emily yakin bahwa dalam kehidupan sebelumnya, dia tidak berhutang pada siapapun. Satu-satunya hutang yang dia miliki adalah pada Raymond, yang kehilangan nyawanya saat mencoba menyelamatkannya.
Oleh karena itu, kali ini dia bertekad untuk memperbaiki kesalahannya apa pun yang terjadi.
November di Kota Vienna tidak begitu dingin. Angin pagi membawa sedikit kehangatan di musim dingin.
Emily berjalan santai di sepanjang jalan, menikmati sinar matahari yang lembut. Rasa-rasanya, hatinya yang dingin sedang meleleh oleh sinar matahari itu.
Rumah tempat dia tinggal sekarang dibeli oleh ayahnya untuk kenyamanannya setelah diterima di SMA Lentera. Hanya berjarak lima menit dengan berjalan kaki dari rumah ke sekolah.
Saat menyeberangi jalan, dia melihat huruf berwarna emas yang bertuliskan "SMA Lentera Vienna".
Emily masuk ke area sekolah dengan berjalan santai. Hatinya penuh kebahagiaan dan semangat untuk memulai kehidupannya yang baru ini.
Dia berjalan sesuai apa yang dia ingat saat bersekolah. Dia naik tangga dan masuk ke dalam ruang kelasnya.
Kelas 2 adalah kelas teratas, dan sebagian besar siswanya sangat rajin. Meskipun masih sekitar dua puluh menit sebelum jam pelajaran pertama dimulai, namun sebagian besar kursi sudah terisi.
Emily masuk melalui pintu bagian belakang ruangan dengan berjalan santai. Namun, seorang siswa yang duduk di baris belakang memperhatikannya.
Orang itu berbalik, menatap Emily, dan dengan ragu bertanya, "Emily, kamu lupa atau gimana?"
"Iya?" Emily mengernyit bingung, menatapnya dengan ekspresi bingung.
Emily memiliki mata mutiara yang memukau, jernih dan terang seperti sungai kecil di pegunungan.
Di pandangan oleh Emily, wajah Arrayan Smith secara tidak sengaja memerah, dan dia menggaruk kepalanya dengan gelisah, lalu berbisik, "Kelas 3 ada di lantai bawah."
Kelas terasa senyap, rasa-rasanya suara orang bernapas pun bisa terdengar. Jadi, meskipun Arrayan Smith berbicara dengan suara pelan, beberapa orang di baris belakang tetap bisa mendengar dan berbalik melihatnya.
Kegembiraan mendadak yang dialami Emily karena terlahir kembali membuatnya tidak menyadari statusnya sekarang. Dia terlalu larut dalam kebahagiaannya sampai tidak menyadari bahwa dia telah "diusir" ke Kelas 3 karena absen karena sakit.
__ADS_1
Emily dulu mungkin merasa kecewa karena dipindahkan ke kelas reguler, tapi sekarang yang ada di pikirannya hanya ingin lebih dekat dengan Raymond.
Dia tersenyum pada Arrayan Smith, tanpa menunjukkan sedikitpun rasa malu atau ketidakpuasan, dan berkata dengan riang, "Terima kasih, maaf, aku lupa."
"Tidak apa-apa, kok," ucap Arrayan Smith sambil menggaruk kepalanya. Pandangannya mengikuti sosok Emily yang bersemangat keluar kelas sampai menghilang di koridor sekolah sebelum akhirnya dia kembali ke kelasnya.
Tangga itu dipenuhi siswa sampai-sampai Emily berdesakan di sisi tembok. Emily perlahan-lahan turun ke bawah.
Ketika dia sampai di pintu masuk Kelas 3, dia akhirnya melambatkan langkahnya.
Matahari pagi yang hangat menyinari lorong saat Emily berdiri di bawah cahayanya dan memandang melalui jendela kelas.
Hanya ada beberapa orang yang duduk di kelas, dan berkelompok dalam dua atau tiga kelompok pertemanan. Emily merasa hatinya terbungkus oleh es, ingin menghampiri suasana hangat yang begitu dekat namun juga takut akan membakarnya.
