
Angin pagi membawa kesejukan.
Emily menatap ke atas dan memandang Raymond.
Matanya hitam dan dalam, gelap seperti malam yang tak berujung.
Di sampingnya, Kirana dengan gugup menelan ludah, memberikan Emily dorongan yang tidak terlihat. "Ayo, Emi."
Jantung Emily berdegup kencang, tidak yakin kapan Raymond muncul di pintu kelas atau apa yang telah dia dengar dan lihat.
Barangkali Raymond melihat sikap Emily yang sombong tadi dan berpikir seharusnya Emily bersikap manis dan menghangatkan jiwanya
Emily menarik bibirnya yang kaku, memaksa tersenyum. "Kebetulan sekali! Kirana dan aku mau ke kantin. Apa kamu mau sesuatu? Aku bisa membelikannya untukmu."
Keramahan muncul di mata Raymond saat dia menggelengkan kepala.
Keanehan dan keheningan yang menegangkan memenuhi kelas.
Nyatanya, Raymond tidak melihat apa pun, dia hanya mendengar kata-kata Kirana.
Kedinginan dan sifat acuhnya membuatnya tidak punya teman di sekolah dan menjauh dari semua hal di sekolah.
Tapi ketika menyangkut Emily, hatinya yang dingin pasti bergetar hebat.
Raymond Kembali ke kursinya dan melihat tatapan penuh ancaman dari Kenzo.
Raymond mengabaikannya,
merobek selembar kertas dari bukunya, menulis beberapa kata, dan memberikan ke teman sebangkunya, Marvin.
"Apa yang terjadi?"
Marvin menundukkan pandangannya, membaca tulisan tipis di atas kertas itu. Dia melirik Kenzo dnegan hati-hati, lalu berbisik, "Kenzo baru saja menghinamu dengan sangat kasar. Emily tidak tahan dan membanting botol minumannya."
Raymond berhenti sejenak, emosinya bergolak tanpa disengaja.
"Apa Emily melakukan hal itu untukku?"
Cahaya terang di dalam kelas tiba-tiba membuat mata Raymond terasa hangat.
Marvin melanjutkan, "Sejujurnya, apa yang terjadi cukup seru. Kata-kata yang digunakan Kenzo untuk menghinamu cukup keterlaluan."
Namun, Marvin tidak memiliki keberanian seperti Emily yang dengan terang-terangan melawan dan berdebat. Manusia secara alamiah egois, siapa yang akan dengan sukarela menciptakan masalah bagi seseorang yang baru dikenalnya?
Raymond memahami hal ini sepenuhnya.
Dia tidak pernah menerima kebaikan tanpa alasan. Baginya tidak ada orang yang akan dengan tiba-tiba baik kepada seseorang yang lemah dan tertutup seperti dirinya.
Jika memposisikan dirinya sebagai Emily, dia tahu dia juga tidak akan seberani itu.
Tapi Emily berbeda.
Dia seperti cahaya yang menyala dan menerangi semua kegelapan dan kabut di dunia.
Dia akan berjuang untuk keadilan bahkan bagi orang asing, dan dengan sendirinya akan memberikan bantuan kepada teman sekelas yang minta tolong kepadanya.
Tapi dia tidak tahu betapa berarti dirinya bagi Raymond.
Dalam hidupnya yang fana, dia adalah satu-satunya cahaya yang tersisa di dunia.
Beberapa helai angin pagi masuk ke dalam kelas, menggerakkan lembaran buku di atas meja.
Marvin memukul bahunya dan berkata, "Duh, untungnya kamu tidak ada di sini tadi. Kalau tidak, kamu dan Kenzo pasti akan membuat keributan."
Tiba-tiba, Marvin menyadari bahwa tindakannya sok akrab dan dengan canggung menarik kembali tangannya.
Raymond mengangguk. "Mhm."
Raymond menundukkan pandangannya dan pikirannya berkecamuk.
Tindakan Emily bisa membuat dirinya terkena masalah. Dan itu semua karena dia yang membuat situasi jadi sedikit runyam seperti ini.
Memikirkan itu, Raymond memperketat genggamannya, dan bulu matanya yang gelap jatuh dengan lembut.
Semua karena dirinya yang tidak berguna.
*
Emily berjalan berpegangan tangan dengan Kirana keluar gedung sekolah.
Angin pagi yang segar dengan ringan menyapu wajah mereka. Emily mengambil napas dalam, sedikit menenangkan detak jantungnya yang berpacu.
Daun-daun di jalan setapak belum disapu, seperti karpet emas yang mengeluarkan suara renyah setiap melangkah.
Emily merasakan sedikit sesak di dadanya. Tiba-tiba dia menyadari bahwa ternyata dia tidak tahu banyak hal tentang Raymond.
Keluarganya, kegagapannya, bahkan masalah ekonominya, semua membingungkan dan tidak diketahui oleh Emily.
Saat dewasa, Raymond akan mengendalikan seluruh keluarga Milton, memancarkan kehadiran yang menakutkan bahkan saat tidak marah.