Dia menggenggam erat roknya, mengigit bibirnya, dan setelah sejenak, tak lagi tahan dengan keinginan di hatinya saat ia mulai mencari sosoknya yang dia cari, Raymond.
Pandangannya melintasi baris pertama, baris kedua, dan akhirnya mendarat di baris terakhir.
Dalam sekejap, hidung Emily kembang kempis, dan hatinya bergetar sangat kencang. Kehangatan mulai dirasakan dalam tubuhnya.
Pandangannya agak kabur, dan ia diam-diam mengusap matanya, lalu menatapnya dengan tajam.
Ruangan tersebut terbenam dalam sinar matahari emas. Namun, dia duduk di sudut baris terakhir, satu-satunya tempat gelap di ruangan itu.
Teman-teman sekelilingnya duduk berdampingan dalam kelompok kecil, terlibat dalam obrolan yang mengasyikkan. Tapi dia duduk sendirian, kepalanya menunduk, pandangan terpaku pada buku teks di mejanya, kadang-kadang mendorong kacamata berbingkai hitam di sekitar hidungnya.
Tiba-tiba, ia menutup bukunya dan mengambil botol minumannya, lalu berdiri dari kursinya.
Angin sepoi-sepoi mengacaukan rambut panjang Emily saat mata mereka tak terduga bertemu.
Akhirnya, dia melihat mata yang hitam dan dalam itu, seperti malam yang tak berujung.
Hati Emily tak bisa tidak bergetar, dan dia menatapnya dalam kebisuan yang menghenyakkan. Kata-kata di hatinya terjepit di kerongkongnya. Dia tak bisa mengeluarkan barang sepatah kata pun.
Ada keraguan sesaat di mata Raymond, namun segera dia menundukkan pandangannya, mempercepat langkahnya, dan meninggalkannya.
Emily merasa merasa kecewa dan hatinya kosong. Namun, dia berusaha berfikir bahwa ini adalah kali pertamanya di Kelas Tiga, dan Raymond mungkin tidak mengenalinya, jadi reaksi seperti itu wajar.
Tanpa diketahui Emily, saat Raymond berjalan menuju dispenser air, tangannya yang memegang gelas bergetar sedikit. Rasanya, hatinya merasakan getaran hebat dan menimbulkan rasa panik.
Setelah sampai di dispenser air, dia dengan kaku membuka tuas air. Tanpa melepas penutup gelasnya, dia berusaha memasukkan air ke gelasnya yang masih tertutup dan menyebabkan air yang cukup panas itu bercipratan dan membakar dahinya, membuat alisnya berkedut kesakitan.
"Aw." Raymond menahan rasa sakit saat dia menutup tuas air, lalu bergegas ke wastafel terdekat, dan membilas tangannya dengan air dingin. Sensasi terbakar perlahan mereda.
Ini hanya beberapa saat sebelum kelas dimulai, dan lorong-lorong dipenuhi orang. Emily ragu apakah harus masuk ke dalam kelas atau tidak ketika dia melihat guru kelas Tiga mereka mendekatinya.
"Emily, aku sudah bilang padamu untuk datang ke kantor dulu hari ini, kenapa kamu menunggu di pintu kelas?"
Emily merasa malu. "Maaf, Ibu Mika, aku lupa."
Meskipun Mika adalah wali kelasnya di Kelas Tiga, dia pernah mengajar Emily saat dia masih di tahun pertama, jadi mereka cukup akrab satu sama lain.
Dia selalu suka pada Emily, jadi dia tidak marah dan hanya menepuk bahu Emily, sambil mengatakan, "Tidak apa-apa, masuk dan duduk di baris kedua di sebelah kiri."
Ketika seseorang pindah ke Kelas Tiga, itu berarti ada seseorang dari Kelas Tiga juga pindah ke Kelas Dua. Kursi di baris kedua sudah ditetapkan untuk siswa yang rain saja.
Namun Emily memiliki rencana di dalam pikirannya saat dia dengan hati-hati mengamati susunan tempat duduk, dan dengan hati-hati berkata, "Bu, bisakah saya duduk di baris kedua terakhir? Saya khawatir akan menghalangi pandangan dari belakang jika duduk di baris kedua depan."
Emily tinggi, berdiri dengan tinggi 172 sentimeter, cukup tinggi di antara para gadis.
__ADS_1
"Tentu, silahkan." Mika tidak tahu tentang motif tersembunyi Emily, jadi dia dengan mudah setuju.
Emily tidak dapat menyembunyikan kegembiraannya. Baris kedua terakhir berada tepat di depan Raymond, memberinya lebih banyak kesempatan untuk dekat dengannya.
Dia berjalan santai menuju bagian belakang kelas. Semua pandangan dari seluruh kelas fokus padanya seketika.
Kelas yang riuh itu menjadi hening, dan hanya bisikan-bisikan saja yang terdengar.
"Wah, apakah itu Emily yang pindah ke kelas kita?"
"Iya, betul. Dia berdiri di pintu kelas lumayan lama, aku pikir aku sedang halusinasi."
"Wah, Tuhan, aku merasa sangat diberkati."
"Di mana dia duduk? Seharusnya itu tempat Nayara."
"Aku juga ingin bisa duduk di sebelah seorang dewi secantik dia."
Dipandangi dengan tatapan penuh perhatian oleh semua orang, Emily bergerak melewati kelompok pertama dan berjalan lurus menuju barisan terakhir, akhirnya meletakkan tasnya di mejanya.
Teman semejanya yang baru adalah seorang gadis dengan mata besar, yang saat itu menatapnya dengan mata yang cerah.
"Hai," ucap Emily sambil tersenyum padanya.
Teman semejanya yang baru itu tersenyum lalu berkata, "Hai, namaku Kirana."
Emily merasakan detak jantungnya berdegup dengan cepat. Ia memutar kepalanya dan melihat Raymond, yang masih fokus pada bukunya.
Jendela-jendela kelas terbuka, dan semilir angin pagi hari masuk, mengibas beberapa helai rambutnya.
Raymond memiliki hidung yang mancung dengan sepasang kacamata berbingkai hitam di atasnya, membuat kulitnya yang sudah putih tampak semakin putih.
Emily merasa gugup, saraf-saraf di wajahnya tegang karena kecemasan. Ia mengambil dua napas dalam dan memaksakan senyuman manis, sambil berkata, "Hai, apa kabar?"
Mendengar ucapan ramah Emily, tubuh kaku Raymond menjadi semakin kaku seperti batu. Tangannya menggenggam pena dengan semakin erat, membuat jari-jarinya yang menggenggam penanya jadi semakitn gemetaran.
Beberapa sinar matahari menerobos masuk melalui jendela. Raymond sedikit menaikkan pandangannya dan melihat gadis di depannya tersenyum ramah.
Gadis itu memiliki kulit yang putih bersinar di bawah sinar matahari, dan matanya yang berkilauan bagaikan bunga mawah putih yang bersinar dengan cemerlang. Dua lesung pipinya membuatnya semmakin cantik dan manis.
Raymond merasa seolah jantungnya terlompat beberapa kali. Ujung jarinya yang tadi terkena air panas masih terasa hangat. Namun, pada saat ini, kehangatan yang tidak jelas itu seolah semakin hangat.
Ia merasa seolah-olah hatinya meleleh karena senyuman itu.
Emily merasa wajahnya hampir membeku karena terlalu banyak tersenyum, tetapi pemuda di depannya masih memperlihatkan ekspresi dingin. Wajahnya tidak berekspresi, seolah ditutupi oleh salju musim dingin yang membeku.
Dia merasa kecewa dan pundaknya mulai lemas.
Raymond memang orang yang cenderung dingin, dan wajar jika dia memiliki sikap seperti itu terhadap seseorang yang dianggapnya asing.
Guru wali kelas memulai kelas pertama, dan semua siswa duduk dengan posisi sempurna. Kirana dengan ramah menepuknya, memberi isyarat untuk duduk sempurna.
Emily memicingkan matanya dan akan berbalik ketika ia mendengar suara rendah Raymond.
"Kamu, baik."
Entah mengapa, dia berbicara dengan jeda yang sedikit aneh, seolah setiap kata keluar dengan keraguan.
Namun, hanya dengan beberapa kata ini, Emily menemukan dirinya terhibur selama dua jam pelajaran.
__ADS_1