Emily selalu berasumsi bahwa Raymond tumbuh di keluarga seperti itu, memiliki kehidupan mewah dan disayangi oleh semua orang.
Tapi beberapa hari terakhir ini, dia melihatnya mengenakan sepatu murah dan membawa ransel yang sudah rusak, diperintah oleh sepupunya, bahkan tidak mampu membeli sarapan.
Raymond Milton yang dia ingat adalah sosok yang kuat dan tangguh, ditakuti oleh semua orang karena dia mengendalikan dunia bisnis.
Raymond yang dulu, rela menggunakan segalanya untuk melindunginya.
Jadi kali ini, gilirannya untuk melindungi Raymond.
Kembali di dalam ruang kelas, sebelum pelajaran dimulai, Emily melihat Raymond sedang membaringkan kepalanya di atas meja dan hanya bisa melihat rambut hitamnya, seolah-olah dia benar-benar tertidur lelap.
Hati Emily agak lega.
Dia takut saat Raymond berdiri di pintu dan mendengar kata-kata Kenzo, Raymond akan langsung diganggu.
Guru sudah masuk ke dalam kelas terlebih dahulu, jadi Emily membuka buku yang diletakkan di sudut meja, ingin melihat materi pelajaran berikutnya.
Di halaman, ada kertas stik berwarna kuning yang terselip.
__ADS_1
"Terima kasih."
Hanya dua kata singkat itu membuat Emily tersenyum.
Bunyi kicauan burung yang merdu terdengar dari luar jendela mengisi ketenangan di dalam kelas.
"Kamu sedang tersenyum saat membaca buku?" bisik Kirana pelan dengan tatapan bingung ke arah Emily.
Emily mengambil kertas stik yang menempel pada buku itu, melipatnya rapi menjadi bentuk persegi, dan diam-diam meletakkannya di dalam wadah pensilnya.
Waktu di sekolah terasa berlalu dengan sangat cepat, dan dalam sekejap, pagi telah berakhir.
Setelah pelajaran ketiga di siang hari, Emily sedang mengerjakan tugas pelajarannya. Tak lama, dia mendengar seseorang memanggilnya, "Emily, ada orang yang mencarimu."
Ia menengadahkan kepala dengan ekspresi sedikit bingung, dan melihat seorang gadis berdiri di luar jendela sambil melambai padanya.
Lalu, masuk ke dalam kelas dan begitu tiba di pintu kelas, gadis itu,Kaila, menggenggam tangannya dengan penuh kasih sayang dan mengatakan, "Emi, aku tidak tahu kamu pindah kelas. Aku baru saja naik ke kelas atas untuk mencarimu."
Gadis itu mengenakkan tas biola, rambutnya diikat ke belakang seperti ekor kuda, dan matanya yang besar terlihat ceria.
Emily tertawa dengan ramah dan berkata, "Kan, nilai-nilaiku jelek, pasti aku pindah kelas, kan?"
"Iya, iya, jangan merendah. Memangnya aku bakal kesal kalau kamu mengatakan itu?" ucap Kaila lalu menarik lengan bajunya. "Ayo pergi."
"Gedung musik. Apakah kamu lupa hari ini hari Rabu?" Kaila memiringkan kepala heran. "Dulu kamu yang paling antusias. Hari ini, aku harus datang untuk mengingatkanmu."
Baru saat itu Emily ingat bahwa pelajaran terakhir pada hari Rabu dan Kamis adalah pelajaran pilihan. Semua murid bisa mendaftar untuk kelas yang mereka minati atau memilih untuk tetap di kelas untuk belajar mandiri.
Untuk murid-murid dengan bakat musik khusus seperti Emily dan Kaila, sudah dipastikan mereka mengikuti pelajaran musik.
Hari-hari di sekolah sudah cukup terlupakan bagi Emily, dan beberapa hari terakhir ini ia telah belajar pengetahuan yang dia lupakan sepenuhnya tentang pelajaran di kehidupannya saat ini.
"Baiklah, ayo pergi," kata Emily.
Kaila memandangnya dari atas ke bawah dan bertanya, "Tidakkah kamu membawa partitur musikmu hari ini?"
"Ah, tidak apa-ap, ayo pergi saja," ucap Emily santai. Dia bahkan sudah lupa memainkan satu lagu dengan piano dengan cara yang bagus, apalagi membawa lembar musik, tentu saja dia lupa.
Ada koridor penghubung antara gedung pengajaran dan gedung musik.
Senja mulai menyelimuti, dan sinar matahari terbenam menyaring melalui pepohonan, menciptakan nuansa keemasan samar di koridor itu.
Emily berjalan berdampingan dengan Kaila sambil suara angin yang terus bergema di telinganya.
__ADS_1
Emily melirik ke samping dan hanya melihat mata indah gadis itu, berkilau seperti kristal.
Di sekola, dia dan Kaila adalah teman yang sangat baik, keduanya memiliki bakat seni, dan mereka memiliki banyak kesukaan yang sama.
Tapi setelah lulus, dia mengikuti kehendak keluarganya dan mengabaikan musik, sedangkan Kaila diterima di akademi musik yang selalu diimpikannya.
Di bidang musik, Kaila tidak memiliki bakat alami, tapi dia cukup rajin. Emily selalu iri gadis ini. Dia lembut namun bersemangat, dengan ketekunan mengejar mimpinya.
Emily menyaksikan bagaimana Kaila dengan lancarnya bergabung dengan orkestra terbaik di negara ini, naik ke panggung yang lebih besar, dan perlahan-lahan mendapatkan pengakuan di industri musik.
Jarak antara dua orang itu semakin menjauh, dan topik yang sama semakin sedikit, akhirnya berakhir dengan kehilangan kontak secara bertahap.
Namun ketika Raymond mengalami kecelakaan dan dunianya hampir runtuh, Kaila adalah orang pertama yang menelepon dan dengan cemas menanyakan kondisinya, bahkan menawarkan bantuan.
Matahari senja di luar jendela terasa hangat. Emily melihat gadis yang cantik di hadapannya, merasakan kehangatan dalam hatinya.
Di dunia ini, tempat Emily kembali menjadi anak sekolah lagi, mungkin banyak hal yang hilang seperti kekayaannya, tapi dia mulai sadar bahwa semuanya telah kembali. Dia memiliki teman dan keluarga yang mencintainya, dan dia juga memiliki...
Raymond.
Ternyata dunia ini begitu indah.
*
Mereka berdua sampai di gedung musik, dan Kaila mengucapkan selamat tinggal.
Semua ruang latihan ada di lantai dasar, tetapi Emily melupakan ruang latihannya sendiri.
Dia berkeliling, berusaha mengingat-ingat kembali, tetapi tidak bisa. Dia benar-benar tidak bisa ingat.
"Hai, Emily, kenapa kamu berdiri di sana? Kenapa kamu tidak masuk?"
Emily memalingkan tubuhnya dan melihat guru musik sekolahnya berdiri di belakangnya.
"Eh, halo," Emily tersenyum canggung dan hendak bertanya namun terpotong ketika dia mendengar guru itu melanjutkan, "Ayo, kita pergi. Aku ingin mendengar bagaimana hasil latihanmu minggu ini."
Emily melambatkan langkahnya dan akhirnya mengikuti guru itu masuk ke ruang musik.
"Ruang nomor delapan," pikir Emily yang diam-diam mencatat ruang latihannya dalam ingatannya.
Ruangan musik tersebut kecil, hanya beberapa meter persegi. Dinding-dindingnya putih polos, dan ruang yang terbatas itu hanya berisi piano dan kursinya.
"Mainkan, Moonlight Sonata third movement," guru itu berdiri di samping piano, dengan lengan terlipat.
Tangan Emily, yang akan mengangkat penutup piano, membeku.
Moonlight Sonata third movement karya Beethoven.
Dia sudah lama tidak berlatih piano. Mungkin dia masih bisa memainkan lagu seperti Fur Elise, tetapi Moonlight Sonata? Mustahil.
"Eh, maaf, saya belum berlatih lagu ini. Boleh saya latihan lagu ini dulu?" Emily tersenyum gugup, matanya berkedip.
Emily selalu rajin, dan guru itu punya kesan baik padanya. Ketika dihadapkan pada murid yang baik seperti itu, dia bersedia memberikan toleransi.
"Ya sudah, Latihan dengan baik, ya. Saya akan memeriksa yang lain dulu."
Emily menganggukkan kepalanya dengan patuh.
Ketika pintu ruang musik ditutup, dia mengeluarkan ponselnya untuk mencari lembaran musik. Kemudian dia fokus pada layar ponsel kecilnya dan mulai berlatih dengan terbata-bata menekan nada-nada.
Lagu ini membutuhkan tingkat kelincahan jari yang tinggi dan dinamika yang presisi, memerlukan latihan terus-menerus dari waktu ke waktu.
Tidak peduli seberapa baik dia dulu memainkannya, jika sudah lama tidak berlatih, mustahil bisa menguasainya dalam beberapa menit.
Tetapi Emily bukanlah tipe yang mudah menyerah. Meskipun dia tahu dia pasti akan dimarahi nanti, dia tidak berani menyia-nyiakan satu menit pun.
Ruang musik itu berada di lantai pertama, dan sinar matahari terbenam memancar masuk. Emily tidak bisa melihat layar ponsel dengan jelas, jadi dia hanya menarik tirai.
Di luar jendela, dia bisa mendengar teman-teman sekelas berbicara dengan lembut. Namun, Emily tidak memperdulikan itu dan fokus bermain piano.
Di luar ruang musik, ada pohon berdiri. Daun emas melambai-lambai ditiup angin.
Raymond memeluk buku fisika sambil berjalan sendirian, mengikuti orang lain dari belakang.
Saat dia melewati ruangan nomor delapan, langkahnya terhenti dan dia bersandar pada pohon yang besar itu, seperti yang telah dia lakukan berkali-kali sebelumnya. Dengan diam dan gigih, dia memandang tirai tertutup dari ruang musik, mendengarkan dengan penuh perhatian suara piano yang terdengar.
__ADS_1